"... begitu otentik cita rasa Sate olahan khas Malang. Dalam setiap gigitan bisa mengoyak banyak kenangan yang tersimpan."

Mari kita bertandang ke tempat penyedia Sate, masakan favorit orang sejagat sejak dulu. Singgah sejenak menikmati untaian bakaran daging dalam sujen bambu, melengkapi semilir angin pegunungan yang menyapa syahdu.

Di kota Malang, Sate dan aneka masakan pendampingnya, tak sevariatif daerah lain di wilayah barat. Di sebagian besar wilayah Jawa Timur, olahan Sate kambing hanya bersanding dengan gulai kambing, yang populer disebut Gule.

Sepanjang mata memandang dalam perjalanan di wilayah Jawa Timur, khususnya di poros kota Jombang-Surabaya-Malang hingga ke timur, maka setiap ada rumah makan yang menyediakan Sate kambing, bakal terbaca tulisan; 'Sedia Sate dan Gule’ saja. 

Tanpa ada tawaran variasi menu olahan daging kambing lainnya, seperti Tongseng, Tengkleng, Sate Buntel, Sop Kambing, selayaknya di wilayah barat dari poros kota-kota tersebut.

Terdapat tiga rumah makan penyaji Sate dan Gule yang memiliki cita rasa otentik Sate khas Malang.


Sate Cairo

Pertama, adalah Sate hasil olahan rumah makan Cairo. Dibaca; Kairo.

Berada di bilangan Kauman dekat alun-alun kota Malang, rumah makan Cairo sudah memiliki nama yang disegani dalam dunia persilatan mengolah Sate kambing, sejak puluhan tahun lalu.

Tak hanya bergulat dengan Sate kambing, rumah makan Cairo juga dikenal andal sebagai penyaji variasi masakan berbahan daging kambing, yang dipengaruhi cara mengolah ala Timur Tengah.

Keunikan Sate kambing olahan rumah makan Cairo, ada pada perpaduan cara mengolah daging kambing agar tetap lembut dan beraroma ramah. Sama sekali tanpa sensasi bau prengus kambing, berpadu dengan racikan bumbu Sate yang menggunakan resep lokal.

Cita rasa dan aroma khas Sate kambing ala Jawa Timur yang berbumbu saos kacang tanah dan kecap manis, bisa dinikmati di rumah makan yang punya motto; 'Belum ke Malang, kalau belum ke rumah makan Cairo'.

Terdapat satu masakan unik di rumah makan Cairo, yaitu nasi goreng kambing.

Bayangan saya bakal menikmati nasi goreng kambing selayaknya olahan khas Jawa Tengah atau nasi goreng kebuli seperti yang dijajakan di bilangan Kebon Sirih Jakarta, mendadak sirna.

Betapa tidak, nasi goreng kambing ala rumah makan Cairo,  ternyata adalah olahan nasi goreng kampung khas Malang, yang berbumbu dasar bawang merah, bawang putih, cabe merah panjang dan tomat, tanpa kecap. Lalu, sepotong irisan besar daging kambing goreng yang bersemat tulang, menumpuk di atas sepiring nasi goreng itu.

Saya justru senang dengan olahan nasi goreng minimalis seperti itu. Karena mengingatkan masa kecil ketika sering menikmati nasi goreng kampung masakan nenek saya. Sesuap saja, nostalgia masa kecil seketika menyeruak gamblang, membahagiakan.

Hamparan Sate, Gule dan Nasi Goreng Kambing ala RM Cairo.

Hanya saja, saya menyarankan untuk tak terlalu sering bertandang ke rumah makan ini. Setidaknya, cukup sebulan atau dua bulan sekali saja.

Bukan karena khawatir kolesterol atau tensi meninggi karena asupan olahan daging kambing. Melainkan, harga sajian masakan yang memang sepadan cita rasa, seringkali membuat isi dompet bernasib malang. Jika dipaksakan, maka pikiran pun bisa melayang-layang saat melangkah pulang.


Sate Bang Soleh

Selanjutnya, mari kita melanjutkan petualangan cita rasa sate kambing, yang masih dipengaruhi oleh cara mengolah ala Timur Tengah. Masih di wilayah Kauman, tak jauh dari rumah makan Cairo. Bernama Sate Bang Soleh, tepatnya di bilangan Jl. Tongan.

