Di dunia ini, manusia banyak menganggap kejadian-kejadian yang tidak seperti biasanya dalam kehidupan mereka itu sebagai kemustahilan. 

Namun, sebenarnya itu terjadi karena akal manusia yang terbatas dan terpaku pada hukum-hukum alam atau hukum sebab-akibat yang telah diketahui. Sehingga banyak manusia yang menolak sesuatu karena tidak dapat diterima oleh akal manusia itu sendiri.

Dalam hal ini Allah mengutus para rasul untuk setiap umatnya. Karena manusia tidak ada keinginan untuk mentadaburi kekuasaan Allah yang tertuang dalam alam semesta ini.

Sudah menjadi kelaziman dari munculnya seorang rasul dengan seruan agama baru untuk disertai dengan mukjizat, dengan mukjizat itu seorang rasul baru diperdayakan oleh Allah untuk sanggup membalikkan pandangan umatnya yang sedang mengalami fase keterkaguman dengan salah satu aspek kehidupan keduniaan menuju jalan Allah yang lurus.

Pada pembahasan kali ini mengenai kemukjizatan Al-Qur'an merupakan pembahasan yang mungkin akan mengalami kekurangan. Karena pembahasan mengenai Al-Qur'an itu sendiri merupakan mukjizat.

Definisi i'jaz Al-Qur'an 

Mukjizat Al-Qur'an, kata mukjizat itu sendiri berasal dari kata a'jaza (أعجز) yang berarti melemahkan. Sedangkan isim fa'il dari kata itu yang berarti orang yang melemahkan. Maka yang dimaksudkan di sini yakni orang yang melemahkan orang lain. Namun, karena bahasa Al-Qur'an itu sangat indah dengan balaghahnya maka kata tersebut berubah menjadi (معجزة) sebagai bukti dari pernyataan itu.

Dalam KBBI memiliki pengertian mengenai mukjizat itu yakni kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Namun, beda halnya dengan pengertian di dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mengartikan bahwa arti mukjizat itu adalah sesuatu yang luar biasa yang nampak pada diri seseorang yang mengaku nabi atau kenabiannya, dan tantangan tersebut tidak dapat mereka tandingi.

Secara umum, mukjizat dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu mukjizat yang berbentuk indrawi, dan mukjizat rasional. Yang dimaksudkan dengan mukjizat berbentuk indrawi di sini yaitu yang tampak oleh kita dan terbukti secara langsung mengenai apa yang terjadi. Seperti halnya tongkat Nabi Musa yang jadi ular, lalu terbelahnya bulan dan sebagainya.

Selanjutnya, untuk mukjizat rasional yaitu yang didasarkan atas pertimbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat seperti halnya Al-Qur'an. Maka dari definisi di atas, mukjizat Al-Qur'an itu sendiri berarti tidak ada manusia yang mampu untuk meniru Al-Qur'an baik dari segi isi maupun bentuknya.

Bentuk-bentuk i'jaz Al-Qur'an

I'jaz Al-Qur'an memiliki bentuk-bentuk yang sangat beragam. Dari sekian banyak bentuk kemukjizatan Al-Qur'an, ada tiga sisi yang perlu dibahas secara tersendiri, diantaranya adalah:

1. I'jaz bayani wa adabi (i'jaz secara bahasa dan sastra)

Keistimewaan i'jaz Al-Qur'an salah satunya juga terdapat dalam pemilihan kata yang digunakan termasuk penulisan, bacaan dan penjelasannya. Karena pemilihan kata ini dapat mengantarkan pada sebuah temuan-temuan baru yang terdapat pada Al-Qur'an dan meyakinkan kita bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan Al-Qur'an.

Lalu, apabila terdapat kekurangan atau kelebihan huruf pada Al-Qur'an dapat berpengaruh terhadap makna awal. Karena semuanya sudah dijelaskan dan dikaji secara komprehensif.

Misalnya terdapat dua cara penulisan ism Allah dalam Al-Qur'an satu hal yang tidak bisa disanggah. Di satu tempat ditulis menggunakan huruf wasal (alif al-washal). Di lain tempat huruf alif wasal-nya dihapus.

Syumlul menerangkan bahwa penulisan kata ism, apabila menggunakan alif al-washal maka kata sesudahnya diiringi dengan Rabb, lalu untuk yang alif al-washal nya dihapus maka sesudahnya diiringi dengan kata Allah.

Makna dari kata yang tidak menggunakan alif al-washal dapat diibaratkan pekerjaan yang dilakukan atas nama Allah dan tidak ada yang menjadi pembatas antara makhluk dengan tuhannya dalam beribadah. 

Sedangkan untuk ism yang menggunakan alif al-washal ini bermakna bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan pendalaman dan penelitian agar dapat mencerna apa pesan yang disampaikan.

