"Mereka dengan sukarela mengabdikan diri sebagai pemasak, hingga pembantu kegiatan memasak, demi kesuksesan acara tetangga mereka yang sudah dianggap sebagai kerabat. Kegiatan yang demikian, dinamakan; Mbiyodo."

Make Peace, Nowar

Beranjak dari Tahu Campur yang berkuah kehitaman, kita hinggap ke topik masakan yang berkuah sama-sama hitam, yang notabene sebagian besar bahan bumbunya sama dengan bumbu dasar Tahu Campur. Namun minus petis dan ditambah Keluwek atau disebut juga Kepayang atau sering pula disebut Pucung. Sebuah biji tanaman yang berbuah warna coklat kehitam, bernama ilmiah Pangium edule.

Rawon namanya, bisa juga disebut Nowar. Karena Rawon dibaca terbalik, dari kanan ke kiri.

Pada tahun 2020, Rawon mendapat anugerah penghargaan sebagai masakan kategori sup terenak se-Asia. Sebuah penghargaan yang tak berlebihan, karena cita rasa Rawon berkuah kehitaman begitu lengkap mewakili semua sensasi rasa yang membahagiakan.

Mulai dari gurih, asin, asam, manis hingga pedas, semua berpadu menyatu dalam harmoni rasa yang apabila sekali menyentuh indra pengecap rasa, seketika itu juga tak bosan sang penikmat berkali-kali mengulangi sensasi membahagiakan dalam seporsi Rawon hingga tuntas, tandas, bersih seolah mangkok atau piringnya terlihat tak perlu dicuci lagi.

Sebelum disajikan, sebaiknya menginapkan Rawon terlebih dahulu semalaman. Agar adonan bumbu yang telah dimasak menyatu dengan bahan lainnya menjadi lebih menyerap, merasuk hingga ke sisi paling dalam pada setiap irisan daging pun lemak yang menyelam dan berenang-renang dalam kuah Rawon.

Dalam istilah Kimia, maka bumbu Rawon tak sekedar teradsorpsi tapi terabsorpsi, begitu merasuk dalam setiap nanometer serat daging, urat ataupun lemak isian kuah Rawon.

Menikmati seporsi Rawon, sebaiknya bersanding dengan aneka aksesoris penguat rasa. Minimal krupuk udang, tempe goreng, mendol juga sambal. Selebihnya, adalah jerohan macam paru, babat atau usus goreng.

Mendol Hasil Olahan Tempe Hampir Semangit Ditambah Bumbu Khusus.

Uniknya, jika di daerah lain ada kewajiban Rawon bersanding telor asin, maka di Malang kewajiban itu tak berlaku.

Mendol tempe yang digoreng garing, justru menjadi penyanding wajib bagi Rawon yang berkuah panas sedap, segar.


Rawon Rampal

Di kota Malang, depot Rawon Rampal yang berada di dekat perempatan lapangan Rampal arah ke Sawojajar dari pasar Klojen, adalah unggulan pertama yang lalu diikuti oleh penyedia Rawon lainnya.

Sepiring Rawon Rampal Hadir Bersama Lauk Pendamping

Cara menyajikan Rawon di depot ini terbilang unik.

Pertama, Rawon dimasak menggunakan kayu bakar dalam panci-panci blirik di area dapur 'panas' terbuka. Lalu, Rawon yang telah dipastikan matang dan siap santap, dipindah ke dalam panci di atas nyala kompor di bagian dapur 'teduh' di area pemesanan Rawon.

Pemesanan Rawon pun dilakukan secara mandiri tanpa adanya pramusaji. Melainkan pelanggan mengantre hingga dipastikan porsi Rawon pesanan dan aneka pernak pernik aksesori makanan pendampingnya telah diajukan di atas nampan.

Kemudian, pelanggan membawa nampan berisi porsi-porsi Rawon beserta lauk pendamping tersebut, untuk dibagikan ke keluarga ataupun rekan yang terlebih dahulu menunggu di meja makan.

Suasana Ruang Makan yang Homey di Depot Rawon Rampal

Tantangan bersantap di depot Rawon ini adalah jika datang seorang diri. Karena harus mengantre, maka tak bisa menandai meja makan tempatnya bersantap.

Jika beruntung maka pengunjung sorangan tersebut mendapat tempat yang diharapkan. Jika tidak, ya harus pasrah menikmati seporsi Rawon di tempat manapun yang tersedia di sekitar depot. Mendapat tempat duduk di dekat area dapur ‘panas’, misalnya.

