Agak lama saya tertegun setelah membaca buku yang di tulis oleh KH. Husein Muhammad, dengan judul Mengaji Pluralisme Kepada Mahaguru Pencerahan, dalam satu bab itu ia membahas tentang Ibnu Arabi (638 H), ia lebih terkenal dengan julukan Syaikh Al-Akbar (“Guru Agung”), bahkan  Haidar Baqir menyebutnya dengan Sang Musafir (The Traveller) atau Pelancong Batin.

Khusus dalam hal penguasaan khazanah-khazanah ilmu-ilmu Islam, Ibnu Arabi membahas secara terperinci sebagian besar masalah yang telah begitu menyibukkan para sarjana Muslim dalam berbagai bidang, seperti tafsir, hadis, fiqih, kalam, tasawuf, dan falsafah, dan berhasil menawarkan pemecahan-pemecahan yang brilian terhadap banyak kemusykilan yang dijumpai dengannya.

Buku ini sebagian merupakan makalah-makalah penulis yang dipresentasikan pada setiap awal bulan Ramadhan melalui tema “Tadarus Ramadhan”. Penulis dalam bukunya memakai makna “Mengaji” bukan “Mengkaji” karena “Mengaji” hampir selalui dimaknai sebagai tradisi membaca kitab yang berlaku di komunitas pesantren di Indonesia. Kitab–kitab itu adalah Faishal al-Tafriqah Baina al-Islam wa al-Zandakah, karya Imam Abu Hamid al-Ghazali; Bidayah al-Mujtahid, tulisan filsuf Ibnu Rusyd al-Hafid; dan Tarjuman al-Asywaq, karya permenungan Syeikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Yang akan penulis sentuh yakni tokoh yang bernama Ibnu ‘Arabi.

Siapa yang tidak kenal Ibnu Arabi ia seorang sufi dan penulis Muslim yang sulit dipahami, dari tangannya terlahir 300-an karya, berikut beberapa karyanya adalah: (1) Al-Futuhat Al-Makkiyah, sebuah karya ensiklopedis yang merangkum kekayaan pengetahaun religious dan gnostik dalam Islam. Edisi kritis paling baru atas karya ini meliputi tak kurang dari  17.000 halaman; (2) Fushus Al-Hikam, dianggap sebagai magnum opus, membahas penyingkapan hikmah-ketuhanan para nabi; (3) Tarjuman Al-Asywaq, sebuah buku kumpulan syair cinta spiritual; (4) Syajarah Al-Kaun, karya kosmologi yang mengurai khazanah simbolisme dalam Al-Qur’an.

Karya-karyanya memperlihatkan kepada kita betapa kaya dan produktif sumber perenungannya tentang setiap dimensi intelektual Islam, dan barangkali amat tepat jika kita mengklaim ia sebagai pemikir yang paling berpengaruh pada paruh kedua sejarah Islam. “Kepribadian dan pemikiran cemerlang” Ibnu Arabi, yang disebut Franz Rosenthal terus mengundang para pemikir muslim untuk selalu meneliti dan mengkaji ulang pemikiran Ibnu Arabi. 

Dalam perkataan James Morris, “Dengan mengulang pernyataan terkenal Whitehead tentang Plato- dan dengan derajat melebih-lebihkan yang agak serupa –dapat dikatakan bahwa sejarah pemikiran Islam setelah Ibnu ‘Arabi (setidaknya hingga abad ke-18 dan saat persingguhan Islam setelah Ibn Arabi (setidaknya hingga abad ke-18 dan saat persingguhan Islam dengan Barat modern) hanyalah sebagai serangkaian catatakan kaki terhadap karyanya.

Begitu banyak karya dari Ibnu ‘Arabi,  terlepas dari itu kita tidak bisa menafikan peran 3 orang guru perempuan suci , yang darinya Ibnu Arabi belajar banyak menimba ilmu dari mereka ini disampaikan pada Pendahuluan Kitab Tarjuman al-Asywaq: Pertama, Fakhr al-Nisa, saudara perempuan Syaikh Abu Syuja’ ibn Rustam ibn Abi Raja al-Ishbihani. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengkaji kitab hadis “Sunan al-Tirmidziy”, Kedua, Qurrah al-Ain. Pertemuannya dengan perempuan ini terjadi ketika Ibnu Arabi tengah asyik tawaf, memutari Ka’bah. Ibnu Arabi menceritakan sendiri Pengalaman pertemuannya dengan perempuan itu: (hlm. 140).

