Al-Azhar Cairo PLG
4 bulan lalu · 240 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 37438_11757.jpg

Hujan di Bulan Juli

Sudah beberapa hari ini suhu udara mulai dingin. Bahkan jika aku lihat dari hpku, suhunya bisa mencapai 16 derajat celcius. Sangat dingin, seperti suhu terendah pada AC. Sudah masuk bulan Juli. Musim hujan kurasa? Karena sudah seminggu ini hujan terus turun.

Aku? Masih berkutat dengan tugas matematika yang tidak aku mengerti. Semuanya sibuk memecahkan soal yang mereka dapat dengan teman mereka. Aku hanya terdiam, sendirian, di bangku paling belakang. Aku ingin bergabung dan bertanya, sayangnya rasa maluku jelas lebih besar dari keinginanku.

“Ra, nanti kamu siapkan barang-barang yang ini ya. Ingat loh, jangan lupa” ucap teman sebangkuku, Elisa. Gadis dengan postur tubuh tinggi dan kurus. Gadis kurus ini menjelaskan tugas-tugasku dengan senyumnya.

“Baiklah, sudah waktunya pulang. Selamat Sore” Pak Galih pamit pergi dan menjadi kesenangan bagi kami semua. Sudah waktunya untuk pulang. Hari yang melelahkan.

Setelah berpamitan dengan teman-teman, entah mereka merespon atau tidak, aku mempercepat langkah. Memang masih hujan, tapi tidak begitu deras bahkan hanya gerimis kecil. Aku menghubungi ayah dan kakakku, namun tak ada yang bisa menjemput. Sama, sibuk katanya. 

Benci terjebak, ingin segera pulang, hujan tak lagi kupedulikan. Aku berjalan dengan santai meskipun bajuku sudah mulai basah kuyup. Aku berdiri di depan gerbang. Entah siapa yang aku tunggu. Lalu seseorang dengan sepeda motornya yang tidak asing berhenti tepat di depanku.

“Gak pulang, Ra?” Ilham menatapku aneh meskipun bibirnya tersenyum. 

Aku hanya tersenyum kecut. Ya, kalau aku pulang ngapain juga di sini? Klise.

Seolah tahu pikiranku, ia menghentikan mesin sepeda motornya. Dan sekali lagi menatapku. Sungguh, dia seperti bisa membaca jalan pikiranku.

“Ayo, kuantar” ucapnya singkat. 

Dasar, kalau kamu seperti ini, kalau kita terus berada dalam keadaan seperti ini, bagaimana aku bisa menghilangkanmu dari otakku, Ilham?

Sungguh. Aku hanya terpaksa, ya atau mungkin memang sedikit membawa perasaan. Tidak, dia hanya menganggap aku teman dan menemukanku yang seperti kucing liar. Ya, begitu saja, biar begitu saja caraku berpikir. Dengan pikiran itu, aku menyetujuinya tanpa banyak tapi hujan mulai deras. 

Untung saja aku jadi ikut dengannya, kalau tidak, bagaimana nasibku nanti? Aku melirik kanan. Punggungnya yang tentu sangat dekat denganku. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Bahkan dengan punggungnya itu, aku rindu.

“Ra? Ara? Hujannya tambah deras nih. Kalau kita berhenti sebentar, gimana?” tanyanya sedikit berteriak supaya terdengar. Memang sedang berisik sih, karena kami sedang di jalan raya sekarang. 

Aku ikut mengiyakannya dengan teriakan juga, sedikit. Sepeda motornya segera belok ke kiri. Tak lama, sepeda motor berhenti. Kami sedang di depan toko yang tutup. Untungnya ada bangku juga di sana.

“Ah, terima kasih atas tumpangannya hari ini” Ia hanya mengangguk kemudian terdiam sambil menatap langit. Canggung, itulah kami. Sudah sejak kelas 10 aku menyukainya, tapi kami ya tetap saja. Aku yang penakut, itu saja.

“Ara, kenapa kamu selalu menghindariku?” tanyanya tiba-tiba. Gugup, biasanya. Namun, entah kenapa kini tak ada rasa gugup. Apa hujan yang melarutkannya?

“Apa iya?”

“Iya banget. Rasanya kamu selalu menghindar sejak aku putus sama Dita. Kenapa? Apa Dita yang melarangmu dekat denganku?” tanyanya menusuk tepat entah di mana. Dita tidak melarangku untuk dekat dengan mantannya itu, yang ada dia malah berniat menjodohkanku dengannya. Dasar gadis aneh.

“Karena kita memang tidak dekat. Kata-katamu seperti kita memang dekat saja” candaku dengan sedikit menyinggung. Berhasil, dia tertawa kecil sambil mengiyakan.

“Ara, menurutmu kenapa orang tidak berani menyampaikan rasa sukanya pada orang yang ia sukai?” tanyanya lagi setelah berdiam agak lama. Aku menghela nafas. Tidak tahu apa yang ia ingin katakan.

“Kurasa karena kalau orang itu bilang, ia takut orang yang ia sukai malah menjauhinya” jawabku spontan. Rasanya seperti aku sedang mengatakan sebuah alasan. Alasan mengapa aku tetap berdiam dan menahan rasa sukaku.

“Tapi, kalau tidak dicoba, siapa yang tau? Memangnya kamu bisa menahan rasa suka apalagi jika itu sudah lama?” tanyanya balik. Duh, Tuhan. Kenapa rasanya dia sedang menginterogasiku? Sakit. Rasanya seperti sakit perut yang gak sembuh-sembuh, kambuh terus, dan menggelitik.

“Entahlah. Mungkin sakit tapi jika menahannya adalah kemungkinan, maka itu mungkin” Sok enteng. Sok tenang. Rintikan hujan ikut mengejek, petir itu juga.

“Kenapa dia membohongi dirinya sendiri? Kenapa dia menyiksa dirinya sendiri?” gumam Ilham. Aku tak tahu apa itu ditujukan padaku, tapi rasanya seolah dia sedang mengejekku.

“Kalau begitu, katakan padaku. Apa yang kau lakukan kalau ada orang yang menahan rasa sukanya itu suka padamu?” tanyaku. Duh, Tuhanku. Aku sedang di ujung tanduk sekarang. Dasar bodoh, mana dia tahu? Kenapa aku seperti sedang menyatakan cinta?

“Aku akan terus menanyainya hingga dia tahu apa yang harus dia lakukan. Seperti sekarang” ucapnya enteng sambil tersenyum. Tatapannya teduh sekaligus cerah. Cerah secerah langit sehabis hujan seperti sekarang. Aku hanya terdiam, tidak tau harus merespon apa. Ya, terbongkar sudah. Ia tahu bahwa aku suka padanya.

“Apa bahkan sekarang pun kamu tidak tahu mau berbuat apa?” aku tidak menggeleng ataupun mengangguk. Berkedip pun tidak, nafas bahkan terlupa.

“Baiklah, Ara Raisyah, gadis yang aku suka ini, masih juga tidak tahu mau ngapain?” 

Oh. Hujan sudah pergi. Kemana perginya semua kelabu yang tadi menangis itu? Kenapa bisa secerah ini? Kenapa ada pelangi di ujung sana? Kenapa? Kenapa indah sekali?

“Terima kasih, Ilham. Maaf aku sudah menahannya. Aku.. suka padamu,” ucapku. Tanpa sedikitpun rasa gugup. Terima kasih, rasanya hujan itu telah benar-benar melarutkan rasa gugupku. Terima kasih, sudah meyakinkanku, Ilham.

Artikel Terkait