4 bulan lalu · 175 view · 5 menit baca · Cerpen 52309_25701.jpg
Pretty Photo

Hujan Cinta

Kepingan Cerita ‘Mengintip Jodoh di Lauh Mahfudz’

Percayalah, selalu ada kebaikan dalam setiap ketetapan Allah Sang Sutradara. Maka temukanlah sebanyak-banyaknya rahasia agar engkau mengerti mengapa Allah menikahkanmu dengannya.

Jikalau engkau masih sulit menemukan jawabannya, gantilah kacamatamu dengan kacamata syukur atas segala karunia. Hakmu jika engkau berharap khadijahmu menjadi lebih sempurna, asalkan kau siap membimbingnya dengan menjadi Muhammad baginya.

Status teman Facebook tetiba muncul di berandaku. Niatnya menghindari rasa bosan karena macet sepanjang jalan Sudirman. Tak terelakkan Jumat sore waktunya mereka yang bekerja di luar kota pulang menemui keluarga tercinta.

Hari ini aku pun amat lelah. Setelah lima hari bekerja, ingin rasanya menghabiskan ujung pekan dengan kumpul, jalan, atau nonton bersama rekan kerja. Namun, kini duniaku telah berbeda. Ada istri yang akan menjadi pertanyaan apabila ini aku lakukan bersama mereka.

"Sudah punya istri qo malam mingguan bareng kami, Mas?” Entahlah, berkumpul bersama istri tidak lebih membahagiakan daripada berkumpul bersama rekan kerja.

Aku menikahinya karena ia gadis yang baik. Namun, seminggu setelah pernikahan, aku merasa sikap istriku tidak sesuai harapanku. Aku mulai tidak tertarik padanya. 

Aku memang tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaanku. Aku kerap dingin padanya. Kami jarang sekali mengobrol. Kami tidur bersama dalam satu ranjang tapi tidak ada interaksi apa pun. Aku sibuk dengan gadget-ku, begitu pun istriku.

Sejak malam pertama pernikahan, hingga dua tahun pernikahan, aku bahkan tidak pernah menunaikan kewajibanku. Karena aku tidak akan merasakan kesenangan dari apa yang akan terjadi saat itu.

Macet baru saja terurai. Kulirik jam analog biru pemberian istriku. Sepuluh menit menuju pukul 21.00 WIB. 

Lebih kurang 2,5 jam sudah kuhabiskan waktu dengan bayangan rumah tangga yang tak tahu ke mana akan kubawa setelah ini. Rasanya aku ingin segera berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata, berhenti melamun dan keluar dari bayangan menakutkan akan kehidupanku setelah ini.

Mobil sudah terparkir dengan sempurna. Belum sampai kuketuk, pintu sudah terbuka. Kudapati istriku sudah menunggu di balik pintu dengan daster merah muda bergambar Eiffel Tower favoritnya. Tubuhnya memang masih di dalam saat daun pintu terbuka karena ia tak mengenakan hijabnya.

Lalu, aku masuk ke dalam kamar. Masih berbalut seragam, kurebahkan badan di atas spring bed.

"Macet, ya, Mas?" tanya istriku sambil melesatkan pijitan kecil di bagian belakang badanku.

Aku mengangguk.

"Mas, gantilah pakaian. Biar bisa nyaman istirahat. Aku buatkan minuman hangat, ya," ucapnya sambil meletakkan handuk di sampingku. Seperti biasa, mukaku datar.

Aku masih saja melihat timeline Facebook mencari status yang belum selesai kubaca tadi. Tapi tulisannya sudah tidak ada. Lalu, dengan terpaksa kuayunkan kaki ke kamar mandi. 

Selesai mandi, berganti pakaian, lalu solat isya. Setelah melipat dan meletakkan kembali sarung dan sajadah ke tempatnya, terdengar suara dari balik pintu kamar.

"Mas, makanan udah siap," ujar Maryam sambil mengambil segelas air minum.

Merasa tidak mendengar jawabanku, Maryam kembali duduk di sampingku. kembali ia mengajakku makan.

“Mas, makan yok!” ajaknya dengan nada lirih. Sedang aku masih tak menghiraukan.

Sebenarnya aku tidak ingin makan. Rasa lapar sudah menghilang. 

Setidaknya aku makan sedikit saja, bisik hatiku, menghargainya yang sudah bersusah payah menyiapkan. Kudapati makanan di meja makan telah tersaji: buncis telur asin, lengkap dengan pindang patin kesukaanku.

Ternyata istriku juga belum makan. Hingga malam ini ia masih setia menunggu untuk makan bersamaku. Tapi tak pernah aku melihat raut sedih di wajahnya karena sikapku. 

Tak kusangkal kesabaran istriku yang mungkin tak bisa wanita lain lakukan. Seperti biasa, kami menghabiskan makan tanpa kata. Sehabis makan, aku langsung ke kamar dan meninggalkan istriku yang masih belum selesai.

Terdengar suara piring, cangkir, sendok yang memecah kesunyian. Sesekali suara gemericik air dari keran wastafel terdengar. Istriku masih membersihkan peralatan makan. Kemudian, ia masuk kamar dan menjulurkan badan. Ia tarik selimut menutupi badannya yang makin hari makin ringkih.

