Bagi seorang perempuan, mempelajari hukum haid (menstruasi) adalah fardu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap individu perempuan, karena haid berhubungan dengan ibadah. Jika tidak tahu seluk beluk tentang haid, maka bisa jadi seorang perempuan akan mengalami keadaan di mana ibadahnya tidak sah, meskipun dia beribadah dengan syarat rukun yang benar, karena dia melakukan mani’ (penghalang sahnya ibadah)yaitu sedang haid.

Cara Mudah Belajar Haid

Agar mudah mempelajari haid, dari a sampai z, maka perempuan haid dibagi dua, yaitu:

Pertama, perempuan yang mengeluarkan darah tidak lebih dari 15 hari. Bisa jadi, dia mengeluarkan darah tidak sampai satu hari, atau hanya satu hari, atau dua hari, tiga hari, empat hari, dan seterusnya hingga lima belas hari. Setelah itu, darahnya berhenti. Saya menyebutnya, ini masalah Haid Biasa.

Kedua, perempuan yang mengeluarkan darah lebih dari 15 hari. Bisa jadi, dia mengeluarkan darah 15 hari, lalu hingga lewat sampai 16 hari, 17 hari, atau hingga bisa jadi berbulan-bulan, atau bahkan menahun. Saya menyebutnya, ini masalah Haid-Istihadhah.

Haid Biasa

Perempuan yang mengeluarkan darah dari vaginanya, tidak lebih dari 15 hari, darahnya bisa disebut darah haid, jika memenuhi Tiga Syarat Haid Biasa, yaitu:

Pertama, darah yang keluar tidak kurang dari 24 jam. Jika ada perempuan yang mengeluarkan darah 24 jam saja, lalu darahnya berhenti, maka itu sudah cukup untuk disebut darah haid. Konsekuensinya, pada saat darah keluar, dia tidak boleh beribadah, atau ibadahnya batal dan tidak sah. Jika bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka puasanya wajib di-qadha (diganti).

Jika dia mengeluarkan darah selama berhari-hari, selama tidak melebihi 15, dan darah yang keluar terputus-putus, kadang keluar dan kadang tidak, lalu setelah dijumlah, total durasi darah yang keluar sampai 24 jam atau lebih, maka darah itu adalah darah haid.

Jika darah yang keluar tidak sampai 24 jam, bisa jadi 23 jam atau kurang, maka semua darah itu bukan haid, tetapi disebut darah istihadah, hukumnya seperti kencing, membatalkan wudu’, dan hubungannya dengan ibadah masih normal: wajib solat, puasa, dan ibadah lainnya.

Kedua, darah yang keluar tidak lebih dari 15 hari. Jika ada perempuan yang mengeluarkan darah selama 7 hari, atau berapa hari pun, asalkan tidak melebihi 15 hari, maka darah itu adalah haid, asalkan durasi darahnya tidak kurang dari 24 jam.

Jika dia mengeluarkan darah selama 15 hari, lalu lewat hingga 16 hari atau lebih, maka akan kita bahas pada masalah Haid-Istihadah.

Ketiga, minimal suci di antara dua haid adalah 15 hari. Jika ada perempuan yang mengeluarkan darah, misalnya, 7 hari, lalu darah berhenti selama 15 hari atau lebih, lalu keluar darah lagi selama 7 hari, maka 7 hari yang pertama itu adalah darah haid dan 7 hari yang kemudian itu juga darah haid, tetapi darah haid yang berbeda, maksudnya 7 hari haid yang kedua itu tidak mengikuti 7 hari haid yang pertama. Saya menyebut, ini Suci Normal. Perhatikan, karena nanti akan ada suci yang berbeda dengan Suci Normal.

Suci Tidak Sampai 15 Hari

Jika suci di antara dua darah yang keluar tidak sampai 15 hari, maka agar mudah memahami, dibagi menjadi dua, yaitu:

Pertama, jika darah yang kedua berada di dalam 15 hari, dihitung dari hari pertama keluar darah, maka darah yang kedua mengikuti hukum darah yang pertama. Misalnya, ada seorang perempuan mengeluarkan darah selama dua hari (hari ke-1 dan hari ke-2), lalu darahnya berhenti selama 3 hari (hari ke-3, ke-4, dan ke-5), lalu darah keluar lagi selama 3 hari (hari ke-6, ke-7, dan ke-8), maka karena darah yang kedua masih di dalam 15 hari (tepatnya masih hari ke-8), darah yang kedua mengikuti hukum darah yang pertama.

