“Suasana Klenteng dan area parkirnya di bagian bawah yang menjadi tempat menikmati aneka masakan, selain nyaman juga mewakili kerukunan antar umat beragama di kota Malang.”

 Lecep

Setelah berkali-kali dihajar dengan ulasan ragam masakan yang kaya dengan protein dan lemak hewani semacam sate, gule, rawon dan soto, maka sekarang saatnya untuk menyeimbangkan gizi yang terserap, dengan mengonsumsi vitamin yang tersimpan dalam aneka sayur serta buah.

Dari sekian jenis masakan yang mengandalkan kelimpahan sayuran dan buah-buahan, maka terdapat satu masakan yang hingga saat ini belum terbukti jejak sejarah cita rasa yang merupakan karya asli orang Malang, yakni Pecel, yang jika dibaca dari kanan ke kiri menjadi; Lecep.


Bawaan Blitar, Tulungagung hingga Madiun

Beragam sajian nasi Pecel yang dijajakan di kota Malang, mengusung nama daerah asalnya masing-masing Belum ada varian Pecel yang mewakili olahan asli Malang. Namun, masakan satu ini adalah karya cita rasa bawaan dari pendatang yang menetap di kota Malang.

Seperti warung-warung penyedia Pecel yang terletak di sepanjang pertokoan Jl. Kawi dekat perempatan gerbang masuk kawasan hunian Bareng dengan kawasan Idjen Boulevard.  Semua warung Pecel yang mengklaim dirinya sebagai Pecel Kawi Asli itu menawarkan sensasi cita rasa Pecel olahan khas Tulungagung.

Adalagi Pecel Mustika yang membuka tempat sajiannya di Jl. Panderman dan Jl. Rajekwesi, yang berorientasi pada cita rasa khas Pecel Blitar, yang lebih berani, karena bersensasi lebih pedas.

Seporsi Pecel Mustika

Masih di area Jl. Panderman, tepatnya di seberang kawasan sekolah dasar, mangkal sebuah warung tenda bernama Pecel Winongo yang berhalauan pecel ala Madiun, yang dikenal mengutamakan cita rasa manis. Hanya saja pecel ala Madiun di warung ini tak berdampingan dengan lauk kelas berat berupa aneka gorengan dan baceman jeroan sapi, sebagaimana layaknya Pecel khas Madiun.

Kemudian, masih berkutat sebagai penyedia olahan Pecel khas Madiun, adalah warung Pecel AE yang bertempat di deretan warung dan lapak kelontong di poros Jl. Gede. Sama halnya dengan Pecel Winogo, maka warung Pecel AE juga tak menyediakan aneka lauk olahan jeroan sapi.

Baik Pecel Winongo maupun Pecel AE, keduanya telah cukup lama dikenal memiliki reputasi sebagai penyedia masakan Pecel ala Madiun di kota Malang.

Lalu ada sebuah gerobak dorong penyedia Pecel yang menetap di sebelah belakang SPBU Shell, di satu sudut Jl. Kawi persis di area depan Mall Olympic Garden, MOG.

Terbilang unik, karena Pecel yang dihidangkan merupakan perpaduan cita rasa khas Blitar yang gurih pedas dengan cita rasa Tulungagung yang manis dan berbumbu kental. Pecel sajian dari gerobak dorong ini, sudah terasa nikmat meski hanya berlauk sederhana berupa rempeyek kacang dan tempe goreng saja.

Sepasang Pecel ala Gerobak Depan MOG Tersipu di Balik Rempeyek

Meski ditawarkan dari gerobak dorong, Pecel yang dihidangkan tak pernah sepi pengunjung. Apalagi setiap hari Minggu pagi, deretan pelanggan terlihat santai bersantap di kursi plastik atau di hamparan rumput trotoar.

Sebagian pelanggan juga rela mengantre panjang memesan Pecel bungkusan. Antrean membentuk barisan rapi berisi orang-orang yang lebih sering terdiam, bersama ungkapan kata hati yang tertuang sebagai lamunan.

Banyak diantara pengunjung yang mengenakan baju dan celana training pertanda habis berolah raga di bilangan Idjen Boulevard atau sekedar berjalan santai.

Iya benar, berjalan santai dari rumah menuju ke gerobak Pecel ini.

Sip!


