Peneliti
1 tahun lalu · 247 view · 6 min baca · Cerpen 46004_93917.jpg
Foto: loop.co.id

Ibu Pergi, Ayah Menikah Lagi

Sepagi ini seluruh siswa sudah berkumpul di dalam kelas. Tak ada yang datangterlambat seperti hari-hari biasa. Tiap-tiap bangku dengan dua kursi sudahterpenuhi. Dari baris terdepan di bangku kiri, Anton, Ratih, Mukti … hinggabaris terakhir di sisi kanan Lia, semua duduk rapi.

Aku – seorang di antara mereka – Lani. Duduk di sebelah Lia. Aku juga datangdi pagi-pagi sekali. Sekitar jam 06.15 menit. Waktu aku masuk, baru terlihatsepuluh orang anak yang menyebar di beberapa deretan bangku dan kursi: tigaorang di depan di deretan bangku tengah. Dua orang di tengah di bangku deretankiri. Tiga orang di tengah di bangku deretan kanan. Satu orang di depan kanan.Satu orang di belakang bangku deretan tengah.

Aku duduk di kursi deretan paling kanan baris paling belakang. Aku anak yangurutan ke sebelas. Seluruh jumlah anak di kelasku adalah 30 puluh orang. Ada sembilanorang lagi yang datang setelah diriku.

*

Sepuluh menit kemudian: jam 07.00 WIB. Satu demi satu, anak-anaksusul-menyusul bermunculan dari pintu. Sesekali aku melihat senyum di wajahmereka. Sesekali bercampur gelisah menunggu pengumuman. Hari ini pembagianrapor. Seluruh ujian yang telah dilaksanakan dalam beberapa hari lalu akanterlihat hasilnya.

Siapa tak ‘dag-dig-dug’ menunggu hasil ujian?

Sebelum wali kelas masuk, ruangan ini dipenuhi dengan beragam suara yangsatu sama lain tenggelam dalam keasyikan membicarakan kemungkinan hasil dariujian mereka. Juga mereka saling asik berbagi cerita tentang hari-hari yangdilalui dalam beberapa hari selama ujian. 

Ada yang cerita: setiap kali maumengawali ujian, mereka tidak lupa membaca do’a. Setiap kali belajar sebelumujian, tak lupa mengambil wudhu karena kata orang tua mereka, ilmu itusuci dan biasanya lebih mudah dipahami oleh orang-orang yang tersucikan.

Ada juga orang tua dari sebagian mereka yang dengan tekun membangunkananaknya di tiap sepertiga malam. Sebab belajar di saat seperti itu, konsentrasibelajar jauh lebih baik. Sepertiga malam menyediakan keheningan dan kesunyian.Mereka bisa belajar dengan baik. Ayah dan ibunya sehabis sembahyang tahajudmenjagai anak-anaknya belajar. Menghiburnya. Menyediakan kopi untuknya.

Ada juga yang bercerita: ayah dan ibunya berpuasa setiap hari selama ujianmereka. Katanya sebagai wujud permintaan agar anak-anaknya dapat melewati ujiansekolah dengan baik. Mereka bercerita dengan penuh kebahagiaan. Sedang aku hanyamembayangkan: ayah dan ibuku pasti juga mendoakan untuk ujianku.

Rita – yang berada di bangku depan deretan paling kanan – berjalan ke arahkudan Lia. Rita dan Lia segera terlibat cerita-cerita yang sama: seputarhari-hari selama ujian. Jadilah aku tenggelam di antara mereka. Mula-mula akujadi hanya pendengar yang baik. Sebab aku tak punya cerita yang menarik. Tapi…

“Lani, kamu diam saja dari tadi?”

Lia dan Rita akhirnya mendesak aku untuk juga bercerita hari-hari selamaujian.

“Jangan-jangan kamu malu ya, kamu tidak belajar selama ujian”, Ritamendesakku. Dan aku tak dapat lain kecuali tersenyum malu. Tapi aku beranikanjuga bercerita.

“Aku belajar tiap hari”.

“Sama siapa?”

“Sendiri. Kadang sama nenek. Tapi sendiri… soalnya nenek tidak mengerti”.

