Selesai cerita panjang lebar, Hannah menangis. Saya diam sambil mengusap-usap punggungnya dan memberinya tisu. Tiba-tiba dia berhenti menangis dan berkata, "Tak ada bedanya hari ini dan kemarin ya, Dien. Bisa jadi langkah kita hari ini adalah langkah terakhir kita."

"Mungkin begitu, mungkin tidak. Toh masih ada harapan untuk menjadi berbeda. Dan menjadi lebih baik adalah pilihan kita."

"Andai saja."

"Cukup. Realistis sajalah. Kamu berhak bahagia."

Tangisnya pecah lagi. Kali ini lebih kencang. Mukanya memerah menahan marah, sedih, dan kecewa. Barangkali lega juga. Memutuskan untuk pergi memang tak mudah. Faktanya penutupan yang baik hanyalah mitos. Selalu ada luka yang entah bisa atau tidak untuk disembuhkan.  

Satu jam berlalu. Tangisnya mulai reda tapi isaknya masih ada. Teh hangat di cangkir merah kusodorkan kepadanya.

"Minum dulu, nangis juga butuh tenaga lebih kan. Atau kita makan yuk, lapar nih."

"Nggak lapar."

"Ya iya sih kalo lagi begini mana lapar, tapi daripada asam lambungmu kambuh, parah, masuk rumah sakit, diinfus berhari-hari, minum obat ini itu. Mau begitu?"

"Dih, ngedoain ya!"

"Tidak dong. Justru itu peringatan untuk jaga kesehatan. Yuk makan, sedikit juga nggak papa kok, sepiring kecil deh. Yuk.. "

Di meja makan terhidang nasi dan sup ayam, kami siap makan. Lebih tepatnya saya sih, dia mah males-malesan lihat makanan.

"Berdoa dulu yuk, biar nggak keselek."

Hannah tersenyum kecut dan melempar serbet ke wajah saya, lalu memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangan di atas meja. Kami berdoa.

"Tuhan, terimakasih atas makan malam ini. Berkatilah. Semoga makanan ini bisa berguna bagi kesehatan jiwa dan raga kami. Tak hanya membuat iman kami lebih kuat memuliakanMu, tetapi juga ikhlas melepas dia yang kami cinta. Amin."

Hannah membuka mata, memandangi saya dan tersenyum. Manis. Di luar, malam terasa lebih dingin. Berangin. Dan satu-satu turun gerimis.  

~~~ ~~~ ~~~

Random 

Dengan status dekat tapi jarang bertemu, paling banter ngobrol lewat WhatsApp. Maka tak ada yang bisa mengalahkan sensasi gaduhnya hati ketika bertemu langsung dengannya.

Ngobrolin apa saja? Random. Coba simak, ini setelah berminggu-minggu puasa WhatsApp saking dianya repot, sayanya sibuk. Sibuk mikir gimana caranya nggak mikirin dia melulu.

“Sudah bahagia sepertinya.”

“Hay.. iya, banget! Kan chat sama kamu. Haha... apa kabar?"

"Sorry aku lagi ribet, banyak ini itu. Sebenarnya nggak sibuk-sibuk amat. Rutinitas seperti yang sudah-sudah. Entahlah, mungkin aku yang kurang bisa mengatur pikiran sendiri. Mungkin butuh upgrade ya."

Enjoy the moment, dear. Hidup emang suka diselipi yang riweh-riweh. Jangan terlalu kenceng mikirnya kalo nggak mau sakit kepalamu kumat lagi. Biarin aja ngalir, toh kamu udah berusaha. Ngaca gih, keliatan tuaan sepuluh tahun "

“Hahaha masak? Sok tahu deh, ketemu juga nggak."

“Kepo dong..”

"Halaah."

“Sorry, but how do you feel?”

“I am good. Emm.. nggak baik-baik amat sih sebenernya. Ah sudahlah...”

“Hmm... sabar.”

“Yes thanks. Jadi bener ada yang bilang, kalau udah nggak bisa connect mau gimana juga yang ada hambar doang."

Iya sih. Ya emang gitu. Tapi meski nggak mudah yang penting jujur dengan diri. Capek juga berpura-pura. Sehat-sehat ya. Jangan lupa bahagia.”

“Sedang mencari.”

“Sampai kapan? Kalau pun dapat paling sebentar ilang. Pengalaman. Capek doang yang ada. Asyikin ajalah, karena ternyata banyak hal sederhana yang bisa bikin bahagia. Seperti chat begini hehe..."

Hahaha.. kamu jadi kayak mbak itu dong."

“Yee beda kali. Dia sih absurd. Kebanyakan halu."

"Iya.. kita sih maunya yang jelas-jelas aja. Tapi hidup pilihan. Udah kadung milih ya kudu mau dengan risikonya."

"Termasuk soal rindu kan?"

"Haha yoiih..."

Tapi kamu hebat juga, being single dan terlihat happy-happy aja.”

“Hih.. mbok pikir gampang? It’s my choice. Hidup itu pilihan kan? Tapi ya namanya masih manusia, most days I’m fine, but in some days, i’m not fine. Nah ini yang berat. Masih terus belajar menghadapi gelap dan terang dunia”

“Ya i know...”

"Eh lagi dimana?"

"Di rumahlah, mau dimana lagi. Lagian gerimis, mana anginnya kenceng bener, mana lapar lagi duh..."

"Go food dong, jangan kayak orang susah deh."

“Nggaklah. Makannya cuma berapa ongkirnya berapa. Kecuali bener-bener kepepet pet pet, bolehlah."

Itu ngirit apa pelit?"

"Dua-duanya dong hahaha..."

“Eh ketawa dia. Baguslah. Kapan kamu terakhir ketawa lepas? Hari gini makin susah ya, ntar dikirain melecehkanlah, menyinggunglah, apalah...”

“Iya makanya the best laugh itu ketika kita bisa menertawakan diri sendiri yes?

“Yes!”

Jadi mari ketawa atas kesedihan-kesedihan itu, nangisnya udah kan? Atau situ butuh senderan? Gih lari ke hutan, mumpung beberapa pohon masih kokoh dan tabah nunggu datangnya para penebang. Eh hatimu jangan ikut ketebang, jangan, berat. Cukup aku saja”

“Hahaha”

Sini, sini peluk dulu ?..."