Namun, di manapun bersantap dalam area depot ini, begitu sekali si pengunjung merasakan sesuap Rawon olahan khas depot Rampal, maka bakal terlupakan kalau sedang bersantap di meja makan yang dekat dengan panci panas beruap nyala kayu api bakar.


Rawon Kiroman

Setara dengan Rawon Rampal adalah Rawon Kiroman yang terletak di bilangan Jl. Yulius Usman, Kasin tak jauh dari kawasan Kauman.

Kata Kiroman bisa jadi diambil dari kata Kiraman Katibin, dua malaikat yang tinggal di pundak kanan dan kiri setiap manusia, untuk mencatat segala amal perbuatan manusia, selama hidup di dunia.

Bisa jadi pula semangat dari penamaan Kiroman adalah agar setiap manusia yang bertandang di rumah makan ini, setelah menikmati Rawon dan masakan andalan lainnya yaitu Soto Daging, maka tak hanya mensyukuri kenikmatan. Namun juga berkomitmen untuk menebar kebaikan. Agar setiap amal perbuatan baiknya lebih mendapat catatan oleh kedua malaikat Kiraman Katibin.

Seporsi Rawon Kiroman Beserta Lauk Pendamping Pilihan

Baik depot Rawon Rampal maupun Kiroman keduanya tercatat memiliki usia yang panjang sejak tahun 1950-an sebagai penyedia masakan Rawon dan Soto Daging di kota Malang.

Model dan struktur bangunan kedua rumah makan tersebut juga menunjukkan sebagai bagunan berarsitektur lama, puluhan tahun lampau.

Unsur aneka aksesoris lauk pendamping menu santapan utama di rumah makan Kiroman pun sama persis dengan di Depot Rawon Rampal. Hanya sedikit berbeda pada ukuran yang lebih ekstra besar di Kiroman.

Ukuran area bagian dalam depot Kiroman, tak begitu luas. Namun tertata rapi dengan mempertahankan kondisi bangunannya pada masa lampau. Hanya saja keunikan kegiatan memasak, dilakukan di dalam dapur. Tak seterbuka Rawon Rampal.


Rawon Putra Pak Jenggot

Masih banyak depot dan warung yang menyediakan sajian Rawon di kota Malang, seperti Rawon Nguling di bilangan Kidul Dalem di Jl. Zainul Arifin, Rawon Pak Jenggot di Jl. Kawi.

Seporsi Rawon Nguling Bersama Lauk Pendamping

Ada juga sebuah warung Rawon yang tak begitu dikenal, namun olahan Rawonnya tak bisa dianggap remeh yakni;

Rawon Putra Pak Jenggot di Jl. Gede di seberang area pusat jajanan Pangsit Cwimie, es Mocca dan Gado-gado Dempo, di belakang latar sekolah SMA St. Albertus.

Sajian Rawon di warung Putra Pak Jenggot, termasuk tak dinyana secara tampilan warungnya yang relatif sederhana berupa bedak bangunan semi permanen.

Sepiring Pesanan Rawon Putra Pak Jenggot

Tetap terlihat rapi dan bersih meski dalamnya terdapat beberapa kandang burung, berisi burung-burung perkutut dan lainnya menandakan sang pemilik warung punya hobi memelihara burung.

Suasana Dalam Warung Rawon Putra Pak Jenggot

Justru dari penampilan yang terlihat remeh inilah, olahan Rawon yang disajikan mampu memberikan kejutan. Tak hanya nikmat bagi indera perasa, namun juga ramah bagi penghuni dompet setiap pengunjungnya.



Pengembaraan Soto

Membahas Rawon, maka tak lengkap jika tak membahas masakan berkuah lainnya, yang memiliki variasi paling banyak di Indonesia, yaitu; Soto.

Mulai dari wilayah barat Indonesia dikenal Soto Medan, Soto Padang, Soto Tangkar Betawi, Soto Mie Bogor, Soto Sadang, Soto Bandung.

Lalu singgah di wilayah tengah berderet lah Sroto Banyumas, Soto Tegal, Tauto Pekalongan, Soto Bangkong Semarang, Soto Kudus, Soto Tugu Jogja, Soto Bening Boyolali, Soto Kwali Sragen.

