Perjalanan pulang dalam dekap sesak ibu kota hari ini adalah rutinitas berjuta manusia produktif yang entah memaksa atau rela bekerja sama dengan DKI Jakarta. Sesak. 

Berdorong-dorongan, berebut masuk ke kereta rel listrik yang sebenarnya kami tetap bergerak tanpa didorong. Rela berhimpit di depan tiap pintu kereta yang punya celah sepanjang gerbong. Dan berusaha bawa botol minum dan sedotan reusable berharap menolong dunia ke depannya.

Tapi jangan sampai juga kami lupa bawa masker karena harus menolong diri sendiri hari ini.

Hari itu saya beruntung, karena baterai handphone saya habis saat tiba di Stasiun Manggarai. Karena ini, yang bisa saya tonton adalah dunia yang saya hadapi, dunia dengan manusia yang lelah dan paling tidak penuh semangat dalam hatinya untuk menghidupkan, untuk sementara waktu yang saya tonton bukanlah feeds Instagram yang kenapa bisa ya saya nikmati sepanjang hari?

Seperti biasa, di stasiun transit memang akan sulit dapat kereta yang sepi pengguna, apalagi di jam hiruk-pikuk pulang kerja. Kali ini saya yang berhimpit di depan pintu kereta rel listrik tujuan Bekasi.

Handphone yang tidak menyala dan jendela kereta memperlihatkan saya pada dunia nyata sepanjang perjalanan rel kereta. Saya baru tahu kalau kehidupan di samping rel kereta itu masih ada.

Selama ini, saya terperangkap dalam asumsi saya sendiri yang hanya menikmati kereta dan stasiunnya. Ya memang bersih dan keren.

Ternyata, persis di samping kereta saya melintas, ibu-ibu yang entah siapa pembelinya masih juga berjualan kopi, juga wanita lainnya yang lalu lalang pakai rok mini di waktu yang sudah tidak ada matahari.

Sementara di dalam kereta, hampir semua pegang handphone, beberapa pakai headset, entah mendengar lagu atau nonton drama korea, kalau tidak ya tidur, atau mungkin handphonenya lagi mati seperti handphone saya. Jarang sekali yang terlihat bawa buku. 

Seorang ibu dengan dua tas kresek hitam besar tepat disamping saya, tiba-tiba bergumam, “Dingin ya. Pakai aja deh jaketnya.”

Saya balas tersenyum, dan beliau terima kode dari saya bahwa saya siap dengan cerita selanjutnya.

“Saya baru pulang ngajar di Sekolah Tinggi Akuntansi terus mampir dulu tadi beli sayur di Jatinegara, murah-murah. Besok Sabtu, supaya saya bisa masak aja di rumah, gak pergi-pergi lagi.”

Bersamaan dengan informasi kami hampir tiba di Stasiun Bekasi, dengan dua tas kresek hitam besar dan tas gemblog-nya, Ibu itu siap-siap turun.

“Pulang naik apa, Bu? Dijemput?”

“Enggak. Naik Ojek Online.”

Di perjalanan pulang dari Stasiun Bekasi menuju rumah, yang biasanya ditemani lagu-lagu di telinga, kali ini saya ditemani senandung klakson dan bersantapkan debu. Sudah jam 22.00 WIB, saya masih menjadi bagian dari ramainya kota Bekasi dengan truk-truk barang yang besar.

Belum selesai memikirkan si ibu di kereta dengan kresek hitamnya yang selain mendedikasikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, juga berikan dirinya untuk keluarga, saya kembali beruntung, di depan saya ada seorang pengemudi ojek online yang menyetir dengan satu tangan.

Bahaya ya.

Tapi tali balon helium besar bentuk burung kakak tua yang ada digenggamannya dan terlebih anaknya yang dibalut sampur batik dia rasa lebih butuh dekapannya. Tidak begitu kelihatan apakah yang mengendara itu bapak atau ibunya karena jaket kebesaran logo ojek online yang digunakannya. 

Akhirnya saya berhasil menyalip untuk sekadar memastikan. Oh, ternyata ibunya.

30 menit mengendara, akhirnya saya tiba di rumah.

Semua cerita hari itu jadi cerita untuk ibu di tengah malam, kebiasaan kami bertukar rasa dan asa, bukan untuk saya saja, tapi kami juga. Waktu ini yang hanya kami punya di setiap harinya, tak mau saya lewatkan, karena ada kebahagiaan dan pengetahuan baru di setiap malamnya.

Tema para Ibu malam ini ditutup Ibu. Katanya, “Semua ibu itu hebat. Ibu hebat itu hal biasa. Kalau dia tidak hebat, maka dia yang luar biasa.” Kalimat yang cukup mengganggu malam saya, terus menggaung sampai mengantar tidur, akhirnya saya sepakati. 

Luar-biasa; di luar dari yang biasa; bukan sesuatu yang biasa.

Jika bekerja, menghidupkan, dan mencerdaskan adalah sesuatu yang dianggap sebagai suatu yang luar biasa, bagi kami calon ibu maupun ibu, hebat berarti belum melekat dalam tubuh kami, seperti yang dianggap telah melekat pada tubuhmu.