Pada suatu hari biasa, seorang anak bertanya kepada ibunya setelah dimarahi karena menggunakan peralatan make up milik ibunya. Sang anak bertanya “Mengapa aku gak boleh pake? Tapi Ibu pake setiap hari tuh”. 

Kemudian dijawab oleh Ibu, “Kamu masih kecil, engga boleh pake kek ginian! nanti kalau dah dewasa baru boleh”. Perkataan dari sang Ibu menimbulkan bekas perasaan samar di benak si anak.

Si anak bertanya-tanya dalam diamnya, “Apa itu dewasa? Apa itu artinya jika aku sudah dewasa nanti aku tidak akan dilarang melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan?”. 

pada hari selanjutnya, si anak tersebut ingin memakan mi instan sebagai makan siangnya. Namun, sang nenek memisahkan setengah dari isi mi ke piringnya. Si anak penasaran, dia bertanya

"Nek, mengapa hanya setengah saja? Aku bisa kok menghabiskan satu mi sendirian"

Sang nenek menjawab, "Kamu masih kecil engga boleh makan mi banyak-banyak". Hingga pada akhirnya, sang anak menyebutkan keinginannya untuk cepat tumbuh dewasa.

“Ibu, aku ingin cepat dewasa”

Seorang anak yang tak mengerti apa itu dewasa ternyata menginginkan dewasa. Dia tersenyum akan angan-angan semunya, menciptakan bayangan terindahnya akan melakukan apa saat sudah dewasa nanti. Bahkan dengan semangat menceritakan apa yang akan dia lakukan saat dewasa nanti kepada teman-teman sepermainannya.

Pernahkah kamu ada pada posisi seperti ini? Jika pernah, apakah dewasamu sekarang sesuai dengan apa yang kamu bayangkan dahulu? Loh, mengapa kamu menggelengkan kepala? Bukankah ini yang kamu inginkan?

Ingatkah kamu ketika kamu membayangkan betapa menyenangkannya menjadi sesosok orang dewasa? Apakah kamu dahulu membayangkan ketika sudah dewasa nanti kamu boleh memakan satu bungkus mi instan sendiri? Atau sama dengan saya yang membayangkan untuk dapat menggunakan make up seperti apa yang Ibu lakukan setiap harinya?

Saya yakin ada seribu alasan yang sekarang terasa konyol hingga membuat kamu dapat berkata ingin segera dewasa. Jika diingat kembali beberapa tahun ke belakang dan membandingkannya dengan sekarang, saya merasa berdosa. Bagaimana bisa saya yang dahulu menginginkan segera dewasa namun sekarang memaki hidup saya yang makin mendekati kata dewasa.

“Tau gini aku gak minta jadi dewasa” ucap orang dewasa yang sedang frustrasi kesekian kalinya. 

Orang dewasa itu memandang langit-langit kamarnya, membayangkan betapa menyenangkannya masa kecilnya. Masa kecil yang hanya dipenuhi canda tawa dan pemikiran untuk melakukan permainan apa di besok hari. Tanpa perlu memikirkan permasalahan realitas yang membuat seseorang ingin merontokkan rambut miliknya.

Dia lalu kembali teringat dengan ucapan ulang tahun dari temannya yang berisi ‘Happy Sweet Seventeen’, sekarang si orang dewasa itu menertawakan ucapan tersebut.

“Mana ada sweetnya, suck yang ada”

Si orang dewasa terheran mengapa seluruh orang mengatakan ‘sweet’ sementara dirinya sama sekali tak merasakan ‘sweet’, daripada ‘sweet’ bukankan ‘suck’ terlihat lebih pas untuk disandingkan.

Umur tujuh belas di mana banyak remaja menantikannya. Entah untuk dapat memamerkan KTP atau menggelar acara ulang tahun yang meriah bersama teman-temannya. Seolah-olah mereka sudah bebas melakukan banyak hal. Akan tetapi, tidak kah kalian merasakannya? Ketika kamu berada di umur tujuh belas segala realitas kehidupan akan makin jelas.

Sebuah realitas yang dengan keras menampar kita layaknya ombak di laut menabrak pemecah ombak tiada henti. Teman yang kamu percaya menghianatimu, orang tua yang tidak mendukung keputusanmu, perguruan tinggi yang menolakmu, atau hasil pekerjaanmu yang tidak sesuai kamu bayangkan.

Sudah berapa kali kamu menangis karena begitu lelahnya menjadi seorang dewasa? Lalu mengapa dahulu kamu menginginkannya? Dewasa itu… tidak enak kan? Ingin rasanya berkata kembali kepada Ibu,

“Ibu, aku tak ingin menjadi dewasa. Aku hanya ingin menjadi anakmu yang berumur 5 tahun”.

Seandainya dapat memutar waktu, ingin rasa kembali untuk berbicara dengan saya yang menginginkan segera dewasa.

“Jadi dewasa itu gak enak, jangan pernah minta untuk cepat dewasa, nikmati waktu bermainmu karena saat besar nanti hal itu tidak akan terulang”

Nahas, jarum jam terus berdetik maju. Seolah mengejek akan harapan kosongmu yang tidak akan pernah terjadi. Ingin meraung dan menyalahkan siapa pun percuma, karena itulah yang harus dihadapi oleh setiap orang.

Dewasa ini memang tak akan pernah mudah, namun tidak mungkin kita hanya hidup dalam bayang-bayang angan saja. Temukanlah suatu kebahagiaan dalam dirimu. Tak perlu besar, hanya perlu cukup untuk dapat dijadikan alasan bertahan pada permasalahan yang tak kunjung usai ini.

Percayalah, kamu tidak pernah sendiri. Banyak orang yang siap menjadi sandaran serta telinga untuk segala keluh kesahmu. Akhir kata, hai kamu orang dewasa sudah siapkah kamu untuk jalan yang semakin berliku?