Lalu keistimewaan atau kemu’jizatan Al-Qur’an yang lain terdapat pada balaghahnya yang mencakup kepada ilmu bayan. Ilmu bayan (balaghah dalam istilah ulama muta’akhirin) mempelajari 3 macam ilmu, yaitu ilmu ma’ani, ilmu bayan dan ilmu badi’.

Ilmu ma’ani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara memelihara kesalahan dalam mengemukakan maksud pembicara (mutakallim) agar dapat diterima oleh lawan bicara (mukhathab). Ilmu bayan adalah ilmu yang memelihara timbulnya ta’qid ma’nawi (kalimat yang tidak jelas petunjuknya terhadap makna yang dimaksud). Ilmu badi’ adalah ilmu yang digunakan untuk memperindah kalimat (kalam).

Karenanya, ilmu badi’ selalu didasarkan pada ilmu ma’ani dan ilmu bayan di atas. Maksudnya, jika dua ilmu itu benar-benar diterapkan pada suatu kalimat, dengan sendirinya akan tampak keindahan kalimat itu sendiri.

Mukjizat Al-Qur’an dari balaghahnya adalah ungkapan yang ada di dalam memiliki tingkat fashahah yang tinggi dan dari Al-Qur’an inilah melahirkan ilmu balaghah. Dan pada sisi ini merupakan keindahan lafadz, bukan terletak pada lafadz tunggal (yang berdiri sendiri), melainkan terletak pada keberkaitan dalam suatu bait.

2. I’jaz al-islahi au at-tasyri’i ( I’jaz dalam aspek ajaran syariat yang dikandungnya )

Mukjizat Al-Qur’an dari segi kandungan isinya dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Walaupun berbeda arah dalam memandang Al-Qur’an, semua orang akan menemukan keistimewaan dari Al-Qur’an itu sendiri. 

Semakin memperdalam maka akan semakin kita menemukan banyak keistimewaannya. Lalu, kita akan meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang bukan diciptakan oleh manusia melainkan Allah SWT.

Sebagai contoh: dari sudut pandang pencinta moral, maka dia akan menemukan moral yang didambakannya dalam Al-Qur’an dan mengajak serta menuntun semua manusia kepada akhlak mulia. Bahkan, menjadikan akhlak mulia sebagai salah satu pilar utama masyarakat muslim. Siapa yang memilikinya, dia amat dekat dengan keberuntungan (Q.S. Al-Hajj: 77).

Lalu, pecinta logika dia bisa menemukan hakikat logika yang amat memuaskan di dalam Al-Qur’an. Bukti kebenaran ini menyangkut objek-objek di alam yang nyata (terlihat) atau eksperimen yang melibatkan benda-benda nyata (Q.S. Al-A’raf: 185), terkait keotentikan sebuah riwayat (Q.S. Al-Ahqaf: 4). 

Yang sama akan dirasakan pula oleh para pecinta bahasa, sejarah, ilmu alam, ilmu jiwa, para pencari keimanan (kebenaran), dan semua orang yang senang bertafakur. Apabila mau jujur dan bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan apa yang dicarinya dalam Al-Qur’an.

3. I’jaz al-'ilmi ( kemukjizatan dari segi ilmiah )

Kemukjizatan dari segi ini dimaksudkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber dari ilmu pengetahuan. Namun, pada masa kontemporer seperti saat ini yang awalnya sebagai sebuah kemukjizatan berubah menjadi sebuah kemustahilan atau kejanggalan, karena Al-Qur’an dianggap mendahului masanya, sehingga tidak masuk pada akal manusia.

Banyak pakar atau ilmuwan melakukan sebuah penelitian lalu menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu hanya dari Al-Qur’an. Semua dalam bidang sains dan pengetahuan sudah terdapat penjelasannya di dalamnya. 

Di sini terbukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh orang-orang yang tidak memahami atau mengerti makna dari Al-Qur’an itu sendiri.

Contohnya dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 4 mengenai ilmu tumbuhan : “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. 

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Ketiga bentuk dari kemukjizatan Al-Qur’an yang telah dipaparkan diatas merupakan suatu bentuk respon yang di tujukan kepada musuh-musuh Islam, atau siapa saja yang beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan produk dari manusia (Muhammad), atau hasil rekayasa dari Muhammad. 

Maka dari itu, apabila seseorang meragukan akan kemukjizatan Al-Qur’an maka ia adalah termasuk orang yang dangkal ilmunya, dan tidak menguasai sejarah.

Oleh karena itu, Al-Qur’an telah merangsang potensi pikir dan mendorong manusia untuk berilmu dengan jalan alamiah seperti berpikir, perenungan, dan menghilangkan tirai yang menutupi penglihatan mata hati. Sehingga dapat membantu mereka memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah khususnya yang berkaitan dengan kemukjizatan Al-Qur’an (I’jaz Al-Qur’an). Waallahua'lam Bi Showab.