Penulis
3 tahun lalu · 447 view · 6 menit baca · Cerpen Hujan Bulan November.jpg
Hujan Bulan November/Wikipedia

Hujan Bulan November

RONA, andai ibunya tahu, ingin sekali menyampaikan sebuah kisah kepada hujan bulan November. Hujan yang biasanya jatuh berinaian di halaman depan rumahnya, membasahi daun-daun pohon mangga bapaknya yang rindang, yang guguran daunnya terkadang dipunguti Rona untuk bermain pasar-pasaran.

Di bulan November, hujan biasanya bertandang sesuka hati. Halaman depan rumah Rona kadang kebanjiran karena hujan yang datang terus-terusan. Limpasan air mengikis lapisan-atas tanah, menyeretnya ke halaman membentuk genangan, lalu ketika surut meninggalkan latri—lumpur tipis berwarna cokelat yang sangat becek menggiriskan, yang kalau mengering menyisakan noda yang sukar nian dilenyapkan.

Ibu amatlah sebal dengan hujan, terutama hujan yang turun pada bulan November. Ibu adalah tipikal ibu rumah tangga biasa yang kehidupan sehari-harinya dihabiskan demi stabilitas urusan kerumahtanggaan, lebih peduli kerapian dan kebersihan pekarangan ketimbang romantisme hujan yang dibilangnya lebaiy itu.

Selama ini hujan selalu saja memorak-porandakan pekarangan yang telah ditata, disapu, dan dibenahi Ibu saban pagi dan sore hari sehingga tampak indah menawan hati. Daun-daun pohon mangga yang disapu, dikeruk, dan dibuang Ibu ke liang pembuangan sampah beserta sampah-sampah lain kembali lagi ke halaman dibawa hujan.

Kalau sudah begitu, biasanya Ibu akan bersungut-sungut sembari memandangi hujan melalui kaca jendela sementara Rona diam saja di sampingnya, entah geli entah kecewa menyaksikan tingkah ibunya.

November tahun ini sepertinya hujan tidak akan datang. Ini sudah mendekati akhir bulan, sementara setetes pun hujan tak kelihatan. Di mana-mana asap melulu, dan langit pun berwarna kelabu. Padahal, ada kisah yang mesti Rona sampaikan kepada hujan bulan November. Kisah yang sudah ditulis rapi di buku tulisnya sebab Rona suka grogi kalau-kalau mesti bercakap-cakap dengan hujan, cemas jika ada hal penting yang luput disampaikan.

Huft, bagaimana ini, hujan kok tidak datang-datang, sih?” desah Rona di muka kaca jendela. Sempat tebersit dalam pikirannya untuk menggembok buku hariannya dan mengarsipkannya di gudang saja. Namun, demi kelangsungan cerpen ini, penulis membujuk Rona agar mengurungkan niatnya itu sembari meminta izin untuk memuat isi buku hariannya.

“Tapi sebagian saja, lo, jangan semuanya!” wanti-wanti Rona sambil memonyongkan bibir, sehingga andaikan hujan turun engkau bisa berteduh di bawahnya.

***

HUJAN Bulan November Yth, tulis Rona dalam buku hariannya.

Apakah anda dalam keadaan sehat walafiat, segar bugar tanpa kurang suatu apa? Perkenalkan, nama saya Rona, siswi SMP di pojok barat kota Semarbaru. Sekolah yang, kata orang, mewah: mepet sawah. Ya, namanya juga sekolah pinggiran—marjinal, kata kakak saya yang calon perawat itu sok intelek—apa-apa pasti minggir-minggir, mepet-mepet. Kalau tidak mepet sawah, ya, mepet permukiman, mepet pekuburan, mepet jalan raya, mepet lapangan bola, atau mepet laut. Masih untung mepet sawah kayak sekolah saya itu. Ah, bicara apa saya, sih, kok mengutara-selatan. Maafkan saya, Hujan Bulan November Yth.