Kuah Soto Boyolali Terkenal Bening dengan Cita Rasa Segar Gurih

Kemudian masuk wilayah timur, berjajar lah  Soto LA (LAmongan), Soto Pasar Kawak Madiun, Soto Tamanan Kediri, Soto Ambengan Surabaya.

Soto Ambengan Surabaya Unik Berkaldu Ikan Bandeng dan Taburan Poya

Tak berhenti sampai wilayah timur Jawa saja, tapi aroma Soto terus menebar menyeberangi laut Jawa ke arah utara. Di sana ada Soto Banjar di Kalimantan Selatan yang nikmat bersanding sate ayam.

Soto Banjar Khas Kalimantan Selatan Nikmat Disajikan Bersanding Sate Ayam

Berlanjut menyebrangi selat Makassar terdapat aneka olahan Soto yang disesuaikan bahan dan bumbu masakannya sesuai kearifan lokal seperti Coto Mangkasara, Sop Sodara juga Soto Manado.

Sop Konro, Kerabat Dekat Coto Makassar Nikmat Disajikan Bersanding Ketupat atau Buras

Lalu ke timur lagi menyebrangi laut Maluku, bertandang ke Ambon ada Soto daging Mubaraka.

Kemudian kembali lagi ke arah barat daya menyebrangi lautan Masalembo ke pulau Madura terhidang Soto Madura.

Soto Daging di Pasar Kawak Madiun Mewakili Cita Rasa Soto ala Madura

Begitu beragam varian Soto yang menyebar di pelosok pulau-pulau, menunjukkan bahwa Soto adalah hidangan terpopuler di wilayah Indonesia.

Orang bisa saja tak berminat menikmati Rawon karena berwarna kehitaman. Namun semua orang suka Soto yang berkuah lebih segar dan bersensasi herbal, menyembuhkan.

Soto adalah pilihan favorit hidangan berkuah di wilayah tropis berkelembapan tinggi, seperti di Indonesia.


Soto Daging Khas Malang

Olahan Soto khas Malang juga memiliki keunikan tersendiri, khususnya Soto Ayam maupun Soto Daging.

Soto Daging olahan khas Malang sebagaimana tersaji di depot Rawon Rampal dan Kiroman, berkuah tanpa santan dengan isian daging yang masih berlemak selayaknya daging Rawonan.

Soto Daging ala Depot Kiroman


Soto Ayam Khas Malang

Soto Ayam olahan khas Malang merupakan perpaduan Soto Lamongan yang bertabur suun dan kubis, dengan Soto Ambengan Surabaya, namun kuah tak berkaldu ikan Bandeng.

Soto di daerah Ngelo, dikenal sebagai pelopor olahan Soto Ayam khas Malang. Kemudian ada Soto Lombok di Jl. Lombok dan Soto Pak Amir di bilangan Karang Ploso, yang berkuah mirip Rawon namun tetap berbumbu dasar Soto.

Beberapa depot Soto Ayam di kota Malang yang menawarkan cita rasa olahan khas Malang antara lain adalah Soto Mitra dan Soto Lonceng yang keduanya berada di poros Jl. Brijend Slamet Riyadi, Oro-oro Dowo.

Racikan Soto Ayam dikedua depot tersebut merupakan inovasi dari Soto Lamongan yang lebih kuat aroma dan cita rasanya.

Semangkok Soto Ayam Depot Mitra

Ciri khas rumah makan penyedia Soto Ayam di kota Malang adalah aroma segar wangi kuah Soto yang pekat menyeruak syaraf indera penciuman sesaat setiap pelanggan hadir memasuki pintu depan rumah makan. Semakin semarak sensasi aroma rumah makan, karena berpadu pula dengan aroma irisan jeruk nipis dan adukan minuman teh atau kopi panas.

Selain aroma, pemandangan rumah makan Soto juga sangat menggugah selera, karena dihidangkan pula aneka lauk pendamping di meja makan. Berupa gorengan potongan tempe, tahu, jerohan ayam dan aneka krupuk, mulai krupuk putih, udang hingga kulit rambak.


Soto Dok

Adapula varian Soto khas Malang yang lebih didominasi berisikan irisan rebusan jerohan sapi dalam kuah. Soto ini dikenal sebagai Soto Dok, yang terpengaruh oleh racikan Soto ala Madura.

