"Mungkin, kawasan Kebalen ratusan tahun lalu terpilih sebagai pusat ritual keagamaan karena merupakan titik temu lintasan banyak sungai. Menjadi semacam Kahyangan di area tertinggi yang di bawah mengalir sungai-sungai."

Bersemboyan Malangkuçeçwara yang berarti Tuhan mengalahkan kebatilan, kota Malang telah malang melintang mengiringi jalan sejarah, sejak jaman raja-raja Jawa ratusan tahun lalu berkuasa .


506 Meter

Berada di lereng gunung Kawi, ke mana pun mata memandang berputar di area tertinggi, bakal terlihat deretan pegunungan juga perbukitan.

Gunung Semeru begitu gagah menjulang di sebelah timur, lalu gunung Bromo yang kadang tampak berasap di arah timur laut.

Sementara di barat laut tampak gunung Arjuno menjulang kehijauan. Jika cahaya matahari pagi tepat menerpa, maka akan terlihat rumah-rumah perkampungan dari kejauhan.

Bergeser ke barat tampak deretan perbukitan yang sering disebut gunung Banyak, tampak bagai seorang putri tengah berbaring tentram. Kemudian jika pandangan bergerak ke arah barat daya, akan tampak gunung Kelud yang sering kali terlihat bersembunyi di balik awan keabuan.

Adapun pemandangan ke wilayah selatan tak nampak gunung pun bukit menjulang, karena memang telah menyatu dalam hamparan lereng gunung Kawi.

Pada ketinggian sekitar 506 meter di atas permukaan laut, kota Malang tak hanya mendapat karunia hawa sejuk. Namun juga sungai-sungai yang mengalir di area bawah dataran permukaan.

Terdapat 6 sungai yang mengalir memasuki wilayah kota Malang, yaitu; Brantas, Bango, Amprong, Mewek, Metro dan Kajar.

Kehadiran sungai-sungai menembus daerah yang kaya akan kelimpahan tanah humus abu vulkanik pegunungan, membuat kualitas tanah di kota Malang dan sekitar begitu subur, layak menjadi wilayah pertanian dan perkebunan.

Anugerah alam yang demikian melimpah, telah meninggalkan jejak peradaban yang tercatat dalam sejarah sejak ratusan tahun lalu, di kota Malang.


Kosmologi Candi

Situs-situs dalam bentuk peninggalan karya monumen sejak jaman raja-raja pada masa lampau bertebaran di wilayah Malang. Antara lain candi, artefak, petilasan ritual, kolam air penyangga kehidupan hingga teknologi sipil kuno tentang rekayasa sistem pengairan tanah pegunungan.

Mulai dari sisi utara, terdapat candi peninggalan kerajaan Singhasari, yang terdapat patung batu alami berwujud Ken Dedes, sosok wanita memesona yang tercatat dalam sejarah kuno sebagai Ibu dari banyak keturunan raja-raja Jawa.

Kemudian masih di sisi utara kota Malang agak ke timur, terdapat kolam Wendit. Berupa area luas penampung air berskala besar atau Segaran, sekaligus tempat sumber air bersih yang masih berfungsi sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang.

Keabadian sumber air Wendit merupakan bukti rekayasa teknologi sipil sistem pengairan yang memanfaatkan lekuk kontur tanah perbukitan, sehingga mampu menjadi pompa hidran alami.

Lalu di tengah kota Malang terdapat petilasan ritual bernama Kabalon, yang saat ini daerah tersebut dikenal sebagai Kebalen. Hingga saat ini, para ahli sejarah pun arkeolog masih mempelajari petilasan tersebut. Tak mudah, karena Kebalen saat ini menjadi wilayah padat penduduk.

Mungkin, kawasan Kebalen ratusan tahun lalu terpilih sebagai pusat ritual keagamaan karena merupakan titik temu lintasan banyak sungai. Menjadi semacam Kahyangan di area tertinggi yang di bawah mengalir sungai-sungai.

Berpindah menjejak langkah ke wilayah barat daya kota Malang, terdapat peninggalan karya manusia masa lampau berwujud sebuah candi, bernama Badut.

Sebernarnya bernama candi Badhyut, yang berusia lebih dari 1300 tahun lalu berdasarkan prasasti Dinoyo pada era kerajaan Kanjuruhan pada masa raja Gajayana pada abad ke 8.

