• Judul: Hush Little Baby.
  • Pengarang: Anggun Prameswari.
  • Penerbit: Noura Books, 2018.
  • Jumlah Halaman: 340 hlm.
  • ISBN: 978-602-385-381-6


Ketakutan terbesar sering kali datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkan kisah Ruby di buku ini.

Ruby hidup hanya berdua dengan ibunya sampai dia remaja, lalu diungsikan ke rumah bibinya di daerah Puncak. Kenapa diungsikan? Ruby hamil. Lelaki yang menghamili tak mungkin mengajaknya menikah karena sudah beristri (istrinya juga sedang hamil besar). 

Hal ini yang sangat disesalkan oleh ibu Ruby. Dia merasa tak bisa menjaga Ruby dengan baik, merasa gagal hingga akhirnya membuatnya depresi. Di Puncak, Ruby tinggal bersama bibinya. Bibinyalah yang merawat Ruby dengan kasih seperti seorang ibu pada anaknya sendiri.

Bayi Ruby meninggal, meninggalkan luka yang dalam bagi Ruby. Merasa gagal (juga) menjadi ibu, dan merasa tak pernah mendapatkan sosok ibu yang sebenarnya membuat Ruby tak ingin lagi mempunyai anak.

Saat dilamar oleh Rajata, seorang lelaki kaya raya, Ruby sudah menekankan bahwa dia tidak ingin punya anak. Nyatanya, Ruby hamil dan melahirkan bayi perempuan cantik: Gendhis.

Apakah itu mengubah prinsip Ruby? Tidak.

Ruby malah merasa hidupnya makin penuh beban. Jam tidur yang kurang, badan tak terurus, bayi yang menuntut perhatian ekstra, belum lagi tekanan dari Ibu mertuanya membuat pikiran Ruby makin kacau. 

Dia pernah tak memedulikan Gendhis yang menangis bahkan pernah secara tak sadar hampir membunuh Gendhis hanya agar bayi itu berhenti menangis.

Depresi yang dialaminya membuat Ruby dijauhkan dari Gendhis. Ruby harus berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia adalah seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab pada anaknya. Ruby harus membuat orang-orang percaya bahwa dia tidak gila. Demi ini, Ruby harus rela membuka masa lalunya yang kelam dan penuh rahasia.

Rahasia apa yang akan ditemui oleh Ruby? Sebuah puntiran besar menanti kita di akhir cerita.

---------------------

Buku Mbak Anggun selalu istimewa bagi saya. Selalu. 

Di buku ini, kita diajak berkenalan dengan tokoh 'aku' dari beberapa waktu. 'Aku' di usia belasan dan 'Aku' di usia 30. Alur yang maju-mundur tapi saling melengkapi.

Saya juga takjub dengan kekuatan deskripsi Mbak Anggun. Tak pernah dia menyebut profesi ibu Ruby tapi dari kebiasaan ibu Ruby yang pergi kerja malam hari, berpakaian seksi, sering pulang diantar beberapa lelaki yang berbeda, dan suka minum alkohol, maka dengan pasti kita bisa menentukan apa profesinya.

Dan ide menyoroti depresi pasca melahirkan ini juga sesuatu yang mungkin harusnya bisa lebih kita eksplore lagi. Baby Blues Syndrome is real. Post-Partum Depression is exist. Seluruh wanita bisa saja mengalaminya. Mungkin kadarnya yang berbeda.

Baca Juga: Ma, Aku Hamil

Trauma akan beberapa peristiwa juga bisa menyebabkan kita mengalami hal yang dirasakan oleh tokoh Ruby. Ibu yang hadir hanya sebagai sosok ibu, tapi tidak berperan mendalam pada hidupnya; ibu yang hadir hanya sebagai simbol eksistensi, tapi tak pernah memberi contoh seperti apa harusnya menjadi ibu itu menjadikan Ruby bagai hilang arah. Dia tak punya acuan, tak punya pegangan akan arti seorang ibu.

Belum lagi trauma karena kematian bayi pertamanya yang juga disebabkan oleh suatu kejadian menyakitkan bagi Ruby tentu sangat tidak mudah. Ketakutan-ketakutan Ruby terus menumpuk tanpa dia tahu harus melakukan apa.

Buku thriller dengan sub-genre Domestic Noir ini memang tidak terlalu 'ngeri banget' seperti buku thriller lainnya. Menurut saya, mungkin penulis menyesuaikan dengan plot cerita jadi tidak perlu berlebihan di sana-sini. Sub-genre Domestic Noir sendiri memang biasanya digambarkan dengan tokoh perempuan yang mengalami kejadian di lingkup domestik (lingkungan terdekatnya).

Alih-alih mengajak kita terkaget-kaget dengan suspense atau ngeri membayangkan adegan berdarah-darah, buku ini menurut saya lebih mengarahkan kita secara tidak langsung bahwa kita harus lebih aware dengan kondisi seorang perempuan saat sebelum, selama hamil dan setelah melahirkan. Karena semuanya bisa saja terjadi.