Karena mengikuti darah yang pertama, maka jika darah yang pertama adalah darah haid, maka darah yang kedua adalah darah haid. Lalu, suci di antara dua darah itu memiliki status haid, bukan suci, meskipun tidak mengeluarkan darah. Saya menyebutnya, ini Suci Haid. Perhatikan, ini berbeda dengan Suci Normal. Perbedaannya akan diulas di belakang.

Kedua, jika darah yang kedua berada di luar 15 hari, dihitung dari hari pertama keluar darah, maka durasi suci harus diteruskan hingga 15 hari. Misalnya, ada seorang perempuan mengeluarkan darah selama 10 hari (hari ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, hingga ke-10), lalu darahnya berhenti selama 7 hari (hari ke-11, ke-12, dan ke-17), lalu darah keluar lagi selama 10 hari (hari ke-18, ke-19, dan ke-27), maka durasi suci harus diteruskan hingga 15 hari.

Jadi, suci hari ke-11, ke-12, hingga ke-17 (selama 7 hari), diteruskan hingga menjadi 15 hari. 15 – 7 = 8, yang artinya 7 + 8 = 15. Maka, hari ke-18 sampai ke-25 (selama delapan hari) dihitung hari suci, meskipun keluar darah. Artinya, darah yang keluar dari hari ke-18 sampai ke-25, bukan haid, tetapi berstatus sama dengan kencing, yang berarti ibadahnya tidak haram dan tetap sah. Saya menyebutnya, ini Suci Istihadah.

Lalu, hari ke-26 hingga hari ke-27, bisa jadi adalah darah haid, jika memenuhi 3 syarat Haid Biasa.

Perbedaan Suci Normal Dan Suci Haid

Perbedaan Suci Normal dan Suci Haid ada tiga, yaitu:

Pertama, pada Suci Normal, suci yang memisah antara darah yang pertama dan kedua, memiliki status hukum suci. Artinya, dia wajib beribadah dan ibadahnya sah. Sedangkan pada Suci Haid, suci yang memisah antara darah yang pertama dan kedua, memiliki status hukum haid, menurut qaul mu’tamad. Artinya, pada saat dia tidak mengeluarkan darah, maka puasa Ramadhan yang dia kerjakan harus di-qadha’, karena puasanya tidak sah.

Kedua, pada Suci Normal, darah yang kedua, memiliki hukum berbeda dengan darah yang pertama. Jika darah yang pertama haid, maka darah yang kedua bisa jadi bukan haid, karena tidak memenuhi Tiga Syarat Haid Biasa, misalnya. Bisa jadi juga, darah yang kedua adalah darah haid, ketika memenuhi Tiga Syarat Haid Biasa. Sedangkan pada Suci Haid, darah yang kedua mengikuti status hukum darah yang pertama.

Ketiga, Suci Normal terjadi setelah suci 15 hari atau lebih, sedangkan Suci Haid terjadi sebelum suci 15 hari.

Perbedaan dan Persamaan Suci Normal, Suci Haid, dan Suci Istihadah

Perbedaannya, Suci Normal dan Suci Haid harus tidak mengeluarkan darah, sedangkan Suci Istihadah harus mengeluarkan darah.

Persasamaan Suci Haid dan Suci Istihadah, sama-sama memiliki kondisi yang terbalik. Suci Haid, tidak mengeluarkan darah, tetapi haram beribadah, sedangkan Suci Istihadah, mengeluarkan darah, tetapi harus tetap beribadah.

Persamaan Suci Normal dan Suci Istihadah, sama-sama harus beribadah dan ibadahnya sah.

Jadi, Suci Normal adalah keadaan suci yang normal, yaitu ketika sedang tidak mengeluarkan darah, tidak sedang haid. Atau, suci 15 hari atau lebih di antara dua haid yang berbeda.

Suci Haid adalah keadaan suci, tetapi berstatus haid, karena sucinya terjadi tidak sampai 15 hari, dan masih di dalam 15 hari, dihitung dari awal keluar darah.

Suci Istihadhah adalah keadaan mengeluarkan darah, tetapi berstatus suci, karena darah yang keluar terjadi pada waktu tidak boleh disebut darah haid.

Haid Istihadah

Yang perlu diperhatikan, ada perbedaan penting antara Haid Biasa dan Haid Istihadah. Pada Haid Biasa, warna darah dan bau darah tidak berpengaruh. Artinya, selama memenuhi Tiga Syarat Haid Biasa, maka darah itu berstatus darah haid. Jika tidak memenuhi, maka bukan darah haid.

Tetapi, pada Haid Istihadah, warna darah dan bau darah memiliki pengaruh yang sangat penting dan menentukan status darah yang keluar.

 Pembahasan Haid Istihadah akan dibahas pada bagian kedua dari tulisan ini, karena akan memakan pembahasan yang agak panjang.