Banyak orang percaya bahwa kesuksesan akan bisa digapai jika seseorang banyak bekerja. Menggunakan waktu lebih banyak untuk melakukan pekerjaan akan mendekatkan seseorang pada keberhasilan. 

Di era yang sangat kompetitif ini, setiap orang dituntut untuk bekerja sangat keras; tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga demi mencapai standar kesuksesan yang materialistik.

Sehingga muncul anggapan bahwa sebuah kesia-siaan jika tidak menggunakan setiap waktu yang ada untuk banyak bekerja. Hal inilah yang kemudian mendasari masyarakat untuk mengikuti sebuah gaya hidup yang dikenal dengan istilah hustle culture

Hustle culture adalah budaya kerja atau gaya hidup yang mendorong seseorang untuk bekerja secara terus-menerus dan meminimalkan waktu untuk beristirahat demi produktivitas.

Hal ini sudah lumrah dan menjadi bagian dalam keseharian kita, karena kampanye begitu banyak didengung-dengungkan bahkan oleh orang-orang berpengaruh tingkat dunia untuk mengajak setiap orang mencapai kesuksesan sebagaimana dirinya. Caranya, kembali lagi yaitu dengan bekerja lebih dibandingkan orang pada umumnya.

Salah satu contohnya adalah pengusaha sekaligus penemu dari Amerika Serikat yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia saat ini, sebut Elon Musk. Sudah banyak media yang mewartakan perihal pernyataannya yang mengatakan bahwa seseorang tidak bisa mengubah dunia jika hanya bekerja delapan jam sehari. Bahkan ia menyarankan untuk bekerja 16 sampai 20 jam per hari. Sungguh luarr biasa...

Hal tersebut tentu menjadi daya tarik yang kuat sekaligus motivasi sukses yang diimani begitu banyak orang. Lalu berkembanglah mindset bahwa segala kesuksesan harus dicapai dengan banyak bekerja. Makin panjang waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan, maka makin mendekatkan seseorang pada kesuksesan.

Lantas bagaimana di negeri kita tercinta? Di Indonesia, hal tersebut juga sudah sangat umum merasuki budaya kerja para millenial. Dalam era semua orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang wirausaha seperti saat ini misalnya. Dari sudut pandang ekonomi tentu hal ini baik, dan sangat baik malahan karena memacu setiap orang untuk kreatif, produktif dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Namun sayangnya kondisi ini juga diiringi pesatnya hustle culture yang membuat orang sering mengabaikan batasan diri dalam bekerja. Kesibukan menjadi hal yang seolah keren bahkan simbol dari sebuah kesuksesan. Pamer kesibukan dan berlomba menunjukkan padatnya pekerjaan demikian ramai menghiasi story whatsapp maupun instagram.

Sudah pasti stigma buruk akan dialamatkan kepada kaum yang lebih memilih santai dalam menjalani hari-harinya, atau orang-orang yang memiliki jam kerja singkat sehingga banyak waktu luang. Jika merujuk pada konsep hustle culture, memang orang demikian ini dinilai kurang produktif dan mau berusaha.

Ditambah lagi dengan sebuah kalimat populer yang lazim dijadikan motivasi, yaitu “usaha tidak akan menghianati hasil”. Seolah setiap keberhasilan adalah hasil dari usaha yang sangat keras. 

Padahal, kan, nggak juga. Banyak orang yang berusaha lebih keras dari kita, kadang tidak bisa mencapai hasil yang sama dengan kita. Kenapa? Ya karena banyak faktor lain dalan keberhasilan, bukan hanya karena usaha yang kita lakukan.

Mari kita ingat beberapa pencapaian dalam hidup kita, atau kita amati orang-orang yang dikatakan mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Apakah semua hal mampu dicapai dengan banyak bekerja? Tidak juga, ada faktor lingkungan, keluarga, kesempatan, bahkan ada yang jauh lebih penting yaitu karunia Tuhan. Jangan sampai kita begitu meyakini dan percaya diri bahwa semua perihal hasil kerja hingga lupa banyak faktor lain yang di luar kendali kita.

Tentu hal ini bukan bermaksud mendiskreditkan kerja keras atau usaha, sama sekali bukan. Kita hanya diharuskan bekerja dengan sungguh-sungguh dan maksimal bukan berlebihan. 

Hidup tidak melulu soal pekerjaan, banyak hal lain yang perlu diperhatikan dan dihidupkan. Misalkan menghabiskan waktu bersama keluarga, beribadah, bersosialisasi dengan teman dan tetangga, liburan, melakukan hobi, belajar hal baru dan lain sebagainya.

Faktanya, makin banyak bekerja justru akan berpotensi membuat orang makin berisiko menderita gangguan kesehatan. Kesibukan yang tinggi sering membuat orang mengabaikan kesehatannya. Makan menjadi tidak teratur, istirahat kurang dan ditambah lagi otak yang kelelahan karena dipaksa terus memikirkan pekerjaan.

Selain fisik, mentalnya juga akan mengalami gangguan. Orang lebih mudah cemas, stres bahkan depresi. Kalau sudah begini, apakah pekerjaannya atau hidupnya akan memiliki kualitas yang baik? Tentu sebaliknya. Bahkan sebesar apa pun seseorang bergairah dan mencintai pekerjaannya, tetap segala yang berlebihan akan menemui kemudaratan.

Itulah kenapa banyak orang-orang di negara maju memiliki risiko depresi dan tingkat bunuh diri yang tinggi. Salah satu penyebabnya, ya karena tekanan pekerjaan yang berlebihan. Orang dituntut kerja melebihi batas-batas kewajaran demi produktivitas dan pencapaian tujuan pekerjaan. Sebuah pencapaian yang sebenarnya bersifat semu karena merusak diri-sendiri secara perlahan.

Tingginya kasus bunuh diri di Jepang akibat jam kerja yang tinggi telah menjadi kenyataan pahit selama bertahun-tahun. Dilansir fsbgarteks.org (25 Februari 2019), beberapa lembaga riset di Amerika Serikat juga menyimpulkan bahwa tingginya jam kerja akan berdampak pada tekanan jiwa dan penyakit kronis.

Alih-alih menemukan kebahagiaan atau kesuksesan dalam pekerjaan, malah yang ada hanyalah tekanan dan kehampaan. Saya jadi ingat kutipan favorit dari pak Seno Gumira Aji Darma:

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun tak seberapa.”

Kalimat tersebut kembali mengingatkan kita bahwa tidak semua pencapaian dan kesuksesan ada dalam urusan pekerjaan yang sibuk tak berkesudahan. Ada ruang-ruang lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Ada spiritualitas, kesehatan, sosial, keluarga, keilmuan dan lain sebagainya. 

Hal-hal itulah yang butuh untuk diperjuangkan dalam keseimbangan. Karena keseimbanganlah yang biasanya akan mengantarkan setiap proses pada kebaikan dan keindahan.