Memiliki beberapa cabang di kota Malang, maka Sate olahan warung Bang Soleh juga bisa menjadi pilihan. Karena menyajikan cita rasa Sate dan Gule kambing yang ramah bagi indera pengecap rasa, juga santun bagi isi saldo dalam kartu ATM.

Sate Kambing Olahan Warung Bang Soleh

Irisan daging kambing Sate Bang Soleh, bertekstur sangat empuk dalam setiap jengkal sujen bambu.

Meski tak selembut Sate Mendo khas Tegal, namun bumbu kacang bercampur kecap manis yang disajikan bersama Sate matang, begitu otentik cita rasa Sate olahan khas Malang. Dalam setiap gigitan bisa mengoyak banyak kenangan yang tersimpan.


Sate Abah Acil

Kemudian, ada lagi Sate dan Gule kambing Abang Acil yang mangkal di ujung Pujasera Jl. Sunandar Priyo Sudarmo d/h. Jl. Bengawan Solo, kota Malang.

Berupa kedai sederhana, yang menawarkan olahan daging kambing dan ayam melalui sentuhan terampil tangan orang Madura. Kedai ini merupakan pilihan bijak untuk menikmati sajian Sate dan Gule dengan harga ramah, namun tetap berkualitas prima.

Porsi Komplit Sate Gule Khas Madura Olahan Abah Acil

Sate dan Gule Abah Acil, baik racikan bumbu maupun cara memasak, sama sekali tak terpengaruh oleh cara mengolah ala Timur Tengah. Benar-benar kualitas Sate dan Gule yang mengandalkan sentuhan kearifan lokal, dengan tetap mempertahankan keaslian cita rasa Sate olahan khas Malang.


Inspirasi Pak Jenggot

Dulu, pada tahun 1970-an, memang terdapat penjaja Sate dan Gule kambing yang mangkal di jembatan Jl. Kawi arah ke alun-alun. Sebuah warung kaki lima bernama Sate Pak Jenggot. Bernama demikian, karena beliau memang berkumis juga berjenggot tebal dan selalu mengenakan kopiah saat beraksi mengolah Sate pesanan pelanggan.

Cita rasa otentik Sate kambing khas Malang, mengacu pada olahan Sate Pak Jenggot yang telah berpulang pada tengah tahun 1980-an.

Waktu itu, format penyajian Sate adalah sebagai berikut;

1. Ukuran seporsi Sate, dalam satuan yang disebut Sejinah, yang berarti berisikan 12 tusuk Sate.

2. Diameter daging kambing dalam setiap sujen berkisar 1,5 hingga 2 senti meter.

3. Dalam setiap tusuk sujen bambu, terdapat 3 potong daging kambing, sepotong lemak yang sering disebut gajih dan seiris hati.

4. Keberadaan hati dalam setusuk Sate bersifat pilihan, dengan harga Sate yang lebih mahal. Namun potongan gajih, wajib ada. 

Jaman itu belum ada Sate berisikan daging saja. Kudu ada sepotong gajih sebagai penguat aroma dan rasa.

5. Tahun 1970-an hingga awal 1980-an, belum dikenal tas kresek plastik. Sehingga pembungkus seporsi Sate pesanan yang dibawa pulang, adalah besek bambu. 

Sedangkan untuk menampung seporsi Gule yang berkuah, maka pembeli bakal membawa rantang sendiri dari rumah.

6. Bumbu Sate hanya saus kacang dengan resep rahasia ditambah kecap manis. 

Sebagian dari bumbu tersebut dibuat lebih encer, lalu dipisah khusus sebagai bumbu untuk membakar Sate.

7. Membakar Sate menggunakan kipas anyaman bambu, bakal menimbulkan kepulan asap tebal, yang menyeruak jauh bahkan hingga puluhan meter.

Namun demikian, kepulan asap tak pernah dianggap sebagai polusi udara. 

Bahkan, menjadi daya pikat tersendiri untuk menghimbau orang-orang yang tertampar syaraf-syaraf pembaunya, agar menepi mendekati warung biang tebaran asap. 

Kemudian, mereka singgah bersantap, atau cukup memesan seporsi dua porsi Sate, dibungkus lalu dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi orang-orang tersayang.


Sate Komoh, Jangan Asem

Masih berurusan dengan Sate, kali ini marilah kita bertualang untuk mencoba sajian Sate hasil olahan daging sapi, berbumbu merah. 

Bernama Sate bumbu rujak atau lebih dikenal sebagai Sate Komoh. Buah karya cita rasa Sate khas kota Pasuruan ini termasuk populer di kota Malang.

