Ibu? Bagiku ibu hanyalah sesosok angin. Tak ku ketahui bagaimana bentuk rahang dan hidungmu. Bagiku kau adalah sosok yang aku ketahui pernah ada namun tak pernah terpotret dalam memoriku.

Angin. Menyejukkan membayangkan bahwa kau menghabiskan sembilan bulan untuk memastikan bayi yang sudah Tuhan tenun dalam rahimmu lahir untuk menjejakkan kaki pada tanah yang sama pada tempat kau berjejak.

Angin. Sejuk rasanya membayangkan dengan sabar kau membungkukkan punggung untuk mengajariku cara berjalan. Sejuk membayangkan bagaimana kau menimangku agar lelap dalam tidur.

Angin. Sejuk rasanya membayangkan kau mengelus rambut ikal putrimu ini dengan tanganmu yang lembut. Membayangkan kau tersenyum dengan tingkah konyol yang membuatmu gemas.

Namun, angin. Semuanya itu menjadi badai karena semua itu hanyalah bayangan dalam hayalanku semata. Tak ada satu kenangan pun yang terpotret dan terekam dengan jelas dalam memoriku. Berusaha membayangkan bagaimana caramu tersenyum sama saja dengan usaha menjaring angin.

Angin. Tidak bisakah kau berdiam lebih lama? 2 tahun itu terlalu cepat, membuatku seakan tak mengenalmu. Diriku masih belum mampu merekam sosok dirimu, aku masih terlalu kecil. Aku masih membutuhkan pelukan hangatmu di tengah dinginnya malam. Aku masih membutuhkan kasih ibu.

Aku sedih.
Aku hancur.
Aku lemah.

Aku cemburu!!! Masa kecilku penuh dengan rasa cemburu. Bagaimana bisa anak-anak lain masih memiliki seorang ibu sedangkan aku tidak. Bagaimana bisa para ibu tersenyum dengan cerah sambil menggenggam tangan anak mereka di hadapanku yang tak lagi memiliki seorang ibu. Angin tidak dapatkah kau menggenggam tanganku lebih lama?

Aku marah padamu angin. Terlebih aku marah padaMu yang di atas. Mengapa kau mengambilnya begitu cepat? Mengapa harus diriku yang kehilangan? Mengapa tak satupun kenangan yang terpotret dan terekam dengan jelas dalam memoriku?

Aku bagaikan daun kering yang diterpa angin. Jatuh dan menangis melihat angin membawa serbuk sari kepada putik. Mengapa harus diriku yang meneteskan air mata ketika mendengar kata ibu sedang yang lain merasakan semangat dan hidup yang baru ketika mendengar kata ibu.

Entah cara yang mana harus aku pilih untuk melanjutkan hidupku dengan sesosok angin. Melakukan cara yang kedengarannya bodoh yaitu menjaring angin? Atau biarkan diriku berputar dalam badai topan  yang membuatku sesak. Yang ku tahu terserah cara apa yang aku pilih semuanya hanya akan berakhir pada satu hasil yaitu pilu yang amat dalam.

Aku menangisi yang tak ku kenal. Aku merindukan yang tak pernah terkenang. Namun aku tak dapat menolak fakta bahwa aku mencintaimu. Itulah mengapa aku mengerti mengapa Melly Goeslaw dalam lagunya ia mengucapkan bahwa ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.

Hidupku sama dengan lagu yang dinyanyikan Melly Goeslaw. Hidupku hanya dipenuhi dengan kata mereka. Kata mereka diriku dan ibuku bak pinang di belah dua. Kata mereka ibuku adalah sosok yang sangat cantik, ia adalah pujaan para pria. Kata mereka ia adalah sosok yang penuh sayang.

Namun itu semua hanyalah kata mereka. Sedih rasanya tidak ada kata dari diriku yang mampu menggambarkan sosok seperti apakah ibuku. Saat ini yang mampu aku katakan untuk menggambarkan dirinya adalah, ibuku ialah sesosok angin.

Ingin kutunjukan padamu seragam taman kanak-kanak yang kukenakan untuk pertama kalinya kepadamu dengan rambut ku yang terkuncir dua dan tas kecil yang ku gendong di punggungku. Aku ingin gandengan tanganmu yang membuatku berani memasuki taman kanak-kanak untuk pertamakalinya. Aku ingin kau datang pada jam istirahat sekolah untuk membawakan bekal hasil masakanmu.

Aku ingin menghabiskan malam dengan mendengarkan dongeng sebelum tidur darimu. Aku ingin kau memelukku saat aku terbangun ditengah malam. Aku ingin mendengar nyanyian lembutmu yang membuatku tertidur dengan lelap. Aku ingin berdiri sejajar denganmu saat ini untuk memperlihatkan betapa persisnya diriku dan dirimu.

Aku ingin kau hadir di sana saat aku mengenakan gaun putih dan cincin yang melingkar pada jari manisku. Aku ingin melihat senyuman seorang nenek ketika aku berhasil melahirkan satu kehidupan di bumi ini untuk berjejak pada tanah yang aku dan kau pernah jejaki bersama.

Namun apalah semuanya itu. Semuanya itu hanyalah hembusan angin. Sia-sia. Semua itu terkurung lalu terkubur hanya sebatas harapan dan hayalan. Tidak akan menjadi kenyataan.

Semasa hidupku aku hanya menerbangkan balon dengan seutas benang yang mengikat surat dariku. Surat dengan isi ucapan selamat hari ibu. Aku tahu surat itu tak akan pernah sampai padamu, namun biarkan angin mengambil dan membaca surat itu.

Sampai hari ini tidak ada seorang pun yang menghapus air mataku karena kerinduanku padamu. Tangunku pun tidak kugunakan untuk menghapus air mata itu. Aku ingin kau yang menghapusnya, namun apa boleh buat kau sudah tidak ada lagi. Maka kubiarkan angin mengambil alih tanganmu itu untuk mengeringkan dan menghapus air mataku.

Tuhan, di masa depan aku tidak ingin menjadi angin. Itu sakit. Sangat sakit.