Aku tak benar-benar yakin kalau perempuan tangguh itu adalah Ibuku. Setiap kali kutanya tentang Ayah, perempuan yang kupanggil Ibu itu selalu teguh mengatakan bahwa Ayah sedang berjuang di jalan Tuhan, membasmi kejahatan paling besar di dunia, kekafiran. Itu menurut Ibu dan aku tak begitu paham apa sesungguhnya yang sedang dilakukan oleh Ayah.

Aku rindu kehadiran Ayah. Lama sekali Ayah tidak pulang. Pernah sekali Ayah pulang ke rumah sambil membawakan oleh-oleh untukku jubah hitam dan kerudung lebar yang warnanya hitam legam menyerupai sayap gagak hitam.

Sesungguhnya warna kesukaanku adalah biru langit. Ya, entah mengapa aku sering membayangkan terbang tinggi ke langit. Menjangkau hamparan luas biru tak terbatas, menemukan keindahan dan keteduhan paling wibawa bernama senja.

Ah, Ibu melarangku menyukai warna biru langit. Lagi-lagi Ibu bilang, itu warna kesukaan setan, warna maksiat. Aku heran, dari mana Ibu tahu warna kesukaan setan? Ibu berteman dengan setan? Lagi-lagi, aku tak paham maksud Ibu.

Ibu selalu menasihati bahwa usiaku kini menjelang balig, aku harus berhati-hati dengan setan yang berkeliaran di mana saja dan kapan saja, kecuali di rumah kami. Ibu bilang, rumah kami adalah salah satu tempat suci, setan tak mungkin berani masuk ke rumah kami karena sudah penuh dengan rombongan malaikat. Dari mana Ibu tahu? Entahlah.

Setiap menjelang magrib, Ibu akan mengunci semua pintu dan jendela rumah. Aku tak boleh bergerak sedikit pun mendekati pintu. Lampu neon teras rumah sengaja Ibu matikan. Kata Ibu lagi, agar setan-setan di luar sana mengira bahwa rumah kami sepi dan tak berpenghuni.

Konon, pernah beberapa orang berseragam polisi mendatangi rumah kami dengan membawa perlengkapan senjata. Aku dan Ibu sejak pagi hari sudah pergi dari rumah dan menginap di rumah saudara Ibu yang juga memakai sayap gagak hitam. 

Beberapa perempuan di rumah itu bahkan menggunakan topeng yang menutupi wajah mereka. Ibu bilang itu niqab, topeng penangkal setan.

***

Ada banyak pertanyaan yang berdesakkan di pikiranku. Aku melihat orang-orang di luar sana tidak seperti Ibu. Mereka boleh memakai baju warna merah, hijau, dan biru langit, warna kesukaanku. Mereka boleh berkumpul, bermain di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja.

Mereka juga boleh salat di masjid mana saja. Sementara aku, kata Ibu, harus menjadi perempuan salihah dan penghuni surga. Tak boleh sering keluyuran, tak boleh banyak bicara, tak boleh salat di sembarang masjid, tak boleh makan di sembarang warung.

Perempuan salihah adalah perempuan yang menghabiskan usianya hanya untuk membela Tuhan, patuh tunduk kepada suami dan menjauhi pergaulan setan. Ya, Ibu sering menyebut mereka yang tak sama dengan kami adalah setan.

Sebenarnya dulu aku punya adik laki-laki, usianya tiga tahun. Kejadian kebakaran yang menghanguskan banyak rumah di kampung kami telah merenggut nyawa adik laki-laki. Aku dan Ibu panik berusaha menyelamatkan diri dan beberapa barang yang ada di dalam rumah.

Aku ingat waktu itu adik laki-laki sedang istirahat di kamar. Aku sudah mengingatkan Ibu, bahkan aku ingin sekali menerobos sendiri kobaran api untuk menyelamatkan adik laki-laki. Aku kecewa, Ibu lebih memilih menyelamatkan tas besar yang berisi sayap gagaknya dan sebuah poster besar tulisan arab.

