“Menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kota Malang guna mengatasi banjir saat musim hujan mendera. Berhikmah pada ilmu pengetahuan, kearifan lokal para nenek moyang, juga cetak biru peninggalan tata kota bangsa Eropa jaman kolonial.”

Udara, Air, Bunga dan Lahan

Berada di dataran lereng pegunungan, kota Malang mendapat karunia berupa udara yang tak hanya sejuk namun juga bersih. Setiap hari, hembusan angin gunung seolah menyapu bersih partikel-partikel polutan udara yang membuat langit kota Malang selalu berwarna biru. 

Setiap pagi hingga sore dalam kondisi cuaca cerah, belum pernah terlihat langit berselimut kabut smog berwarna abu-abu, pertanda udara terpapar polusi. Hanya hamparan biru, sesekali berhias gumpalan awan putih bagai kapas menempel di langit.

Cuaca Cerah Langit Kota Malang Selalu Biru.

Namun demikian, kondisi lereng tentu berisiko terjadi bencana longsor akibat pergeseran tanah. Menjadi kesepakatan bersama para warga dan penegak kebijakan pemerintah setempat untuk tidak mengijinkan penggunaan sumur pompa air tanah berkapasitas jet pump, di wilayah kota Malang.

Penggunaan jet pump hingga puluhan meter menghujam tanah, seringkali tak efektif. Karena tak sampai menembus sumur artesis bawah tanah. Melainkan hanya membentuk cekungan resapan tanah dalam.

Apabila penggunaan jet pump tak terkendali di kota Malang, puluhan tahun kemudian bakal meninggalkan banyak rongga dalam tanah, yang berbahaya bagi keseimbangan tanah yang memiliki kontur lereng.

Aturan tak mengijinkan penggunaan jet pump di kota Malang tersebut pun sepadan dengan kesiapsiagaan pemerintah daerah, melalui kinerja perusahaan daerah pengelola air bersih dan air minum (PDAM), yang memiliki sistem terintegrasi dalam memasok kebutuhan air bersih bagi seluruh warga kota Malang.

Berkinerja demikan, tak mengherankan jika PDAM kota Malang, menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.

Kualitas Air Produk Olahan PDAM Kota Malang Salah Satu Terbaik di Indonesia.

Pada tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an, kota Malang sempat mendapat predikat ‘Malang Kota Bunga’, seiring kebijakan pemerintah kota saat itu, yang mewajibkan setiap warga untuk menanam bunga. Juga terdapat beberapa kawasan yang berhias aneka tanaman berbunga berwarna-warni.

Predikat tersebut sempat melekat lama dalam benak warga maupun pengunjung kota Malang. Karena selama dua dekade tersebut, kota Malang bersemarak bunga, baik di tengah kota maupun di sudut perkampungan.

Tak hanya itu, predikat tersebut juga menginspirasi suatu nama yang sesuai dengan kondisi kota Malang saat itu. 

Seperti pada akhir tahun 1980-an, pada masa stasiun radio swasta semarak mengalihkan sistem pemancar bergelombang Amplitudo Modulation (AM) menjadi Frequency Modulation (FM), agar suara siaran terdengar lebih jernih dan bersensasi stereo

Pada masa peralihan kualitas suara siaran radio tersebut, terdapat satu stasiun radio swasta pelopor gelombang FM di kota Malang, yang menamakan dirinya; Makobu FM.

Makobu singkatan dari Malang Kota Bunga.

Namun, seiring pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan hunian, konsep rajin menanam bunga mulai terlupakan.

Pada awal tahun 2000-an pasca reformasi nasional, minat masyarakat untuk menanam bunga, sangat berkurang. Seiring dengan petak tanah kosong ataupun persawahan dan perkebunan di kota Malang, yang mulai langka.

Wilayah poros Sumbersari hingga Dinoyo di sebelah barat dan poros Bunul sampai Arjosari di wilayah timur yang pada tahun 1980-an masih berupa hamparan sawah, maka mulai akhir tahun 1990-an pelan-pelan beralih fungsi menjadi kawasan hunian dan bangunan perkantoran serta kawasan perdagangan.

Demikian pula dengan daerah yang tadinya adalah tanah perkebunan di sebelah barat kota Malang, mulai Karang Besuki sampai Dau, juga berubah menjadi kawasan hunian di dataran berbukit-bukit.

Sementara itu, di wilayah barat daya hingga selatan mencakup Wagir hingga Sukun, berkembang menjadi kawasan industri menengah, yang juga pesat pertumbuhan penduduk dan bangunan hunian.


Terobosan Banjir

Pembangunan fisik berupa sarana hunian, perkantoran, kawasan perdagangan dan industri yang marak di kota Malang mulai akhir 1980-an, pelan namun pasti telah mengurangi kapasitas lahan kosong untuk menampung air saat musim penghujan tiba.

Beberapa tanah kosong luas yang tadinya berfungsi sebagai resapan seperti taman Indrokilo di sebelah barat Idjen Boulevard, tepat di belakang museum Brawijaya, telah berubah fungsi menjadi kawasan hunian elit.

Termasuk tanah lapang di area asrama kepolisian di bilangan Jl. Pahlawan Trip yang tadinya adalah lapangan pacuan kuda pada masa kolonial Belanda, telah berubah pula menjadi kawasan hunian elit.

