“Kau tahu, bagaimana kabarnya Tito kini,” kata Jupri kepada Gadis, yang duduk tak jauh darinya--di sebuah palanta yang dipisahkan meja dengan palanta-nya.

“Nah, bukannya kau dan Tito sahabat karib sewaktu SMA. Sama sekali tidak tahu. Di fesbuk bagaimana?” kata Gadis, mimik mukanya memperlihatkan rasa perhatian terhadap lawan bicaranya.

“Itulah. Sudah aku cari-cari. Tidak kutemukan. Sudah kucari pula di fren Reza, tidak ada juga.”

“Ah, itulah,” Gadis nampak sedikit mendongak ke atap kedai, menghela napas. “Ia menghamili anak orang sewaktu kuliah di Medan. Tidak mau bertanggung jawab. Ia pilih berhenti kuliah dan pulang kampung. Baru Semester IV. Ada setengah tahun ia di kampung sebelum berangkat ke Pekanbaru. Ke tempat Mamak-nya, kakak laki-laki ibunya. Setelah itu ia tidak pernah pulang.”

Jupri menarik napas pelan. Ia seruput sedikit kopi di meja. Ada rasa ngilu mendengar kabar soal karib SMA-nya itu. Lantas, ia mengambil bungkus rokoknya di meja, mengeluarkannya sebatang, dan gegas memabakarnya.

“Kalau Nilam bagaimana? Kau kan sepupunya, pasti tahu.”

“Lagi-lagi kau tidak tahu Jupri. Nilam sudah bersuami dengan orang Palembang tapi aslinya Minang juga. Ia dan suaminya menetap di sana. Tapi terakhir kudengar, mau cerai. Suaminya terlalu dikuasai oleh keluarganya."

Jupri jadi mati gaya dengar kabar soal Nilam. Ia hanya bisa ketok-ketokan jari-jarinya yang tidak mengapit rokok.

"Kau ingin tahu juga kabar tentang Pisin?" kata Gadis lagi.

"Ya, Pisin. Selalu masuk sepuluh besar. Pernah satu travel denganku dari Padang ke Air Haji sewaktu aku masih kuliah."

"Dia jadi pecandu narkoba. Pengedar juga. Sedang dikejar-kejar polisi."

"Kabar buruk. Negatif," Jupri geleng-geleng kepala dan mengisap dalam rokoknya.

Masih siang. Dari kedai nampak lapangan sepakbola dengan latar bagan-bagan yang sedang berlabuh di muara sungai yang tenang. Nampak juga pondok-pondok tempat ikan-ikan masuk ke dalam fiber untuk kemudian dies. Ada pancang-pancang kayu tempat ikan dijemur dengan bambu-bambu yang sudah dibuat seperti tikar. Angin laut terasa berhembus semilir, sekali-kali mengencang. Sekali-kali pula menguarkan udara gerah khas muara. Terdengar suara sebuah sepeda motor meraung-raung di depan kedai tempat anak bagan main domino sebelah lapangan sepakbola.

Jupri memandang sejenak wajah Gadis. Ia lantas memalingkan muka ke barat, kepada pohon-pohon kelapa yang tumbuh menjulang, kepada pantai yang dijilati ombak nan bergulung. Ingatannya segera berpaling ke masa SMA dulu.

Siapa yang tak tahu dengan persahabatan Jupri, Tito, dan Nilam. Mereka dijuluki tiga serangkai oleh kawan kelas. Persahabatan mereka yang erat: kantinnya sama, pulangnya sama, dan masuk kelas juga kadang sama. Mereka sama-sama pernah juara. Mereka belum sekelas ketika kelas X. Kelas XI mereka bertiga mulai sekelas, sampai kelas XII.

Kelas XII, sebelum tamat, Tito menelikung di tengah jalan. Diam-diam dia jadian dengan Nilam yang siapa pun di sekolah tahu adalah pacar Jupri.

