Amarah  Kepulangan

beribu-ribu penjelasan tak mampu padamkan
jerih payah amarahmu membakar jejak - jejak rindu.
tanpa tanda dan pesan kau hapus alasan-alasan kepergian
hilang seluruh harap.
maka camkanlah dalam hati
sejak kepulangan menjadi kabar biru
telah ku kubur rindu di bawah selimut paling pekat
agar tak usah kedinginan saat mata bertemu
percakapan membeku.
sebab kepulangan yang biasanya cerewet
telah berubah jadi bisu dan tuli.

Kupang, 2016


Merebut Hari

kutemui pagi yang megap
oleh sisa dingin dan hangat belaian nafas
lepas dari tubuhmu.
peluk kantuk dan berlari-lari merebut hari
kitari pening  yang mulai mereda
sebab setiap memulai  selalu jeda
seperti halnya membaca kalimat.
temui tanda baca yang tak sengaja menghentikan aliran suara

Mandeu,  2019


Ibu di Senja Usia

aku pernah berlinang damba
kamu kembali meneduh dalam rahimku
kita menenun doa bersama sampai selamat lahir
betapa kini aku mendamba kehadiran
menyembuhkan rindu bertemu semakin rumit
di setiap sibuk yang belum saja lerai
aku setia menenun tubuh dalam pikun ingatan
aku tahu, kepalamu penuh seribu alasan menetap
nak, pulanglah dengan girang
seperti pecah tangis pertama di ujung ngeriku
jangan lupa bungkus teduh senyum binimu
yang selalu gagal menjenguk renta ibumu
anak-anakku...
jika waktu tiba begitu tergesa
mendesak aku bertemu sang mahasegala
aku tetap menanti di depan pintu maaf
bahkan bila kau datang dengan amarah tanya
dimana ibu?
nak, kamu dimana?
aku ingin kekal bersemayam dalam sibuk hatimu.

Kupang, 2019


Membayar Lelah

lelaki tua yang hanya tahu mengurus kebun
lupa merapikan kumis dan rambut
lupa menggosok gigi usai bangun tidur
hanya dengan sirih pinang sehat giginya.
di hari minggu mengurban tubuh
memanen sukacita.
di senin menuju sabtu ia berjalan ke Timur
menyiram tanaman dengan sebakul keringat
hasilnya rahmat berlimpah.
sedang kau sibuk bermalas-malasan
mengurban tubuh dan jiwa di dalam android
memajang kaki sepanjang jalan
mengubah liur jadi kenyang di warung-warung kota
berlama pulas di atas kasur tanpa peduli waktu
pada waktu-waktu sulit kau meneriakinya di kebun
meminta kebun menjelma rupiah
dengan gelisah ia bergegas menuju pasar
jawab teriakmu santun
“tabahlah nak, aku masih mengetuk pintu Tuhan”
Tuhan membuka pintu
tidak diberinya batu melainkan roti
lelaki itu mengirimkannya ke  kota
demi membiayai dosa-dosamu
seharusnya kau tahu membayar lelah
lelaki yang jauh dari dosa
bukan sesukamu mengkhianati tulus jiwanya
membesarkan mimpi-mimpimu.

Penfui, 2019


Lanskap Malam di Sudut Cafe Oesapa

bahu-bahu jalan menanti tapak
malam memeluk abadi cahaya lampu.
sebuah pemandangan khas desember tersaji
sekelompok orang asing mencari cara bahagia
saling mendengar dalam syhadu irama musik indie
mengutuk capai dan pegal rutinitas
jamak temui bocah menjajal untung jagung bakar
penunggu kafe menawar cappucino dan singkong keju
fotografer-fotografer menawar profesi
sambil menikmati deru gelombang memecah bibir pantai
pasangan-pasangan tak terkategori saling melumat janji
toh esok berjuang mengingkari.
kupu-kupu sialan nyaris meraup uang
percuma saling mengintip
semua masih tabah membohongi pikiran
sibuk mencari jalan salib masing-masing.

Oesapa, 2019


Matamu Pedang

sesampainya di matamu
aku gemetaran hampir membuang air kencing.
matamu pedang
dihunuskannya pada rindu setebal karang
remuk sukma jiwa
tiada daya menepis
tiada suara membuncah
sunyi semesta
tajam matamu pedang
membunuh hasrat dan gejolak.

Kupang, 2019


Lelen

Jika kau salah menegaskan masa muda
Jalanmu adalah riwayat kesudahan
Budaya bukan kompromi mistis
Ia setegak  cemara
Jangan teraniaya zaman
Tetaplah disini berakar kokoh
Tanpa jatuh dalam mekanisme ikut arus
Budaya tak merestui kamuflase-kamuflase murahan
Yang menuntunnya pada kejatuhan


Rumah Tua, Rumah Masa Lalu

alang-alang yang disusun berapa puluh tahun silam
kian menipis terkikis hujan
pintu dan jendela kian lapuk dimakan hari.
tiang-tiang utama telah remuk menahan beban
tetap saja kau memeluk bantalmu di atas lapuk lontar
masih begitu cinta gubukmu yang renta.
di mana sulungmu?
sibukkah ia menggulung nasib
sesampai lupa menjenguk ari-ari yang ditanam di bawah tungku.
di mana bungsumu yang dulu memanja?
yang merenggek kala meminta jagung bunga dan talas bakar di setiap senja.
mungkin sudah melupa pada asal dan kenangan
sampai tak pulang-pulang menemuimu  telah uzur
mencintai rumah tua, rumah masa lalu.


Perempuan di Bulan Desember

waktu terlambat membendung perjalanan bulan desember
tanah yang damai subur menumbuh cinta pada elok sahaja gadisnya.
diam-diam aku meyakinkan hati pada harap gadisnya yang limpah.
waktu terlambat membendung manja pujaan dan rayuan
tinggallah di tanah ini abadi
di bawah gunung yang meninggikan rindu, berselimut kabut dan dingin.
tinggallah di sini sampai detik menua
kita tua bersama.
Desember selesai dalam hitungan kalender
berita kepulangan hampir membunuh janji
maka sombong balas manis puja rayunya;
katakan pada leluhur yang merawat kemagisan tanah ini
bisikkan pada telinga gunungmu
lelaki tak pernah ingkar
bila tahu cintanya bertahta penuh hormat pada rimba gadisnya.