Jadi begini, HBN Yth. (Saya singkat saja supaya tidak capek.) Belakangan ini saya mendengar kabar, presiden kamiyang barangkali presiden anda juga—bakal mengunjungi kota saya—yang barangkali kota anda juga. Presiden, demikian berita yang saya dengar, mau meninjau lahan-lahan berasap yang sejak bertahun-tahun telah menjadi ciri khas provinsi saya. Ya, tampaknya melawan asap adalah ikhtiar presiden kita satu ini. Setelah seminggu sebelumnya ia mencoba melawan asap kendaraan bermotor dengan menaikkan harga BBM, sekarang ia mau melawan asap kebakaran tumbuh-tumbuhan.

Apakah usaha presiden kita bakal berhasil, HBN Yth? Wallahu a’lam. Yah, semoga saja Presiden sejak awal sudah sadar dan tidak naif bahwa bukan asap belaka yang sebetulnya dia lawan, melainkan ribuan manusia dengan ego dan kepentingannya masing-masing. Melawan manusia di abad yang mengagung-agungkan kemanusiaan seperti saat ini—saya cuma mengutip kata-kata mbah saya yang petani itu, lo—sama saja dengan melawan kebudayaan.

Ya, kebudayaan kita—eh maaf, maksudnya kebudayaan saya, kebudayaan kota dan provinsi saya—memang baru sampai tahap bakar-bakaran, tahap memakai, dan cara memakainya itu, lo, amatlah borosnya. Karena hasrat memakai itu, bukan mencipta, maka BBM kita buang sia-sia, pohon-pohon kita bakar dengan semena-mena, bahkan mungkin sesama kita pun maunya saling bakar kalau keadaan memungkinkan—seperti waktu 1960-an itu, lo. Lihat saja tabiat kita, eh saya, kalau mengantre di pompa bensin: berapakah dari kita yang mematikan mesin saat mengantre? Bukan, bukan asap sesungguhnya yang jadi soal. Asap mah hilir, muara, akibat yang sudah jadi konsekuensi. Melawan perilaku manusia, kebudayaan yang menyimpang, itu yang berat.

HBN Yth, kok saya jadi melantur…

Oke, cukup sekian kisah saya, HBN Yth. Kita sambung lagi di lain waktu.

Kecup sayang,

Rona

NB:

HBN Yth, kapan, nih, mau datang lagi seperti bulan November tahun lalu? Datang, turunlah, dan biarkan bara nafsu kami tersiram sejuk rinaimu. Sejukkan, dinginkan, meski setelah itu kehadiranmu tak terbendung lagi, menghanyutkan kami dalam air bah tak berkesudahan, yang kanal-kanal penangkalnya memang tak pernah dipersiapkan dengan matang. Barangkali setelah itu kami jadi mengerti dan berhenti merengek lagi.

HBN Yth, saya ingin berjumpa denganmu lagi. Benar-benar ingin.

***

SUDAH lama saya tak membaca koran. Ada masanya ketika setiap hari saya memantau koran-koran sehingga paham betul segala berita yang terjadi di dunia ini sebagai bahan tulisan-tulisan saya. Tapi belakangan ini saya tak membaca koran karena saya sudah malas menulis lagi.

Bagaimana tidak malas kalau komandan saya di negeri awan suatu kali menegur saya setelah membaca tulisan saya yang katanya menyerempet bahaya sebab dikhawatirkan dapat mengancam kedudukan komandan saya itu di kantornya yang sekarang.

Saya memang serdadu hujan biasa dengan gaji yang ala kadarnya. Saya menulis, selain demi menyalurkan hobi, tentu juga buat menambah penghasilan, menyambung nyawa sebulan. Entah kenapa hari ini saya kepingin mampir ke tukang koran, membeli koran barang satu eksemplar. Saya merasa ada berita yang harus dibaca di sana. Setelah membayar Hempas edisi 1 Desember 2073, saya mencegat bus dan membaca koran itu di dalam bus.

