Tepatnya menjelang subuh, ada kawan mengirimkan tulisan berjudul “Buat Apa Memegahkan Masjid Sampai Harus Hutang?” yang dimuat Qureta. Pada paragraf pertama tertulis UGM, saya pun penasaran dengan konten artikelnya. Alih-alih ada isu apa lagi di UGM, maklum saja saya dulu juga menimba ilmu di Jogja, terlebih bertahun-tahun menjadi penikmat Takjil Masjid UGM selama ramadhan.

Pertama, yang terbersit dalam benak saya adalah apresiasi kepada penulis itu yang telah peka terhadap simbol-simbol yang ada di Masjid UGM. Namun bagi saya, tulisan tersebut perlu ditinjau lebih lanjut. Sebetulnya penulis ingin menyampaikan kritiknya pada persoalan yang mana, apakah kemegahan masjidnya? Atau hutangnya? Atau menaranya? Di sinilah saya rasa penulis artikel itu perlu memfokuskan dan menajamkan kritiknya.

Tulisan ini sebagai pandangan saya terhadap Masjid UGM sekaligus merespons artikel berjudul “Buat Apa Memegahkkan Masjid Sampai Harus Hutang?”. Berbicara mengenai Masjid UGM, kita sedang berbicara dua dimensi yang menjadi satu. Masjid sebagai simbol ibadah dan UGM sebagai simbol pendidikan. Dari sini kita perlu membicarakan fisiknya dan isinya.

Pertama, dari fisiknya apakah UGM mempengaruhi masjid, atau sebaliknya? UGM memiliki karakter bangunan yang megah, apalagi Rektoratnya, luas lahannya, dan lengkap fasilitasnya. Kalau bangunan masjidnya yang terpengaruh UGM, maka Masjid UGM harus megah fisiknya, luas ruang terbukanya, dan lengkap fasilitasnya. Kalau sebaliknya, rasanya tidak mungkin, kecuali kalau Masjid UGM itu berdiri lebih dulu daripada UGM.

Kedua, dari isinya apakah UGM mempengaruhi masjid, atau sebaliknya? Dalam hal ini saya membayangkan seperti dua sisi uang yang menyatu. Masjid dengan karakter fundamentalnya sebagai tempat ibadah, ketika jadi Masjid UGM, maka masjid ini akan memiliki nuansa intelektual, pengkajian, penelitian, tempat penyemaian gagasan, dan keterbukaan pendapat. 

Sebaliknya, UGM dengan karakter fundamentalnya sebagai tempat pendidikan, ketika ada Masjid UGM, maka UGM dapat memiliki nuansa keseimbangan ilmu dan amal, keseimbangan pikiran dan qalbu, dan orientasi ilmu untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, dan lainnya.

Dari dua pandangan di atas, kita dapat menarik benang merahnya. Kenapa Masjid UGM harus megah? Karena Majid UGM berada di tempat yang megah. Tidak elok bila Masjid UGM dibangun ala kadarnya atau seperti masjid di kampung yang fungsi utamanya hanya untuk ibadah. 

Kalau dianalogikan, “Ikan yang besar, hanya dapat bertahan hidup di kolam yang besar pula. UGM itu kolam yang besar, maka Masjid UGM juga harus menjadi ikan yang besar, agar mudah dilihat dari luar”.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana agar Masjid UGM memiliki suasana yang megah? Tentu jawabannya adalah melakukan pembangunan. Tetapi soalnya adalah sumber pendanaan pembangunannya. Saya tidak tahu persisnya bagaimana pendanaan di Masjid UGM, sejauh yang saya tahu ketika dulu saya masih di Jogja, pembangunan fisik Masjid UGM dilakukan secara mandiri. Artinya, UGM tidak ikut campur dalam proses pembangunan Masjid UGM. Karena memang Masjid UGM bersifat otonom.

Ketika Masjid UGM melakukan pembiayaan secara mandiri untuk pembangunan fisiknya, maka logika matematisnya, hutang menjadi wajar untuk diambil selama peredaran keuangannya defisit. 

Pandangan saya, boleh jadi hutang keputusan yang tepat. Karena, jika tidak diambil keputusan itu sementar keuangan defisit, maka pembangunan akan mangkrak. Ini akan menjadi pertanyaan oleh publik. Ketika hutang pun akan menjadi pertanyaan publik juga sebetulnya.

