Dia mengaduk-aduk beberapa telor ayam yang telah dikeluarkan dari cangkang. Sedemikian kuat sang koki mengaduk, memutar-mutar telor, mendadak dia lamat-lamat mendengar suara lirih seolah datang dari kejauhan;

“Haai...Gue puyeng, haaii...”

Beralih bahasan tentang Sate dan Gule, mari kita menyimak urusan Sego, istilah Jawa untuk nasi, yang bisa diolah menjadi nasi goreng. Termasuk olahan pendamping yang setara. Seperti bakmi goreng, bakmi kuah, cap je, tamie juga fuyunghai.

Olahan nasi goreng khas Malang bisa ditilik dari warna merah dari saos tomat yang digunakan.

Selain itu, juga terdapat tambahan penguat rasa, yang wajib bagi aneka masakan nasi goreng dan kawan-kawannya tersebut di atas, yakni; Saos Raja Rasa.


Sego Mawut dan Kawan-kawan

Terdapat varian nasi goreng khas Malang, yakni Sego Mawut.

Disebut Mawut karena terdapat aneka ragam campuran ke dalam nasi goreng. Mulai dari mie, sawi, kubis, ati ampla, hingga irisan pentol bakso bahkan udang dan sosis.

Begitu banyak irisan tambahan, membuat seporsi Sego Mawut lebih melimpah ruah dibanding nasi goreng biasa. Hanya saja, warna merah menyala berhias aroma khas tambahan Saos Raja Rasa tetap menghiasi baik Sego Mawut pun nasi goreng biasa.

Sepiring Nasi Goreng Merah Olahan Khas Jawa Timur

Tiga warung berikut saya kenal mewakili penyedia Sego Mawut juga bakmi goreng atau kuah, bersama kawan-kawannya yang bisa menjadi alternatif pilihan untuk bertualang cita rasa di kota Malang beserta keromantisan yang menghiasi.


Romantika“Dug! Dug!”

Pertama adalah warung tenda yang mangkal di atas jembatan Jl. Merapi.

Dulu, pada kisaran tengah tahun 1980-an, sang pemilik warung sekaligus koki masih berjualan mendorong gerobak, mulai petang hingga malam hari, menyusuri jalan-jalan di kawasan perumahan peninggalan jaman kolonial Belanda.

Dia mendorong gerobak ditemani seorang rekan, sekaligus yang membantu proses memasak, ke arah barat hingga tengah malam. Lalu mereka balik lagi ke area timur menuju pulang.

Suara bunyi ketukan kentongan kayu pertanda gerobak tempat memasak Sego Mawut, bakmi ayam dan kawan-kawannya sedang lewat, mengajak siapa saja yang mendengar untuk mendekat.

Bakmi Ayam Dug! Dug!

Dua puluhan tahun kemudian, setelah konsisten berjualan mendorong gerobak di malam hari, mengetuk kentongan kayu berbunyi “Dug! dug!” di sepanjang jalan. Kemudian pada tengah tahun 2000-an kedua sahabat ini membuka warung tenda permanen di atas jembatan Jl. Merapi, tak jauh dari pertigaan jalan.

Tempat pertigaan, di mana dulu mereka berdua sering dicegat para pelanggan untuk mendapatkan masakan idaman mereka sehabis Maghrib, berupa Sego Mawut dan kawan-kawan.


Romantika Cekcok

Kemudian di satu sisi poros Jl. Sunandar Priyo Sudarmo d/h. Jl. Bengawan Solo, terdapat pertigaan Jl. Ciwulan.

Tak jauh dari ujung jalan masuk Jl. Ciwulan, terdapat depot makanan yang menyajikan Sego Mawut dan kawan-kawan, yang diolah oleh sepasang suami istri yang sudah jelang lanjut usia, namun masih bersemangat dan sangat terampil.

Proses memasak yang dilakukan pasangan suami istri ini pun tak singkat, ada dua hingga tiga tahap. Mulai dari sang istri yang meracik bumbu masakan pesanan, lalu menumis dan memasukkan masakan bahan utama.

Kemudian, olahan awal tersebut dialihkan ke wanita muda yang membantu mematangkan masakan. Lalu masakan setengah itu dipindah lagi ke rekannya, seorang pria muda untuk menyajikan atau membungkus masakan pesanan para pelanggan.