“Ditenggelamkan, Kota Tua Semarbaru” tercetak besar di halaman depan koran yang saya baca. Subjudulnya tertulis “Berdasarkan Surat Seorang Siswi SMP”. Sebulan lalu memang santer diberitakan rencana pejabat negeri awan untuk menenggelamkan kota manusia itu.

Awalnya, berdasarkan instruksi Bos Besar, sebatalion serdadu hujan diliburkan selama setahun. Bos Besar, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak perlu dipertanyakan, hendak menguji warga Semarbaru yang rakus, boros, dan semena-mena terhadap alam dengan bencana kekeringan selama setahun.

Namun, surat yang dikirim oleh seorang siswi SMP telah mengubah segalanya. Karena surat itu, dengan kebijaksanaan-Nya yang, sekali lagi, tak perlu dipertanyakan itu, Bos Besar menginstruksikan kepada Lima Kolegi Agung Negeri Awan untuk menenggelamkan saja kota Semarbaru.

Maka beresimen-resimen serdadu hujan dengan segera dipersiapkan. Saya kebetulan tidak terpilih dalam misi itu karena sudah diberi misi lain untuk bulan Januari 2074. Dalam berita yang saya baca tertulis demikian:

NEGERI AWAN, HEMPAS — Seribu resimen serdadu hujan yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Hujan, Mayor Jenderal Jawoh Wengi, berhasil menenggelamkan kota tua Semarbaru yang berada di wilayah negara manusia Republik Nusantara, Kamis (30/11), dalam misi Hujan Bulan November. Misi itu sebagai tindak lanjut atas Keputusan Lima Kolegi Agung Negeri Awan Nomor 3 Tahun 2073 tentang Penenggelaman Kota Semarbaru melalui Misi Hujan Bulan November.

Ditemui di ruang kerjanya, Kolegi Agung Petir Tirta mengatakan, misi Hujan Bulan November adalah pengejawantahan dari hasil Sidang Alam Semesta pada Minggu (19/11) lalu dan merupakan instruksi langsung dari Bos Besar. “Langkah kita mengacu pada perintah Bos Besar. Semoga sesuai dengan kehendak-Nya,” kata Petir.

Ditemui terpisah, Panglima Negeri Awan Jenderal Samiun Alimun menyebutkan, 1.000.000.000.000.003 serdadu hujan diterjunkan dalam misi Hujan Bulan November sejak Senin (20/11). “Para pejuang hujan kami perintahkan untuk membanjiri kota selama tiga bulan sampai kota benar-benar mati sebelum diperkenankan menempuh perjalanan melalui sungai Singin menuju Laut Ukauka untuk kemudian menguap ke Negeri Awan,” kata Samiun.

Sebagaimana telah dilaporkan harian ini, pada Minggu (19/11) lalu sepucuk surat yang ditengarai disobek dari buku harian tiba-tiba tergeletak di Kursi Bos Besar. Setelah dibaca, surat tersebut diketahui berasal dari bumi, ditulis oleh seorang siswi SMP di Semarbaru, sebuah kota yang terkenal dengan revolusinya yang berdarah di masa lalu dan tingkat korupsinya yang parah di masa kini…

***

SAYA melipat koran dan pikiran saya terbayang-terbayang akan nasib warga dari kota yang tenggelam itu. Betapa kejam misi Hujan Bulan November, tapi betapa setimpal apa yang warga kota terima sebagai akibat dari perbuatan mereka. Yang saya cemaskan tentu siswi SMP itu, bagaimanakah nasibnya sekarang? Ada yang bilang ia diangkat Bos Besar ke awan.

Bus memelan lalu berhenti untuk mempersilakan turun seorang gadis berwajah manis yang tampak mengamati saya tatkala saya sedang asyik membaca. Saya memutuskan akan turun di halte berikut.

Pekanbaru, 29112014

[*] Cerita ini ditulis sambil menikmati gesekan biola David Garrett berjudul “November Rain“, lagu yang kali pertama dinyanyikan oleh Guns N’ Roses.