Tak hanya tercatat sebagai candi tertua di Jawa Timur, namun keberadaan candi Badut juga menunjukkan kearifan lokal orang-orang jaman dahulu, ketika membangun sebuah monumen besar, mereka mempertimbangkan agar mampu tetap berdiri kokoh, hingga kelak generasi mendatang dapat menyaksikan.

Termasuk, tata letak bangunan candi-candi telah terbukti saling terkait menjadi suatu tatanan kosmologis, berpijak pada tata letak rasi bintang luar angkasa yang terlihat dari Bumi.


Menyudet Lava Gunung

Wilayah barat daya kota Malang hingga saat ini tercatat kaya akan peninggalan masa lampau. Seperti hamparan batu berbentuk gong, yang terletak di kawasan Dinoyo. Watu Gong, demikian masyarakat setempat menyebut.

Bahkan, konon terdapat petilasan lorong bawah tanah peninggalan jaman kerajaan Gajayana. Mulai dari wilayah candi Badut, yang mungkin tadinya adalah istana kerajaan. Lalu lorong tersebut menembus ke barat laut di daerah Dinoyo, di area hamparan Watu Gong berada, di dekat daerah aliran sungai Brantas.

Lorong bawah tanah berjarak sekira 5 kilometer tersebut, bisa jadi merupakan jalan rahasia tempat melarikan diri sang raja beserta keluarga, hulubalang serta pejabat istana apabila terdapat serangan dari musuh ataupun gangguan keamanan yang mengancam jiwa.

Lanjut melangkah ke barat laut keluar kota Malang, menuju kota Batu, tak jauh dari kota ini terdapat tempat wisata air panas bernama Songgoriti.

Berada di area kaki gunung Banyak, Songgoriti menjadi tempat pemandian air panas favorit. Terdapat sebuah kolam bundar yang masih asli sejak ratusan tahun lalu, pada jaman kerajaan masa lampau.

Di bagian luar kolam pemandian, terdapat semacam candi kecil dan bak kontrol yang berisikan aliran air panas, sebelum tercampur dengan sumber air dingin yang lalu dialirkan ke area pemandian sebagai air hangat.

Candi di Halaman Depan Tempat Pemandian Air Panas Songgoriti.

Aroma belerang pada air hangat kolam Songgoriti, menunjukkan bahwa air panas yang mengalir bersumber dari air yang mengandung belerang pekat. Menunjukkan bahwa air panas tersebut berasal dari sodetan aliran artesis dalam bumi yang terpengaruh oleh lava gunung berapi tak aktif di dekat wilayah Songgoriti, yakni gunung Arjuno.

Beberapa kilometer arah utara Songgoriti juga terdapat pula kolam air panas mengandung belerang, bernama Cangar. Mirip dengan Songgoriti, terdapat kolam pemandian dengan artefak kuno berbatu peninggalan jaman kerajaan ratusan tahun lalu.

Terdapat sedikit perbedaan antara Songgoriti dan Cangar. Selain area lebih luas, maka kolam air panas Cangar bersuhu lebih panas dengan aroma belerang yang lebih pekat daripada Songgoriti.

Apakah karena dataran Cangar lebih tinggi sehingga hawa dingin, sehingga menimbulkan sensasi air belerang menjadi lebih panas?

Ataukah karena area Cangar adalah sodetan pertama air belerang dari artesis alami yang dimasak oleh lava gunung Arjuno, yang lalu mengalir ke Songgoriti?

Kedua pertanyaan tersebut sebagai cerminan betapa ilmu dan teknologi orang-orang jaman dahulu masih belum bisa menjadi kajian oleh orang-orang yang hidup pada jaman sekarang.

Dalam perjalanan sejarah memang sering terdapat jurang pemisah ilmu pengetahuan dan budaya. Tiba-tiba menghilang, tak sempat turun-temurun dari generasi dahulu ke generasi mendatang.

Ibarat orang-orang jaman sekarang begitu terpukau oleh bangunan candi. Selalu bertanya bagaimana membangun sebuah candi dan belum pernah mampu membangun monumen serupa.

Sebaliknya orang jaman dahulu juga bakal takjub melihat telepon seluler pintar berlayar sentuh dan bisa menjadi alat berfoto ria aneka pose, menyebarkan melalui media sosial agar orang sejagat maya berkomentar.

