Ranting daun akasia yang hilang gemerisiknya,gerimis ini,menikam lambung senja dengan cuaca yang prematur berpinak, semakin larut,rintik terlanjur jadi puisi,tak lagi sengau angin menabuh dingin.

Sepasang serangga berkata pada remang cahaya merkuri diatas kedai kopi.

Gerimis dengan gema ganda terjebak dikedai kopi,pelayan tua mengisap kreteknya dalam-dalam,batang kesekian,membuat dadanya kian sesak.

Ia melirik ke arah orang-orang yang menikmati ruap diatas cangkir mereka.

Kuhampiri, kupesan kopi.

"Apa kau punya masa lalu.?" tanyaku.

"Kau ingat ini sudah gerimis kemalam berapa.?, Lihat saja, bukankah rintiknya telah banyak menjelaskan betapa ia telah menciptakan genangan diluar pintu.?".

Aku hanya diam menatap kepulan asap rokok yang menggasing diatas kepalanya Kupungut senja melankoli yang ditabuh gerimis tanpa henti,kecipak anak-anak katak melompat diatas genangan yang diciptakan gerimis dibahu jalan.

Kuamati gerak-geriknya seolah tengah menimpali sepasang serangga yang tengah bercerita dibawah lampu merkuri.

Hujan masih turun di bulan kedua tahun ini,
selaksa kangen berbaur dengan rintiknya,
menggalir dan menggenang penuhi ruang-ruang sepi.

Seiring sapa yang kau rupa,
bentang jarak perlahan terkoyak,
terus mendekat tanpa sekat,
rinduku semakin rekat,
rasaku kian lekat.

Dan pada binar matamu,
kuingin benamkan kisah terkasih
kemudian tenggelam bersamanya,
lalu menghabisi elegi dengan senyum serupa pelangi.

Wahai sang damba,
coba kau tengok lembar kertasku,
kamulah aksara dalam tulisanku,
kata diantara kalimatku,
dan makna dalam setiap puisiku.

Sesekali, singgahlah kesini,
menikmati senja dan apa yang bisa kau tatap,
siapa tau kau bisa menetap,
sebagai pemungkas harap.

Selebat apakah hujan semalam..hingga tersisa mendung d pagi harinya..seberapa hebatkah kesedihan menikam..hingga rasa berkabung masih menggelayutinya

Hujan menyisakan genangan
Kesedihan meningglkn kenangan
Pagi ini semuanya kelabu sesak
Rasa ditingglakn enggan berlalu

Gerimis dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang untuk melupakan,biarkan waktu yang singkat ini menjadi analgesik untuk sebuah rindu yang ia tunggu.

Hujan deras yang turun malam ini membasahi seluruh tubuh, bersama derasnya derai air mata dipipi. Tak kusangka hubungan kami selama bertahun-tahun hanya meninggalkan nestapa. Entah sudah berapa jauh kuberjalan, dan bermandikan hujan, semua itu tak terhiraukan lagi, begitu banyak luka dan perih, teringat kejadian yang kusaksikan tadi. Dia orang yang teramat kucintai, dia juga yang menorehkan luka hati.

Linda, itulah namaku, sebuah nama yang cukup umum. Sial, nampaknya deras hujan dan dingin malam ini tak mampu menghangatkan tubuh yang basah kuyup ini, tak terasa akupun berhenti disebuah jembatan tua, yang konon kata masyarakat, tempat itu angker.

Namun perasaan hati yang terkoyak, tidak membuatku takut berada ditempat itu. Sempat terbesit untuk meloncat dan mengakhiri saja hidup ini, akan tetapi bayangan wajah papa dan mama menguatkan hatiku yang tengah terluka. Tiba-tiba ada sebuah cahaya menyoroti tajam ke arahku, semakin dekat dan semakin jelas sebuah minibus dengan kecepatan tinggi melaju ke arahku.

Ciiiitttt, mobil  itupun berhenti tepat di depanku, supirnya keluar dan menghampiri.

