Prakiraan cuaca belakangan ini sedikit sulit diprediksi. Ia berubah setiap saat, seenak hati, tanpa permisi. Beruntung kita hanya mengenal dua musim; Kemarau dan Hujan. Bisa rumit jadinya jika punya banyak. Dua saja sudah membuat pusing petugas BMKG. Tidak teratur.

Syukur, Desember kali ini menepati janjinya. Hujan datang tepat waktu. Seperti kebiasaan lamanya, ia akan berlanjut sampai akhir Januari nanti. Itu jika prediksinya tidak meleset lagi.

Kehadiran hujan selalu membawa banyak cerita. Ia seperti laku sebuah drama. Sebagian menantikan hadirnya dalam suka, ceria, juga bahagia. Sebagiannya lagi kadang menolak kehadirannya, waswas, gelisah, dalam duka dan nestapa.

Bagi masyarakat desa, hujan begitu dinantikan dengan penuh kerinduan. Sebab bulirnya membawa keberkahan. Rintiknya yang jatuh mencumbu bumi menumbuhkan segalanya. Memberi kehidupan bagi penghuni semesta. Ia adalah rahmat dari yang Esa.

Sedang bagi masyarakat kota, hujan bisa jadi petaka. Di tengah belantara hutan beton, hujan hadir membawa penanda, bahwa genangan air sebentar lagi akan merambati tembok-tembok kokoh, juga menutupi semua lapisan trotoar dan jalan. Banjir.

Secuil risiko dari aktivitas bangun-membangun tanpa pertimbangan lingkungan yang matang.

Hitungan matematis ekonomi pembangunan memang jarang masuk akal dalam logika ekologi. Pembangunan seperti dua sisi mata pisau. Kemakmuran yang ia janjikan bergandeng mesra dengan duka dan bencana. Banjir salah satunya.

Saat masyarakat desa menyambut hujan sebagai rahmat, penduduk kota malah kewalahan merapal doa agar hujan segera berhenti berjatuhan. Pertautan kontra-nilai yang patut direnungkan.

Seperti halnya masyarakat desa, hujan juga berhasil menghadirkan kerinduan bagi perantau seperti saya. Se-frekuensi, tapi tak serupa. Ini rindu yang berbeda. Rindu rumah, rindu kampung halaman. Seketika hujan menjelma wujud menjadi panggilan pulang.

Meminjam istilah Yudi Latif, makna rindu ini bukan semata kecengengan sentimental, tapi lebih kepada panggilan eksistensial.

Bagiku, kehadiran hujan membawa haru dan cerita tersendiri. Dulu di kampung halaman, saya bisa merasakan wangi tanah kemarau yang dicumbu hujan perdana (Petrikor). Begitu khas, menyengat, dan menusuk sanubari.

Hirupan pertamanya seakan membangkitkan kenangan lalu. Tentang romansa, interaksi yang hangat pada keluarga, kerabat terkasih, juga pada sahabat-sahabat jauh yang entah telah ke mana.

Sedang di tanah rantau kota, petrikor jauh dari angan. Tanah tak lagi berdaya melawan rambatan beton yang menjalar memenuhi sudut-sudut ruang kota. Tak ada spasi untuk jabat mesra hujan pada tanah kering. Ironi.

Saya merindukan wangi itu, wangi petrikor.

*

Hujan di Desember-Januari ini juga membawa cerita lain bagi saya, masih tentang masyarakat di kampung halaman.

Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian petani, hujan disambut dengan bahagia di sana. Momen menyambut hujan dimanfaatkan untuk menggarap ladang agar siap tanam. Maklum, taninya ladang tadah hujan.

Laksana perlombaan: para petani yang telah menyelesaikan garapannya, atau hujan perdana yang membasahi tanah ladang sebagai pemenang.

Hujan adalah penanda, bahwa sudah waktunya menghidupkan kembali ladang-ladang mati yang dibunuh kemarau panjang. Sudah waktunya benih bersatu lagi dengan tanah ladang.

Lebih dari itu, pada momen penghujan seperti ini pula sebuah tradisi bernilai digelar di sana. Masyarakat kami menyebutnya Tisaha, aktivitas menanam bersama secara serentak.

Hampir seluruh penduduk desa ikut berpartisipasi dalam Tisaha. Baik yang basic rutinitasnya memang seorang petani maupun yang bukan petani, ikut andil, larut dan menikmati tradisi ini. Laksana pesta rakyat, begitu semarak, meriah, ceriah, juga begitu hidup suasana kebatinan di sana.