Mengunjungi situs kuno pemandian Songgoriti dan Cangar, bakal membawa angan sejarah bertualang ke masa lampau, ketika sang raja, permaisuri, selir-selir dan pembesar istana tengah bersantai bersama keluarga. Melupakan lelah mengurus negara dengan segala tantangan dan masalah. Menjadi segar seketika, terbilas air hangat mengandung belerang yang baik bagi kesehatan.

Ada kebijakan lokal turun-temurun hingga sekarang, yaitu di kawasan kedua pemandian air panas tersebut, maka bagi setiap pengunjung untuk menghormati alam lingkungan dan tak berbuat melanggar norma-norma susila.

Selebihnya, aliran air hangat ke pemandian Songgoriti dan Cangar, juga aliran air ke kolam segaran Wendit, menunjukkan kecanggihan ilmu dan teknologi orang-orang dahulu, dalam hal menerapkan teknologi rekayasa pengairan secara alami.

Fenomena tersebut pun lalu mengilhami perguruan tinggi favorit di kota Malang mengembangkan satu fakultas teknik Pengairan. Satu-satunya fakultas yang mempelajari rekayasa ilmu dan teknologi pengairan, di Indonesia.


Miniatur Bandung

Pesona kelimpahan alam kota Malang dan sekitar, berlanjut hingga masa pendudukan bangsa Eropa, Belanda.

Tercatat dalam sejarah, pemerintah Hindia Belanda mulai menyusun cetak biru pembangunan kota Malang pada akhir abad 19. Bisa jadi, saat itu kondisi ekonomi pemerintah kerajaan Belanda memulih setelah mengalami kesulitan keuangan akibat membiayai perang Paderi di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa Tengah.

Penataan kawasan hunian warga Eropa terpisah dengan warga Pribumi yang tinggal di perkampungan dekat wilayah pertanian dan perkebunan. Terpisah pula dengan warga keturunan Tionghoa di wilayah Pecinan dan keturunan Timur Tengah di wilayah Kauman.

Tata kota Malang, mirip dengan kota Bandung. Terdapat alun-alun tugu, alun-alun gede, Masjid Jami, Gereja, pusat pertokoan dan restoran, balai kota pusat pemerintahan, kawasan perumahan kolonial hingga deretan pohon Palem dan Mahoni yang menghiasi seisi kota. Kemiripan tersebut, membuat kota Malang sebagai miniatur kota Bandung.

Adapun penduduk yang kebanyakan bersuku Jawa dan Sunda serta kontur geografi, menjadi pembeda utama antara kota Malang dengan kota Bandung

Kota Malang berada di lereng pegunungan. Sementara kota Bandung berada di cekungan danau purba pegunungan. Ketinggian kota Bandung yang 200-an meter lebih tinggi dari kota Malang, membuat ibukota propinsi Jawa Barat tersebut berhawa lebih sejuk.

Pembeda lain antara kedua kota ini adalah awal keberadaan lembaga pendidikan. Di Bandung telah berdiri sebuah institut teknik pada awal abad 20, waktu Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Sementara di Malang, perguruan tinggi baru ada setelah Indonesia merdeka.

Terdapat satu kawasan bernama Idjen Boulevard yang menjadi maskot andalan wajib kunjung bagi pelancong ketika mengunjungi kota Malang. Sebuah kawasan yang berdiri pada awal tahun 1930-an, sebagai hunian elit bagi warga keturunan Belanda. Berupa deretan rumah besar memiliki halaman luas saling berhadapan, dengan sebuah poros jalan lebar, Boulevard, yang panjang melintang sebagai pembatas.

Pemandangan Idjen Boulevard Minggu Pagi Tahun 2009.

Boulevard yang terletak di sepanjang jalan Idjen tersebut, berwujud sebagai jalan lebar dua arah yang terpisah oleh sebuah poros taman beraneka bunga berumput hijau.

Hingga kini, Idjen Boulevard tetap menjadi tempat favorit berwisata dalam kota. Bahkan, sekarang menjadi kawasan hari bebas kendaraan bermotor, Car Free Day, setiap hari minggu mulai pagi hingga jelang siang.

Suasana Car Free Day Idjen Boulevard Minggu Pagi Tahun 2019.