Lulus SMA Nilam pergi merantau ke Palembang. Tinggal bersama etek-nya (kakak perempuan ibunya) di sana, dan kuliah. Tito kuliah ke Medan, hidup sendiri dan indekos. Sedangkan Jupri melanjutkan pendidikannya di Kota Padang--sebelumnya ada niat bagi Jupri untuk melanjutkan kuliah di Yogya tapi urung karena orangtua yang tidak mengizinkan.

Bersamaan dengan itu, kisah cinta Tito dan Nilam pun berakhir.

Kini sudah delapan tahun “tiga serangkai” itu tidak bertemu, kumpul. Dan, Jupri begitu kangen kepada mereka.

"Salah kau sendiri dulu. Mengapa tahu Tito tidak lagi dengan Nilam, kau tidak balikan," kata Gadis.

"Hatiku masih sakit. Aku terluka sampai selesai kuliah. Nilam diambil kawan sendiri. Kawan yang menggunting dalam lipatan."

"Mungkin Tito waktu itu memberikan perhatian yang lebih pada Nilam. Sedangkan kau asyik dengan duniamu."

"Waktu itu aku serasa ditusuk dari depan dan belakang."

Sejenak mereka sama-sama diam.

                                ***

“Kau kan sarjana, Jupri. Mengapa tidak mencoba untuk memajukan kampung,” kata Gadis yang sekarang sudah ada di dalam kedai.

“Sarjana?” Jupri berkata pelan seolah kata-katanya itu hanya untuk dirinya sendiri. “Sekarang aku merasa bukan siapa-siapa. Aku seperti sudah tidak bisa apa-apa. Kau tahu sendiri kan, sehabis wisuda aku sempat di kampung jadi pengangguran. Sesudahnya setengah tahun aku luntang-lantung di Padang, berharap ada perusahaan yang menerima surat lamaran kerjaku. Balik ke kampung lagi. Lantas, aku pergi merantau ke Jakarta. Buka usaha di sana.”

"Terus, bagaimana usahamu di sana?” kata Gadis sambil berjalan dengan membawa teko dan gelas ke palanta. Tersenyum. Duduk lagi di sana. Sehingga ia dan Jupri beradu pandang.

Jupri tak menjawab. Di kepalanya, mengarah ingatan ke usaha percetakan fotonya di Jakarta yang gulung tikar. Pacarnya, orang satu-satunya yang menyemangati hidupnya, ikut lenyap bersama malam yang larut. Kepahitan-kepahitanlah, juga kegetiranlah, yang dirasakan Jupri saban hari di Jakarta--sebelum ia memutuskan pulang kampung.

                               ***

Sudah dua hari ia di kampung.

Gadis mengambil sebuah gelas, menuangkan air dari teko. Lantas minum. Dipandang oleh Jupri wajah perempuan itu. Baju kaosnya yang menonjolkan buah dadanya. Sudah lama ia menaruh hati kepadanya. Mungkin dari SMP. 

Wajahnya sungguh manis dengan senyum yang rekah. Kulitnya seperti sering dilulur. Wajahnya yang alami tanpa gincu. Waktu SMA ia pernah punya rencana nembaknya. Namun, rupanya Nilam lebih membuat hatinya tergila-gila tersebab penampilannya yang lebih modis--yang tak lain sepupu Gadis.

"Gadis kan sekarang cuma penunggu kedai. Pantaskah seorang sarjana menyatakan perasaan dan mengajak nikah seorang penunggu kedai," Jupri membatin.

Namun, ia nanti kan bisa menambah modal usaha Gadis. Atau mengganti kedai kopinya sekalian dengan kafe. Biar nampak modern. Sementara ia, akan coba mencari peruntungan lain.

Sejurus ia merasa beruntung, bisa bertemu dengan Gadis dalam suasana yang tak kaku. Ia pandang wajah Gadis. Ia tafsir mimiknya. Gerak tangannya.

Baca Juga: Hujan Cinta

Jika Nilam dan Tito--juga Pisin--, orang-orang yang begitu dekat di hatinya, mengalami liku hidup yang buruk, mungkinkah Gadis pernah atau sedang mengalaminya juga. Atau saat ini sedang berkutat dengan kondisi yang tak berpihak. Ia jadi risau sendiri, sejenak.