Sate Komoh pilihan yang sangat tepat sebagai penyanding hidangan jangan asem minimalis. 

Disebut minimalis, karena berwujud sayur asem berkuah bening yang cukup berbumbu bawang merah, asam Jawa dan lengkuas, berisi irisan kacang panjang, kangkung, kecambah dan krai juga timun serta tomat.

Sayur berkuah dalam bahasa Jawa memang disebut jangan. Menjadi unik, karena bisa menjadi bahan berkelakar seperti ini; 

"Sudah dibilang jangan, tapi tetap dimakan".

Bumbu dasar Sate Komoh yang bercita rasa manis, asam dan pedas, bakal menjadi penyempurna rasa daging sapi yang cenderung datar.

Selayaknya Sate kambing, maka Sate Komoh juga dibakar menggunakan api arang, dengan balutan bumbu yang menyatu dengan tusukan potongan-potongan daging sapi.


Sate Komoh Madhangkara

Rumah makan penyaji Sate Komoh,  antara lain adalah Warung Madhangkara. 

Warung ini terletak di dekat perempatan Jagalan arah menuju Klenteng. Tak jauh dari sebuah toko elektronik penyedia rupa-rupa lampu hemat energi. Di seberang warung ini, setiap pagi terdapat pangkalan jajanan pasar, penyedia pukis dan bikang.

Penampilan warung Madhangkara, begitu bersahaja. Tampilan selasar bagian teras bukan selayaknya sebuah rumah makan. Malah terlihat seperti toko penyedia pernak-pernik elektronik.

Bisa terlihat demikian, karena ruang penyaji pesanan masakan terletak di bagian belakang rumah makan, berdekatan ruang dapur. Sama sekali tak nampak sebuah etalase di bagian depan, sebagaimana sebuah rumah makan.

Namun, penampilan yang demikian justru mengandung unsur kejutan yang tak disangka. Karena warung Madhangkara menawarkan aneka hidangan yang punya cita rasa masakan rumahan.

Seporsi Sate Komoh Jangan Asem ala Warung Madhangkara.

Sayur asem bening, Sate Komoh, tempe kedele, menjes tempe kacang dan mendol kriuk, menjadi menu andalan.

Menikmati sajian masakan warung Madhangkara paling sip adalah memilih duduk di meja menghadap pintu keluar. 

Menjadi sensasi yang mengasyikkan, karena kesedapan Sate Komoh beserta teman-temannya berpadu dengan pemandangan hiruk pikuk orang berlalu lalang, dalam kesibukan pada deretan panjang toko-toko di kawasan pasar besar.


Sate Gebug

Selain warung Madhangkara, Sate Komoh juga bisa diburu di warung Sate Gebug yang bertempat di seberang kantor PLN kota Malang, masih dalam kawasan Kayutangan.

Sebuah warung yang relatif kecil, berhias spanduk warna hijau bertulis 'Sate Gebug'. 

Meski terbilang kecil dan nyempil, warung ini telah dikenal memiliki reputasi sejak puluhan tahun lalu, sebagai penyedia Sate Komoh berisi irisan daging ekstra besar. Saking besarnya irisan, hingga mendapat julukan; Gebug.

Merupakan rekomendasi untuk menikmati sajian Sate Komoh di warung ini, bersanding dengan sayur sop cita rasa klasik. Seporsi sop ala masakan rumahan yang berisikan irisan wortel, kentang dan makaroni serta sambal kecap.

Karena berukuran relatif kecil, maka menikmati masakan dalam warung ini kudu sabar dan tabah saat kepulan asap bakaran begitu agresif melanda. 

Tapi tak usah khawatir, karena justru itu sebuah keunikan. Asap bakaran juga tak mengganggu sebenarnya. Karena toh beraroma wangi khas bumbu Komoh.

Sop Cita Rasa Klasik Sajian Warung Sate Gebung Kayu Tangan.

Sebagaimana ukuran Sate Komoh yang begitu Gebug besar-besar, demikian pula dengan irisan tempe goreng khas Malang di warung ini. 

Potongan persegi panjang tempe begitu besar dan tebal, seolah menantang mulut pelanggan bakal muat langsung sekali gigit atau harus dibelah pakai jari jemari terlebih dahulu.

Di warung Sate Gebug, maka baik sate Komoh, tempe goreng, sop makaroni dan kepulan asap yang menuai sensasi alam nirwana, memang sensasional.

Bersambung