“Aku juga”, sambung Lia, “kadang belajar ditemani nenek. Tapi lebih seringayah dan ibu. Mereka gantian. Soalnya nenek dulu katanya tidak sekolah jaditidak bisa baca”.

“Aku nggak pernah sama nenek. Biasanya abi dan ummi. Aku biasanya belajarnyamalem. Biasanya sebelum tidur, abi kadang umi yang nyuruh aku belajar. Biasanyasetengah jam sebelum tidur”, sambung Rita.

Aku diam sembari mengingat-ingat biasanya aku belajar jam berapa saja.

“Kalau kamu, Lan? Belajarnya siang atau malem?”

Muncul ingatan: dulu aku biasa belajar tiap malam. Mula-mula sehabis datangdari mengaji di masjid dan sehabis makan, ibu akan mengajakku belajar. Di kamartertata rapi buku-buku sekolah yang biasanya tiap hari aku bikin berantakan.Ibu atau ayah selalu merapikan untukku. Sehabis datang dari kerjaannya sebagaisopir, ayah yang menggantikan ibu untuk meneruskan mengajariku. Ayah dan ibubergantian tiap malam mengajak aku belajar.

“Jadi”, jawabku “kalau dulu…”.

“Kok dulu sih, Lan?”, Rita segera memotongku.

“Kan aku nanyanya yang ujian kemaren”.

“Oh iya”, jawabku begitu saja sambil tersenyum-senyum dan menggaruk-garukkepala. Tak ada yang gatal.

“Yang sekarang, aku…”.

Wali kelas masuk. Cerita ditutup.

*

Rapor telah dibagikan satu demi satu. Sebagian besar mereka gembira dan puasmelihat hasil angka-angka yang berderet di dalam rapornya. Rata-rata delapan.Hanya ada satu atau dua yang angkanya tujuh. Tapi wali kelas mengatakan banggadengan murid-murid kelas empat SD ini. Tak ada yang buruk, begitu nilainya.

“Memang ada beberapa yang harus lebih giat lagi untuk belajar”, katanya. Akutersenyum. Kata-kata itu rasanya tak lain ditujukan kepadaku. Kupandangideretan nilai-nilai di raporku. Memang kurang enak dipandang. Hanya ada satuatau dua angka delapan. Sisanya angka tujuh. Dan lebih buruk lagi.

Aku sudah tidak pernah belajar segiat dulu. Aku tidak suka lagi membuka-bukabuku pelajaran. Di sekolah aku sudah dikenal sebagai anak yang nakal.Setidaknya itulah yang aku dengar dari teman-temanku. Para guru yang mengajardi kelasku pasti mengenalku. 

Di mata mereka, aku dikenal dengen beberapakebiasaan ini: Lani si tukang ganggu di kelas, Lani si suka telat masuk, Laniyang tak suka baca buku, Lani yang suka tidur, dan Lani, Lani, … yang serbadinilai buruk. Suatu ketenaran yang pahit.

Di rapor, ada penilaian keaktifan, kerapian dan kepribadian. Aku lihat dirapor teman-temanku: berderet huruf-huruf A. Beberapa ada yang dapat nilai B.Kata orang tua mereka: huruf-huruf A adalah nilai terbaik atau istimewa.Sedangkan B berarti ‘baik’ saja. Dan di raporku, yang berderet bukan huruf Aatau B, tapi C. Semuanya. ‘Cukup’ untuk nilai keaktifan. ‘Cukup’ untuk nilaikerapian. ‘Cukup’ untuk nilai kepribadian.

Mungkin ayah dan ibuku akan marah seandainya tahu hasil ujianku ini. Mungkinmereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda kecewa saat mendapatinilai-nilai yang berderet di raporku. Mungkin uang sakuku akan dikurangi.Mungkin perhatian mereka akan berkurang. Mungkin mereka tak lagi menjadikan akusebagai anak kebanggaan. Aku tak patut dibanggakan.

“Lani!”

Aku yang berdiri di mulut pintu kelas menoleh ke arah panggilan itu. Walikelas. Dia menyuruhku menghadap.