Warung Tenda Soto Dok Jl. Raya Sulfat

Soto Dok yang bercita rasa menarik untuk dicoba oleh petualang Soto, adalah warung tenda tepi jalan di poros Jl. Raya Sulfat, dekat perempatan lampu merah pertama arah ke jembatan Sawojajar.

Kualitas cita rasa Soto Dok kaki lima ini berlawanan dengan penampilan sederhana warung tenda. Kuahnya bening segar, dipadu gurih irisan isian daging dan jerohan rebus.

Ukuran porsi Soto Dok relatif mungil untuk ukuran petualang cita rasa. Mungkin disajikan demikian agar justru lebih mematri nostalgia yang memicu untuk mengulang datang lagi ke sana.

Semangkok Soto Dok Pas Malam Hari

Menikmati Soto di kota Malang yang berhawa sejuk, terdapat kebahagiaan tersendiri menjelang kuah terakhir dalam semangkok porsi Soto, yaitu mencelup krupuk, apakah krupuk putih, kulit rambak juga krupuk udang ke dalam kuah Soto yang tersisa, hingga semua kuahnya meresap tandas meninggalkan sebuah mangkok dalam kehampaan.



Romantika Mbiyodo dan Tahlilan

Di Jawa Timur, masakan Rawon, termasuk Soto, telah menjadi masakan pilihan wajib untuk disajikan pada acara-acara kondangan, seperti sunatan, nikahan, hingga acara kirim doa, Tahlilan.

Seringkali menyuguhkan olahan Rawon dalam acara-acara tersebut adalah secara Rujak Uni, kalau orang dulu menyebutnya.

Istilah Rujak Uni bermakna menu masakan yang disajikan seporsi lengkap. Istilah baratnya, Ala Carte. Biasanya seporsi berisikan nasi, berkuah Rawon isi daging, kecambah, sambal dan krupuk udang. Demikian halnya dengan seporsi Soto.


Mbiyodo

Pada kisaran tahun 1980-an dan tahun-tahun sebelumnya, usaha layanan katering juga persewaan gedung kondangan belum lah semarak.

Dalam acara kondangan seperti sunatan atau pernikahan yang dilaksanakan di halaman rumah, maka bakal ada banyak pramusaji yang terdiri dari pria pun wanita remaja berpakaian rapi.

Mereka terlihat hilir mudik membawa nampan berisi sajian Rawon atau Soto, juga segelas teh hangat, menuju ke tamu undangan yang sudah duduk di tempat yang telah disediakan.

Aneka masakan dan minuman disajikan kepada para tamu yang telah memberikan selamat kepada si pengantin sunat atau kedua pengantin mempelai.

Para tamu juga menyematkan amplop berisi uang buwuhan ke dalam sebuah kotak kayu berlubang persegi panjang atau langsung di-salam tempel-kan kepada si anak pengantin sunat.

Hidangan yang disajikan kepada para tamu adalah masakan-masakan olahan para Ibu pun wanita tetangga juga kerabat keluarga pengantin.

Mereka dengan sukarela mengabdikan diri sebagai pemasak, hingga pembantu kegiatan memasak, demi kesuksesan acara tetangga mereka yang sudah dianggap sebagai kerabat. Kegiatan yang demikian, dinamakan; Mbiyodo.

Jika sudah terpanggil kegiatan Mbiyodo, maka Ibu-ibu jaman dulu, juga sekarang di beberapa tempat, langsung dengan senang hati menuju dapur umum yang disediakan keluarga yang punya hajat.

Ibu-Ibu sedang Mbiyodo Acara Khitanan Anak 5 April 1982

Aneka alat-alat andalan para Ibu-ibu pun dibawa dari rumah masing-masing, sesuai kemampuan dan amanah yang diberikan. Ibu-ibu bagian mengiris bawang, bakal membawa pisau pengiris bawang.  

Bagian mengopyok telor buat adonan roti kukus, akan membawa alat kopyok aluminium yang bisa memantul-mantul elastik, saat menghujam wadah berisi telor.

Bagian membelah kelapa, membawa pisau besar dan tajam, bernama Boding. Lalu bagian memarut kelapa bakal membawa parutan.

Terus bagian mengulek bumbu, membawa ‘senjata genggam’ ulek-ulek batu dan tempat ulekan batu bernama layah.

Adapun bagian goreng menggoreng, dengan senang hati akan membawa wajan, serok dan sutil.