Ketika tidur, aku perhatikan wajah istriku yang lelah. Aku memang tidak pernah memandang wajahnya sehingga baru tampak jelas mata yang berkantung dan sedikit sembab. Seharian bekerja, setelah itu menyiapkan segala kebutuhanku. 

Sebagai istri, ia jalankan kewajibannya. Ia siapkan makanku, atribut, dan seragam kerjaku, pakaian, hal-hal kecil lainnya yang kubutuhkan.

Saat aku sakit, ia merawat bahkan kadang terjaga di malam hari hanya untuk memastikan kondisi tubuhku. Ketika badanku meringkuk kedinginan, ia bangun menyelimutiku. 

Dia pun sangat berhati-hati membangunkanku untuk salat subuh. Namun, hal itu tetap tidak bisa mengubah perasaanku. Aku tidak merasa bahagia sedikitpun bersamanya. Aku tidak bisa mencintai istriku.

Banyak hal yang bertujuan baik, namun kita lakukan dengan jalan yang salah. Contohnya, kebiasaan istriku menyelipkan handphone di bawah bantal. Hal ini bisa mengakibatkan radiasi. 

Namun ini kerap ia lakukan untuk menyetel alarm agar bisa terbangun lebih pagi dari suara corong masjid yang telah berbunyi bahkan dua puluh menit menjelang subuh.

Layarnya terbuka. Aku tergerak untuk melihatnya. Akupun tak mampu menghentikan derai air mata kala membaca satu per satu note yang ada di dalamnya.

Ya Robb... Aku tahu bahwa suamiku sangat mencintai ibunya. Ia tidak ingin mengecewakan hati ibunya. Mungkin juga karena itu suamiku masih memilih untuk hidup bersamaku. 

Sungguh aku bahagia bila dengan ini menjadi jalan baginya untuk ke surgamu karena pengabdiannya. Aku ikhlas mengabdi padanya sebagai istri. Aku tidak akan menuntut hak-hakku, aku hanya ingin menjalankan kewajibanku dengan baik. 

Tapi sedetik pun, jangan pernah Engkau tinggalkan aku, Ya Robb. Tidak ada kekuatan kecuali dari Engkau. Bukanlah kesabaran bila ada batas. Bukan pula ikhlas bila masih merasa sakit. 

Ya Robb.. Aku ingin sekali mengecup keningnya dan memeluknya. Aku sangat mencintai suamiku. Maka hadirkan, Ya Robb, cinta di hati suamiku. Jagalah suamiku dengan sebaik penjagaan.

Ada ratusan tulisan yang belum kubaca. Namun, aku tidak sanggup membaca lanjutan tulisannya. Aku lenyap dalam hening dan gelapnya malam. 

Malam kian larut. Aku semakin hanyut dalam tulisan istriku. Apakah mungkin karena aku sudah terlalu kecewa sehingga tidak ada positifnya ia di mataku?

Aku tak kuasa memandangi wajahnya. Kembali aku punggungi istriku. Aku hadapkan wajahku pada foto pernikahan kami yang terpajang di dinding kamar. Betapa cantik istriku, dan aku tidak tertarik padanya sedikitpun. 

Banyak lelaki yang menginginkannya, sedang aku membiarkannya begitu saja. Apa bedanya ia dengan foto ini? Hanya menjadi pajangan dan hiasan di kamarku saja.

Dadaku semakin sesak. Tak lama, terdengar suara gerakan tubuh manusia. Ya, istriku bangun dari tidurnya. Ia menarik selimut dan mendekapkannya pada tubuhku. 

Aku tahu seharusnya ia memercikkan air di wajahku agar aku terbangun dan salat malam bersamanya. Tapi ia tidak lakukan itu karena takut membuatku marah. Menggerakkan badannya saja ia harus hati-hati, seolah tidak ingin mengganggu tidurku.

Aku intip dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Terdengar suara dari arah dapur beriringan dengan suara ledakan batuk yang kian menjadi. Istriku kembali ke kamar dan aku kembali merebahkan tubuhku seperti semula. Ia menggelar sajadah. Kupandangi jam dinding. Sekarang pukul. 04.00 WIB.

Terdengar di balik selimut suara lirih istriku,

Ya Allah, aku berkeluh kembali pada-Mu, mengapa ujian yang engkau berikan pada hamba begitu berat, Ya Allah. Bila ini takdir untukku, jadikanlah aku ikhlas menerima semua ini.

Ya Robb... Tidak ada kekuatan kecuali dari Engkau. Maka kuatkanlah aku....

Suara istriku semakin lirih dan tidak terdengar lagi.

Aku mengintip dari celah selimut dan betapa terkejutnya aku mendapati istriku yang terkulai di atas sajadah. Aku dekati dan menyentuh lengannya. Tapi ia tetap saja terpejam. 

Aku raih tubuhnya, aku lekatkan ia dalam dekapku. Aku terus saja mengguncang tubuhnya.

Wanita yang menghujaniku cinta kini tak berdaya. Sedang kini aku banjir air mata.

Artikel Terkait