November selalu menjadi hal yang unik dalam hidupku.

Ku kira, ia akan memberikan warna lain sebagai kesan-kesan terindahnya tahun ini.

Nyatanya, sebongkah hati malahan terpental lunglai dibuatnya.

Membuatnya merasa sakit tak terperikan yang belum pernah ku alami sebelumnya.


Kuamatu mengamati betapa labilnya cuaca di November.

Suatu waktu terik mencekam, lain waktu sekelebat hujan turun untuk menuntaskan kerinduannya terhadap bumi.

Membuatku menunggu akan sesosok yang kutunggu.

Aku bayangkan kalau ia akan datang dan menceritakan kerinduannya.

Mengucap janji untuk tak akan lagi pernah membuatku sepi.


Sayangnya, kehidupan tak selalu menampakkan kepastiannya.

Menyuruh semaunya sama seperti mengawini ilusi.

Kepastian di dunia ini adalah layaknya kalian menaburi permukaan laut supaya lebih indah.

Pada akhirnya kalian akan lelah dengan kekonyolan angan-angan itu sendiri.


Yang kutunggu-tunggu memang datang.

Tapi, bukan untuk memupuk rindu seperti kisah hujan dan buminya.

Melainkan ia membawa sebentuk palu yang menghantam kepalaku.

Dan sebilah pisau lalu menuliskannya tepat jantungku.

"Aku telah bertunangan" katanya.


Ya, aku rada memang begitu balasan yang pantas untukku yang tak tahu diri.

Seharusnya aku memang tak pernah bermimpi.

Semestinya pula aku tak harus meninggikan omong kosong untuk bercita-cita denganmu.

Terima kasih, November. Bahagiamu bukan milikku.


Surat Terakhir di Bulan November

Hai, Masa lalu. Izinkan malam ini aku menulis untuk sekali lagi.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa dirimu memang semu.

Aku yang salah, hingga membiarkan keindahan dan pesonamu berhasil mengusik kedamaian hidupku.

Aku benar-benar hancur saat pertama kali mendengar kenyataan sulit itu.

Tetapi itu hanya kemarin, karena sekarang, aku sudah lebih baik. Tak perlu khawatir.

Aku juga sedikit heran, kekuatan apa yang telah membuat aku tegar secepat ini.

Aku hanya bisa selalu mengucap syukurku akan kekuatan yang membantuku ini.


Dengarkan aku untuk sekali lagi.

Aku tidak pernah menyalahkan dengan kehadiranmu di dalam hidupku.

Aku sendiri lah yang lancang menciptakan ilusi-ilusi abstrak yang kurancang hingga telah berpadu ke dalam hatiku ini.

Cepat atau lambat, kamu akan memiliki kehidupan lain yang jauh berbeda, jauh lebih indah.


Kurasa kamu telah amat bijak untuk dinahkodai oleh seorang ulung yang amat mengenal baik akan arti hidup dan kehidupan. 

Aku harapkan hal itu padamu masa lalu.

Aku tak akan pernah mengutuk ataupun mencaci batas kesetianmu padaku.

Selalu dan selalu akan ku beri doa untukmu yang terbaik.


Tak usah kamu pikirkan aku, dan memang tak selayaknya aku ada di dalam pikiranmu. 


Berdamai denganmu merupakan suatu anugerah yang pernah aku rasakan selama hidupku.

Aku menginkan pula mengatakan sesuatu tuk terakhir kali

meski kamu tak penah ingin tahu apa-apa lagi dariku.

Aku akan terus melanjutkan kehidupan ini. 

Bahkan, motivasi kini berlipat ganda setelah kamu tinggal pergi, atau aku yang meninggalkanmu, atau tepatnya perpisahan kita. Entahlah, itu intinya.


Hal lainnya, selamanya aku tak akan pernah menjadi sekejam kamu.

Sedikitpun aku tak akan pernah menyisakan ruang kepedihan untuk orang lain.

Sebab, aku tahu dan amat memahami rasanya bagaimana rasa sakit dan kecewa itu.

Hidup ini terlalu singkat untuk larut dalam tangisan.

Ya singkat sekali. Seperti baru kemarin kita saling terbuai oleh waktu, dan kini kita telah saling ingin melupakan.


Terima kasih, masa lalu.

Tanpamu, mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama, untuk aku belajar hal penting ini.

Sekarang dan selamanya, hati dan pikiranku selalu akan berdamai denganmu.

Berbahagialah di sana.

Temanku, yaitu hujan, yang akan menghapus jejakmu. 


Bercita-Citalah Seperti Hujan

Hujan, tanpamu kami tak akan bisa hidup dan menghidupi.

Kamu lah salah satu dari penciptaan-Nya yang begitu memberi banyak manfaat.

Keikhlasanmu membuat kami selalu rindu untuk mengenangmu.

Saat kami berduka, kamu sanggup menghapus air mata dan menghibur

Saat kami bersuka cita, kamu selalu mampu membuat kami tak pernah melupakanmu


Sesungguhnya aku begitu ingin menjadi dirimu walau sehari.

Karena aku ingin merasakan betapa menawannya sosokmu.

Aku ingin mendengarkan setiap keluh kesah, kegundahan dari jiwa muda yang patah hati.

Aku juga ingin menyaksikan para dewasa sedang mengenang sesuatu dalam gembiranya suasana.

Pada tiap pesan yang kamu sampaikan selalu menjadi yang terindah untuk kudengar.

Dan bersamamu, aku terus ingin menitipkan harapan-harapan baruku.


Aku Ingin Sendiri Dulu

Sore ini kubersihkan setumpuk kenangan yang berserakan di pelataran.

Kusulut remah-remah rindu dengan api yang menjalar.

Kupastikan tak ada yang tersisa darinya.

Dan kutup pintu rumahku menjelang adzan.


Kulangitkan puja puji kepada Yang Maha Berkehendak.

Seusai melepaskan beban di punggungku.


Di kedinginan malam, hujan menaruh janji.

Bahwa ia bakal segera menemukan pelanginya.

Ia pun membisikkan sesuatu pada malam.

Bahwa esok singgah lagi.