2 tahun lalu · 205 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 14397459_1831485293752055_1283342937_n.jpg
google

Hutan Indonesia Semakin Terancam

Masalah lingkungan hidup tidak pernah berhenti diperbincangkan. Kerusakan alam yang marak terjadi akhir-akhir ini seperti kebakaran hutan, kerusakan ekosistem laut, pencemaran lingkungan, dan perburuan satwa liar menjadi berita di setiap media sosial, baik di surat kabar maupun televisi  setiap tahun.

Kerusakan lingkungan yang terjadi seakan belum menyadarkan para pelakunya untuk segera menghentikannya. Merusak lingkungan hidup seperti menjadi kewajiban yang harus mereka lakukan tanpa pernah berpikir tentang nasib generasi berikutnya.

Indonesia dikenal memiliki hutan yang luas. Jutaan spesies hidup di dalamnya.  Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015,  luas Hutan Lindung 29.917 ha, Hutan Suaka Alam dan Pelestarian Alam 27.687 ha, Hutan Produksi Terbatas 28.897 ha, Hutan Produksi yang Dapat Dikonservasi 15.525 ha, Jumlah Luas Daratan Kawasan Hutan 124.023 ha dan  Jumlah Luas Hutan dan Perairan 129 425 ha (https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1716.)

Luas hutan hujan tropis Indonesia menduduki posisi ketiga terluas di dunia setelah Brasil dan Kongo, namun sayangnya hutan yang luas itu tidak dimaksimalkan dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian negara dengan tetap menjaga pelestariannya.

Indonesia justru menjadi negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia. Akibatnya luas hutan yang selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun kiranya menjadi perhatian setiap masyarakat negara ini.

Indonesia meraih predikat sebagai negara perusak hutan terbaik dunia. Prestasi yang membanggakan untuk  menghancurkan dunia. Lantas muncul pertanyaan kemudian, apakah masyarakat Indonesia sadar akan kebobrokan itu? Sulit untuk menjawabnya, yang pasti sampai sejauh ini masyarakat Indonesia belum memahami dengan baik fungsi hutan.

Kecenderunga untuk berlomba-lomba menjadi kaya seketika dengan menghancurkan hutan menjadi trend bagi masyarakat sekarang. Misalnya perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dan pertambangan di Papua menunjukkan bahwa hutan dimusnahkan hanya untuk mendapatkan kepentingan ekonomi semata.

Hutan menjadi rumah kediaman yang memberikan sumber kehidupan bagi segala makhuk hidup di dalamnya. Apabila menghancurkan satu bagian dari ekosistem yang ada dalam hutan tersebut maka secara tidak langsung makhluk hidup yang lain akan menjadi musnah.

Karena ekosistem yang terjadi akan saling membutuhkan satu sama lain. Tumbuh-tumbuhan membutuhkan air, dan supaya air tetap ada maka pohon-pohon besar harus dijaga dan dilindungi, begitu juga dengan binatang. Ada siklus kehidupan yang berantai, saling membutuhkan satu sama lain.

Makhluk-makhluk itu berkelindan menjelma menjadi ekosistem. Tumbuhan membuka jalan agar hewan dan manusia bisa hidup. Dengan terjalinnya relasi yang harmonis, ekosistem yang ada dalam hutan juga akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan manusia. Sayangnya kita belum melihat sampai sejauh itu. Manusia hanya fokus untuk berlomba-lomba menjadi kaya dan berlomba-lomba membabat hutan.

Kebutuhan dan keinginan manusia yang setiap saat terus bertambah dengan bertambahnya jumlah manusia dan perubahan pola hidup mengakibatkan dampak destruktif pada alam sehingga alam dilihat sebagai tempat yang tepat untuk diekspoitasi. Hutan beserta isinya dikeruk habis hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Karena hutan dirusak secara otomatis ekosistem yang ada di dalamnya juga akan berpengaruh dan rusak seperti yang terlihat sekarang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terjadi bencana alam di mana-mana di Negri ini. Banjir, tanah longsor dan pencemaran lingkungan adalah segelintir dampak kecerobohan manusia yang tidak menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Banyak di antara masyarakat indonesia seakan tidak membaca situasi bencana yang terjadi di mana-mana. Kita belum menyadari apa yang melatarbelakangi semua bencana itu.