Suasana antre menjadi pemandangan depot ini, yang buka mulai petang hingga malam.

Saat mengantre, sebagian pelanggan asyik dengan lamunan. Sebagian lagi menunduk memainkan piranti gawai. Sebagian yang lain asyik mengamati proses memasak, sambil sesekali terkaget-kaget oleh suara seruan mendadak sang bapak pemilik warung, yang mengingatkan istrinya tentang pesanan masakan.

Jika sudah demikian, tak jarang berlanjut adu mulut antara suami dan istri yang sudah sepuh itu. Sang suami mengingatkan, sang istri pun beralasan. Sebuah suasana klasik dan khas model adu argumen antara pasangan suami istri.

Suasana bersensasi cekcok antara sepasang suami istri sepuh itu pun menjadi semacam hiburan tersendiri, yang justru membuat para pelanggan setianya tersenyum-senyum karena sudah menjadi hal yang biasa terjadi dan menjadi ciri khas depot ini.

Satu hal yang pasti, bahwa hasil olahan masakan suami dan istri pada depot ini begitu istimewa, memiliki cita rasa klasik untuk setiap olahan masakan.

Seporsi Cap Je Goreng

Sego Mawut, cap je goreng dan tamie, yang sering pula disebut ifumie, menjadi andalan hidangan depot ini. Nikmat disantap langsung di tempat atau dibungkus untuk dibawa pulang, sebagai oleh-oleh orang-orang tersayang.


Romantika Gedung Lawas

Rumah makan ketiga yang mewakili cita rasa aneka Chinese Food yang telah diinovasi memiliki cita rasa khas Malang adalah Depot Atoom, yang berlokasi di dekat lampu merah perempatan alun-alun arah ke pasar besar kota Malang.

Belasan tahun lalu, depot makanan ini adalah toko buku bernama Atoom, penyedia buku-buku bacaan ringan maupun buku-buku sekolah.

Bangunan Depot Atoom termasuk klasik dengan arsitek yang menunjukkan sudah dibangun sejak jaman Belanda.

Namun sayang, bangunan lawas ini terkesan kurang terurus. Butuh segera direnovasi, agar lebih menarik untuk menjadi obyek swa foto atau saling berpotret ria saat pelanggan bersantai menikmati hidangan, lalu mengunggah foto-foto itu ke media sosial sebagai kenangan.

Selebihnya, dalam hal hasil olahan masakan, maka depot ini bisa menjadi satu pilihan untuk memanjakan indra pengecap cita rasa, sambil beristirahat sejenak setelah seharian lelah melangkah di seputar pusat kota Malang.

Masakan favorit di depot ini sebenarnya adalah Fuyunghai dan pangsit Cwimie.

Adapun menu lain, seperti Sego Mawut , bakmi dan cap je kuah bisa menjadi pilihan untuk dibungkus sebagai oleh-oleh bagi orang-orang tercinta di rumah.

Semangkok Cap Je Kuah

Posisi nyaman menikmati hidangan dalam depot ini adalah sambil menghadap sisi jendela bagian luar.

Meskipun suasana di dalam bangunan terlihat cenderung gelap dan bersuasana sangat mendesak untuk segera di lakukan renovasi, namun dengan menikmati pemandangan orang-orang yang sedang berlalu lalang di pusat keramaian kota Malang, maka bakal menjadi pengalihan suasana dari memikirkan kondisi bangunan, menjadi lebih fokus ke menikmati sajian hidangan.


Romantika “Puyeng, Hai”

Sambil menikmati Fuyunghai olahan depot Atoom ini, pikiran saya sempat melayang, membayangkan kisah asal muasal kata Fuyunghai, yang berbahan telor ayam digoreng dadar.

Bayangan saya, ratusan tahun lalu di negeri seberang adalah seorang koki tua sedang melakukan percobaan mengolah masakan berbahan telor ayam.

Dia mengaduk-aduk beberapa telor ayam yang telah dikeluarkan dari cangkang. Sedemikian kuat sang koki mengaduk, memutar-mutar telor, mendadak dia lamat-lamat mendengar suara lirih seolah datang dari kejauhan;

Haai... Gue puyeng, haaii...”

Pertama sang koki terkesiap. Hatinya bertanya-tanya dari mana gerangan suara berasal. Diaduknya lagi telor-telor dalam panci besar itu.