Kejutan dari Trenggalek

Agak jauh ke timur menuju poros Jl. Raya Sulfat, setiap pagi, juga terdapat jajaran penyedia pecel. Salah satunya adalah Pecel Trenggalek yang membuka tenda tak jauh dari warung Pecel Winongo yang merupakan cabang dari Pecel Winongo di Jl. Panderman.

Meski belum pernah ramai terdengar daerah Trenggalek sebagai penghasil masakan Pecel, ternyata Pecel Trenggalek di tempat ini memberikan sensasi cita rasa yang mengejutkan. Begitu penuh mengandung unsur surprise dalam setiap kisi-kisi bahan utama dan bumbu Pecel yang dihidangkan.

Betapa tidak, menikmati olahan pecel di warung ini sontak membuka ruang batin bahwa ternyata Trenggalek juga menyimpan benih bakat pengolah masakan yang layak dipertimbangkan dalam dunia perpecelan tanah air.

Membuka Pagi berdamping Sebungkus Pecel ala Trenggalek

Paduan tekstur bumbu yang lembut, dalam tatanan cita rasa gurih, manis dan pedas yang pas, dipadu dengan nasi panas pulen bertumpuk aneka sayuran berupa kenikir, kembang turi, irisan timun, bayam, lamtoro dan kemangi serta taburan srundeng kelapa.

Kehadiran tempe goreng dan rempeyek teri yang menggeletak di pinggir piring bertatakan sesobek daun pisang, sungguh memikat indera pengecap rasa, yang dalam setiap suapan Pecel olahan koki Trenggalek ini, bakal terasa sayang untuk segera ditelan. Melainkan mengunyahnya berlama-lama, agar cita rasa membahagiakan menjadi lebih awet dalam setiap tarian ujung lidah dalam rongga mulut penikmatnya.

Penulis termasuk salah satu manusia di kota Malang yang cocok dengan olahan Pecel ala Trenggalek ini.

Beragam olahan Pecel tersebut di atas, sekaligus membuktikan bahwa untuk sementara ini, belum ada olahan Pecel khas Malang. Melainkan Pecel sebagai olahan masakan bawaan dari daerah-daerah dari luar kota Malang.


Gado-Gado Siram

Selain Pecel, maka sajian masakan dengan bumbu utama berupa pasta ulekan kacang goring yang turut meramaikan blantika dunia bertualang cita rasa adalah Gado-Gado Siram khas Jawa Timur.

Berbeda dengan olahan Gado-Gado ulek ala Jawa Barat yang bumbu-bumbunya diulek langsung dan berbahan serba rebusan sayur dan irisan lontong bertabur krupuk, maka bumbu Gado-Gado Siram ala Jawa Timur sudah dimasak terlebih dahulu.

Tinggal disiram ke atas sepiring porsi isian yang terdiri dari kentang dan wortel rebus, slada air mentah, irisan tempe tahu goreng lalu ditaburi emping mlinjo serta krupuk.

Gado-Gado Pak Tomo Madiun Mewakili Penampilan Gado-Gado Siram ala Jatim

Sensasi manis dan gurih Gado-gado Siram, begitu dominan. Sehingga perlu ditambah satu dua sendok sambal pedas guna memperkaya cita rasa.

Di kota Malang, populer Gado-Gado Siram Cak Abu yang membuka beberapa cabang di seantero kota. Juga terdapat Gado-Gado Siram Pak Wito yang mengambil posisi di dalam pasar Oro-Oro Dowo. Termasuk Gado-Gado Siram yang eksklusif karena belum membuka satu cabang pun kecuali di dalam pasar tersebut.

Lapak Gado-Gado Pak Wito di Dalam Pasar Oro-Oro Dowo

Selain itu, Gado-Gado Siram Pak Wito hanya melayani permintaan bungkus tak bisa santap di tempat.

Mari sejenak bermain sulap Gado-Gado Pak Wito;

Sebungkus Gado-Gado Pak Wito Buah Tangan dari Pasar Oro-Oro Dowo


Jreng! Bungkusan Gado-Gado Pak Wito Pose Terbuka


Jreng! Bumbu Gado-Gado Pak Wito Pose Tersiram


Jreng! Sepiring Gado-Gado Pak Wito Tinggal Piring

Tentu, sebungkus dua bungkus Gado-Gado Siram ala Pak Wito bakal menjadi buah tangan yang dinanti orang-orang tercinta di rumah, sepulang belanja di pasar tradisional Oro-Oro Dowo yang terkenal bersih, rapi, nyaman, berhias arsitektur jaman kolonial Belanda yang masih dipertahankan hingga sekarang.


