Saat masih kecil gambaran tentang hutan begitu menakutkan di benak saya: rimbunan pohon lebat, hewan buas, hantu kuntilanak, perampok, dan sebagainya. Setidaknya image itu masih melekat sampai saya beranjak remaja. Penyebabnya adalah salah satu ruas jalan provinsi di Madura kanan-kirinya ditumbuhi oleh hutan jati yang cukup luas, sekitar 42 ha.

Hutan yang terletak di gugusan Bukit Gigir ini pun sangat ditakuti oleh mayoritas masyarakat karena banyaknya begal, perampokan, dan tindak kejahatan lain yang sangat merugikan pengendara. Orang-orang menambahi cerita tentang pocong, kuntilanak, dan cerita mistis lainnya. Keangkeran hutan ini lalu diceritakan pada anak-anak mereka,sehingga tiap generasi mempercayainya. 

Gigir dalam bahasa Madura artinya marah. Bukit ini tandus dan hanya ditumbuhi oleh barisan jati yang meranggas saat musim kemarau. Tak ada rumah penduduk sama sekali. Lampu jalananpun sangat temaram, bahkan di banyak ruas tak dipasangi lampu sama sekali sehingga saat malam suasananya sangat pekat dan pengendara terpaksa menyalakan lampu jauh mobil. Aneh memang, hutan tersebut berada di sisi jalan propinsi tapi keberadaanya malah mencekam.

Alhasil ketika malam tiba tak ada seorangpun yang berani melewati jalan tersebut.

Belakangan saya tahu bahwa ternyata lokasi hutan jati yang dianggap angker tersebut dijadikan tempat transaksi narkoba. Transaksi obat terlarang di Madura, terutama kabupaten Bangkalan memang cukup fantastis, bahkan beberapa kecamatan sekitar Bukit Geger dikenal dengan kampung narkoba. Tak hanya obat terlarang, pemukiman tersebut sering juga dijadikan tempat esek-esek atau pelacuran.

Kabar tentang keangkeran hutan ternyata sengaja disebar agar tak ada orang yang berani mengakses aktivitas terlarang tersebut terlebih pihak kepolisian. Sekarang jalan tersebut sudah aman, tidak pernah terdengar lagi berita perampokan dan lain-lain. Bahkan di kiri-kanan berjajar warung kecil yang menjual makanan hingga larut malam.

Hutan jati tak lagi angker sebab lampu-lampu jalan banyak dipasang sehingga kendaraan bebas berlalu lalang, bahkan sekarang jadi salah satu spot wisata di Madura meskipun masih sangat minim fasilitas. 

Terlepas dari itu semua, hutan memang masih menjadi tempat yang menyeramkan bagi mayoritas orang terlebih anak-anak. Hutan di Indonesia memang masih jarang yang dikelola untuk pariwisata, hanya dibiarkan begitu saja. Memang ada beberapa hutan yang telah dikembangkan menjadi industri pariwisata, tapi jumlahnya tak seberapa. Terus terang, saya baru tahu ada hutan yang cukup indah ketika berkunjung ke hutan Djuanda di Bandung.

Tidak seperti hutan pada umumnya, hutan di sana sangat cantik dan teratur. Jalan dibuat untuk memudahkan para pejalan kaki yang ingin menikmati keindahan alamnya. Bahkan di komplek tersebut disediakan ojek agar orang bisa berkeliling hutan dengan cepat. Tak hanya flora, wisata air terjun dan Gua Belanda dan Jepang tersaji di dalamnya. Saat saya ke sana, banyak pasangan yang melakukan pemotretan untuk pre-wedding.

Terlihat juga sekelompok anak SD dipandu gurunya diperkenalkan aneka tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar. Mereka diajarkan bagaimana mencintai dan memelihara lingkungan.  Anak-anak kecil tersebut sangat antusias mendengarkan penjelasan gurunya. Saya sendiri duduk di bangku sambil menikmati es krim yang sebelumnya saya beli disekitar hutan Djuanda.

Udara yang nyaman dan suasana tenang membuat saya ingin berlama-lama di sana. Sungguh suasana yang sangat kontras dengan hutan jati di Madura. Tak ada kesan menyeramkan dan menakutkan dari sebuah tempat bernama 'hutan'.

