Sejauh yang saya “Tilik”. Tidak ada hubungan yang diujung pintu “penderitaan” berjalan mulus, dan lurus sampai ke puncak “kebahagian”.

Walau mestinya, itu tanpa harus melewati kegetiran, kekisruhan dan keselisihan, pandangan, pendapat dan keyakinan yang berbeda.

Dan sejauh yang saya lihat pula. Tidak ada hubungan yang se–ikonik, se–eksntrik dan se–selisih pandangan Romeo, dan Juliet. Walau kisah itu akan berakhir dengan “frontal” dan tragedi yang sungguh mengenaskan.

Artinya, dalam hidup kita. Itu perlu kita siasati bersama; bahwa “ hubungan, cinta, dan perasaan. Tidak ada seseorang yang satu pemahaman dan satu pemikiran. Melainkan mereka berbeda. Apalagi menurut pilihan, kehendak, keyakinan, dan keputusan mereka masing-masing. Dan tentu itu tidak akan ada yang sama. Tetapi itu semua, tergantung pada keingintahuan dan kepercayaan diri mereka masing-masing.

"Hanya ada dua tipe manusia di dunia ini. Mereka yang ingin tahu, dan mereka yang ingin percaya." -Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Dalam kutipan di atas, kita lebih getir dan "sedikit paham" menyelami alur, dan dasar pemikiran Nietzsche yang bebas. Bila ditilik lebih jauh, dan radikal, sejatinya, itu akan melawan “Oposisi Biner Modernitas“. Dalam hal, Jika tidak satu, sudah pasti nol (nihil). Jika saya baik, maka diluar saya jahat. Jika “saya benar”, maka yang lain “pasti salah”.

Dan pekiknya lagi, hal ini akan menjadi kekacauan, dan perselisihan dalam keyakinan, pernikahan dan perbedaan agama. Sebab hukum agama tanpa makna logika. Itu di identik dengan tubuh tanpa akal,—atau jiwa tanpa fisik kerohanian. Dan begitu pula dengan “keyakinan, dan hukum logika”.

Tetapi, yang menjadi 'Pagoda' bagi kita; boleh atau tidak, pernikahan beda keyakinan,—atau agama itu “sah-sah saja, dilakukan”?

Kita lihat, dalam soal “Kebebasan Dan Kemurnian Pikiran”. Semasih itu tidak merugikan kepentingan orang lain. Maka semasih itu pula boleh dilakukan. Lagi pula pernikahan beda agama. Itu hanya konstruksi hukum. Dan boleh-boleh saja, perempuan —atau lelaki menikahi, atau merayakannya. Asalkan mereka cinta sama cinta. Dan tidak merugikan kepentingan orang banyak.

Sebenarnya sah atau tidaknya pernikahan seseorang bukan atas kehendak agama yang berlaku. Tetapi atas keputusan dan kehendak pribadi. Sebab, dalam soal hati. Tidak ada agama, dan hukum yang memenjarakan perasaan, dan mengunci pikiran seseorang, yang ada dalam agama.

Justru mereka diberikan “hidup bebas, liar dan guyur kemana-mana”. Asalkan mereka paham kemerdekaan akal, hukum logika, dan agama itu terletak pada kesejukan pikiran dan kedamaian perasaan.

Jadi mustahil donk! konsep dan dalil agama mengutuk keras kemerdekaan, dan kebebasan seseorang.

Sekali lagi, agama itu berada pada konstruksi, dan konsesus hukum yang “mengikat. Bukan pada hukum yang “bebas”. Artinya itu boleh dilakukan, dan boleh tidak. Tetapi tergantung pada kebijakan perasaan dan keadilan pikiran.

Misalnya, dalam surat (Al-bakarah ayat: 221) juga itu disebutkan;

Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik, dengan wanita-wanita mukmin. Sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka.

Sebelum kita menafsirkan ayat itu lebih apik. Mungkin ada yang membantah dulu! Perihal “menikah beda agama”. Itu sah atau tidak, haram, —atau halal?

Kalau menurut saya,—berdasarkan ayat diatas. Sah-sah saja, sebab ini wilayah konsesus akidah. Bukan hukum logika. Di wilayah keyakinan, perempuan,—atau laki-laki tidak boleh melanggar hukum Tuhan. Tetapi di dalam hukum pikiran (Logika, ad Infinitum), perempuan, —atau laki-laki “bebas aja” melakukan. Asalkan mereka. Nan suka sama suka. Tidak ada yang dipermasalahkan.

Selagi hukum itu berlaku pada keadilan perasaan, dan kesetaraan pikiran. Maka tidak ada yang menuai perselisihan. Sebab ini hanya konsesus, dan hukum yang berlaku. Jadi sah atau tidaknya keputusan seseorang bukan tergantung pada dalil akidah. Tetapi hukum pikiran.

Artinya itu boleh-boleh saja, dilakukan. Itu juga sangat menyenangkan sekali! Sebab hukum logika dengan dalil akidah adalah satu-kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Antara agama dengan logika. Itu di identik,—jiwa, ruh dengan tubuh fisiknya. Jadi, sangat ajaib-bin ajaib, kalau kita memisahkannya. Karena keduanya itu adalah hukum yang satu.

Tetapi, apakah bisa hukum logika dan hukum agama,—atau akidah itu berpisah?

Ku katakan sangat bisa! Sebab dari sudut pandang agama saja. Itu bisa ditabukan. Asalkan mereka bisa mempertahankan secara akidah.

Lalu kemudian, kenapa kita menolak keras pernikahan beda agama itu boleh dirayakan?

Karena kita terperangkap atau terjebak pada kebebasan hati dan kemerdekaan pikiran. Padahal. Dalam agama, sudah jelas mengutuk keras pada pemenjaraan perasaan, hati dan logika. Jadi berikan aja mereka bebas. Kalaupun mereka suka-sama suka, dan cinta sama cinta.

Toh itu juga akan kembali pada kadar dan kententuan hukum Tuhan masing-masing. Bagi dia agama dia. Dan bagi kamu adalah agama kamu. Biarkan aja mereka bebas. Menurut akidah dan konsesus agamanya masing-masing.

Lalu kemudian, apa yang seharusnya kita permasalahkan?

Tidak ada yang bermasalah! Sah-sah saja menikah beda agama. Sebab, semasih agama tidak bertikai pada soal hukum, dan konsesus yang mengikat. Maka semasih itu pula kebebasan perasaan mengesahkannya.

Karena hukum logika dan agama itu adalah jalan mutlak untuk mencampai puncak kebebasan, dan kebenaran. “Agama tanpa logika. Itu mustahil akal akan bekerja. Tetapi pengetahuan tanpa agama. Itu sangat ajaib logika,—akal bertindak”.

Sebab satu-satunya yang bisa, membebaskan dan menaklukan segala hukum yang terikat adalah “senjata pikiran”. Bukan “senjata akidah”.

Jadi, bila pasalnya, perempuan, —menikah. Itu dikarenakan faktor perbedaan keyakinan. Maka senjata akidah memenjarakan hati dan perasaan. Padahal sudah berualang kali, saya katakan bahwa “soal menikah itu berada diwilayah muamalah.

Bukan diwilayah akidah”. Sebab akidah itu berhubungan langsung dengan qudrat Tuhan. Berbeda dengan muamalah. Itu lebih dekat dengan manusia (Humanis–Proletariat).