Ketika aku sedang begitu asyik tawaf, pada suatu malam, hatiku gelisah. Aku segera keluar dengan langkah sedikit cepat (al-raml), melihat-lihat ke luar. Tiba-tiba saja mengalir di otakku bait-bait puisi. Aku lalu menyenandungkannya sendiri dengan suara lirih-lirih.

Aduhai, jiwa yang gelisah

Apakah mereka tahu

Hati manakah yang mereka miliki


O, relung hatiku

Andai saja engkau tahu

Lorong manakah yang mereka lalui


Adakah engkau tahu

Apakah mereka akan selamat

Atau binasa


Para pecinta bingung akan cintanya sendiri

Dan mengangis tersedu-sedu

Tiba-tiba tangan yang lembut bagai sutra menyentuh pundakku. Aku menoleh. O, seorang gadis jelita dari romawi. Aku belum  pernah meihat perempuan secantik ini. Dia begitu anggun. Suranya terdengar amat sedap. Tutur-katanya begitu lembut tetapi betapa padat, dan sarat makna. Lirikan matanya amat tajam dan menggetarkan kalbu. Sungguh betapa asyiknya aku bicara dengan dia. Namanya begitu terkenal, budinya begitu halus.

Begitu usai aku menyampaikan syair itu, perempuan itu mengatakan kepadaku:

Aduhai Tuan, kau telah memsonaku

Engkaulah kearifan zaman

Selanjutnya mengalirlah dialog antara kedua orang ini dalam suasana mesra, saling memuji, mengagumi, dan dengan keramahan yang anggun. Sang perempuan memberikan komentar-komentar spirilualitas ketuhanan secara spontan atas puisi-puisi Ibn Arabi di atas, bait demi bait. Sesudah itu, dia memperkenalkan dirinya sebagai Qurrah al-Ain, lalu dia pamit dan melambaikan  tangan sambil mengucapkan “salam”perpisahan dan pergi entah kemana.

Perempuan ketiga yang ditemuinya adalah Sayyidah Nizham (Lady Nizham), anak perawan Syaikh Abu Syuja’. Dia biasa dipanggil “Ain al-Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al-Haramain” (Guru Besar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Ibn Arabi begitu terpesona dengan perempuan ini. Pujian-pujian kepadanya terus mengalir deras tak tertahankan, “Jika dia bicara, semua yang ada menjadi bisu. Dia adalah matahari diantara ulama, taman indah di antara para sastrawan. Wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan kecerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja (hlm. 141).

Dari ketiga perempuan itulah Ibnu ‘Arabi belajar beberapa macam ilmu, dialah Tiga sosok perempuan suci “Mahaguru Perempuan” yang sangat cerdas intelektualnya, cantik parasnya, bagus akhlaknya, anggun dalam bicaranya. Dalam kehidupan sehari-hari kita pun tidak bisa menafikan peran perempuan dalam  bidang pendidikan, pengajaran dll. Qasim amin  meyakini suatu bangsa tidak mungkin bisa berkembang tanpa bantuan dari separuh populasinya, yaitu perempuan.  

Buku ini ingin memperlihatkan kepada pembaca, bagaimana para sarjana Muslim terkemuka memahami/mendekati agama, dari sudut disiplin yang berbeda, dengan suatu cara yang boleh jadi dianggap melampaui diskursus keagamaan arus utama. Mereka menggali substansi dan kedalaman teks serta keragaman tafsir atasnya. Sudut disiplin yang dimaksud adalah kalam (teologi), fikih (hukum), dan tasawuf (mistisisme). Teks-teks keagamaan itu dibaca oleh mereka melalui mekanisme penggabungan aktivitas nalar rasional, filosofis,  dan permenungan kontemplatif (hlm. xi).


Judul: Mengaji Pluralisme Kepada Mahaguru Pencerahan

Penulis: KH. Husein Muhammad

Penerbit: Mizan

Cetakan: Pertama, Oktober 2011

Tebal: 217 Halaman