Sama! Didengarkannya lagi suara lirih;

Hhaaii... Puyeeng, haii...”

Tetap tak menggubris bisikan itu. Sang koki tua lalu mengaduk-aduk lagi telor-telor ayam itu, sampai lama-lama suara bisikan menjadi lelah lunglai terdengar;

Fuyeng.. Haaii...”

Sejak itu, sang koki tua sadar bahwa suara itu adalah berasal dari ruh telor-telor yang diaduknya. Sejak itu pula sang koki itu menamakan masakannya sebagai; 'Fuyeng Haii.'

Ratusan tahun kemudian, dunia pun lantas menyebut masakan itu sebagai; 'Fuyunghai'.

Ah! Namanya juga lamunan dalam suasana menikmati hidangan. Lamunan liar, sah-sah bukan?

Selesai bersantap di Depot Atoom, lalu melenggang kaki bersantai di tengah alun-alun kota pada suasana sore jelang petang, adalah sebijak-bijaknya pilihan.


Romantika “DUNG!!…Sruaaak!!!”

Alun-alun besar kota Malang, memiliki nostalgia tersendiri.

Beberapa puluh tahun lalu, sebelum petasan dilarang di kota Malang, maka alun-alun besar di pusat keramaian kota menjadi tempat menyalakan Blanggur. Sebuah petasan besar yang meledak di ketinggian, sebagai penanda berbuka puasa.

Waktu itu, selama bulan puasa, setiap sore jelang bedug Maghrib, tepat di tengah alun-alun yang tepat di seberang sisi barat adalah masjid Jami', telah ramai orang-orang berkumpul untuk melihat proses menyalakan Blanggur.

Bahkan, sehabis waktu Ashar kisaran pukul empat sore, suasana alun-alun pun sudah mulai ramai. Orang-orang melihat beberapa alat pendukung Blanggur agar melesat terbang dan meledak di angkasa, mulai dipasang.

Sebuah pipa yang terbuat dari besi setinggi satu meter, diletakkan di atas sebidang tanah. Rupanya pipa itu menjadi tempat tinggal, sekaligus tempat menyalakan Blanggur agar tinggal landas mendaki awan.

Menjelang sepuluhan menit sebelum Blanggur mengudara, orang-orang mulai berdatangan menyemut hingga berjarak lima meteran dari titik menyalakan Blanggur.

Beberapa pria muda berkopiah, terlihat menenteng benda hitam. Lalu mulai menata benda itu ke dalam pipa yang telah terpasang menengadah. Rupanya mereka adalah tim panitia pemicu Blanggur.

Sesaat setelah mereka mendapat aba-aba dari rekan lainnya bahwa waktu berbuka puasa telah tiba, maka anak-anak muda panitia itu menyalakan api pada sebuah sumbu panjang di ujung bawah pipa hitam. Kemudian mereka beringsut menjauhi pipa.

Tak lama terdengar suara ledakan dari arah pipa. Lalu tiba-tiba menyeruak benda hitam berekor api dari dalam lubang bagian atas pipa, beriring suara mendesis keras.

Orang-orang pun mendongak mengikuti lontaran benda hitam berekor api yang melesat tegak lurus ke angkasa, diiringi suara mendesis yang semakin menjauh.

Sekitar sepuluh detik kemudian, Blanggur pun meledak di angkasa. 

DUNG!! ... Sruaakk!!!” Suara Blanggur menggelegar, memecah sunyi angkasa.

Terlihat bola api menyemburat. Asap berapi-api kecil menyebar ke segala arah di angkasa petang.

Dentuman Blanggur bahkan terdengar hingga sejauh 10-an kilometer.

Waktu berbuka puasa telah tiba, bersambung suara adzan dari masjid Jami'. Orang-orang pun mulai bubar dan berbuka puasa di sekitar alun-alun. Sebagian dari mereka segera menuju masjid.

Terakhir, Blanggur dinyalakan pada bulan puasa tahun 1983. Sejalan kebijakan pemerintah setempat yang tak mengijinkan lagi menyalakan petasan selama bulan puasa hingga lebaran.


Serba Tahu

Terletak di wilayah Jawa Timur, menjadi wajar bila petis menjadi bumbu yang berpengaruh pada beberapa olahan masakan di kota Malang. Antara lain yang paling populer adalah rujak cingur dan olahan masakan bernama serba Tahu, yang juga turut meramaikan khazanah masakan otentik khas kota Malang.