Rujak Cingur

Ke semua masakan yang diulas panjang kali lebar sama dengan luas, yang jika dikali tinggi adalah berisi sangat dalam tersebut di atas, adalah jenis-jenis olahan masakan yang populer dalam kategori bisa dinikmati oleh petualang cita rasa secara normal tanpa was-was.

Rujak Cingur dan Kupang adalah dua contoh jenis masakan yang berpotensi terasa aneh, khususnya bagi peraih kebahagiaan melalui aneka cita rasa masakan yang berasal dari luar Jawa Timur. Atau bagi mereka yang baru saja tinggal menetap dalam waktu yang relatif belum terlalu lama.

Rujak Cingur, menempati posisi teratas sebagai masakan yang menjadi favorit sekaligus mewakili cita rasa Jawa Timur.

Masakan yang berbumbu utama kacang tanah goreng, pisang batu, gula merah, siraman larutan asam Jawa, garam dan satu lagi bahan yang menjadi wajib dan berpengaruh pada banyak olahan masakan khas Jawa Timuran, yaitu kukusan kerak cairan sisa pengolahan udang yang disebut petis.


Petis 2 Gender

Terdapat dua jenis petis yang biasa menjadi campuran bumbu Rujak Cingur, yaitu petis lanang yang berwarna hitam pekat dan petis wedok yang berwarna kecokelatan karena dicampur gula kelapa batok.

Adonan bumbu dasar berbasis petis itu lalu dituang di atas campuran irisan lontong, sayur matang dan buah mentah yang umumnya terdiri dari kangkung atau bayam, kecambah, kacang panjang, irisan timun, Bengkoang, nanas, mangga muda, tempe, tahu goreng dan tambahan cabe pedas sebagai penguat rasa alami. Serta tentunya gorengan bagian tulang rawan hidung sapi yang disebut; Cingur.


Cingur Buat Uji Nyali

Cingur menjadi satu bahan selain petis yang menjadikan petualang cita rasa dari luar Jawa Timur perlu beradaptasi lebih jauh, demi menghadapi sensasi rasa Rujak Cingur.

Penyaji Rujak Cingur yang andal adalah mereka yang mampu mengolah Cingur hingga memiliki tekstur yang empuk dan kesat. Termasuk penampilan Cingur yang bersih tanpa sungutan bulu kumis sapi sedikit pun, serta masih menempel sebagian daging di permukaan Cingur.

Cingur yang memiliki cita rasa gurih hasil racikan bumbu gongso atau tumis yang tepat, menjadi kunci utama kualitas Cingur yang setelah digoreng, menjadi nyaman untuk dinikmati. Sama sekali tak tercium aroma khas Cingur yang bisa membuat calon penikmatnya kehilangan selera.

Penampilan Menggairahkan Irisan Cingur yang Mewakili Olahan Rujak Cingur Istimewa

Akan menjadi bijak, jika pertama kali mencoba Rujak Cingur, disarankan tanpa irisan Cingur. Bisa diganti gorengan irisan kikil, jika ada.

Apabila memilih tanpa Cingur juga tanpa Petis, maka olahan yang tersaji adalah hidangan mirip Gado-Gado ulek atau yang lebih dikenal bernama; Lotek.


Tiada Jambu Mente Lagi

Ada satu lagi irisan buah yang menjadi isian Rujak Cingur masa tahun 1970-an yaitu Jambu Mente, yang beraroma wangi.

Penggemar Rujak Cingur kala itu seperti menerima tantangan jika sajiannya bertabur irisan Jambu Mente yang jika keliru cara mencampur sesuapan dengan bahan lainnya bakal menimbulkan sensasi gatal di kerongkongan lalu batuk.

Jika sudah demikian, solusi terbaiknya adalah kerongkongan segera digelontor minuman pendamping Rujak Cingur. Bisa kolak atau pun es blewah.

Saat ini sudah langka bahkan tak ada Rujak Cingur bercampur irisan buah Jambu Mente. Mungkin karena buah ini langka dan mahal, atau penikmat Rujak Cingur jaman sekarang berubah cara menikmati santapan, dengan meminimalkan tantangan.

