3 tahun lalu · 2419 view · 4 min baca menit baca · Filsafat cordoba-statue-averroes.jpg
Patung Ibn Rushd di Cordoba, Spanyol (Foto: Travelforkids)

Ibn Rushd Sebagai Penafsir Aristoteles

Filsafat Ibn Rushd (3)

Kontribusi terbesar Ibn Rushd dalam filsafat Eropa abad pertengahan adalah upayanya menafsirkan karya-karya Aristoteles serta membersihkan namanya dari atribusi-atribusi keliru yang sejak lama disematkan kepadanya. Cerita yang saya kutip pada bagian pertama serial tulisan ini merefleksikan perjuangannya membersihkan nama Aristoteles dari kekeliruan-kekeliruan yang dibuat oleh para filsuf Muslim, termasuk Ibn Sina.

Tanpa Ibn Rushd, filsafat Aristoteles mungkin tak akan pernah bisa dipahami secara benar oleh orang-orang Eropa abad pertengahan. Ibn Rushd lah yang menyadarkan banyak orang bahwa Aristoteles telah disalahpahami dan dibuat rancu sebegitu rupa sehingga Aristoteles yang sampai ke dunia abad pertengahan bukanlah Aristoteles yang sesungguhnya.

Kesalahannya berlapis-lapis. Para pengikut Neoplatonisme adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab terhadap sebagian kesalahan itu. Para penerjemah Arab yang mentransfer karya-karya Yunani patut dimintai pertanggungjawaban juga untuk sebagian kesalahan yang lain. Para filsuf Muslim seperti al-Farabi dan Ibn Sina, yang ikut-ikutan menyebarluaskan kesalahan itu, juga patut dituntut dan dimintai pertanggungjawaban.

Kaum Neoplatonis adalah para sarjana yang ingin menghidupkan tradisi dan ajaran-ajaran Plato dengan cara yang terbilang aneh: mendompleng Aristoteles. Secara “ideologis,” kaum Neoplatonis adalah pengikut Plato. Plotinus, pendiri mazhab ini, selalu menganggap dirinya murid Plato dan orang yang setia terhadap ajaran-ajaran Plato.

Seperti kaum Platonisme Tengah (Platonisme Tengah adalah kelompok pemikiran yang menggabungkan doktrin Plato dengan ajaran-ajaran Stoicisme dan Peripatetik), Plotinus meyakini bahwa Plato memiliki ajaran-ajaran lain di luar Dialog-Dialog yang ditulisnya. Dia dan murid-muridnya berusaha mengembangkan ajaran-ajaran di luar Dialog itu, termasuk dengan meminjam pandangan-pandangan dari filsuf lain, termasuk Aristoteles.

Plotinus dan para pengikutnya meyakini bahwa cara terbaik memahami ajaran-ajaran Plato yang selama ini kurang digali adalah dengan cara mempelajari dan membedah pikiran-pikiran Aristoteles. Mengapa Aristoteles? Tak lain dan tak bukan karena Aristoteles adalah orang yang paling dekat dengan Plato. Dia adalah muridnya yang paling agung. Mereka meyakini, hanya lewat Aristoteles, kita bisa memahami secara lebih baik sisi-sisi Plato yang tak terungkap. Masuk akal.

Masalahnya baru muncul kemudian karena para pengikut Plato itu berasyik-masyuk dengan Aristoteles. Mereka tenggelam dalam teks-teks Aristoteles dan menafsirkannya dalam ribuan lembar komentar layaknya kaum Peripatetik. Dengan hati dan “ideologi” yang sepenuhnya Platonis, mereka punya cara sendiri memahami dan menafisrkan Aristoteles. Di sinilah pangkal persoalan yang membuat pengikut setia Aristoteles, khususnya Ibn Rushd, berang.

Aristoteles yang sampai ke dunia Arab-Islam adalah Aristoteles yang sudah di-Plato-kan. Lebih parah lagi adalah Aristoteles yang telah di-Kristenkan oleh para pengikut Neoplatonis Kristen seperti Marcus Minucius (250), Lucius Caecilius (325), Eusebius of Caesarea (340), Simplician (400), dan Synesius (414).

Para penerjemah Arab yang sebagain besar beragama Kristen adalah kaum Neoplatonis. Lewat merekalah tradisi filsafat Yunani berkembang di dunia Arab-Islam. Di tangan orang-orang Kristen dan kemudian Islam, Aristoteles menjadi berbeda sama-sekali. Aristoteles yang sampai ke tangan Ibn Rushd adalah “Aristoteles KW2.”

