2 tahun lalu · 637 view · 4 menit baca · Filsafat humanisme_pico_600x400.jpg

Humanisme Renaisans Giovanni Pico della Mirandola

Humanisme adalah paham yang menjadikan manusia sebagai pusat memandang segala sesuatu. Antroposentrisme ini dimungkinkan oleh keyakinan bahwa manusia adalah pusat alam semesta, bermartabat, bebas, otonom, sumber segala nilai, dan dengan akal budinya dapat mencapai segala sesuatu.

Orasi Giovanni Pico della Mirandola, seorang filsuf Italia zaman Renaisans, dalam Oration on the Dignity of Man (edisi Inggris terjemahan A. Robert Caponigri) merangkum seluruh keyakinan Renaisans itu. Bahkan orasi Pico tersebut dapat dikatakan sebagai manifesto humanisme, karena di dalamnya sudah terkandung esensi dari humanisme.

Di dalam orasi tersebut, Pico menyatakan kekagumannya pada (martabat) manusia, di antaranya ketika ia menyatakan – dengan mengutip penulis terdahulu – “Tidak ada yang lebih mengagumkan dari manusia.” (Pico, Oration, 3) atau “Manusia adalah keajaiban besar.” (Pico, Oration, 3).

Kekaguman itu, ia sampaikan dengan kompleksitas Abad Pertengahan (skolastik) dan kemandirian dan kecerahan Renaisans (Kirk, “Introduction”, xii).

Adapun unsur-unsur humanistis yang ia sampaikan adalah sebagai berikut.

Pertama, manusia adalah pusat alam semesta. Hal ini tampak ketika Pico menyatakan setuju dengan pandangan lama – meski tidak sepenuhnya – bahwa, “Manusia adalah pertengahan di antara makhluk-makhluk, ia dekat dengan Tuhan yang berada di atasnya sebagaimana ia menjadi tuan bagi makhluk-makhluk di bawahnya.” (Pico, Oration, 3).

Dengan persetujuan ini, Pico menunjukkan manusia sebagai pertengahan dari hierarki pengada.

Selanjutnya hal ini dilengkapi Pico dengan menunjukkan manusia sebagai pertengahan kemewaktuan, yaitu “…berada di antara kekekalan yang abadi dan aliran waktu.” (Pico, Oration, 3-4)

Kemudian ia menambahkan bahwa secara metafisis, manusia juga berada di pertengahan, yaitu “selaras dengan dunia, namun sedikit di bawah malaikat.” (Pico, Oration, 4)

Di titik ini, Pico baru menunjukkan manusia berada di pertengahan dari berbagai dimensi – hierarki pengada, kemewaktuan, dan metafisis – namun belum menunjukkan dengan tegas manusia sebagai pusat alam semesta.

Hal ini baru tampak jelas ketika Pico mengutarakan, setelah menempatkan manusia (pertama) di tengah dunia – dalam berbagai dimensi yang tadi sudah disampaikan – Tuhan berkata kepadanya, “Aku tempatkan kamu di pusat dunia, agar kamu dapat dengan mudah melihat bahwa dunia di sekelilingmu itu adalah tentang kamu.” (Pico, Oration, 7).

Dengan perkataan ini, Pico bukan saja menunjukkan manusia sebagai pusat alam semesta dengan jelas, tetapi juga menyatakan cara pandang antroposentris, yang merupakan revolusi besar Renaisans dari Abad Pertengahan.

Kedua, manusia itu bermartabat. Pico setuju dengan pendapat terdahulu bahwa manusia itu bermartabat, karena “ketajaman indranya, penyelidikan nalarnya, dan terang akal budinya.” (Pico, Oration, 3)

Namun menurut Pico, yang paling mendasar adalah karena, hanya manusialah yang bisa memahami makna pencapaian Tuhan – dalam menciptakan alam semesta – dapat mencintai keindahannya, dan kagum akan kemegahannya (Pico, Oration, 5).

Manusia dapat memahami alam semesta – dan karenanya bermartabat – karena mempunyai jiwa, yaitu percikan keilahian yang mengangkat dan membedakannya dari ciptaan lain.

