Di pantai panjang ini aku seperti Penyu yang bergerak pelan menuju laut untuk berenang menyapa kehidupan, lalu bermigrasi menuju pantai lain yang aroma lautnya merasuk paru-paru hingga otak mampu merasakan hawa samudra.

Pandangan mataku terperangkap pada gelombang yang saling bergulung menuju dataran, entah berapa lama mereka bisa bertemu hingga akhirnya menyatu? Banyak pertanyaan aneh muncul dalam benak kepalaku tentang kehidupan yang semakin gila tak terprediksi, sulit rasanya untuk bisa menjawab, sebab aku bukan Tuhan yang tahu segalanya.

Buih-buih dari gelombang yang menghempas bibir pantai mewarnai sepanjang barisan Pantai Pasir Putih. Aku berjalan menikmati udara dingin laut untuk mencari inspirasi yang hilang. Menulis adalah satu-satunya hobi yang bertahan lama dari sekian hobiku yang lain. Aku mencari sesuatu yang ingin kutulis sebagai kenangan, bahwa aku pernah di Bengkulu dan menikmati indahnya Pantai Panjang ini.

Rasanya bosan menulis tentang cinta atau kehidupan kampusku yang hambar. Aku ingin menulis keresahan yang ada, sesuatu yang tak pernah terjamah. Suara gelombang merangkai ritme menarik alam pikiranku, sesaat terhanyut, terhipnotis, seolah menterapi pikiranku untuk kembali normal dari kegilaan sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tak pernah selesai dengan skripsinya.

Otakku memberi celah, ruang bagi ketenangan, orange langit senja yang mulai merangkak membuatku semakin menemu titik inspirasi. Kuhampiri pinggir pantai membiarkan air laut membasahi kakiku. Disekitar orang-orang bergembira ria dengan tawa, sedangkan aku baru mau memulainya, tak apa-apa keterlambatan ini akan mati ketika ide itu hadir dalam keabstrakannya.

Tiga puluh menit berlalu dengan kekosongan, ide itu ada tapi susah menjamahnya. Aku harus berusaha keras untuk menariknya keluar menjadi serpihan yang bisa kurekatkan. Aku menunggu, tabah dalam bisu ini. Kupandangi langit, tapi ia malah bersabda tentang kehidupan, lewat awan sirus yang ia bentangkan. Beberapa diantaranya membentuk garis-garis seperti lukisan realis. Aku hampir frustasi, sesaat aku berusaha tidak memikirkan apa-apa, membiarkan tubuhku dialiri energi alam yang luas.

Senja datang lebih awal dari yang kurasa, waktu memang cepat berlalu, aku bahkan belum sempat mengucap selamat tinggal pada awan putih yang telah berubah menjadi hitam. Aku masih duduk dalam keheningan sesaat. Bergulat dalam keabstrakan ide yang menjauh kadang mendekat. Ingin rasanya aku bunuh diri, tapi itu akan menjadi kemenangan bagi ide itu sendiri.

Aku tak boleh menyerah, aku harus bisa merayu untuk ia tersipu. Perutku terasa kosong, mungkin karena lapar aku menjadi tidak kosentrasi. Aku pesan sate ceker padang pada pedagang pinggir pantai untuk membunuh perasaan berat yang mengelayut, berharap energi baru akan merampas ide itu dari sarangnya, aku kelaparan.  

Kurekatkan ide itu menjadi tali yang akan ku ikat setelah pulang menuju kosan dan berharap tak mendapat omelan nenek kost yang cerewetnya minta ampun. Buru-buru aku mandi lalu sholat magrib menenangkan diri dan berlanjut pada rutinitas malamku; mengedit skripsi yang tak pernah selesai. Adakalanya aku bisa rajin terhadap tugas akhir itu, namun bila datang masa malasnya ia akan menjadi sampah yang tak berharga.

Stres membuatku beralih pada menulis dan menonton film. Alih-alih harus rajin menyelesaikan skripsi aku malah bersenang ria dengan  hobiku itu. Aku tak bisa stres, biasanya aku akan menyibukan diri dengan aktifitas lain yang lebih menarik dan tidak membosankan.

