Memang duniaku tidak seindah dan seberuntung mereka, tapi setidaknya ibu tetap berada di sampingku.”

Setiap orang tentunya memiliki rumah tempat di mana mereka pulang dan beristirahat. Beristirahat dari kejamnya dunia memperlakukan mereka dan beristirahat dari lelahnya dunia yang fana.

Harus diakui bahwa memang terkadang dunia tidak adil pada sebagian orang atau mungkin pada diri kita sendiri. Harus juga diakui bahwa memang terkadang kita tidak selalu kuat untuk menghadapinya.

Dunia memang kejam, tapi diri ini tidak pernah menyesal untuk berpulang dan beristirahat ke pangkuanmu, bu. Bercerita setiap hari tentang bagaimana pahit dan manisnya satu hari yang telah dilalui di atas kaki kecil ini. Selalu terlihat antusias dalam mendengarkan dan tidak pernah membandingkan dengan hal lainnya.

Tidak pernah satu hari pun dilalui tanpa adanya perbincangan diantara kita. Hidup ini selalu indah dengan segala kesederhanaan yang kita lewati bersama, walaupun hanya sekedar untuk duduk berdua sambil melihat ciptaan Tuhan yang sangat indah terbenam pada hari yang sudah petang.

Bercerita tentang apa yang dilakukan dan apa yang terjadi, bercerita tentang bagaimana sikap dunia kepada diri ini, dan bercerita tentang semuanya yang tidak satu pun dapat disembunyikan dan tidak ingin disembunyikan darimu.

Ibu selalu mengatakan maaf karena duniaku belum bisa seindah mereka. Bahkan setiap harinya ibu tidak pernah lupa untuk mengatakannya. Setiap kali ibu mengatakannya, putrimu ini hanya ingin engkau tahu bahwa dunianya sudah sangat indah dengan kehadiranmu disisinya yang selalu hangat.

Melindungi dan mengajarkan segala hal mulai dari yang terkecil adalah hal yang mampu membuat diri ini sadar bahwa masih ada alasan untuk tetap bertahan.

Selalu menjadi orang pertama yang berhasil membuat diri ini mengalah dari kejamnnya dunia dan bersabar akan segala cobaan yang menerpa. Selalu menjadi orang pertama yang juga berhasil membuat diri ini tersadar bahwa dunia juga pasti memiliki sisi baiknya dan tidak selamanya kejam.

Lebih dari cukup bagi putrimu ini memiliki mu sebagai tempatnya berpulang. Rumah yang sangat dirindukan olehnya ketika ia sudah lelah dengan kejamnya dunia. Ingin menangis saja ucapnya jika rumahnya sedang tidak baik-baik saja.

Apakah ibu percaya bahwa semua boleh untuk tidak baik-baik saja, kecuali ibu? Apakah ibu juga percaya bahwa semua orang boleh pergi, kecuali ibu? Percayalah bu, melihat ibu tersenyum merupakan salah satu alasan diri ini untuk selalu bertahan.

Dunia ini akan benar-benar hancur ketika ibu tidak baik-baik saja atau ibu pergi. Egois memang diri ini ketika rumahnya sedang tidak baik-baik saja. Merasa tidak ada penenang yang mampu meyakinkan bahwa diri ini akan kuat menghadapi hari esok yang mungkin akan lebih berat.

Selalu diajarkan untuk kuat dan harus mampu bertahan menghadapi kejamnya dunia. Tidak apa untuk tetap menjadi baik meskipun tidak dibalas dengan kebaikan juga katanya. Bu, bagaimana bisa hatimu sesempurna itu?

Jika ada hal yang mampu mengalahkan indahnya semesta, menurutku itu adalah dirimu ibu. Caramu bertutur dan menghadapi segala hal yang menerpa adalah  alasan lain bagi diri ini untuk bertahan dan juga mampu untuk menguatkan satu sama lain.

Ibu adalah manusia yang selalu kuat dan paling kuat dihadapan orang-orang yang ia cintai dan yang pernah saya temui. Tidak pernah menunjukkan bahwa dunianya mungkin juga sedang tidak baik-baik saja, namun ia selalu menunjukkan bahwa ia mampu untuk menerima semua keluh kesah pemilik rumahnya.

Ibu adalah perempuan terkuat dalam hidup tiap anaknya. Perempuan yang menjadi alasan tiap jantung hatinya untuk bertahan bersamanya. Perempuan yang tidak pernah mengeluh dengan semua beban yang ia tanggung dan perempuan yang tidak pernah lupa untuk tetap tersenyum dalam menghadapi semuanya.

Benar memang jika ada perumpamaan ibu adalah malaikat tak bersayap. Ibu adalah seorang peri dan malaikat bagi setiap anak-anaknya. Layaknya malaikat, hatinya yang sangat lembut itu yang juga entah bagaimana bisa caranya.

Duniaku memang tidak seberuntung mereka bu, tapi terkadang mereka juga tidak seberuntung diriku. Bukan ingin atau bermaksud untuk mengadu nasib, hanya ucap syukur karena memiliki pelindung dan penenang dari dunia yang selalu membuat diri merasa tersingkir.

Tulisan ini hanya sebagian kecil yang ingin disampaikan oleh diri ini kepada rumahnya. Terima kasih untuk segala kesempurnaan dan kesederhanaan yang selalu diberikan, terima kasih untuk tidak pernah menuntut apapun dalam kehidupan putrinya, dan terima kasih karena selalu ada.

Ibu, terima kasih untuk telah meredamkan segala emosi dari putrimu yang dapat memicu pertengkaran, terima kasih untuk tidak membandingkan putrimu dengan orang lain, terima kasih untuk tidak lelah mendengarkan semua ceritaku, dan terimakasih untuk segalanya yang tidak mampu untuk terucapkan.

“Siap sedia saat ku bercerita, ku beruntung jadi anakmu bunda.” – Rumah ke Rumah, Hindia.