Baca Juga: Aku dan Hujan

Jenis tanamannya adalah jagung putih. Jagung ladang. Sejenis itu saja. Jika sedikit rajin, konsep tanam tumpang sari jadi tambahan aktivitas. Singkong dan umbian lain jadi pilihan.

Tradisi Tisaha ini mengajarkan banyak hal pada kami. Tentang nilai, falsafah hidup, dan romansa; hubungan pencipta dan ciptaan, juga hubungan manusia dan alam semesta.

Tisaha dimulai dengan pagelaran ritual adat. Ciri khas masyarakat lokal tentunya. Masyarakat kami menyebutnya Kaghoghoniwi. Ritual menyajikan sesajen berisi benih tanaman dan beberapa jenis panganan khas masyarakat lokal.

Dipimpin oleh salah satu tetua, disaksikan oleh para petani. Ritual lokal ini menjadi penanda dimulainya tradisi Tisaha. Tak ada Tisaha tanpa ritual kaghoghoniwi terlebih dahulu.

Meski banyak anak kuliah zaman now menganggapnya syirik, tetapi bagi para petani, ritual ini dapat dimaknai sebagai toleransi lintas dimensi.

Tujuannya sederhana, sebagai ucapan terima kasih atas hadirnya hujan pada yang Esa. Juga sekaligus doa, agar tanaman tak terserang hama di kemudian hari. Falsafahnya menegaskan, bukan hanya saat akhir (panen), menanam (memulai) pun harus dilandasi dengan rasa syukur.

Para petani percaya, benih dan makanan dalam sesajen akan dinikmati oleh makhluk Tuhan lain penghuni hutan. Toleransi.

Para petani kemudian bersanding bahu menabur benih dalam kawasan luas sehari penuh. Laki-perempuan, tua-muda, bahkan pejabat juga rakyat, tak tersisa. Mereka setara juga sederajat, menanggalkan sekat diferensiasi juga stratifikasi sosial.

Tak ada protes sistem kerja di ritual Tisaha. Ibu atau perempuan memiliki peran yang sederajat dengan bapak atau laki-laki. Jauh paham soal feminisme, masyarakat kami mengerti betul bagaimana memperlakukan perempuan pada porsi yang tepat.

Sembari menabur benih, para petani menyelisih rasa lelah dengan nyanyian. Selayak berbalas pantun bersyair bahasa lokal. Lantunan syairnya begitu mendalam, memikat para pendengar, juga memicu balasan. Masyarakat kami menyebutnya Kabhati.

Jangan khawatir soal makna. Jauh dari satire yang memojokkan. Apalagi merusak cita tenggang rasa. Justru, tak jarang muda-mudi merajut kasih dalam bait-bait kabhanti yang dilantunkan. Juga tentu selalu berhasil mengusir rasa lelah.

Tisaha lalu diakhiri dengan santap bersama. Semua kembali berkumpul melepas penat dengan panganan khas masyarakat lokal. Dengan menu yang jauh dari kategori mewah itu, “kebersamaan” kembali menunjukkan wujudnya.

Kelezatan makanannya bukan lahir dari jenis panganannya. Rasa nikmatnya lahir dari nuansa dan suasananya.

Begitu bermakna tradisi ini. Tak ada Tisaha tanpa gotong royong, tenggang rasa, toleransi dan kebersamaan. Tisaha menjadi moment merajut kembali keakraban yang sempat retak oleh banyak hal.

Ia tidak hanya bermakna lakon semata. Ia tradisi yang sakral, juga penuh makna. Jalan mengurai persoalan dan meretas perbedaan bagi masyarakat sana.

Konflik horizontal yang tercipta dalam interaksi sosio-politik bangsa dengan mudah diselesaikan di sana. Hanya butuh satu musim tanam, satu tradisi. Cebong dan Kampret bahkan tak berumur panjang di sana. Mereka meregang nyawa dibunuh oleh keakraban dalam tradisi Tisaha.

**

Semoga nilai dan falsafah yang terkandung dalam Tisaha terus terpelihara dan tak lekang oleh waktu. Sebab di sana, dalam tradisi itu, akan tumbuh komunal yang beradab, toleran, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Benar apa yang dibilang oleh para tetua, sebaik-baik kembali adalah rumah (kampung halaman). Setelah jauh berkelana, kita tersadar, bahwa kampung halaman mengajarkan banyak hal, bekal mengarungi kehidupan. Membangun hubungan pada sesama, juga membangun bangsa dan negara.

Semoga penghujan ini kembali membawa berkah, segaris dengan asa dan resolusi tahun yang baru. Juga memberi jeda pada peluang untuk pulang, sekadar bersua dengan orang-orang terkasih.

Desember-Januari, So Wuna, Sulawesi Tenggara.