Manusia adalah ciptaan Tuhan, dan ia diciptakan agar dapat menjalankan kehidupan secara berdampingan dengan manusia lainnya. Karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial, ia juga mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya, oleh karena itu manusia memiliki sikap keterbukaan dan bersedia berdialog dengan manusia lainnya serta dapat merespon segala sesuatu mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh dirinya maupun manusia disekitarnya.

Di sinilah letak ke khasan manusia, karena manusia memiliki ke pekaan terhadap suatu rangsangan yang ia rasakan baik dari dalam maupun luar lingkungannya, yakni sesama manusia.[1] Tasawuf  hadir dalam bingkai yang berbeda, namun esensinya sama yaitu sebagai dimensi spiritual Islam dan dapat mengkaji permasalahan-permasalahan hidup di zaman sekarang ini, terlebih pada manusia modern yang memiliki persoalan-persoalan yang pelik, sehingga tasawuf dalam hal ini memberi ruang terbuka untuk dijadikan suatu solusi dalam menyelesaikan persoalan. Oleh karena itu tasawuf  juga mengajarkan sikap humanistik sehingga ia memiliki dimensi sosial-kemanusian, bukan anti sosial seperti anggapan yang  selama ini beredar.

Humanisme sendiri adalah suatu paham yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia, sehingga manusia menempati posisi yang sangat sentral dan penting, baik dalam perenungan teoritis-filsafat maupun dalam praktis kehidupan sehar-hari. Istilah Humanisme sendiri berasal dari kata Latin humanitas (pendidikan manusia) dan dalam bahasa Yunani disebut paidia.[2]

Adapun Islam sendiri sejatinya adalah agama kemanusian, dan tanda keaslian suatu agama adalah bahwa agama tersebut membela manusia, sehingga manusia adalah agama manusia. Islam mampu bekerja dan bergerak secara serasi dengan fitrah manusia, dan Islam juga sebagai agama kemanusian harus dapat mampu menjadi pedoman hidup dan membimbing serta mengarahkan manusia agar tetap berada pada martabat kemanusiannya yang mulia nan agung.[3]

Fitrah dari seorang manusia itu adalah memiliki sifat dasar kesucian , yang kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada semuanya. Adapun sifat dasar kesucian tersebut disebut hanifiyah, karena manusia adalah makhluk yang hanif.

Sehingga Hanifiyah berarti sikap alamiah manusia yang cenderung memihak kepada yang benar dan baik, yakni sebagai kelanjutan dari fitrahnya yang suci dan bersih.[4] Dan kemudian pusat dari dorongan hanifiyah itu terdapat di dalam diri manusia yang terdalam dan termurni, yag disebut hati (nurani) artinya memiliki sifat nur  atau cahaya (luminous).[5]

 Menilik pada kaum sufi, mereka juga merupakan salah satu kelompok Muslim yang amat mencintai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan, tanpa memandang suku, budaya, golongan, ras bahkan agama. Dalam hal pengabdian kemanusian kaum sufi dengan setia meniru perilaku dan keteladanan Nabi Muhammad Saw yang amat humanis.

Serta pesan-pesan moral spiritual al-Qur’an yang serat akan kasih sayang, dan perasaan penuh simpati terhadap manusia dan makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya. Karena kasih dan sayang kepada manusia berarti pula bukti cinta dan pengabdiannya kepada Sang Kekasih.[6]

Bentuk hubungan lain yang juga amat penting untuk diperhatikan adalah hubungan antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Tuhan, dalam hal ini Islam sendiri sangat menekankan bahwa kasih sayang, kemurahan dan kebaikan harus diulurkan kepada hewan dan tumbuhan seperti halnya kepada manusia.

Masyarakat Islam terdahulu telah banyak memberikan contoh perbuatan kasih dan sayang terhadap makhluk hidup selain manusia , namun sudah barang tentu memberikan kasih sayang kepada sesama manusia adalah yang utama.[7] Telah diketahui bahwa tujuan Islam sejak awal adalah melatih setiap individu agar peka dan sadar akan Kasih Sayang dan Rahmat Tuhan, menyadarkan kehidupan spiritual mereka pada sifat-sifat Tuhan tersebut , dan merefleksikan kualitas Tuhan tersebut dalam bentuk kemanusiaan mereka, serta mereka dapat membina hubungan mereka dengan semua makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.[8]

Konsep yang di tawarkan kaum sufi , yang bernuansa humanis adalah doktrin mengenai wahdat al-Adyan atau kesatuan agama-agama. Doktrin wahdat al-Adyan ini adalah suatu usaha yang kreativ dari para sufi yang terkenal yaitu seperti al-Hallajj yang hendak ingin membawa umat manusia pada pentingnya memahami persamaan dan kesatuan agama-agama secara regional.