Boulevard di jalan Idjen begitu panjang membentang mulai dari perempatan suatu daerah bernama Bareng di ujung kawasan hunian sisi selatan, hingga pangkal jalan Bandung di sisi utara.

Entah merupakan kesengajaan atau kebetulan, kawasan elok di kota Malang ini menjadi terbaca; ‘Idjen Boulevard Bareng Bandung’. Sejalan kota Malang adalah miniatur kota Bandung.

 

Boulevard Jenius

Tak hanya berfungsi sebagai kawasan elit, maka Idjen Boulevard bisa menjadi kompas utama perkembangan kota Malang yang cetak biru tata ruang dan wilayah, merupakan hasil disain pemerintah Hindia Belanda.

Kawasan Idjen Boulevard yang terletak di daerah jalan bernama pegunungan, dulu adalah dataran tanah lapang. Sebuah plaza yang luas, memiliki kontur tanah lebih tinggi dari wilayah di sebelah timur, namun lebih rendah dari wilayah di sebelah barat.

Dengan demikian, kawasan Idjen Boulevard adalah kawasan ideal. Bahkan menjadi kawasan yang menginspirasi suatu tata ruang dan wilayah sebuah kota mandiri jaman sekarang.

Sebuah tempat ibadah berupa Gereja Katedral melengkapi keberadaan Idjen Boulevard. Kawasan elit ini berdekatan pula dengan pasar tradisional yang bersih, bernama pasar Oro-oro Dowo dan sebuah sekolah menengah pertama. Juga tak jauh dari sarana berolah raga seperti kolam renang, lapangan sepak bola, bahkan pada masa kolonial Belanda, terdapat sebuah lapangan pacuan kuda.

Gereja Katedral di Idjen Boulevard.

Di sebelah timur Idjen Boulevard, adalah kawasan pusat pemerintahan. Berupa gedung balai kota yang terletak di dekat alun-alun tugu, tak jauh dari stasiun kereta api antar kota.

Sarana pendidikan berupa kawasan sekolah menengah atas, juga terdapat di wilayah alun-alun tugu. Masyarakat mengenal sebagai SMA Tugu, tempat tiga sekolah menengah atas favorit di kota Malang, menjalankan proses belajar dan mengajar.

Adapun di wilayah barat dari Idjen Boulevard, pada masa kolonial Belanda adalah wilayah perkebunan tebu, yang menyebar hingga ke utara.

Kelimpahan tanaman tebu di wilayah tersebut menjadi sumber pengolahan tebu di sebuah pabrik tebu di Kebon Agung, sebelah selatan kota Malang. Oleh karenanya, di sebelah barat tak jauh dari Idjen Boulevard, dulu terdapat rel kereta pengangkut tebu, yang melintas dari utara menuju selatan, sebagai sarana transportasi pasokan bagi pabrik gula tersebut.

Tak hanya itu, melangkah agak jauh ke arah barat dari Idjen Boulevard, terdapat pusat pengolahan air yang bersumber langsung dari aliran artesis tanah pegunungan. Menjadi tandon air bersih sumber air minum, yang terletak di wilayah Betek dan beberapa kilometer menanjak ke arah barat, di wilayah Tlogomas.

Selain kolam petilasan kuno Wendit, maka tandon-tandon alami tersebut telah menambah tempat persediaan air minum bagi warga kota Malang. Sebuah anugerah kelimpahan air alami bagi wilayah pemukiman di lereng pegunungan, yang juga memiliki banyak aliran sungai.

Jika kita berdiri di tengah-tengah kawasan Idjen Boulevard di seberang sebuah museum, lalu memutar pandangan agak menengadah, maka bakal terlihat pegunungan dan bukit yang tampak elok, mengelilingi kota Malang.

Area Masuk Kawasan Idjen Boulevard di Sisi Selatan.

Sekali lagi, Idjen Boulevard adalah sebuah mahakarya tata letak pemukiman. Sebuah suvenir abad 20 di tanah Hindia Belanda, yang bertahan hingga puluhan tahun setelah Indonesia merdeka.

Sebagai orang yang pernah menghabiskan masa kecil hingga menjelang dewasa di kawasan tersebut, maka sampai sekarang saya belum menemukan tandingan konsep tata ruang dan wilayah yang sama jenius dengan Idjen Boulevard, di Indonesia.

Bersambung