22 Desember, Hari Ibu, membuat media sosial ramai unggahan kata mutiara bertemakan "ibu". Untuk apa? Belum tentu si ibu punya akun media sosial yang melihat unggahan nan romantis itu.

Lalu, untuk seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan anak, apakah tidak berhak mendapatkan ucapan "Selamat Hari Ibu"?

Menjadi seorang ibu adalah pilihan, bukan hal mutlak. Bagi yang sudah menjadi ibu, silakan melanjutkan tanggung jawab masing-masing. Bagi yang belum, tidak ada keharusan untuk melahirkan anak ke dunia ini.

Ada perempuan-perempuan yang tidak ingin melahirkan anak ke dunia ini. Dan, itu boleh-boleh saja. Tidak ada satu orang pun yang boleh mendikte apakah seorang perempuan itu akan menggunakan rahimnya atau tidak.

Karena, stigma masyarakat mengenai "ibu" di sini cenderung mengarah kepada perempuan yang sudah berhasil melahirkan anak dari rahimnya. Padahal, perempuan yang menjadi guru pun adalah ibu; perempuan yang bekerja sebagai pengasuh anak pun adalah ibu; tidak harus ibu adalah seorang yang melahirkan anak saja.

Bagaimana dengan perempuan yang keguguran? Dia tetap seorang ibu, meski anaknya tidak terlahir dan hidup ke alam fana ini.

Sebuah momen memang tidak selalu manis, seperti Hari Ibu ini. Ada perempuan yang hatinya menjerit karena teringat impiannya menjadi ibu (melahirkan anak dari rahimnya) belum terwujud; ada juga perempuan yang dituntut oleh ibunya agar segera menjadi ibu (memberinya cucu). Kenapa?

Kenapa seorang perempuan dipenuhi dengan tuntutan karena "rahim"-nya?

Seorang ibu tidak boleh menuntut anaknya untuk "menjadi seorang ibu" seperti dirinya pula. Kenapa? Karena anak perempuannya sudah menjadi individu baru; bebas memilih apa yang ingin dilakukannya di dunia ini. Tidak hanya terpaku dan terbelenggu norma masyarakat bahwa "perempuan wajib menjadi ibu".

Menjadi ibu bukan sesimpel ucapan "Selamat Hari Ibu". Banyak bekal yang harus diajarkan kepada anaknya kelak. Lalu, kalau bekal itu belum ada (atau belum tercukupi), mau apa?

Bukan masalah perempuan yang mau melawan kodrat, tapi masalah kemerdekaan seorang perempuan. Perempuan harus merdeka! Boleh menggunakan alat reproduksinya (rahim) untuk "mencetak" anak, atau boleh tidak. Ini masalah biasa, seperti boleh menggunakan kaki untuk berjalan atau tidak. Sama-sama organ tubuh, bukan?

Alih-alih memperingati Hari Ibu, ternyata tidak semua perempuan menikmatinya. Tidak habis pikir, ada-ada saja hal yang menyudutkan sebagian perempuan. 

Jika memang telah menjadi ibu, tidak pasti anak perempuan yang telah dilahirkannya ingin hal yang sama seperti dirinya. Jadi, wahai ibu-ibu, berhentilah meminta cucu kepada anak perempuanmu!

Tiap-tiap momen yang dianggap "bahagia", seperti Hari Ibu ini; di mana seorang anak sibuk mencari hadiah untuk ibunya atau merangkai kata-kata manis; tetap ada sekelumit masalah "keperempuanan" yang perlu perbaikan. Tidak selalu penuh kebahagiaan wajah si perempuan (ibu) seperti imaji umum.

Ironisnya, kata "ibu" ini harus seorang perempuan yang benar-benar melahirkan anak dari rahimnya sendiri. Beda lho sudut pandang masyarakat terhadap perempuan yang melahirkan anak dari rahimnya sendiri dengan perempuan yang melahirkan anak dari "rahim perempuan lain". Misalnya, mengadopsi anak.

Si ibu yang mengadopsi anak ini tidak dianggap murni seorang ibu. Bedanya di mana? Dia juga menyayangi dan membesarkan anak adopsinya seperti anak kandung.

Lain kasus, seorang perempuan yang melahirkan dari rahimnya tapi membuang anaknya; apakah dia layak disebut sebagai seorang ibu?

Tidak! Seorang ibu tidak bergantung pada berfungsi atau tidaknya organ reproduksi perempuan. Anggapan salah masyarakat harus diluruskan, supaya tidak menyudutkan perempuan yang memiliki keterbatasan tertentu.

Siapa perempuan yang tidak ingin melahirkan dan membesarkan anak? Semua perempuan tentu memiliki kadar jiwa keibuan, tapi dia tetap punya pilihan terkait tubuhnya. Itu tidak sebatas ingin diakui masyarakat sebagai "seorang ibu".

Kita bisa menjadi ibu juga dari anak-anak saudara kita; sebulan sekali melihat anak-anak di panti asuhan; atau mengadopsi anak. Pilihan selalu tersedia untuk menciptakan hidup yang bermakna. Apalagi makna seorang ibu yang sebenarnya tak terbatas pada "melahirkan".

Lagi pula, untuk merayakan peran ibu, tidak harus menunggu tanggal tertentu (Hari Ibu atau ulang tahun si ibu). Tiap hari selalu menjadi hari milik ibu yang bertanggung jawab penuh atas anak-anaknya. Terlepas dia melahirkan dengan rahimnya sendiri atau tidak, seorang anak tidak boleh memandang sebelah mata seperti anggapan masyarakat. Dia tetaplah ibu, tanpa "tapi".

Perempuan yang menjadi ibu atau belum tetap diberi kehormatan atas pilihan dalam hidupnya. Tiada terhina seorang perempuan yang belum melahirkan; pun tiada salah seorang yang memilih melahirkan seorang anak dan perannya sebagai ibu.

Peran ibu tidaklah semudah melihat perempuan lain yang menggendong lucu anak bayinya. Tidak semudah kegemasan yang terlihat! Apakah tahu rasanya menjadi seorang ibu yang rela begadang karena anaknya sakit? Apakah tahu rasanya mengalami baby blues?

Tidak mudah membesarkan seorang anak. Anak bukanlah mainan lucu yang digunakan sebagai penghibur. Rasanya tidak etis sekali ingin memiliki anak karena asumsi "lucu dan gemas".

Dengan demikian, jangan terfokus kepada perempuan yang melahirkan dengan rahimnya adalah tolok ukur untuk bisa disebut "seorang ibu". Perempuan tetap bisa menjadi ibu, tanpa menggunakan rahimnya.

Untuk para perempuan yang menjadi ibu (atau belum karena pilihan masing-masing): Sebenarnya, tiada kasih setulus kasih ibu; sebenarnya, tiada hari tanpa hari ibu. Sebab, tiap hari adalah hari ibu!