Pandemic Covid 19 yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu bukan hanya menyebabkan kegiatan masyarakat terhambat, namun juga kegiatan belajar mengajar, salah satunya bagi mahasiswa. Kegiatan belajar yang biasanya dilakukan di kampus, harus dilakukan dalam jaringan atau online.

Dengan itu banyak mahasiswa yang memfokuskan dirinya tidak hanya pada pendidikan melainkan juga bekerja. Mengapa? Karena pada saat seperti itu ekonomi keluarga menurun sehingga menimbulkan inisiatif diri untuk membantu perekonomian. 

Hal itu baik, namun segala sesuatu yang dilakukan dengan berlebihan itu juga tidak baik, istilah tersebut disebut dengan ”Hustle culture”.

“Hustle Culture” merupakan sebutan bagi seseorang yang tergila-gila dalam bekerja atau kecanduan kerja. Beda halnya dengan Hard Worker, sebutan untuk orang yang bekerja dengan gigih atau pekerja keras, namun tetap menyeimbangan dengan hal yang lain.

Dalam dunia mahasiswa, istilah tersebut juga dapat diartikan sebagai seseorang yang dengan keras melakukan sesuatu, yang mana dari hal tersebut ia mengharapkan sebuah pengakuan atau kesuksesan. 

Sering kali hal tersebut mempengaruhi bukan hanya terhadap kesehatan fisik melainkan juga kesehatan mentalnya serta hilangnya work balance, kondisi di mana tidak seimbangannya antara karier dan kehidupan pribadi seperti waktu berkumpul dengan teman dan keluarga.

Faktor dari Hustle culture yang sering terjadi di mahasiswa disebabkan karena beberapa hal diantaranya adalah pengalaman dalam berorganisasi, jam kerja, dan pengaruh media sosial. (Mulyono, 2010)

1. Pengalaman berorganisasi

Ketika seseorang sudah nyaman atau berpengalaman dalam sebuah organisasi maka akan menunjukan keaktifan dirinya. Tanggung jawab dalam sebuah organisasi bukan tentang bagaimana kita melakukan sesuatu dengan kerja fisik melainkan yang sangat berpengaruh yaitu kerja mental kita. Oleh karena itu, sebagian menyebut organisasi sebagai beban kerja mental. Kerja mental itu seperti pengambilan keputusan dalam tanggung jawab yang besar, dll.

Menurut Schaufeli et al (2008) bagian dari organisasi yang dapat mempengaruhi workaholism atau hustle culture adalah budaya di dalam organisasi atau kebiasaan yang telah dibangun dalam organisasi, dan hal ini dapat menjadi sebuah tuntutan (Antoni A, 2017).

2. Jam kerja mahasiswa

Mahasiswa yang memiliki jam kerja normal maupun melebihi batas normal akan tetap berisiko berperilaku Hustle Culture.

Hal ini sejalan dengan penelitian Setiawan dan Sofiana Tahun 2013 yang menyatakan bahwa sebagian mahasiswa harus menyelesaikan tuntutan tugas berdasarkan waktu yang sudah ditentukan sehingga mendorong mereka untuk berperilaku Hustle Culture (Setiawan & Sofiana, 2013).

3. Media sosial

Media sosial merupakan tempat yang digunakan banyak masyarakat untuk membagikan cerita kehidupan atau cerita lainya. Hal tersebut akan menciptakan standar seseorang secara tidak langsung. Standar tersebut menuntut orang-orang untuk meraih kesuksesan, kekayaan atau mapan pada umur kepala dua.

Media sosial berperan sangat penting dalam penciptaannya, artis dan tokoh muda sukses selalu dilirik dan kontennya selalu dinikmati oleh khalayak ramai. Sehingga banyak anak muda yang memiliki mindset yang sama dan mereka juga menunjukkan hal yang sama di media sosial mereka (Setiawan, 2021).

Menurut Coleman tahun 2016 menyatakan bahwa rata-rata orang yang memeriksa ponsel 46 kali dalam sehari atau menghabiskan hampir lima jam perhari dengan menggunakan ponsel beranggapan bahwa ponsel atau media sosial tersebut merupakan salah satu cara untuk bisa menjadikan mereka sukses dengan mengikuti beberapa standar yang mereka lihat di ponsel tersebut. Sehingga hal tersebut dapat menyebabkan persaingan yang meningkat kemudian terbentuk dan berkontribusi pada persepsi yang salah (Balkeran, 2020)

Hustle Culture memang tidak baik, namun dari satu sisi terdapat dampak positif diantaranya :

1. lebih unggul dari teman yang lain

Ketika seseorang melakukan hustle culture, maka akan membuat dia satu langkah lebih maju dari teman-temannya. Karena mungkin dia sudah mengalami apa yang temannya belum alami. Seperti sibuknya sebuah organisasi dan lain-lain.

2. Menumbuhkan Multitasking

Seperti yang kita tahu, apa yang disebutkan diatas merupakan privilege bagi seseorang yang aktif mengikuti sebuah organisasi dengan baik.

Cara mengatasi agar tidak terserang Hustle Culture

1. Hindari membandingkan diri

Hal ini dapat terjadi dan sering terjadi di media sosial, yang mana banyak orang yang memamerkan kebahagiannya mereka tanpa memikirkan dampak apa yang dapat terjadi terhadap orang lain. So, jangan lakukan hal ini, jika tidak ingin orang lain merasakan sedih karena ia membandingkan dirinya dengan dirimu.

2. Melakukan hobi di luar organisasi atau pekerjaan yang lainnya

Banyaknya beban mental mungkin akan menyebabkan kesehatan mental tidak stabil. Maka, lakukanlah kegiatan atau hal-hal kecil yang menyenangkan dirimu, agar dapat mengembalikan keseimbangan mental.

3. Tahu batasan diri

Cara selanjutnya yaitu dengan mengetahui batasan diri dengan jelas. Paham dan tahu kapan kita berucap tidak dan berani mengatakannya, tahu kapan tubuh sudah lelah dan tahu kapan tubuh bisa diajak kompromi untuk bekerja dengan keras.

Lakukan sesuatu semampu kita. Kita boleh berusaha tapi jangan jadikan fisik sebagai penanggung jawab sepenuhnya, namun jadikan adil untuk mewujudkannya. So, Hustle culture itu tidak baik loh, jadi yang sedang-sedang saja. Hehe

Terima kasih, semoga bermanfaat. :D