"Maaf, maaf mba tiba-tiba mobil saya oleng! Mas tidak kenapa-kenapa kan?"  Tanya supir itu.

"Iya pak, gak apa-apa!" jawabku dan berlalu pergi, karena disitu sudah banyak orang berkerumun, dan kulihat Thomas, lelaki brengsek yang telah menorehkan luka di hatiku.

Bergegas kutinggalkan tempat itu dengan keadaan basah kuyup, dan pulang ke rumahku. Aku tidak ingin pulang dalam keadaan seperti ini, takut melukai perasaan orangtuaku. Setelah membersihkan diri, kubaringkan tubuh ini diatas kasur empuk, dan berharap semua luka ini menghilang esok hari, atau hanya mimpi semata.

Matahari bersinar memasuki celah-celah jendela, kuambil gawai diatas meja, "pukul sebelas" gumamku. Akhirnya akupun bergegas membersihkan diri dan berniat pulang kerumah  orangtuaku, karena tidak ingin membuat mama khawatir karena tak menjawab pesannya dan akupun lupa memberi kabar, karena tubuh yang sudah terlalu lelah, ditambah patah hati.

Taksi Grab pesananku sudah datang, dan bergegas aku menaikinya dan menyebutkan alamat rumah. Tapi sungguh amat menyebalkan, supir tersebut hanya membisu saja, bahkan menolehpun tidak.

Ketika didalam perjalanan, tiba-tiba si supir memberhentikan mobilnya ditengah jalan, yang lumayan agak sepi, dengan cekatan aku turun dan berteriak, takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, akupun terus berlari, bersyukur sekali si supir tidak mengejar dan mengucapkan apapun, dari kejauhan dia hanya melihat aku yang semakin lama menjauh dan menghilang dari tempat tersebut.

Kulihat sekeliling, nampaknya ini sudah dekat dengan area perumahan, akhirnya kuputuskan untuk berjalan kaki menuju rumah. Dalam perjalanan, diriku bertemu Pak Rt dan warga sekitar, kusapa mereka dengan ramah, namun nampaknya mereka tidak mendengar sapaanku, sepertinya mereka sedang sibuk menyiapkan sesuatu.

Secepat mungkin kulangkahkan kaki, ingin sekali cepat sampai dirumah, bercerita dengan mama tentang laraku. Setelah tiba di depan rumah kulihat ada tenda dan bendera kuning, tubuh ini menjadi lemas, karena takut terjadi sesuatu kepada mama, ketika akan masuk kuberpapasan dengan Thomas, rasanya ingin sekali kumemukul lelaki ini, bila tidak mengingat ada hal lain yang mendesak yang ingin kuketahui, alangkah terkejutnya aku, dia hanya lewat saja dan pura-pura tidak kenal, dan yang lebih parah lagi, dia membawa wanita yang kulihat semalam berjalan dengannya dipusat perbelanjaan. Begitu cepatkah, kau melupakan aku Thomas, wanita yang hendak kau nikahi dua bulan lagi, belum usai laraku, kini kau tambah dengan luka, walaupun aku melihat dia menangis, namun nampaknya hanya air mata buaya.

Bergegas diriku memasuki rumah, namun langkah terhenti. Kulihat sesosok mayat terbujur kaku dan ditutup dengan kain jarik, disebelahnya mama dan papa menangis, "siapa yang mama dan papa tangisi, ini aku pulang, Mah!" tanyaku. Namun tidak ada satu jawaban pun yang terlontar dari mereka. Akhirnya kuputuskan untuk mendekat, dan membaca sebuah kertas yang berada ditubuh si mayit disana tertulis namaku.

Belum hilang rasa kagetku yang membuat lemas. Sayup-sayup kudengar pembicaraan tetangga yang bertaziah, "Kecelakaan tadi malam, ditabrak minibus, sama minibusnya jatuh dari jembatan", otakku kembali mengingat kejadian semalam, kini diriku bersatu bersama hujan.