Tak hanya itu, wilayah resapan di daerah Jl. Raya Langsep juga berubah fungsi menjadi gedung pusat perbelanjaan.

Hingga saat ini, daerah resapan yang ada di kota Malang hanya hutan kota Malabar di dekat pasar Oro-oro Dowo, sepetak lapangan sepak bola di dalam stadion Gajayana dan jalur hijau pembatas jalan dua arah di sepanjang Idjen Boulevard.

Area Resapan Air Sepanjang Jalur Hijau Idjen Boulevard.

Sistem drainase kota yang terbilang masih berkondisi baik, adalah di kawasan Idjen Boulevard dan sekitarnya. Karena, selain dibangun melalui perencanaan matang pada awal tahun 1930-an, kawasan tersebut juga disangga oleh dataran lebih rendah di sebelah timur, utara dan selatan, di mana buangan air drainase kawasan tersebut langsung tertampung oleh aliran sungai-sungai.

Seperti di sebelah timur, buangan air drainase kawasan Idjen Boulevard tertampung oleh aliran sungai Brantas menuju hilir ke luar kota.

Pada wilayah yang lebih rendah dari kawasan Idjen Boulevard seperti di sepanjang Kayutangan, sebuah kawasan pertokoan sejak jaman kolonial Belanda, di bilangan Jl. Jend. Basuki Rahmat hingga utara ke arah daerah Blimbing, telah mengalami penurunan kualitas fungsi drainase, karena banyak pembangunan fisik di wilayah tersebut.

Pada beberapa titik lokasi saluran besar drainase diduga buntu, karena pembangunan pondasi gedung baru di lokasi-lokasi tersebut. Akibatnya, banyak wilayah di luar kawasan Idjen Boulevard yang tak memiliki tanah resapan luas, seperti poros Jl. Raya Langsep hingga Jl. Kawi, selalu tergenang air jika hujan deras melanda kota Malang.

Termasuk wilayah Kayutangan ke utara bakal mengalami banjir, karena saluran drainase yang besar, kokoh dan dalam sebagaimana bangunan khas karya insiyur sipil jaman kolonial Belanda, telah buntu tertutup pondasi-pondasi bangunan baru.

Meski tak berlangsung lama, genangan air pada beberapa tempat di kota Malang telah merubah mindset Malang sebagai kota di dataran tinggi.

Benar terletak di dataran tinggi. Namun sifat air selalu mengalir alami ke bawah lalu ruang-ruang kosong hingga meluber. Jika drainase buntu, tak pelak air menggenangi jalanan, bahkan membanjiri pemukiman sekitar.

Menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kota Malang guna mengatasi banjir saat musim hujan mendera. Berhikmah pada ilmu pengetahuan, kearifan lokal para nenek moyang, juga cetak biru peninggalan tata kota bangsa Eropa jaman kolonial.

Merupakan kesempatan yang baik untuk lebih menerapkan ilmu rekayasa pengairan, yang telah diajarkan sebagai kurikulum pada satu-satunya fakultas teknik pengairan di Indonesia, dalam satu perguruan tinggi di kota Malang.


Sebuah Cempluk

Perihal khazanah seni budaya tradisional, tak begitu banyak penggalian dan pengembangan atas peninggalan dari seniman terdahulu.

Beberapa karya seni tari seperti Beskalan dan Bedayan, serta seni mengukir topeng kayu sebagai pelengkap tari Topeng, tercatat menjadi kreasi seni asli khas Malang, sejak ratusan tahun lalu.

Upaya memperkenalkan kreasi seni asli khas Malang bagi generasi mendatang agar memahami akar budaya, telah menjadi kegiatan terstruktur dan berkelanjutan melalui kerja sama pemerintah daerah setempat dengan Dewan Kesenian kota Malang (DKM).

Bahkan, dalam upaya untuk menggali kearifan lokal guna mengimbangi hiruk pikuk pengembangan fisik kota serta pengaruh budaya luar, maka di kota Malang terdapat satu festival tahunan berupa kegiatan harian dalam suatu perkampungan. 

Selama dua minggu Festival Kampung Cempluk diselenggarakan, menjadi potret kehidupan sosial budaya masyarakat yang nyata.

Kampung Cempluk berlokasi di dusun Sumber Rejo, desa Kali Songo, kecamatan Dau. Singgah ke kampung ini, bisa dengan mudah melalui perumahan Lembah Dieng, di bagian barat kota Malang.

Cempluk, berarti sebuah cahaya yang berasal dari api kecil hasil pembakaran sumbu kain yang basah oleh minyak tanah dalam sebuah wadah kecil yang terbuat dari kaca ataupun bambu.

Pada malam hari selama festival berlangsung, perkampungan berhias ratusan cahaya cempluk, membuahkan suasana romantis tersendiri bagi siapa pun yang bertandang.

Sebuah Cempluk, bisa menginspirasi manusia agar lebih bersahabat dengan alam, melalui upaya berhemat energi.

Tak hanya itu, Kampung Cempluk bisa menjadi teladan. Bahwa pengembangan kawasan hunian butuh kebijakan lokal sebagai pertimbangan. Yaitu; menghormati kebutuhan alam lingkungan.

Bersambung