Penulis
2 tahun lalu · 2506 view · 4 min baca · Sejarah 11988553_10206762571737225_4654404267818871639_n.jpg
The School of Athens

Ibn Rushd di Vatican

Ibnu Rushd dan Vatican. Dua nama yang sekilas nampak kontras namun justru keduanya bisa saling bersinergi. Averroes atau yang biasa dikenal sebagai Ibnu Rushd merupakan the man of our times. Bukan hanya filsafat, dia juga dikenal sebagai seorang master dalam bidang kedokteran, fiqh dan ilmu Kalam.

Pengaruh pemikirannya terhadap kejayaan Eropa abad pertengahan juga tidak dapat disangkal lagi. Komentatornya atas filsafat Aristoteles mengemuka di Eropa. Tak ayal, bukan hanya seorang pemikir, namun Ibn Rushd bagi beberapa kalangan dianggap sebagai simbol kebangkitan intelektual baik di kalangan Muslim dan Eropa beberapa abad silam.

Sedangkan Vatican, adalah simbol bagi gereja Katolik sedunia. Berabad-abad kota ini menjadi pusat kekuasaan Katolik dibawah kepemimpinan seorang Paus. Memasuki era Renaissance, Italia dan tak terkecuali Vatican, menjadi tempat persinggahan karya seni Eropa yang diawali oleh Botticelli, Holbein, Leonardo, Michaelangelo, Bramante dan Raphael.

Beratus-ratus tahun St. Peter, simbol kejayaan gereja Katolik ini, mengalami renovasi yang sengaja dirancang oleh seniman-seniman ternama Italia. Termasuk The School of Athens (madzhab Athena), sebuah fresco atau lukisan dinding yang mengilustrasikan seorang filusuf terkenal muslim, Ibnu Rushd.

Adalah Raffaelo Sanzio atau biasa dikenal dengan Raphael, sang maestro kenamaan Italia yang telah membawa bayangan seorang Averroes ke dalam Vatican. Saya begitu kagum dengan Raphael, hasil karyanya yang disimpan di Museum Vatican benar-benar membuat mata tak bisa sedetikpun berkedip.

Sebagai pengagum Renaissance Art, rasa-rasanya kurang afdhol jika belum menyempatkan diri untuk mengunjungi Italia. Apalagi Sistine Chapel, sebuah kapel di dalam Vatican yang mengabadikan karya tersohor ‘The Creation of Adam’ buah karya Michaelangelo. Sungguh menakjubkan.

Lukisan dinding The School of Athens berada di di ruangan khusus Stanza della Segnatora. Dulunya, ruangan ini merupakan perpustakaan pribadi Julius II, seorang Paus yang mempunyai hubungan dekat dengan para seniman Italia seperti Bramante, Michaelangelo dan Raphael. Untuk pertama kalinya Raphael menghiasi dinding-dinding Stanza della Segnatora dengan fresco yang masing-masingnya mengandung sebuah tema. Ruangan ini berdekatan dengan kapel Sistine, puncak eksibisi di Museum Vatican.

Ilustrasi Ibnu Rushd terejawantahkan di dalam fresco The School of Athens. Dalam bingkaian sebuah lukisan, nampaknya Raphael ingin menggambarkan tradisi filsafat Barat melalui dua figure utama yaitu Plato dan Aristoteles. Kedua figure ini berada di tengah, membentang dan seolah-olah merepresentasikan dua aliran yang berbeda dan sangat mempengaruhi perkembangan filsafat modern. Fresco ini dikenal sebagai ‘the visualization of knowledge’.

Ada sekitar dua puluh satu figur filsuf di dalam The School of Athens. Beberapa filsuf Yunani abad ke 4-5 BC, yang merupakan murid dari Plato dan Aristoteles turut diilustrasikan oleh Raphael. Seperti, Diogenes, Epicurus, Zoroaster, Pythagoras, sampai pada masa post-Athenian yaitu Ptolemy dan yang terakhir Hypathia.