Jika tak bawa alat dapur apa-apa, biasanya Ibu-ibu tersebut mendapat tugas relatif ringan, seperti me-mitil ekor kecambah ataupun tangkai lombok buat sambal. Me-mitil, memotong menggunakan ujung jari telunjuk dan jempol.

Bapak-bapak juga berpartisipasi aktif membantu Ibu-ibu Mbiyodo

Suasana Mbiyodo sangat meriah berisi riang canda. Anak-anak kecil seringkali menghampiri Ibunya yang tengah memasak. Mereka hanya akan mau pergi berlalu, jika sang Ibunda memberikan sebuah kue hasil masakan kondangan. Biasanya apem, lemper, bikang atau nagasari.

Aktifitas anak-anak tersebut, disebut; Adep-adep. Kurang lebih bermakna upaya mendapatkan jajanan secara pendekatan. Sebuah perilaku sejak kecil, yang mengajarkan sang anak untuk berjejaring, membangun relasi, lalu menangkap peluang.


Tahlilan

Kegiatan Mbiyodo juga berlaku untuk kegiatan Tahlilan.

Masakan seperti Rawon dan Soto, menjadi dugaan awal yang lumrah sebagai sajian utama, bagi para pria yang diundang mengikuti Tahlilan.

Suasana khidmat dalam kegiatan kirim doa, diiringi pengajian membacakan surah-surah kitab suci, diutamakan surah Yasin yang terdiri dari 83 ayat.

Tim panitia penyaji hidangan pun dengan khidmat pula mengikuti acara pengajian dan mendengar lantunan Tahlilan.

Pada bagian akhir ayat ke 82 surah Yasin, begitu terdengar lantunan; 'Kun Fayakun', lalu tim panitia suguhan sudah mulai siaga, karena lantunan surah tersebut menjelang usai.

Segera setelah selesai mengaji Yasin lalu dilanjutkan doa-doa, ketua panitia tim suguhan langsung sigap memberi aba-aba para anak buah untuk memastikan semua piring berisi nasi mulai diguyur kuah panas Rawon ataupun Soto beserta pernak pernik daging isian, juga sambal dan krupuk udang.

Juga, kembali dihitung para undangan Tahlilan yang hadir. Dipastikan jangan sampai ada kekurangan porsi sajian.

Pada saat yang telah diyakini pengajian Tahlil telah usai, maka panitia segera menyajikan porsi-porsi sajian masakan hangat kepada para undangan.

Seringkali mengedarkan piring-piring hidangan, secara berseri dari tangan ke tangan para undangan, yang duduk berderet menyamping. Piring berisi seporsi hidangan, diedarkan bertahap ke sebelah, satu persatu.

Jika diedarkan dengan cara demikian melalui hulu edar dua arah samping kanan dan kiri, seringkali terjadi 'tabrakan', karena dua piring hidangan bertemu pada satu titik.

Terjadinya 'tabrakan' antara kedua piring tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seluruh hadirin jemaah Tahlil, telah lengkap terbagi sepiring hidangan. Para jemaah Tahlil pun telah menyangga sepiring hidangan, menggunakan tangan kiri lalu menyantap penuh nikmat menggunakan sendok di tangan kanan, sambil duduk bersila.

Selama malam-malam selepas Isya’ pada hari-hari kegiatan pengajian Tahlilan, maka suguhan bisa bervariasi.

Bahkan bisa jadi kejutan!

Saat dugaan awal hidangan setelah mengaji adalah berkisar sepiring Rawon atau Soto. Ternyata, setelah pengajian usai ternyata suguhan adalah semangkok Bakso.

Jika demikian yang terjadi, maka sebagai jemaah Tahlil, mereka pun lalu memaknai Kalam 'Kun Fayakun'.

 'Jadilah!'.

Lalu para jemaah Tahlil pun mengejawantahkan makna tersebut dengan bersikap seorang Muslim, yakni orang yang berserah diri. Mensyukuri hidangan yang disajikan dengan penuh suka cita, meski tadinya menduga Rawon atau Soto, ternyata mendapat semangkok bakso.

Menjadi satu permenungan, bahwa keharmonisan yang terjalin dari sajian Rawon dan Soto secara tak langsung mengajarkan sebuah makna perjuangan. Agar dalam meniti jalan kehidupan, maka setiap orang patut menyediakan ruang dalam hatinya untuk berserah diri pada-Nya.

Selalu mensyukuri nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Bersambung