Ketika positivisme dan konstruktivisme sudah tak sanggup lagi menjaga nilai ideal dan adidaya paradigma tunggal dari sebuah realitas, maka di situ berdirilah pragmatisme yang mendorong kesadaran manusia untuk lebioh bebas menangkap makna sebuah realitas. 

Dengan asumsi, realitas secara konstan itu dapat dinegosiasikan, didebatkan, dan diinterpretasikan.

Keseragaman dan tujuan tunggal telah menimbulkan ketidakpercayaan manusia dalam membaca realitas yang bisa saja merupakan keanekaragaman dinamika kehidupan. Artinya, dunia ini ternyata tidak dapat ditundukkan di bawah nilai tunggal ideal menurut ukuran manusia itu sendiri.

Seperti halnya wacana ketika Tuhan telah mati, seperti yang diucapkan Nietzsche bahwa manusia akan mencari Tuhan dalam bentuk lain, seperti sains, ideologi, kepercayaan, dan bahkan ateisme.

Tak pelak lagi, bagi manusia sebagai makhluk pemuja, ketika pujaannya (Tuhan) mati; dalam artian Tuhan tidak menguasai lagi pikirannya; maka boleh jadi ia mengimani hal lain; termasuk pula ia telah berdiri teguh di pihak yang setuju akan ketiadaan Tuhan.

Spiritualis murni meyakini bahwa cara untuk menghasilkan pengetahuan adalah dengan tidak mengakui dan tidak menggunakan alat-alat indera, dan juga fasilitas nalar sebagai potensi dan jalan untuk mendapatkan pengetahuan.

Di sisi lain, materialis murni mengakui indera sebagai media atau alat untuk mendapatkan pengetahuan dan kesadaran. Segala sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh indera, menurut aliran ini, dianggap tidak ada. Apa yang tidak dapat dijangkau oleh nalar adalah sesuatu yang mustahil menjadi objek ilmu pengetahuan.

Persimpangan dari keduanya (spiritualis dan materialis murni) akan menghasilkan kelompok baru yang unik dan mampu meredam reaksi-reaksi keduanya yang mulai seru keras berinteraksi. Kelompok baru itulah yang disebut dengan local genius.

Local genius tidak hanya digunakan secara sederhana untuk istilah budaya dunia saja. Local genius lahir ketika kebudayaan asing masuk, di mana karya budaya setempat mampu bertahan atau melawan pengaruhnya. Kemampuan dan keistimewaan local genius ditandai dengan tampilnya jati diri yang semurni-murninya.

Wacana Local genius, di dalam Alquran, sebenarnya sudah sejak dulu dipelopori oleh Iblis dalam perjalanannya sebagai antagonis kehidupan. Iblis sebagai local genius telah mampu bertahan dalam sebuah serbuan introduksi baru yang sukses memengaruhi yang budaya surgawi.

Tampilnya jati diri iblis yang berbeda dengan lingkungan sekitar (surga) merupakan reaksi terhadap sesuatu yang tak lazim diintroduksikan (dimasukkan) ke budaya surga, semisal kewajiban tunduk, taat, dan sungkem, atau gestur apa pun kepada Adam. 

Dan juga, genealogi Adam yang dari tanah sedikit menyimpang dari keumuman geneologis surgawi yang penuh dengan cahaya (malaikat), pun api (Iblis).

Kelaziman surgawi saat itu adalah ketika yang berhak disujudi dan disembah hanyalah Tuhan. Budaya ini sudah lama bertahan, termasuk Iblis juga sebagai pelaku budaya surgawi ini. Tuhan sebagai sentra peribadatan, termasuk tempat berkumpulnya gestur-gestur persujudan.

Sedang, persona lainnya, seperti Adam, malaikat, dan Iblis, hanyalah komponen cerdas yang subordinat dan pengidola saja.

Local genius sejatinya muncul dari sebuah gugatan dan pertahanan budaya asli yang berjati diri dari serbuan introduksi budaya asing yang sifatnya merekonstruksi dan mereduksi. 

Kelompok unik ini (local genius) rela rugi dan tak berlaba di saat mempertahankan jati dirinya. Genius yang tak memedulikan lagi untung-rugi dari kerasnya kesepakatan sebuah introduksi.

Iblis sebagai Local genius yang selalu salah di mata sebuah kesepakatan introduksi. Iblis yang asing, Iblis aneh, Iblis yang membangkang dari sebuah kelaziman yang telah terkoyak oleh introduksi.

Nalar Iblis cukup hidup saat itu, ketika sebuah perubahan budaya terjadi di surga. Basic instinct (naluri alamiah)-nya yang masih murni berontak mempertahankan budaya lokal.

Subjektivis Iblis meyakini bahwa realitas sebagai sebuah kenyataan, sedang bertahan dalam budaya lama hanyalah soal perspektif pribadi.

Kritis Iblis meyakini bahwa realitas yang telah terintroduksi merupakan entitas yang dikonstruksikan secara sepakat. Sehingga, ia (budaya yang terintroduksi) akan selalu berada di bawah pengaruh relasi kuasa yang konstan (Tuhan).

Kapan terakhir kali Iblis tunduk dengan introduksi? Iblis dengan jati dirinya yang sangat kuat dan murni sebagai local genius yang tersisa saat itu, dan sekaligus sebagai persona pembela budaya surgawi yang terakhir, hanya meminta sebuah arahan perlawanan.

Iblis berkata: beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Dan Allah berfirman: sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. (al-A’raf/7:11-15)

Iblis berkata: karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (al-A’raf/7:16-17)

Jelas, yang didapat Iblis adalah hukuman, tentunya berdasar ayat di atas. Introduksi sebuah local wisdom (budaya surgawi) akan memunculkan dua sisi kontradikrif, yaitu: pertama, local genius yang bertahan dan kedua, persona yang berstatus defekasi (menerima introduksi), semisal Adam dan malaikat lainnya.

Pertahanan Iblis sebagai local genius juga didasarkan atas nalar genealogisnya; yang telah berusaha kuat untuk menancapkan keutuhan budaya surgawi dari ciptaan yang resesif. 

Semisal pola penciptaan resesif tersebut, Adam yang diciptakan dari tanah, serta diberi nafsu, merupakan pola-pola resesif dari sebuah dominasi budaya surgawi yang indah, kekal, dan super. Apa yang menjadi pembelaan Iblis divonis dengan satu kata, "sombong".

Local genius (Iblis) mencoba sekuat tenaga untuk tidak melakukan purifikasi local wisdom (budaya surgawi) yang azaliHal ini ditandai dengan prediksi Iblis pada ayat di atas dengan konsekuensi perlawanan terhadap introduksi yang sukses merekonstuksi local wisdom (budaya surgawi) dalam sebuah frasa: dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

Artinya, pada akhirnya nanti, efek introduksi budaya surgawi akan memberikan peluang-peluang yang sifatnya siklus; di mana Adam dan keturunannya juga akan divonis sama dengan apa yang telah dilakukan Iblis, sombong.

Dua ayat di atas juga menunjukkan gejala ambivalen (mendua hati) Tuhan yang terbungkus rapi dari sifat-Nya Yang: "Maha Pemurah" dan "Maha Penyayang".

Ambivalen lembut tersebut tercermin dari sikap yang tidak memusnahkan Iblis secara total. Hingga, keluarlah narasi seperti: sesungguhnya kamu (iblis) termasuk mereka yang diberi tangguh. Tuhan sayang Iblis dan Adam, walaupun nanti pada akhirnya akan banyak keluar kata-kata kutukan yang diberikan kepada Iblis.