“Duduk. Kamu harus lebih rajin ya. Memang nilai-nilai di dalam rapor bukansegalanya. Tapi aku lihat ketimbang dulu, nilai-nilaimu makin menurun. Kamuharus belajar biar orang tua kamu bangga”.

Dia lalu menepuk-nepuk pundakku dengan terus memberiku semangat. Tapi suaramotivasi itu sebentar saja singgah. Setelah itu entah kemana. Melayang begitusaja. Aku kehilangan motivasi. Aku tidak tahu kepada siapa harus aku haturkankebanggaan ini bila aku punya nilai yang bagus di dalam pelajaran. Aku tidaktahu kepada siapa prestasiku aku haturkan andai saja aku jadi murid yangberprestasi.

*

Di luar kelas, di halaman sekolah, para wali murid – kebanyakan diwakiliibu-ibunya – telah berkumpul. Begitu ramai. Mereka datang atas undangan pihaksekolah untuk memeriahkan hasil rapor anak-anaknya. Aku tidak tahu tradisiseperti ini sejak kapan dimulai dan kapan diakhiri. Pihak guru punya alasanbahwa kedatangan orang tua di hari penerimaan rapor adalah bentuk dukungan yangpenting bagi anak-anak mereka. Agar anak-anaknya jadi lebih rajin belajar.

Sambil aku berjalan dari pintu kelas, aku tebarkan pandang kepada mereka.Aku melihat kebahagiaan yang muncul dari isyarat senyum dan tawa mereka. Akumendengar mereka memuji anak-anaknya seperti tak peduli berapa pun hasilulangannya.

“Anak pinter. Nilainya bagus-bagus. Nanti ibu beliin sepatu baru sebagaijanji karena telah nilainya bagus”.

“Yeayyy… sepatu baru”.

“Setelah ini harus terus terus belajar ya. Janji ya. Biar nanti bapak kamukasih bonus kalau kamu semangat belajar”.

“Iya, bu. Aku janji semangat terus”.

Aku terus menebar pandang. Mataku mencari-cari seseorang. Tapi sejauh pandang,aku tak mendapati siapa-siapa yang kuharapkan datang. Apakah kabar kenakalankutelah sampai pada kedua orang tuaku yang kini entah di mana? Apa merekaterlampau malu untuk datang menyaksikan rapor anaknya yang nilainya tak karuan?Nenekku tak mungkin datang ke sekolah. Dia sudah sangat tua.

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di halaman sekolah. Aku melihatnya. Dan akucukup gembira biar pun bukan yang kuharapkan. Aku berlari ke arahnya.

“Paman!”.

“Lani”.

Aku mengambil tangannya untuk dicium. Dia tidak menanyakan raporku. Biarlah.Aku juga tak bersemangat untuk memberitahu dia. Motor dinyalakan lagi. Aku naikdi belakangnya. Lalu pulang.

Di rumah, aku sudah lupa dengan kemeriahan penerimaan rapor tadi pagi.Nasehat-nasehat guruku juga sudah entah tak punya daya dorong dalam diriku. Akutetap seorang Lani yang pemalas. Kamarku berantakan. Buku-buku dan jugabaju-baju sudah tak karuan. Nenekku saja yang masih sering terdengarmemarahiku. Di rumah ini hanya terdengar suara nenek. Tak ada lagi.

Tapi nenekku di mana? Aku mulai mencari-cari. Perutku memintaku untuk makan.Aku cari ke dapur. Tak ada. Aku cari di kamarnya. Tak kutemukan juga. Akhirnyaaku mencarinya di belakang rumah. Yang kudapati adalah ibu-ibu tetangga. Merekasedang berkumpul dan ‘ngerumpi’. Mereka tak menyadari kedatanganku. Merekamembicarakan sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya. 

Suatu misteri tentangayah dan ibu kini menjadi jelas dalam perbincangan mereka. Informasi itu begitudatang terlambat padaku. Setidaknya dalam obrolan itu, kejadiannya sudahterjadi tiga bulan yang lalu. Semua orang merahasiakan dariku.

Ada beberapa kalimat yang kudengar jelas. Kalimat kuringkas begini: Ibupergi. Ayah menikah lagi.

Artikel Terkait