Seyogianya hutan memang harus ditata sebagus mungkin agar semua orang bisa menikmati keindahannya. Akan sia-sia saja kampanye konservasi hutan, cinta lingkungan, dan sebagainya jika kita tidak mengetahui apa 'isi' hutan tersebut. Di berbagai wilayah, terutama Jawa  banyak sekali hutan yang bisa jadi spot wisata menarik.

Misalnya hutan pinus, cemara, karet, jati, mangrove, dan sebagainya. Akhir-akhir ini memang hutan mangrove sudah dikelola menjadi tempat wisata, tapi sekali lagi jumlahnya tak seberapa.

Ekowisata Indonesia memang masih tertinggal dan tidak sepopuler negara lainnya. Jika kita mengetik kata 'ecotourism in the world' di mesin pencarian Google, tidak ada satu pun wisata alam Indonesia yang direkomendasikan. Jangankan terkenal di luar negeri, masyarakat dalam negeri pun tak banyak mengenal wisata hutan yang ada di Indonesia. Miris memang, hutan kita masuk sepuluh besar terluas di dunia tapi hanya segelintir yang bisa dinikmati keindahannya.

Bandingkan dengan Saagano Bamboo Forest milik Jepang, hutan yang hanya berisi rimbunan pohon bambu, tapi mampu memikat banyak wisatawan. Bahkan banyak warga negara kita berbondong-bondong ke Jepang hanya untuk menikmati keindahannya. Padahal di Indonesia hutan bambu dan semacamnya tersebar di beberapa wilayah.

Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana pemerintah setempat mempu mengembangkan hutan tersebut menjadi wisata berkelas internasional. 

Selain hutan, Indonesia juga punya 50 lebih taman nasional. Angka yang cukup fantastis. Sayangnya beberapa taman nasional tersebut justru identik dengan tempat mistis dan angker, sehingga sedikit sekali wisatawan yang berminat mengunjunginya. Sebut saja misalnya Taman Nasional Alas Purwo yang terletak di Banyuwangi.

Kabarnya, tempat ini banyak digunakan untuk bertapa dan pesugihan. Padahal di taman nasional ini tumbuh beragam flora dan fauna dan memiliki ekosistem yang utuh, mulai dari hutan bambu, savana, mangrove, hutan hujan, hutan tanaman, dan pantai yang indah. Sayang, karena pengelolaan yang kurang baik membuat kawasan ini tidak banyak dikunjungi dan malah mendapat julukan tempat terangker di Jawa.

Pertanyaannya: bagaimana masyarakat bisa mencintai hutan jika memasukinya saja sudah enggan? Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Yang harus dilakukan adalah menggarap hutan tersebut sebaik mungkin bahkan kalau bisa menjadi ekowisata bertaraf internasional. Memang butuh dana besar untuk bisa 'mempermak' kekayaan hutan Indonesia, sehingga peran swasta harus dilibatkan.

Kalau perlu dibuat undang-undang agar CSR perusahaan multinasional dan asing bisa turut andil membangun sektor ekowisata tersebut, dengan catatan pengelolaan tak boleh merusak habitat dan lingkungan. Jika seluruh hutan di Indonesia bisa dikelola dengan baik, bukan tak mungkin hutan dan taman nasional di Indonesia mengalahkan Amazon yang sangat terkenal di Amerika itu. Begitu pula masyarakat baik dalam maupun luar negeri akan berbondong-bondong datang dengan sendirinya.

Saya pikir pemerintah tak perlu sewa artis untuk menjadi duta lingkungan hidup, seminar ini-itu yang menghabiskan anggaran, cukup perindah dan kelola hutan dengan baik maka masyarakat akan enggan merusak lingkungan. Peran guru dan orang tua juga diperlukan dalam hal ini. Setidaknya sekolah harus giat mengadakan study tour ke hutan wisata atau praktik langsung ke lapangan, seperti yang dilakukan Sekolah Dasar di Bandung.

Terakhir, Tuhan telah merahmati bumi Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah, tinggal bagaimana kita mengelola dan merawatnya dengan baik. Semoga tulisan ini bisa memberi masukan dan bisa direalisasikan oleh pemerintah dan dinas terkait.