“Saat ini Indonesia termasuk negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia, mencapai sekitar 680.000 hektar per tahun. Pembukaan dan pembakaran lahan, terutama di lahan gambut, mengakibatkan Indonesia kehilangan keanekaragaman hayati yang cukup besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi ketiga di dunia” (http://nasional.kompas.com/read/2015/03/21/11422271/Sebelum.Hutan.Menjadi.Kenangan.)

Sedemikian maraknya sampai-sampai masyarakat Indonesia sendiri merasa bahwa tindakan kerusakkan adalah hal yang wajar-wajar saja. Tidak ada yang perlu dibicarakan dan dipermasalahkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat indonesia, pada umumnya, masih memelihara mentalitas yang tidak memikirkan kerugian dari kerusakan alama tetapi yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan dari tindakan mengeksplorasi alam.

Setiap peringatan Hari Hutan Internasional, dunia selalu menaruh perhatian pada tingkat deforestasi dan degradasi lahan Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. Alasannya tentu saja karena Indonesia memiliki hutan yang sangat luas. Setengah dari daratan di Indonesia adalah hutan. Hal ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terpenting di dunia, yang secara signifikan menyediakan oksigen yang cukup besar kepada dunia. Hutan Indonesia juga berperan penting pada saat negeri ini semakin rentan terhadap perubahan iklim.

Akan tetapi, pola hidup masyarakat Indonesia belum menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan dunia Internasional. Masyarakat Indonesia pura-pura tidak memahami maksud dan kepercayaan tersebut. Kecenderungannya selalu membanggakan diri karena menpunyai hutan yang luas tetapi celakanya tanpa pernah berusaha merawatnya. Mungkin semua itu hanya akan tinggal kenangan di kemudian hari.

Melihat realitas keberadaan hutan seperti itu, lalu pertanyaannya adalah siapa yang disalahkan setelah kita mengalami bencana seperti itu? Apakah pemerintah, masyarakat, golongan tertentu, atau justru alam itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali muncul ketika sudah mengalami dampak negatif dari kerusakan alam itu sehingga mulai mencari kesalahan kepada orang lain atau saling mengklaim satu sama lain.

Bencana alam yang terjadi mungkin salah satu tanggapan dari alam atas penderitaan yang didapatnya. Oleh karena itu, tepat apa yang dilantunkan Ebit G Ade dalam salah satu syair lagunya yang berbunyi “.. atau alam sudah enggan bersahabat dengan kita..”. lirik lagu ini menggambarkan bahwa kebobrokan kita manusia menjadikan alam murka. Bencana alam adalah pembalasan setimpal yang kiranya harus dirasakan manusia sebagai konsekuensi kelalainnya untuk menjaga alam. Alam yang berusaha bersahat dengan kita justru tidak dihiraukan dan bahkan merusaknya.

Dari penjelasan di atas, dibutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan dalam melestarikan hutan. Hutan yang pada zaman nenek moyang kita sebagai tempat yang sakral kini diganti sebagai sumber kehancuran karena ulah orang-orang tertentu dan akibatnya dirasakan oleh semua orang.

Oleh karena itu, untuk menciptakan kembali persahabatan dengan alam maka kearifan lokal yang ada di setiap daerah dimaksimalkan dan dihidupkan lagi dalam mengatasi kesenjangan akan keharmonisan dengan alam. Dengan demikian, tindakan itu akan membantu untuk mengatasi degradasi lahan dan erosi, banjir, serta mempertahankan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Pendekatan ini dapat menyelamatkan hutan Indonesia dari kehancuran.

Mumpung kita masih memiliki hutan, masih dapat kita jumpai dan belum menjelma menjadi hanya kenangan, mengapa tidak kita memberikan kepada generasi masa depan dengan melestarikan alam dan menghijaukannya kembali? Untuk itu, jangan wariskan air mata kepada anak cucu kita, tetapi wariskanlah mata air kepada mereka.

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait