Ditengah krisis kemanusiaan, kita sebagai ummat beragama akan merindukan sosok Gus Dur, tokoh preseden bagi generasi bangsa yang lahir dari rahim pesantren tersebut merupakan wujud nyata dari indahnya dan tentramnya kita menjalani keberagaman di negara ini.

Jika anda merupakan salah satu alumni pondok pesantren, baik pesantren yang salaf maupun modern sekalipun, anda tidak akan pernah terlepas dengan kenangan humor kiai, terbahak bersama teman dengan latar kehidupan yang berbeda, bahkan sisi pemahaman agama Islam di pesantren yang acapkali kita dapat melalui fenomena gelak tawa.

Dengan demikian, dalam melihat fenomena apapun, lebih-lebih soal agama, sebenarnya kita harus melihat dengan pendekatan humor, jangan terlalu tegang dan penuh sentimen. Sebab menurut Gus Dur humor adalah sisi segar dari kehidupan.

Akhir-akhir ini diakui atau tidak, agama memang-lebih tepatnya keagamaan kita, ibarat padang tandus yang penuh dengan ilalang kering, begitu mudah tersulut ketika bertemu dengan percikan api. Pada sisi lain, agama seakan seperti jala. Sekali dilepas ribuan ikan siap dipanggang.

Sehingga keberagamaan kita layaknya seperti gincu yang menempel pada bibir, sekali ditetesi keringat akan hilang tak berbekas. Sekarang kita lihat, bagaimana Perkara penistaan agama kembali mencuat setelah Meiliana divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Medan 18 bulan penjara karena dianggap melarang orang untuk azan di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Dalam konteks tertentu, mungkin untuk sebagian ummat Islam pernyataan tersebut sangat bertentangan dan melanggar kode etik keagamaan. Padahal, pada zaman Rasulullah, azan disyariatkan hanya untuk waktu shalat, sebagai pengingat. Ia bukan ditujukan untuk kaum non-Muslim, apalagi untuk membuatnya terganggu.

Sebagai warga negara Meiliana memiliki hak berpendapat untuk mengeluhkan suara TOA yang melewati ambang batas pendengaran. Bahkan, seandainya Meiliana adalah seorang Muslimah pun, ia juga berhak mengeluh. Karena Islam melarang hal-hal yang melampaui batas.

Atau jangan-jangan kita telah lupa akan tujuan utama disyariatkannya azan, sehingga kerap kali memaksa saudara-saudari non-Muslim kita mendengar seruan pengingat waktu sholat, yang sebenarnya bukan ditujukan terutama untuk mereka. Ironisnya, hanya persoalan mengeluh saja, rumah Meiliana dibakar dan berakhir dengan divonis, bahkan hingga memicu konflik agama.

Melihat peristiwa tersebut, republik ini rindu dengan sosok sang humanis seperti Gus Dur, tokoh agama yang bisa membawa nilai-nilai pluralisme dan menumbuhkan filantropia dalam beragama. Baik melalui gagasan, etika, moralitas, kebudayaan, bahkan dengan humor. Dalam buku “Setahun Bersama Gus Dur” Mahfud MD menulis bahwa, “humor dan candaan Gus Dur seolah menjadi vitamin yang senantiasa menjaga kesehatannya.

Namun hemat saya, sebenarnya humor Gus Dur tidak hanya menjadi vitamin untuk kesehatan beliau semata, lebih jauh humor beliau bisa menjadi vitamin bagi setiap persoalan yang melanda republik ini. lebih-lebih dalam persoalan yang berhubungan dengan kemanusiaan dan ketidakadilan.

Ambil contoh humor Gus Dur dalam acara kongkow di chanel aswajatube 2008 silam. Beliau memberikan humor dengan bercerita ada tiga tokoh agama yang yang saling berdiskusi soal kedekatan agama mereka dengan tuhan.

Di awali oleh tokoh agama Kristen, menurutnya dalam melakukan relasi dengan tuhan umat kristiani sangat dekat ibarat bapak dan anak, karena ketika mereka berdo’a pasti diawali dengan “wahai bapak di sorga”. Tokoh agama Hindu pun tidak ingin kalah, dia mengutarakan bahwa dalam agamanya, ummat Hindustani layaknya hubungan paman dan pona’an, karena memanggil tuhan dengan “Omm suwastu”.

Tokoh agama Islam, Kiai hanya diam saja, hingga akhirnya kedua tokoh tadi menanyakan “loh bagaimana dengan anda?” dengan santai sang kiai menjawab “yah, boro-boro deket, manggil aja mesti pake menara”. Humor Gus Dur dengan disambut gelak tawa para audien pada saat itu.

Apa sebenarnya hikmah yang dapat kita ambil dari sosok kiai penuh kontroversial namun akrab dengan nilai-nilai kemanusian tersebut ? Yaitu, Islam yang disampaikan oleh Gus Dur penuh dengan keramahan, kesantunan, dan kesegaran bukan Islam yang datang dengan berwajah garang atau menakutkan melainkan Islam yang datang dengan wajah yang penuh dengan senyuman.

Maka tak heran, Gus Dur mendapatkan Doktor Kehormatan bidang kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel pada tahun 2003. Tidak hanya itu, pada saat tutup usia pada tanggal 30 Desember 2009.

Lautan manusia memenuhi pondok pesantren Tebuireng untuk mengantarkan bapak guru bangsa terakhir kalinya, bahkan tangis pecah mengiringi pemakaman Gus Dur, tidak hanya berasal dari ummat Islam, tetapi dari semua golongan.

Seakan-akan negeri ini kehilangan sosok yang selalu membela keadilan, ulama’ dengan genuine pemikiran yang luar biasa, dan sosok yang mengajarkan bahwa hal yang lebih penting dari apapun adalah toleransi, pluralisme, dan humanisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agar semboyan Bhineka Tunggal Ika benar-benar bisa terpatri dalam jiwa setiap warga negara.