Kaum muda ramai membicarakan tentang “produktif”. Stigma bekerjalah terus sampai sukses membuat semua orang menjadi bekerja tak kenal waktu dan tempat.

Budaya seperti ini disebut Hustle Culture atau budaya gila kerja. Hustle culture diartikan sebagai gaya hidup di mana seseorang harus selalu sibuk bekerja di mana pun dia berada, dan kapan pun. Tidak ada waktu untuk istirahat. 

Hustle culture muncul sejak ramainya dunia industri. Orang-orang termotivasi menjadi pengusaha terkenal seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan masih banyak lagi. Mereka berpikir meraih kesuksesan harus menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja.

Dalam beberapa kasus, hustle culture memiliki dampak positif bagi lingkungan kerja. Apalagi dalam dunia yang makin kompetitif dan semua yang serba cepat budaya ini sangat menguntungkan. Kaum muda tentunya tertarik dengan tren ini dan berlomba-lomba tentang berapa juta yang mereka hasilkan dalam waktu yang cepat.

Hustle Culture menuntut seseorang untuk bisa multitasking. Kegiatan ini membuat otak tidak fokus sehingga dalam mengerjakan sesuatu bisa tidak maksimal. Akibatnya, otak bisa lelah dan kinerjanya berkurang. 

University of London melakukan penelitian dan menunjukkan bahwa multitasking dapat memengaruhi IQ seseorang. IQ kita bisa turun hingga 10 poin. Budaya semacam ini biasanya dilakukan tanpa sadar dan dianggap berbahaya. Misalnya, ketika makan sambil membalas WhatsApp tentang pekerjaan. Orang cenderung mengabaikan waktu untuk bersama keluarganya, untuk liburan, bahkan abai dengan kesehatannya.

Jepang merupakan negara yang masyarakatnya gila kerja. Mereka melakukan pekerjaan dengan maksimal dan berorientasi jauh ke depan. The Guardian melaporkan bahwa seorang jurnalis berusia 31 tahun bernama Miwa Sado benar-benar bekerja terlalu keras sampai mati. Dia menderita gagal jantung setelah menghabiskan 159 jam kerja lembur.

Hustle culture bisa saja dibawa secara turun-temurun. Orang tua yang senang membanding-bandingkan anaknya, akan memengaruhi ingatan bawah sadar sang anak bahwa ia harus berlomba jadi nomor satu bagaimana pun caranya.

Contoh yang saya saya alami beberapa bulan lalu, yaitu anak rela belajar seharian supaya dapat masuk universitas impian yang didambakan orang tuanya. Tanpa disadari anak kehilangan banyak waktunya untuk tidur, liburan atau sekadar menghibur dirinya sendiri.

Budaya hustle ini secara tidak nampak sudah menjamur dan terjadi pada orang sekitar kita. Sebut saja Pak Suryo, seorang karyawan pabrik A terobsesi untuk menjadi seorang bos. Akibat dari obsesi dan ambisinya yang tak memiliki batas, ia hampir menghabiskan 24 jam hanya untuk bekerja. Alhasil, kini diagnosis penyakit datang bertubi-tubi karena kebiasaan buruknya.

Bukan hanya pekerja tapi budaya hustle secara tak sadar dilakukan oleh para pelajar. Pelajar kehilangan banyak waktunya untuk bersosialisasi dengan temannya. Bahkan, mereka rela menjatuhkan teman mereka sendiri hanya untuk universitas impian atau nilai yang tak bisa menjamin masa depan mereka.

Di sisi lain, pekerja dituntut untuk memberikan waktu dan tenaga sebanyak yang ia punya untuk kemajuan perusahaan. Padahal dengan seperti itu seorang karyawan tidak akan langsung mendapat keuntungan seperti naik jabatan atau sekadar naik gaji. Justru para bos yang mendapatkan keuntungan itu.

Pekerja dengan jam kerja yang sangat banyak tidak menjamin apa pun. Dengan bekerja keras seperti itu tidak ada jaminan ia dapat mengubah dunia. Dari contoh kecil saja, bahkan ia sendiri belum tentu bisa mengeluarkan dirinya atau keluarganya dari belenggu kemiskinan.

Bahkan jika dibayar untuk lembur, apakah itu sepadan dengan stres dan kecemasan yang timbul karena terlalu banyak bekerja? Bagaimana bisa menikmati hasil kerja ketika tidak punya waktu untuk hal lain selain pekerjaan?

Zaman milenial seperti ini, kompetisi antara manusia sangat gila-gilaan. Kita memang dituntut untuk selalu bekerja supaya kita dapat bertahan. Kecuali kalian anak konglomerat pewaris harta tujuh turunan.

Bekerja memang suatu keperluan untuk mencukupi kebutuhan kita. Kebutuhan mengenai makan, sandang, dan kebutuhan penting lainnya. Permasalahannya adalah jika bekerja itu mendapatkan title “gila”. Manusia menjadi gila kerja dan tak acuh dengan sekitarnya.

Kebutuhan manusia bukan hanya bekerja saja tetapi juga bersosialisasi, liburan, menghibur diri sendiri, dan lain-lain. Maka sebelum kita menormalisasi budaya grinding dalam bekerja, haruslah kita memberi batasan untuk diri sendiri. Kita harus tau porsi diri masing-masing dan tak memaksakan terhadap suatu hal.

Hustle Culture memang membuat kita menjadi termotivasi untuk selalu bekerja. Membuat kita selalu semangat dalam mengejar mimpi dan tentunya berharap akan sukses dalam finansial. Kegiatan ini memberi pengaruh yang sangat besar tentunya untuk pemilik perusahaan. Sementara karyawan tidak mendapat manfaat yang sama dengan pengorbanan yang ia lakukan.

Budaya ini seharusnya tak dilakukan lebih lama lagi. Akibatnya sudah kita ketahui. Mulai dari depresi, abai dengan lingkungan sekitar, dan masalah mental hingga bunuh diri. Lebih baik jika kita hidup tidak hanya memikirkan tentang materialistik dan duniawi semata. Segala hal yang dilakukan berlebihan memanglah tak baik. Semuanya harus seimbang.