Salah satu dampak dari kerancuan Neoplatonisme dalam mempopulerkan Aristoteles adalah munculnya sebuah buku berjudul “Theology” yang diyakini sebagai karya Aristotle. Di dunia Arab, buku ini diterjemahkan menjadi “Uthulujiyya” (terjemahan literal dari kata “theology”).

Buku ini diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajaran Islam abad pertengahan. Tak ada orang yang meragukan atau mempertanyakan keaslian buku itu. Jika Ibn Sina saja tak pernah mempertanyakannya, siapa yang berani mengusiknya?

Uthulujiyya pada mulanya adalah sebuah buku berbahasa Yunani yang beredar di kalangan Neoplatonis Kristen. Versi Arab dari buku ini diterjemahkan oleh Ibn Na’ima al-Himsi, seorang Arab Kristen yang dekat dengan al-Kindi sang faylusuf.

Al-Kindi sendiri dipercayai sebagai orang yang mengedit buku itu. Belakangan diketahui bahwa Uthulujiyya sebenarnya adalah saduran dari beberapa bagian Enneads karya Plotinus dengan beberapa pandangan Aristoteles tentang metafisika. Bahwa nama Aristoteles yang muncul sebagai “pengarang” buku ini menunjukkan betapa rancunya kaum Neoplatonis memahami murid Plato itu.

Kerancuan para filsuf Muslim dalam memahami Aristoteles tak pernah dipertanyakan, hingga datang Ibn Rushd. Menyadari begitu parahnya kerancuan yang dibuat Ibn Sina dan kaum Neoplatonis, Ibn Rushd memutuskan untuk memfokuskan diri mempelajari Aristoteles dan meluruskan kesalahan-kesalahan orang selama ini.

Iapun menulis sejumlah tafsir terhadap karya-karya Aristotle. Apa yang dilakukan Ibn Rushd sungguh unik dan luar biasa. Persis apa yang dikatakan Jorge Borges dalam esainya yang sangat menarik, “Averroes’ Search", ketika para ulama sibuk berlomba-lomba menafsirkan al-Qur’an, Ibn Rushd menafsir karya-karya Aristoteles.

Ibn Rushd membuat tiga jenis komentar terhadap karya-karya Aristoteles. Yang pertama adalah komentar pendek yang dia sebut “jami”, komentar sedang atau “talkhis,” dan komentar panjang atau “tafsir” (kadang disebut juga “syarh”). Dalam ketiga jenis komentar inilah Ibn Rushd menjelaskan pemikiran-pemikiran Aristoteles dan menjelaskan kekeliruan-kekeliruan kaum Neoplatonist dalam menginterpretasikan filsuf agung itu.

Upaya membersihkan nama Aristoteles tak hanya dilakukan lewat buku-buku tafsir yang ditulisnya. Ibn Rushd juga melakukannya pada karya-karya non-tafsir-nya. Dalam Tahafut al-Tahafut, misalnya, dengan gemas Ibn Rushd menyerang al-Ghazali dan juga Ibn Sina karena keduanya telah salah dalam memahami Aristoteles.

Ibn Sina bersalah karena menjelaskan sesuatu yang tak dikatakan Aristoteles, sementara al-Ghazali keliru mengkritik pandangan yang keliru itu. Tak berlebihan kalau karya monumentalnya itu ia beri nama “Kerancuan atas Kerancuan.”

Tahafut al-Tahafut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1328, oleh Calo Calonymos. Buku ini merupakan karya terpenting Ibn Rushd selain karya-karya komentarnya yang lain. Dengan pendekatan polemis, Ibn Rushd mengikuti paparan al-Ghazali dalam bukunya, Tahafut al-Falasifah.

Ada dua puluh masalah yang didiskusikan dalam Tahafut yang semuanya dijawab satu persatu oleh Ibn Rushd. Dari 20 masalah ini, al-Ghazali memandang ada tiga isu yang sangat krusial, yang telah menyebabkan para filsuf Muslim (khususnya al-Farabi dan Ibn Sina) kafir alias telah keluar dari Islam, yakni (1) tentang keabadian alam, (2) tentang pengetahuan partikular, dan (3) tentang kebangkitan di akhirat.

Buku Tahafut al-Tahafut sebaiknya tak hanya dilihat sebagai karya polemis berisi isu-isu filsafat dalam Islam. Karya ini harus dipandang sebagai bagian dari upaya Ibn Rushd meluruskan kesalahpahaman orang terhadap Aristoteles.

Karena itu, bagi para sarjana Kristen, Tahafut adalah sebuah panduan praktis dalam memahami doktrin Aristoteles, khususnya soal-soal metafisika. Tema-tema seperti kausalitas, esensi, eksistensi, universal, partikular, gerak, sebab, intelek, akal, jiwa, dan keabadian, semua dibahas secara tuntas dalam buku itu.

Artikel Terkait