Ku ingat-ingat lagi ide yang datang dalam hening sore tadi. Sambil menyerumput secangkir kopi hitam pahit untuk membangkitkan adrenalin dan menjaga mata untuk tidak terhuyung dalam ngantuk yang menganggu. Kucoba menulisnya, mengingatnya, menulisnya kembali tanpa mengedit, berharap akan menjadi sebuah tulisan baik untuk aku belajar.

Aku belajar menulis secara otodidak beberapa bulan ini, tulisanku bertebaran di blogku dan beberapa situs menulis yang tak terkenal. Aku tak berharap banyak dari hobi ini, penulis rasanya tidak pantas untuk disematkan padaku. Aku hanya amatiran yang berusaha untuk menjadi penulis yang baik, itu saja.  

Malam belum separuh, tapi mata seolah ingin terlelap lebih awal. Aku berusaha sadar dalam lelah setelah seharian di kampus menunggu dosen pembimbing yang menyebalkan. Kalau saja tidak karena orang tua yang mengharapkan aku cepat lulus dan mendapatkan gelar sarjana aku tidak akan menjadi budak dosen pembimbing yang semena-mena. Mataku masih fokus berkat kafein dari kopi, aku tak ingin tidur cepat, aku ingin mengolah ide yang ku dapat dengan susah itu.

Sejam berlalu dengan tiga ratus kata yang bisa kutulis, sedikit memang tapi untuk amatiran sepertinya sudah cukup baik sebagai awal belajar. Aku terus berusaha belajar dari buku, membaca dengan disiplin untuk memudahkan menulis itu sendiri. Aku sadar menulis itu membutuhkan gagasan yang matang, ide yang menarik, dan itu didapat dari pengalaman serta membaca buku.

Kini kesibukanku dua kali lipat; pertama, menyelesaikan skripsi dan kedua menulis untuk memuaskan diri, hobi. Menulis seperti terapi bagiku, aku bahkan mampu mengeluarkan emosi secara struktural dan natural. Aku berharap akan menyelesaikan skripsi secepat mungkin, saat sulit ia seolah memberi energi tambahan yang tak bisa kumengerti.

Kini ketika skripsi ku kerjakan pada malam-malam sepiku, aku juga menulis ide-ide yang beterbangan itu. Aku seperti dua orang berbeda karena menulis dua jenis tulisan yang berlawanan secara bergantian. Skripsi menggunakan fakta sedangkan cerpen adalah fiksi yang indah, pada akhirnya aku mencintai keduanya, fakta dan fiksi melebur.

Ide bak lukisan yang hadir membentuk imajinasi yang hebat. Ia sering muncul pada dinding-dinding, aliran sungai, awan biru, dan benda-benda yang bisa ditangkap mata untuk diproses pada pintu otak yang mengurus tentang kreativitas. Aku mengurung ide-ide dalam buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana, bila ide itu muncul ia akan kutulis berdasarkan klasifikasinya, singkatnya aku adalah seorang sitematis.  

Ide sore itu ku tulis berbentuk cerpen yang kuberi judul lelaki awan. Ia memproyeksikan diriku sebagai seorang yang jemu pada kehidupannya saat ini. Aku lega, aku menikmati hasil karyaku sendiri, walaupun kata-katanya terlalu fragmatis bagi yang membacanya. Skripsiku berjalan lancar dengan keterlambatan yang luarbiasa, aku lulus dalam gelombang kedua. Lima tahun menjalani perkuliahan rasanya aneh, namun satu hal yang kupelajari dari keterlambatanku itu yaitu kegigihan.

Seperti penyu yang merangkat perlahan menuju titik fokusnya laut, ia bisa sampai dengan bahagia berkat kegigihan. Kini menulis menjadi rutinitasku sehari-hari, mengirim tulisan di berbagai media demi kepuasan diri dan berbagi ide untuk semua orang. 

Terakhir, aku menemukan tulisanku disalah satu koran dengan awalan kata-kata; aku seperti penyu yang bergerak pelan menuju laut untuk berenang menyapa kehidupan, lalu bermigrasi menuju pantai lain yang aroma lautnya merasuk paru-paru hingga otak mampu merasakan hawa samudra.

Aku diam, membaca sampai akhir tulisan itu, dan aku cuma berkata, bangsaaat! Kegigihanku dicurangi oleh kegigihan lain yang salah arah, plagiat.