Pagi yang belum dewasa mampir lagi di ufuk yang paling purba. Di sana matahari seolah cemburu dengan embun yang belum selesai mencumbu bumi. Hasilnya ialah tunas kehidupan yang paling belia. Embun menjadi ayah yang paling tak bertanggung jawab. Namun kisah mereka tak ada gunanya  jika tanpa matahari. Embun hanya membuahi sedang matahari yang memelihara. Sungguh ironis tapi itulah dunia.

Drama pagi ini seolah mengingatkan aku pada kisah asmara yang terjadi beberapa tahun lalu. Di atas dunia sebagai pentas yang paling sempurna  serta cinta dan nafsu menjadi sutradara yang selalu kompak bersama.

***

Sebuah video singkat yang  kuseludupkan dari Youtube sukses membuatmu menangis. Aku tak tahu dengan cara apa aku harus mengatakannya. Mungkin dengan sepenggal video itu yang menjadi mediator buat mengakhiri puisi asmara itu. Ya, puisi yang telah sekian lama kita tulis bersama. Kau menangis karena belum sanggup mengakhiri puisi itu. Tapi percuma saja karena itu tak dapat mengubah keputusanku.

Sejak awal puisi itu ditulis, ia memang sudah hambar dengan diksi yang paling membosankan. Aku benci puisi semacam itu dan akhirnya aku berhasil mengakhirinya terlebih dahulu. Kau menangis dan tenggelam dalam bualan kata yang pernah kita tulis bersama. Namun sejujurnya, puisi itu hanya sebatas manifestasi dari cinta dan nafsu pubertas kita berdua.

Kau mungkin telah menjudge diriku sebagai seorang pria brengsek yang lihai mencumbumu dengan kata. Seperti rokok yang membuat candu, kau pun kecanduan dengan bualan-bualan itu. 

Kau akhirnya terjerumus dalam jurang yang paling ditakuti dua pasangan yang pernah memilih untuk bersama. Sakit hati. Itu menyiksamu dan aku tak peduli. Seolah aktris film dewasa yang pura-pura bergairah, aku pun pura-pura bergairah dengan puisi menjijikan itu.

Setahun berlalu setelah puisi  itu selesai ditulis, kau terlihat tidak baik-baik saja. Kau masih kecanduan rayuan kata yang pernah kuseduh dalam secangkir harapan yang membuatmu tak ingin mengembalikan cangkir itu. 

Katamu aku terlalu brengsek untuk dilupakan oleh seorang pecandu kata dan asmara semacam dirimu. Aku hanya tertawa dan segera mengakhiri percakapan singkat dan membosankan semacam itu. Tambahan lagi, kalau alasannya karena kau memang membosankan.

Aku seolah menjadi sosok paling superior dalam puisi itu. Kau telah kubudaki dengan kata-kata menjijikan itu. Nadimu seolah tersambung dengan pintalan kata itu sehingga ketika aku pergi kau seolah mati. Mau dibilang brengsek, ya aku pria paling brengsek. Pria yang membuatmu kecanduan lalu pergi.

Kisah asmara itu memang berakhir secara tragis. Air mata menjadi isyarat yang tak sanggup menjadi kata. Kata untuk memaki atau sekedar penyesalan tak berguna. Semua berlalu begitu saja.

Dalam permenungan dan penyesalanmu, kau tumbuh menjadi wanita yang paling tangguh. Hal itulah tak pernah kupikirkan sebelumnya. Kau tak lagi kecanduan gombalan atau sekedar basa-basi seperti sediakala. Kau berubah dan jauh melampaui batas yang pernah kutemui dalam dirimu dahulu.

Aku yang dulu meyakini diri sebagai yang paling kuat kini harus malu dan bersimpuh dalam penyesalan yang paling mendalam. Semua kesombongan yang pernah ku deklarasikan kala membuatmu menangis kini tak berguna. Semua hanya sebatas kata yang akhirnya membisu karena telah habis masanya.

Aku seperti seekor gajah yang kalah dari segerombolan semut. Bukan karena fisik mereka yang kecil tetapi semangat yang membuat mereka akhirnya bangkit dan melawan. Jiwa feminismu tak membuat  dirimu kalah dan diperbudak tapi membuatmu bangkit dan melawan meski butuh proses yang panjang.

                 Di suatu malam paling sunyi kutemukan kau dalam puisi. Aku tak lagi menulis puisi dengan gombalan menjijikkan. Aku tak ingin membuatmu mabuk kata lagi. Kau bukan lagi wanita yang gila Puisiku. Puisiku kini ironis.

 Malam seolah menjadi harapan yang kupeluk kala sunyi menyapaku. Penyesalan itu sungguh terasa dekat sekali denganku. Ia membangunkanku dari tidur panjang dan pemujaan-pemujaan semu. Aku akhirnya sadar kalau kini aku tak lagi menjadi pelaku dalam drama itu. Akulah korban yang sebenarnya.

***

                 Hujan seolah datang terlambat membuhai kisah itu. Aku menjadi embun yang membuhai kisah itu lalu pergi tanpa permisi. Kau menjadi bumi yang harus menunggu embun itu kembali. Kau lupa kalau ada matahari yang selalu menemanimu di luar sana. Kadang aku cemburu dan menunggu matahari pergi agar dapat mampir lagi. Kesalahanku adalah tidak memahami kalau kau sedang salah paham soal itu.

               Embun itu kini telah menjadi hujan namun ia terlambat jatuh ke bumi. Semua hanya sekedar penyesalan yang mampir kala malam tiba lalu pergi ketika fajar kembali merekah.

***

               Setelah beberapa babak kisah itu berkeluyuran dalam kepalaku akhirnya aku tersadar lagi. Matahari semakin erat memeluk bumi dan aku masih dalam rumah tak tahu harus ke mana. Semua kisah itu hanya akan menjadi penyesalan jika aku terus-terusan memikirkanmu. Kau telah bahagia dengan pilihanmu.

               "Aku sudah memiliki momongan sekarang", katamu dalam percakapan terakhir kita entah sudah berapa lama waktu berlalu. Mungkin untuk bangkit dari penyesalan ini aku perlu bersenggama dengan waktu lebih lama lagi. Semua ini tentang cinta dan nafsu yang akhirnya berujung petaka dan penyesalan.