Bahwa manusia mempunyai sesuatu yang ilahi di dalam dirinya, ditunjukkan oleh Pico di dalam teksnya, “(manusia dapat) bangkit kembali ke tatanan yang lebih tinggi (dari dunia ini) yang bentuk kehidupannya ilahi.” (Pico, Oration, 8)

Dengan mengatakan bahwa martabat manusia terletak pada jiwanya, Pico juga sekaligus menunjukkan manusia sebagai individu, dalam pengertian – karena mempunyai jiwanya masing-masing – setiap manusia itu unik, dapat dibedakan dari manusia yang lain, dan penuh pada dirinya – ia sekaligus memiliki jiwa dan raga.

Ketiga, manusia itu bebas. Pico menjelaskan, manusia itu bebas, karena ia diciptakan Tuhan sebagai “citra yang tak ditentukan (arahnya).” (Pico, Oration, 6)

Kemudian ia menjabarkan hal ini sebagai bentuk percakapan Tuhan dengan Adam sang manusia pertama (Pico, Oration, 7-8), “Aku tidak memberimu citra yang sesuai dengan dirimu, bakat yang sepenuhnya milikmu.”

Tujuannya adalah, “Agar tempat, bentuk, berkat yang (pada makhluk lain) dipilihkan dan diberikan (oleh Tuhan), dapat dicapai dan dimiliki oleh manusia melalui pilihan dan keputusannya sendiri.”

Kemudian hal ini dipertegas bahwa, “Hakikat makhluk lain sudah ditentukan dan dibatasi oleh hukum yang Aku tetapkan; sedangkan manusia tidak dibatasi oleh ketentuan seperti itu.”

Harapannya adalah, “Semoga (manusia) dengan kehendak bebasnya dapat menemukan kekhasan dari hakikatnya” dan menjadi “pembentuk yang bebas dan bangga dari keberadaannya sendiri.”

Namun hal ini memiliki konsekuensi bahwa, “Dengan kekuasaannya (yaitu kehendak bebas), manusia bisa menjadi rendah dengan menjalani kehidupan yang biadab, atau bisa juga memilih naik ke tatanan yang lebih tinggi dengan menjalani kehidupan yang luhur.”

Jika kita perhatikan, pembicaraan mengenai kebebasan ini juga sekaligus berbicara mengenai otonomi manusia, yaitu kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Bukan sekadar menentukan satu di antara banyak pilihan, lebih dalam dari itu – seakan menjadi eksistensialisme pra-Sartre – manusia diberi kebebasan untuk menentukan hakikatnya sendiri.

Telah diutarakan, tiga unsur humanistis dalam orasi Pico della Mirandola, yaitu manusia adalah pusat alam semesta, bermartabat, dan bebas. Tiga unsur ini pada gilirannya menjadi pembentuk utama dari humanisme.

Perlu disampaikan, ada pendapat bahwa pandangan Renaisans terhadap manusia yang seperti ini merupakan suatu humanisme yang ateistis. Dalam pengertian, dengan menjadikan manusia pusat alam semesta, bermartabat – tidak lagi menjadi hamba yang tunduk – dan bebas, berarti telah menyingkirkan Tuhan.

Namun jika kita perhatikan, bagi Pico, ketiga unsur humanistis itu justru mungkin karena adanya Tuhan. Tuhanlah yang menempatkan manusia di tengah dunia.

Karena diciptakan dalam rupa Tuhanlah, manusia mempunyai martabat. Serta, kebebasan adalah kuasa yang secara khusus Tuhan berikan pada manusia. Jadi jelas, bagi Pico, martabat manusia – sesuai judul orasinya – tidak meniadakan Tuhan, justru bergantung pada-Nya.

Searah dengan ini, Russell Kirk dalam “Introduction” untuk edisi Inggris orasi tersebut berpendapat – bagi Pico – tidak ada makhluk yang dapat mengangkat martabatnya sendiri, karena martabat adalah sesuatu yang diinvestasikan padanya, maka harus ada Penguasa – pihak yang menginvestasikan martabat itu – yang mengangkat martabat manusia (Kirk, “Introduction”, xvii-xviii).

Namun, bukan berarti Pico mengikuti semangat Abad Pertengahan, yang menjadi kekhasan Pico – dan humanis Renaisans lainnya – adalah, Tuhan mempunyai kepentingan dengan manusia. Tuhan ingin pencapaiannya – yaitu alam semesta – dipahami, dicintai, dan dikagumi, dan yang dapat melakukan itu hanya manusia (Pico, Oration, 5).