Sesaat ketika saya melihat lukisan dinding The School of Athens, perhatian saya tertuju kepada satu-satunya perempuan yang berdiri diatas kanan Averroes. Adalah Hypathia, figure cendekiawati yang hidup di masa kekaisaran Romawi di Alexandria.

Saya mengenal pertama kali sosok Hypathia lewat film berjudul ‘Agora’. Dia merupakan salah satu perempuan yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan ilmu Mathematika, Filsafat, dan Astronomi.Dia merupakan seorang pagan dan perempuan, yang mana dominasi kedua identitas tersebut merupakan hal yang sangat berbahaya ketika itu. Hypathia akhirnya terbunuh di tangan sekelompok orang Kristen yang menuduhnya sebagai perempuan pembuat kerusakan.

Kematian Hypathia merupakan tanda berakhirnya ‘the classical civilization’ dan dimulainya ‘the dark ages’. Sekitar 750 tahun dunia Barat mengalami kemunduran sejarah dan peradaban, hingga kemunculan ‘the comentator’ dari kota kecil bernama Cordoba, Averroes. Ibnu Rushd merupakan orang pertama yang mengalihbahasakan filsafat-filsafat Yunani ke bahasa Latin dan mempunyai pengaruh besar terhadap Renaissance Eropa. Selain ‘the comentator’, dia juga dikenal dengan sebutan ‘founding father of secular thought in western Europe’.

Averroes, dalam fresco The School of Athens, terlihat seolah ikut menyimak apa yang di kemukakan oleh Pythagoras. Nama Averroes begitu menggema di kalangan terpelajar Eropa, termasuk Raphael. Ilustrasi Averroes oleh Raphael digambarkan dengan ciri khas memakai turban, berwajah oriental dengan warna kulit yang agak hitam. Hanya dengan mendengar namanya, Raphael mencoba mengilustrasikan Averroes dengan begitu sempurna.

Lukisan dinding ini termasuk yang terfavorit dan terkenal diantara ketiga fresco lainnya. Begitu banyak penikmat seni dan pengunjung museum yang mengabadikan dan seolah-olah mencerna makna yang ingin disampaikan Raphael melalui The School of Athens. Pesan dan figur para filsuf demikian memukau. Tak jarang Raphael mengilustrasikan seorang filsuf dengan figur yang lain, seperti halnya figur Michaelangelo yang merepresentasikan sosok filsuf dari Ephesus.

The School of Athens, telah lama menghiasi dinding Stanza della Segnatora. Tahun 1509-1510 Raphael telah berhasil menyelesaikan fresco ini dan melengkapi bagian yang lain. Dalam ruangan ini, masing-masing dinding dihiasi dengan lukisan dinding Raphael dengan empat tema besar yaitu filsafat, teologi, hukum and seni.

Raphael bukanlah seniman Italia pertama yang mengilustrasikan figur Averroes dalam buah karyanya. Giorgione (1478-1510), pelukis ternama Venecia telah lebih dulu mengabadikan sosok Ibnu Rushd dalam masterpiece-nya yang berjudul “Three Philosophers”. Kali ini, ilustrasi Ibnu Rushd nampak begitu kuat karena menjadi figur utama dibanding yang lain. Selain itu, dalam lukisan Triunfo de Santo Tomas, pelukis Andrea Bonaiuto (14 M) asal Florence juga membingkai figur Averroes.

Pesan yang disampaikan Raphael dalam The School of Athens nampak jelas. Kegemilangan tradisi filsafat Barat yang dimulai dari Yunani tidak akan sampai ke Eropa tanpa melalui terjemahan dan komentar dari seorang Muslim Spanyol Ibnu Rushd, dan seorang penganut Yahudi, Maimonides. Pemikiran keduanya mendominasi jagad Eropa di abad 12 M. Tanpa pemikiran Averroes, Eropa boleh jadi masih berada di era kegelapan atau the dark ages. Dan, sekali lagi, Raphael ingin membingkai perjalanan filsafat Barat ini di tempat yang dahulunya menjadi pusat kekuasaan Eropa, Vatican.

“Two truths cannot contradict one another.” - Averroes

Maria Fauzi - Vatican

Artikel Terkait