Karena itu, hutang atau membiarkan bangunan mangkrak, ini adalah trade-off yang perlu diambil. Seandainya membiarkan bangunan mangkrak, menunggu sampai uang terkumpul. Selama proses pengumpulan uang itu pula fisik Masjid UGM akan menganggu kemegahan UGM. Karena beda suasana bangunan yang sedang dibangun, dengan bangunan mangkrak. Ini artinya, Ikan yang besar telah mencemari air kolamnya.

Selanjutnya, apakah kemegahan Masjid UGM salah atau tidak tepat? Alasan pertama tadi sudah diulas. Alasan kedua, kalau suatu masjid ingin dijadikan simbol kemajuan peradaban Islam, maka masjid itu memiliki tuntutan juga untuk menghadirkan suasana yang megah. 

Saya akan mengaitkan dengan sejarah lahirnya universitas pertama di dunia, tentu bukan Oxford, Cambridge, atau Harvard. Universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin, terlahir dari masjid yang bernama Masjid Al-Qarawiyyin di Maroko. Dari sanalah muncul institusi pengajaran-pengajaran.

Kalau menengok Masjid Al-Qarawiyyin, masjid itu memiliki bangunan menara yang kokoh dan megah, silahkan cek di internet, saya pun juga belum pernah ke sana. Saya tidak akan membahas difungsikan sebagai apa tentunya. 

Selanjutnya, Universitas Al-Azhar yang diidentikkan dengan Masjid Al-Azharnya. Berbicara mengenai Masjid Al-Azhar janganlah kita mempertanyakan kemegahannya, apalagi menanyakan menaranya. Kalau kita memaksakan untuk menanyakan keduanya, itu seperti bertanya kepada Profesor, apakah sudah menyelesaikan skripsi atau belum.

Dari sini kita bisa tarik benang merahnya, masjid yang megah ini sebagai simbol bahwa peradaban Islam itu megah. Peradaban Islam itu tidak dibangun biasa-biasa saja. Kalau memang Masjid UGM ingin mewujudkan dan menunjukkan peradaban Islam, maka Masjid UGM penting untuk menjadi megah. Toh, Masjid Al-Azhar dan Masjid Al-Qarawiyyin juga diidentikkan dengan peradaban Islam.

Kalau menginginkan “masjid yang sebatas karpetnya bersih, lantainya bersih, toiletnya bersih, pekarangannya bersih”, sebagaimana yang tertuang dalam artikel di atas, saya rasa terlalu besar nama Masjid UGM jika sebatas bersih apalagi mengusung simbol peradaban.

Bagaimana dengan kepedulian Masjid UGM dengan kemiskinan di sekitarnya? Memang benar masjid itu berorientasi pada umat, tetapi masjid juga perlu melakukan satu analisa pendidikan dan pemberdayaan. Siapa yang paling strategis disasar? Di dalam artikel di atas yang disinggung adalah kemiskinan di sekitar masjid dan pengemis di pekarangan masjid.

Kalau yang disasar adalah pengemis di sekitar masjid, maka salah ketika diberikan uang. Itu sama saja mendorong pengemis untuk semakin mengemis, karena akan semakin mengulang untuk meminta, ini seperti teori pertukaran dalam ilmu sosial. Atau dibina? Lebih praktis ketika masjid menghubungkan ke dinas sosial, yang sudah jelas-jelas di sana ada program pembinaannya.

Karena itu, yang paling strategis disasar oleh Masjid UGM adalah mahasiswa UGM dan Jogjakarta. Tentunya bukan sekadar memberikan uang cuma-cuma kepada mahasiswa yang tidak mampu. Karena orientasinya adalah pembangunan human resource berdasarkan visi dan nilai Masjid UGM. 

Kalau sekadar memberikan uang pendidikan, apa bedanya dengan Bidikmisi, apa bedanya dengan beasiswa PPA-BBM. Kecuali kalau institusi penyelenggara Bidikmisi dan PPA-BBM memiliki kesamaan visi dan cita-cita dengan Masjid UGM. Untuk mewujudkan pembangunan human resource di kalangan mahasiswa, maka Masjid UGM memiliki pekerjaan rumah sebetulnya yaitu Inkubator SDM Masjid UGM atau asrama.

Apakah asramanya harus megah? Bagaimana jika mencari talangan dana dulu? Yang pasti fasilitasnya harus lengkap, dan ini adalah persoalan Bab Baru.