Sedikit berbeda dengan olahan Rujak Cingur ala Surabaya, maka Rujak Cingur Malangan lebih dominan tambahan petis lanangnya sehingga penampilannya terlihat lebih hitam dengan aroma yang lebih pekat. Tekstur Cingurnya juga lebih kenyal namun tetap ramah dalam setiap gigitan, tanpa unsur perlawanan sama sekali.


Ada Kerukunan Umat Dalam Pujasera

Beberapa penyaji Rujak Cingur yang perlu dipertimbangkan untuk dicoba oleh petualang cita rasa baik yang sudah malang melintang didunia incip mengincip, maupun bagi mereka yang baru tahapan coba-coba, antara lain adalah;

Rujak Cingur Amprong, berlokasi di Jl. Amprong Malang yang juga membuka cabang di Jl Sunandar Priyo Sudarmo d/h. Jl. Bengawan Solo.

Lebih dikenal sebagai Rujak Amprong, termasuk salah satu Rujak Cingur banyak direkomendasikan di kota Malang, dengan ukuran porsi jumbo yang bisa disantap berdua untuk setiap porsinya.

Kemudian ada Rujak Cingur Klenteng yang terletak di tempat jajanan area parkir bawah Klenteng Tri Dharma kota Malang di kawasan Jl. RE Martadinata tak jauh dari pasar besar.

Tampak Depan Klenteng di Kota Malang

Lebih dikenal sebagai Rujak Klenteng, menjadi salah satu obyek singgahan bagi penikmat cita rasa olahan Rujak Cingur yang menghasilkan sensasi klasik.

Rujak Cingur ala Klenteng

Keunggulan Rujak Klenteng terletak pada irisan Cingur yang begitu empuk dan gurih.

Keunikan lain pada Rujak Klenteng adalah pada sajian pendamping, berupa semangkuk es kolak sebagai hidangan penutup, dessert. Hasil kolaborasi cita rasa rujak Cingur dan es kolak, mampu membuat penikmatnya bakal menjadwal ulang berkunjung ke warung Rujak Klenteng lagi, lagi dan lagi.

Semangkuk Es Kolak Pendamping Rujak Cingur ala Klenteng

Tak hanya Rujak Cingur, di kawasan jajanan Klenteng ini juga terdapat sajian Pangsit Cwimie yang menjadi pusatnya Kedai Mie Sutoyo dan Hweci khas Malang semacam Ote-ote dengan isian daging ayam dan udang.

Suasana Pujasera di Area Parkir Bawah Klenteng Kota Malang

Suasana Klenteng dan area parkirnya di bagian bawah yang menjadi tempat menikmati aneka masakan, selain nyaman juga mewakili kerukunan antar umat beragama di kota Malang.

Adapun untuk Rujak Cingur berformat masakan yang disajikan rumahan, adalah Rujak Bu Kus yang berada di kawasan Sawojajar atau Rujak Bu Sri dan Bu Min di daerah Kendal Kerep yang disajikan di teras halaman depan rumah.

Ketiga Rujak Cingur olahan dapur rumahan ini, mampu menjadi penawar kebutuhan cita rasa dan asupan gizi dari aneka bahan serta ragam bumbu, yang dengan tambahan petis, bakal menjadi semacam vaksin alami peningkat imun tubuh bagi para penikmatnya.


Menjes Hanya Ada di Malang

Ciri khas lain Rujak Cingur olahan khas Malang adalah taburan irisan Menjes kedelai hitam yang sering disebut tempe kacang, yang memang hanya ada di kota Malang.

Keberadaan Menjes sebagai bahan utama isian Rujak Cingur khas Malang, juga menjadi solusi antara pembeli dan penjual, apabila ada sedikit masalah tentang keberadaan uang kembalian.

Menjes dari Olahan Kedelai Hitam Hanya Ada di Kota Malang

Melalui suatu kesepakatan bersama, maka sang penjual bakal menuruti permintaan si pembeli yang menyetujui untuk ditambah irisan Menjes, jika ada nominal sekian Rupiah yang tak tersedia sebagai uang kembalian.

Atau, bisa juga ketika si pembeli tiba-tiba tak sengaja menemukan koin Rupiah, setelah merogoh-rogoh kantong saku celananya.

Lalu si pembeli bilang dalam bahasa Jawa berlogat Malang;

"Sing setunggal ewu Repes damel nambah iris Menjes mawon nggih Bu Lek..."

Dalam bahasa Indonesia berarti;

"Yang seribu Rupiah buat nambah irisan Menjes saja ya Tante..."


Bersambung