Nama Ibrahim bin Adham mungkin tidak asing lagi ditelinga kebanyakan orang. Tokoh sufi Irak yang sangat terkenal ini telah mendedikasikan hidupnya untuk kehidupan muslim pada zamannya. Pendidikan karakter yang disampaikannya melalui syair dan nasihatnya sangatlah berdampak besar terhadap kehidupan Islam sampai sekarang.

Salah satu nasihatnya yang sangat fenomenal adalah 10 nasihat beliau kepada penduduk Irak, yang mana pada saat itu telah berdoa bertahun-tahun, tetapi belum juga dikabulkan Allah. 10 nasihat ini sangat penuh dengan makna-makna pendidikan islami yang harus dipahami oleh umat muslim didunia.

Dalam nasihat ini pula kita temukan, bahwasanya banyak dari orang-orang Islam belum memahami sepenuhnya tujuan Islam dalam mendidik karakter-karakter pemeluknya, yaitu untuk menjadi khairul ummah, sebaik-baiknya umat dimuka bumi ini.

Dengan ketidaktahuan banyak orang atas tujuan ini, maka merebaklah orang-orang yang mengaku menjadi pendidik islami, tetapi pada nyatanya pendidikan-pendidikan yang dilontarkannya terhadap peserta didik tidaklah sesuai dengan tujuan utama yang diajarkan Islam kepada para pemeluknya.

Dari 10 nasihat tersebut, setidaknya ada 6 nasihat beliau yang ingin saya jadikan bahan refleksi terhadap pendidikan Islam, dengan tujuan agar para pendidik dapat kembali menyadari dan menjadikan itu sebagai acuan dalam mendidik para peserta didiknya.

Nasihat pertama, kalian mengenal Allah, tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya. Seperti yang kita ketahui, hak Allah sebagai pencipta adalah disembah dengan sebaik-baiknya.  Inilah yang seharusnya ditanamkan oleh setiap pendidik kepada para murid-muridnya, bahwa setiap ilmu yang mereka dapatkan hendaknya menjadi jembatan mereka untuk beribadah kepada Allah.

Dewasa ini banyak kita temukan orang-orang yang memiliki banyak ilmu, tetapi ilmu mereka malah menjauhkan diri mereka dari beribadah kepada Allah. Mereka melupakan esensi dari ilmu yang mereka punya, yaitu untuk menjadikan diri mereka lebih dekat kepada sang pencipta, sehingga terjadilah penunaian hak Allah untuk disembah dan diibadahi dengan segala hal yang kita punya.

Nasihat kedua, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian tinggalkan sunah-sunahnya. Kecintaan terhadap seseorang tidaklah cukup dengan sebuah pengakuan aku cinta padanya, tetapi harus disertai dengan keinginan untuk bisa membahagiakannya. Dan salah satu usaha kita untuk membahagiakan Rasulullah adalah dengan menjalankan sunah beliau.

Kita sadari bahwa kebanyakan pendidik hanya menanamkan pemahaman untuk mencintai Rasulullah sebagai junjungan umat Islam, tetapi banyak dari mereka melupakan cara bagaimana untuk mencintai Rasulullah itu sendiri. Mereka lupa untuk menanamkan rasa cinta kepada sunah-sunah Rasulullah, yang mana dengan sunahlah kita merealisasikan rasa cinta itu.

Nasihat ketiga, kalian mengaku setan adalah musuh kalian, tetapi kalian menyepakatinya. Setan sebagai musuh terbesar umat Islam sudah sepatutnya dimusuhi dengan segala cara. Dengan segala upaya kita memosisikan setan sebagai musuh untuk selama-lamanya, dan jangan pernah tergiur dengan kesenangan-kesenangan yang ditawarkannya kepada kita.

Sayangnya, kebanyakan kita sebagai pendidik lupa bahwa setan mempunyai banyak tipu muslihat untuk menjerumuskan manusia kepada kesesatan. Salah satunya adalah membumbui suatu kebaikan dengan suatu kejahatan. Maka memahamkan murid atas problematika ini sangatlah penting demi mewujudkan permusuhan kita dengan setan untuk selama-lamanya.

Nasihat keempat, kalian mengatakan mencintai surga, tetapi tidak beramal untuknya. Surga sebagai janji Allah terhadap orang-orang yang beriman sangatlah layak untuk diperjuangkan, tetapi perjuangan yang kita butuhkan bukanlah semudah seperti membalikkan kedua belah tangan.

Para pendidik seharusnya menanamkan rasa perjuangan itu di dalam diri para peserta didiknya, bukan hanya sebatas memberi tahu surga adalah tempat yang penuh kebahagiaan untuk orang-orang Islam. Bahwa sebelum kita memasuki tempat itu kita akan diterpa dengan berbagai rintangan dan cobaan.

Tetapi dengan banyaknya rintangan bukanlah tidak mungkin kita bisa untuk mencapainya, tetapi kita butuh perjuangan yang besar untuk menggapainya.

Nasihat kelima, kalian sibuk dengan aib seseorang tetapi kalian lupa dengan aib kalian sendiri. Sudah menjadi hal yang lumrah, bahwasanya manusia adalah tempat salah dan lupa.

الإنسان مكان الخطإ و النسيان

setiap manusia bisa melakukan kesalahan dimanapun dan kapan pun.

Untuk itu setiap pendidik agar kiranya menanamkan rasa tidak takut salah dalam menuntut ilmu. Tetapi di samping itu para pendidik juga harus menanamkan jiwa untuk menghindari mencari kesalahan dari diri orang lain tanpa intropeksi terhadap diri sendiri terlebih dahulu.

Karena bisa jadi seseorang yang kita salahkan itu berada dalam fase pembelajaran terhadap sesuatu, yang mana dengan judge salah yang kita berikan kepadanya malah menyurutkan niatnya untuk mempelajari sesuatu yang sedang dia pelajari tersebut.

Nasihat keenam, kalian mengatakan kematian itu pasti, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuknya. Bisa kita katakan masa depan yang paling pasti dari setiap manusia adalah kematian. Oleh karena itu, sangat penting untu kita menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya persiapan.

Karena itu, para pendidik harusnya selalu mengingatkan kepada peserta didik, bahwasanya ilmu yang mereka dapatkan hendaknya dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya sebagai ladang ibadah menuju kehidupan setelah kehidupan. Amal-amal ibadah yang mereka peroleh dari ibadah tersebut adalah bekal yang paling penting dalam perjalanan tersebut.

Itulah kiranya 6 dari 10 nasihat yang disampaikan Ibrahim bin Adham kepada penduduk Irak, yang mana dari nasihat tersebut kita dapatkan refleksi dari tujuan utama pendidikan yang diajarkan Islam kepada para pemeluknya.

Wallahu a’lam bish-shawabi