Sebut saja Tahu Lontong, Tahu Telor dan Tahu Campur.

Ketiga masakan tersebut, meski disebut Tahu sebagai kata awalnya, ternyata tak semua yang terhidang dalam piring adalah Tahu semata.


Tahu Lontong atau Tahu Telor?

Tahu lontong, terdiri dari guntingan tahu goreng, irisan lontong, untaian kecambah, taburan irisan sledri dan krupuk.

Bumbu dasar berupa ulekan kacang goreng, kecrutan kecap manis, bawang putih, cabe merah dan tentunya petis. Isian Tahu Telor sama dengan isian Tahu Lontong. Hanya saja, Tahu digoreng bersama telor dadar.

Tahu Lontong Lonceng di kawasan pasar besar, yang melegenda di kota Malang sejak puluhan tahun lalu, merupakan penyedia masakan Tahu Lontong orisinil, tanpa tambahan telor dadar.

Sementara olahan Tahu Telor yang mewakili cita rasa yang klasik adalah olahan Cak Suroto yang mangkal di kawasan pasar Bareng. Warung penyedia Tahu Telor ini mulai menyapa pelanggan setelah Maghrib hingga malam hari.

Kualitas Tahu, petis, kacang goreng, kecap dan tingkat kematangan serta gurihnya Lontong, sangat dipertaruhkan. Agar mampu menjadi sajian nikmat bagi penggemar setianya, baik yang berwujud Tahu Lontong maupun Tahu Telor.

Tahu Telor Bertabur Sledri, Kecambah dan Krupuk Olahan Cak Suroto Pasar Bareng

Bagi orang yang pertama kali mendengar nama Tahu Lontong dan Tahu Telor pasti bertanya-tanya mengapa tak dinamakan Tahu Campur saja, toh sama-sama berisi aneka bahan makanan yang bercampur baur.


Tahu Campur

Adapun Tahu Campur, lebih rumit. Karena selain isian beraneka ragam, juga berkuah. Pakai bumbu petis pula. Mateng koen!

Olahan kuah Tahu Campur, sebenarnya berbumbu dasar rawon minus bumbu hitam yang bernama kluwak, yang lalu ditambahkan setengah sendok makan petis.

Selain berisi selada air, irisan tahu, daging kikil sapi, irisan mendol kentang dan bumbu petis, maka Tahu Campur olahan khas Malang, sedikit berbeda dengan ala olahan khas Surabaya.

Tahu Campur olahan khas Malang, berkuah lebih ringan. Cenderung lebih encer, dengan juntaian suun bukan mie kuning dan terdapat tambahan irisan kentang kukus.

Seporsi Tahu Campur Pak Kumis Tenda Biru.

Tahu Campur Pak Kumis Tenda Biru yang berada di Jl. Rajekwesi, bisa menjadi solusi bagi peminat cita rasa Tahu Campur yang mewakili olahan Tahu Campur olahan khas Malang.

Atau jika kurang berminat dengan isian daging kikil berlemak dalam kuah, maka Tahu Campur masakan Bu Wiwik yang mangkal di area pasar Bareng bisa menjadi pilihan. Karena lebih banyak berisi irisan daging tanpa lemak.

Seporsi Tahu Campur Bu Wiwik Pasar Bareng.

Tahu Campur format gerobak dorong yang berkeliling menjajakan hidangan dari gang ke gang antar kampung, juga tak bisa dianggap remeh.

Punya cita rasa lebih membumi dengan aroma kuah yang lebih berani, bersemarak kepulan asap semerbak. Sensasi seperti ini selalu dirasakan oleh setiap penikmat, yang duduk tak berjauhan dengan sang penjual, yang membuka panci berisi kuah panas Tahu Campur, saat mengolah seporsi pesanan.

Tahu Campur format gerobak dorong, yang lebih banyak isian daging lemak daripada daging kikil, menjadi keunikan tersendiri. Karena tak hanya mengakibatkan cita rasa yang lebih gurih berani.

Namun juga memberi tambahan asupan pelindung tubuh bagi setiap penikmat Tahu Campur, ketika hawa sejuk dingin kota Malang dimalam hari, datang menggempur.


Bersambung