Lama- lama aku tahu, poster itu bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah Muhammadun Rasulullah. Aku pernah menanyakan kepada Ibu mengapa tak menyelamatkan adik laki-laki, Ibu tampak teguh dan kuat mengatakan bahwa adik laki-laki sudah menjadi pejuang di jalan Tuhan, tempatnya sekarang adalah di surga bersama para bidadari.

Aku mulai ragu, sesungguhnya apa yang selama ini Ibu ajarkan kepadaku? Kata Ibu, aku harus bersyukur kalau ada peristiwa bom yang terjadi di kota. Itu artinya, jumlah setan akan berkurang dan jalan menuju surga semakin dekat.

Aku tak begitu yakin ketika di kamar Ayah pernah menemukan pistol dan beberapa botol kecil berisi bubuk yang aku tahu itu adalah bahan pembuat mercon. Lagi-lagi, Ibu bilang bahwa kami sedang berjuang membasmi setan dan membela Tuhan.

***

Dulu sebelum Ibu mengatakan aku balig, Ibu pernah marah besar kepadaku dan mengutuk keras perbuatanku. Waktu itu aku bermain keluar rumah dan tidak memakai kerudung hitam. Pengalaman keluar rumah bermain bersama teman itulah yang paling membuatku bahagia, lega dan merasa menjadi manusia seutuhnya.

Namun sayang, semenjak kejadian itu  Ibu marah dan menyuruhku taubat dengan salat malam dan mengkhatamkan kitab suci sampai berhari-hari. Ibu kembali menasihatiku, bahwa aku tak boleh menjadi setan.

Kalau boleh, sebenarnya aku ingin ketemu Tuhan. Aku ingin bertanya tentang satu hal, apakah benar Tuhan pernah menyuruh Ibu berbuat begitu? Lalu, apa sesungguhnya yang sedang Ibu perjuangkan dengan alasan sedang membela Tuhan? 

Semakin hari, justru aku semakin merasa bukan manusia, semakin aku mampu memahami kehidupan di sekitarku, justru aku menyaksikan Ibu adalah sosok yang menyeramkan. Jangan-jangan sosok setan yang sering Ibu katakan itu adalah Ibuku sendiri.

Aku juga ingin ikut ke mana Ayah pergi. Kalau benar Ayah sedang berjuang di jalan Tuhan, sungguh aku ingin sekali ikut, barangkali aku boleh ketemu langsung dengan Tuhan dan menanyakan semua gejolak pertanyaan di pikiranku.

Apakah aku perlu memperbanyak memakai sayap gagak hitam untuk bisa terbang ketemu Tuhan? Ah, bahkan Ibu sudah mulai menyuruhku memakai topeng hitam.

***

Pagi-pagi sekali sebelum subuh membangunkan warga kampung, Ibu terburu-buru menarik tanganku bergegas mengajak pergi dari rumah dengan beberapa tas besar dan poster itu. Ya, poster yang kata Ibu akan mengantarkan kami masuk surga. Aku masih sangat mengantuk dan bergeming mengikuti langkah Ibu pergi ke rumah saudaranya.

Di rumah itu, sudah berkumpul banyak orang. Penampilan mereka tak jauh berbeda dari Ayah dan Ibu. Serba hitam dan tak ada sama sekali warna kesukaanku. Hari ini mereka berkumpul di depan televisi yang menyiarkan berita. Aku membaca headline berita itu : Bom Bunuh Diri.

Seluruh orang yang ada di dalam rumah bersorak bahagia. Beberapa laki-laki berteriak mengucapkan takbir berulang kali. Sementara Ibuku tampak menangis haru dan bersujud syukur, lalu memelukku dan mengatakan bahwa Ayah sudah bahagia di surga. Ayah sudah bersama Tuhan di surga.

Entahlah, kecuali aku yang justru merasa sangat sedih, ingin menangis dan berlari keluar entah ke mana. Mungkin aku ingin terbang ke langit biru setinggi-tingginya dan kembali menanyakan kepada Tuhan, "Apakah benar Tuhan pernah menyuruh Ibu berbuat begitu?"