Sehingga dalam hal ini konsep wahdat al-Adyan  secara sosiologis akan berdampak pada kehidupan keagamaan yang harmonis serta penuh toleransi dan cinta kasih antar umat beragama.[9] Ajaran wahdat al-Adyan  ini merupakan untaian-untaian ajaran dari al-Hallaj yang lain, yakni teori hulul dan Nur Muhamaad.

Agama yang dibawa oleh para nabi pada prinsipnya adalah sama, yang dalam keyakinan al-Hallaj semua nabi merupakan “emanasi wujud” , sebagaimana yang terumus dalam konsep hululnya. Oleh karena itu pada dasarnya agama-agama berasal dari dan akan kembali kepada pokok yang Satu, karena memancar dari Cahaya yang Satu.

Sehingga baginya perbedan-perbedaan yang ada di dalam agama-agama adalah hanya bentuknya saja dan nama, akan tetapi esensi atau hakikatnya itu sama yakni mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Al-Hallaj mengatakan bahwa “kufur (ingkar Tuhan) dan iman itu hanya berbeda dari segi namanya, bukan dari segi hakikatnya. Karena, antara keduanya tidak ada perbedaan.” Kemudian al-Hallaj juga menyalahkan orang yang menyalahkan agama orang lain.[10]

Pandangan al-Hallaj sangat jelas dan tegas , yaitu pada dasarnya agama yang dipeluk oleh seseorang merupakan hasil pilihan dan kehendak Tuhan, bukan sepenuhnya pilihan manusia itu sendiri. pandangan al-Hallaj ini senada dengan seorang Teolog John Hick yang berpendapat bahwa 99% keyakinan beragama tergantung pada tempat orang tersebut lahir. Pandangan al-Hallaj yang dikemukkan oleh Abdullah Ibn Thahir al-azda terukir dalam bentuk syair, yaitu :

“Aku memikirkan agama-agama dengan sungguh-sungguh,

Kemudian sampailah pada kesimpulan

Bahwa ia mempunyai banyak cabang.

Maka jangan sekali-kali mengajak seseorang kepada suatu agama,

Karena sesungguhnya itu akan menghalangi

Untuk sampai pada tujuan yang kokoh

Tetapi, ajaklah melihat asal/sumber segala kemulian dari makna,

Maka dia akan memahaminya”.[11]

Pandangan ini yang diajarkan al-Hallaj mengenai konsep wahdat al-Adyan memandang bahwa sumber agama adalah satu, yakni Tuhan yang sama, sehingga wujud agama hanya bungkus lahiriyah saja. Doktrin wahdat al-Adyan  ini dilandaskan pada pandangannya tentang tauhid, konsep Tuhan yang satu harus dipahami secara unik karena Tuhan adalah kesatuan yang mutlak dari keseluruhan.

Sehingga jika konsep wahdat al-Adyan ini diyakini dan menghayat dalam sanubari para pengikutnya maka akan melahirkan sikap-sikap yang humanis dalam beragama, terutama dalam konteks interaksi teologis dan sosial dengan para penganut agama lain yang berbeda-beda. Pandangan dan sikap-sikap keberagaman yang penuh empati terhadap orang lain, tulus, toleran, hingga melahirkan kehidupan yang harmonis.[12]

Marilah kita hayati perbedaan dengan penuh kecintaan dan kasih sayang karena dengan sikap toleran akan memberikan kedamaian bukan hanya untuk manusia lainnya terlebih pribadi kita sendiri. salam perdamaian!

[1] Amin Syakur, Zuhud di Abad Modern, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, Cet II, 2000), hal 174

[2] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, Cet 5, 2009), hal 39-41

[3] Media Zainul Bahri, Tasawuf Mendamaikan Dunia, (Jakarta:Erlangga, 2010), hal  2

[4] Ibid, hal 3

[5] Ibid

[6] Ibid, hal 6

[7] Ibid, hal 9

[8] Ibid,

[9] Ibid, hal 31

[10] Ibid, hal 33

[11] Ibid, hal 35

[12] Ibid, hal 44