Ia hembuskan napas panjang. Ia seruput lagi kopinya.

Ingatannya segera melayang pada kejadian tiga tahun silam. Waktu itu ia pergi ke masjid, salat Ashar berjama'ah. Selesai salat, ia termangu di teras masjid memandang jalan. Dan Gadis menyapanya dari belakang dengan kelembutan yang bersahaja. Setelahnya Gadis duduk tak jauh di sebelahnya dengan masih mengenakan mukena. Menanyakannya, kapan berangkat ke Jawa. Terus, mengobrol hal remeh-temeh yang membuat mereka kadang sama-sama tertawa. Langit sedang begitu indahnya, dengan burung-burung merpati terbang berbaris. Ah, senyum itu. Masih seperti itu, malah tambah memukau.  

"Aku suka saat-saat seperti ini. Saat ada kawan SMA yang masih ingat, mau mengobrol. Akrab pula. Kau orang berada, tapi mau berurusan dengan orang susah. Kau tahu kan, orang kampung kita suka merantau. Kalau mereka pulang dari rantau, jarang mau mengobrol dengan orang sepertiku. Tapi kau tidak Jupri, kau berbeda," kata Gadis.

Lantas, angin terasa mengencang terus-menerus. Di langit tadi memang mendung berangsur-angsur menggelayut. Pelan-pelan hujan pun turun menyiram bumi. Segera nampak aspal nan hitam mengeluarkan asap tipis yang meliuk-liuk karena sedari pagi dipanggang matahari. Udara semula yang tak basah pelan-pelan jadi dingin. 

Jupri kemudian tersenyum di dalam hati, jadi berlipat-lipat keinginannya untuk bisa lebih lama lagi di kedai. Mengobrol dan menikmati wajah Gadis.

Ia panjar bungkus rokoknya di meja. Mengeluarkannya sebatang. Membakarnya, kembali merokok. Sedap nian rasanya ketika asap dihembuskan.

Pucuk-pucuk pohon kelapa tetap melambai-lambai tertiup angin. Meski angin sudah sedikit mereda.

“Lantas kapan rencana kau kembali ke Jakarta, Jupri,“ kata Gadis yang sudah memandang ke jalan, kepada hujan deras yang mengguyur jalan.

Atap seng kedai berdetak-detak teramat cepat, diguyur hujan. Angin dan ombak di laut terdengar seperti mengamuk.

“Mungkin tidak akan kembali lagi,” Jupri mengambil napas panjang, dan tatapannya tak juga lepas dari wajah Gadis.  

Seorang laki-laki dengan payung di tangan nampak sedang berdiri di seberang jalan, menunggu sebuah sepeda motor yang melintas. Kemudian, laki-laki itu menyeberang jalan. Menuju kedai. Nampak muka Gadis berubah senang, ceria.

Laki-laki itu berpenampilan sederhana dengan celana katun, dan sweter yang membungkus tubuhnya--ia pulang dari rumah seorang kawan. Ia nampak kedinginan. Tak lama, lelaki itu sudah tiba di teras kedai, berdiri tak jauh dari palanta tempat Jupri duduk.

“O.... Iya Jupri. Ini laki aku. Namanya Uda Gahar. Guru honor di SD,” kata Gadis sembari berjalan ke arah laki-laki yang diperkenalkannya.

Jupri memandang wajah laki-laki itu. Seketika senyumnya terkulum. Mukanya bergetar sedikit. Teramat malu. Teramat....

Berpusing di kepala Jupri, begitu cepatnya waktu berjalan. Serasa kemarin ia dan Gadis berpisah di masjid.

Semua berubah. Di kampung orang berbini dan beranak. Kehidupan terus berjalan.

Mimpi? Ia telah lelah bermimpi.

Ada yang terasa patah di hatinya. Ingin segera pulang ke rumah. Tapi hujan terlihat semakin deras. Udara semakin dingin.

Ia berjalan dari rumah ke kedai Gadis tadi. Kini, ia tidak punya jas hujan, atau payung.

Sekali-kali kilat di langit. Guntur menggelegar.