2 tahun lalu · 5377 view · 3 menit baca · Filsafat ibnrushderopa.jpg
Kelas Filsafat di Eropa abad pertengahan (Foto: Wikipedia)

Ibn Rushd dan Zaman Kegelapan Eropa
Filsafat Ibn Rushd (1)

Ada sebuah cerita unik --dan sadis-- yang beredar luas di lingkungan kesarjanaan skolastik Eropa abad ke-13. Dalam cerita itu Ibn Rushd dilaporkan telah menyiksa dan membunuh Ibn Sina yang baru saja tiba di Cordova. Alasannya karena sang faylusuf Andalusia itu sudah lama geram pada dokter asal Persia itu.

Ibn Rushd menganggap Ibn Sina bertanggungjawab karena telah mengotori nama Aristoteles dan membuat filsuf agung itu disalahpahami oleh begitu banyak orang.

Cerita yang dikutip oleh Ernest Renan dalam karya monumentalnya, Averroès et l'Averroïsme, itu tentu tidak benar-benar terjadi. Ibn Sina hidup 100 tahun sebelum Ibn Rushd lahir. Dia juga tidak pernah menjejakkan kakinya di Andalusia. Tapi, bahwa kisah itu menjadi sebuah anekdot yang populer di kalangan akademisi Kristen abad pertengahan menunjukkan satu hal: kaum skolastik itu cukup akrab dengan nama Ibn Rushd dan Ibn Sina, sekaligus dengan pertentangan pandangan keduanya seputar Aristoteles.

Bagi kaum terpelajar di Eropa abad ke-13, menyebut nama Ibn Rushd mungkin sama seperti kita sekarang menyebut nama Immanuel Kant. Mengutip Ibn Sina seperti kita mengutip Charles Darwin, merujuk Ibn Haytham seperti kita merujuk William Harvey.

Pada masa itu, tidak ada sarjana di belahan bumi Eropa maupun lainnya, yang paling memahami Aristoteles selain Ibn Rushd. Tidak ada rujukan kitab kedokteran yang paling komprehensif selain Qanun karya Ibn Sina.

Ibn Rushd dan Ibn Sina adalah dua dari puluhan sarjana Arab-Muslim yang beredar dalam ruang-ruang kelas dan perpustakaan Eropa abad pertengahan. Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, abad kegelapan (dark ages) tidak sepenuhnya gelap.

“Zaman kegelapan” adalah penamaan yang agak gegabah untuk menyebut seluruh fase abad pertengahan. Jika Eropa abad pertangahan betul-betul gelap, bagaimana mungkin mereka bisa menerima, mendiskusikan dan merayakan tradisi filsafat dan sains begitu meriah?

Abad pertengahan adalah sebuah rentang masa yang begitu panjang. Tak kurang dari 1000 tahun, menghampar dari abad ke-5 hingga abad ke-15. Para sejarawan biasanya membagi fase ini menjadi tiga periode: periode awal (early middle ages), periode tinggi (high middle ages), dan periode akhir (late middle ages). Saya ingin membaginya menjadi empat periode: (1) zaman kegelapan, (2) masa formasi, (3) era keemasan, dan (4) masa keruntuhan.

Zaman kegelapan dimulai sejak runtuhnya imperium Romawi pada 476 M hingga dinobatkannya Charlemagne sebagai Kaisar Imperium Romawi Suci (the holy Roman empire) pada 800 M. Era ini disebut sebagai “zaman kegelapan,” karena institusi-institusi publik yang sebelumnya berjalan baik, hancur; sistem politik digantikan oleh para penguasa perang (war lords) dari kaum barbar. Gereja berkuasa semena-mena, mengawasi dan menyiksa siapa saja yang dianggap sesat. Pusat-pusat pembelajaran filsafat ditutup.

Masa formasi adalah masa-masa Eropa di bawah Charlemagne dan penerusnya berbenah diri dengan membangun kota dan pusat-pusat pendidikan. Era ini terentang hingga 1099, ketika pasukan Perang Salib melakukan ekspedisinya ke Jerussalem dan menaklukkan kota suci itu.

Era keemasan dimulai sejak penaklukan Jerussalem oleh pasukan Salib hingga 1439, ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Ini adalah era di mana buku-buku Yunani klasik dan karya-karya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diajarkan di hampir seluruh kota besar Eropa.

Masa keruntuhan adalah masa ketika semangat abad pertengahan, di mana agama dan iman menjadi penggerak utamanya, digantikan oleh etos baru berdasarkan pikiran dan rasionalitas. Era ini dimulai sejak Gutenberg menemukan mesin cetak dan berakhir pada 1492 ketika proyek Reconquesta di Spanyol rampung dan Columbus mengangkat jangkarnya mencari dunia baru.

Serial tulisan ini akan fokus pada era keemasan Eropa abad pertengahan, yakni dari awal abad ke-11 hingga akhir abad ke-14. Jika kita melihat kehidupan masyarakat Eropa pada era ini dan bagaimana kaum elit dan cendikianya membangun pusat-pusat keilmuan, istilah “zaman kegelapan” sama sekali tidak tepat. Saya cenderung menggunakan istilah “era keemasan” (golden age), karena situasi Eropa pada masa-masa ini kurang-lebih setara dengan era keemasan Islam (abad ke-9 hingga ke-12 M).

Selama rentang masa itu, puluhan --jika bukan ratusan-- sarjana besar lahir, dari filsuf-saintis seperti Roger Bacon (1219-1292) dan William Ockham (1287-1347), astronomer seperti Johannes de Sacrobosco (1195-1256), teolog seperti Albertus Magnus (1200-1280) dan Thomas Aquinas (1225-1274), hingga sastrawan seperti Ramon Llull (1232-1315) dan Dante Alighieri (1265-1321). Semua nama ini, secara langsung maupun tidak langsung, pernah bersentuhan dengan karya-karya Ibn Sina dan Ibn Rushd.

Artikel selanjutnya: Pengaruh Ibn Rushd di Eropa