2 tahun lalu · 3309 view · 3 menit baca · Filsafat mosque_of_cordoba.jpg
Mesjid Cordoba, Spanyol (Foto: Wikipedia)

Ibn Rushd tentang Tuhan

Filsafat Ibn Rushd (5)

Salah satu tema yang paling menyita perhatian para filsuf Kristen abad pertengahan adalah perdebatan tentang konsep Tuhan dan argumen-argumen tentang keberadaanNya. Ibn Rushd menjelaskan hal ini dalam bukunya, Tahafut al-Tahafut dan buku yang tampaknya dia maksudkan sebagai lanjutan dari Fasl al-Maqal, yakni al-Kashf an Manahij al-Adillah.

Jika dalam buku pertama, Ibn Rushd mencoba menjelaskan konsep Tuhan seperti dipahami para filsuf, dalam buku kedua, dia menjelaskan konsep Tuhan seperti dipahami para teolog dan sufi. Dalam buku kedua ini, Ibn Rushd menjelaskan pemahamannya tentang Tuhan dan kritiknya terhadap para teolog dan sufi yang menurutnya telah keliru dalam memahami Tuhan.

Patut dicatat di sini bahwa Ibn Rushd menggunakan istilah “shani” (pembuat/maker) untuk merujuk kata “tuhan.” Dia tidak menggunakan kata “khaliq” (pencipta/creator) dan jarang sekali menggunakan kata “allah” (tuhan/god) dalam karya-karya filsafatnya.

Jika hal ini bermakna sesuatu, kemungkinan besar bahwa Ibn Rushd mengikuti jejak Aristoteles dan para filsuf Yunani yang tidak percaya pada doktrin ex nihilo (sesuatu ada dari ketiadaan). Dalam bahasa Arab, kata shani berarti membuat sesuatu dari sesuatu yang lain, sementara kata khaliq berarti mencipta dari ketiadaan.

Dalam al-Kashf, Ibn Rushd menjelaskan bahwa Pembuat (shani) adalah “zat” yang eternal (azaly) dan permanen (abady). Dia tidak dibuat (diciptakan) oleh sesuatu yang lain, karena kalau kita berasumsi demikian, maka kita harus mempertanyakan siapa pembuat (pencipta) sesuatu yang lain itu terus-menerus (ad infinitum); dan secara logika, ini tidak dimungkinkan.


Ini adalah argumen Aristoteles tentang penggerak yang tidak bergerak (unmoved mover/almuharrik allazi la yataharrak) yang sepenuhnya disetujui Ibn Rushd. Tuhan, dalam konsepsi Ibn Rushd, adalah “penggerak yang tidak bergerak.”

Ibn Rushd mengkritik kaum Asy’ariyah (Ahlussunnah) yang menganggap bahwa alam-raya (al-‘alam) adalah sesuatu yang diciptakan (muhdath). Menurutnya, alam-raya tidak diciptakan oleh siapa-siapa. Alam raya adalah sesuatu yang azaly (eternal) sama seperti Tuhan.

Menganggap bahwa alam itu diciptakan akan berakibat pada pertanyaan tak berujung siapa yang menciptakan pencipta alam. Bagi Ibn Rushd, yang temporal (muhdath) tidak bisa diciptakan oleh yang azaly, karena yang azaly hanya melahirkan yang azaly. Alam bersifat azaly karena keberadaannya bergantung (muta’alliq) pada sesuatu yang azaly.

Doktrin bahwa alam-raya sebagai sesuatu yang azaly tak hanya diyakini Ibn Rushd, tapi oleh hampir seluruh filsuf Muslim sebelum Ibn Rushd. Al-Farabi dan Ibn Sina meyakini itu dan memberikan penjelasan yang sangat memikat tentang hubungan tuhan (wujud) dan alam yang sama-sama azaly.

Menurut Ibn Sina, tuhan adalah sesuatu yang wajib ada karena dirinya sendiri (wajib al-wujud bi zhatihi) sementara alam adalah sesuatu yang wajib ada karena sesuatu yang lain (wajib al-wujud bi ghayrihi). Kedua-duanya adalah eternal (azaly). Yang membedakannya adalah derajat wujud (degree of existence), yakni bahwa tuhan, mengingat sebab wujudnya, lebih “mulia” (ashraf) daripada alam.

Keazalian tuhan memiliki konsekwensi lain, yakni bahwa sesuatu yang azaly hanya peduli pada sesuatu yang universal (kulliyyat) dan mengabaikan hal-hal yang bersifat partikular (juz’iyyat). Dengan kata lain, tuhan tidak mengetahui hal-hal yang bersifat partikular, sebuah keyakinan yang dianggap al-Ghazali sebagai doktrin sesat dan membuat orang yang mengimaninya kafir.


Menurut Ibn Rushd, ada persoalan besar jika Tuhan mengetahui hal-hal yang partikular, yakni bagaimana menjelaskan sesuatu yang permanen (azaly) berada dalam sesuatu yang temporal (hadith). Pengetahun hal-hal yang partikular mensyaratkan pelaku yang temporal. Yang azaly tidak mungkin berurusan dengan sesuatu yang temporal.

Karena jika itu terjadi, maka dia tidak lagi azaly, karena keberadaannya akan “didikte” oleh perubahan (taghayyurat) dan multifikasi (ta’addudat) yang berlangsung dalam dunia juz’iyyat. Dan mustahil Allah didikte oleh hal-hal yang temporal itu.

Ibn Rushd meyakini bahwa keberadaan Tuhan bisa dibuktikan lewat argumen rasional. Dia mengkritik kaum Literalis (hasywiyyah) yang menganggap bahwa pembuktikan adanya Allah hanya mungkin lewat wahyu (al-sam’). 

Ibn Rushd juga mengkritik kaum sufi yang menganggap pembuktian itu bisa didapat lewat jalan batin atau membersihkan jiwa dari segala nafsu (tajrid al-nafs). Menurutnya, bahkan ketika kita merujuk kepada al-Qur’an, kitab suci ini menganjurkan agar manusia menggunakan akal-pikirannya untuk mencermati fenomena alam dan dari sana dia akan mengenal tuhannya. 

Dengan kata lain, argumen tentang pembuktian Tuhan didukung oleh kitab suci.


Artikel Terkait