Musim penghujan bagi masyarakat Indonesia masih dianggap sebagai sebuah hidayah. Setidaknya ini bagi masyarakat kita yang berprofesi sebagai petani. Setelah Indonesia dilanda kekeringan yang berkepanjangan yang berdampak pada jumlah produksi pangan sehingga akhirnya para pejabat mengeluarkan berbagai kebijakan yang agak nyeleneh, mulai dari impor beras hingga larangan memakan beras juga tanpa rasa bersalah mereka keluarkan.

Bagi petani hujan merupakan berkah, sehingga bisa kembali turun di pematang-pematang sawah yang telah lama kering untuk sekedar mengembalikan kualitas tingkat kegemburan tanah untuk sesegera mungkin dipadukan dengan bibit padi yang entah sejak kapan mereka persiapkan. Dalam beberapa bulan terakhir petani-petani yang berada di pelosok Negara ini  kemudian mulai bercocok tanam.

Selain itu musim penghujan juga berdampak pada pasokan air baku yang sempat mengalami keterbatasan jumlah akhirnya berangsur-angsur stabil bahkan berlebihan. Setidaknya pergeseran musim yang terjadi di Indonesia bagi masyarakat Indonesia kebanyakan tidak lagi berdampak buruk semata-mata. Setelah diawal musim kering masyarakat banyak dibuat kesal karena berimplikasi pada ketersedian pangan yang hubungannya dengan keberagaman hasil panen jadi berkurang.

Pun pergeseran musim akibat perubahan durasi iklim setidaknya hanya berdampak pada kuantitas panen secara keseluruhan, yang tadinya bisa 3 (tiga) hingga 4 (empat) kali dalam setahun untuk beberapa tahun belakangan paling maksimal para petani kita hanya 3 (tiga) kali panen dalam setahun. Lagi-lagi ini masih tetap disyukuri oleh petani kita yang bisa jadi tanah yang dikelolanya hari ini bukan milik mereka sendiri.

*

Namun apakah musim hujan hanya berhubungan dengan tanaman pangan dan pasokan air saja?, tentu saja tidak, karena selain musim penghujan bisa berbentuk hidayah, musim penghujan juga bisa menjadi sebuah bencana, mulai dari ancaman banjir hingga ancaman yang berbentuk masalah kesehatan atau suatu penyakit. Kali ini penulis lebih focus pada permasalahan kesehatan yang muncul akibat musim penghujan.

Setidaknya ada 2 (dua) jenis varian penyebab masalah kesehatan yang mengancam di musim penghujan yaitu penyakit menyebar melalui udara (Airborne Disease) dan penyakit menyebar melalui air (Waterborne Disease). Minimal penyakit yang paling sering dialami oleh masyarakat kita terkait perubahan cuaca yang susah untuk diperdiksi terkait pergeseran waktu cuaca akibat pemanasan global (Global Warming) ialah Influenza atau yang biasa dikenal oleh masyarakat kita Flu.

Untuk penyakit menyebar melalui udara contohnya antara lain; Severe Acute Respiratory Syndrome atau biasa dikenal dengan SARS, Tuberculosis (TBC), dan Flu Burung. Walaupun ketiga penyakit diatas bisa juga menular bukan di musim penghujan, tapi bukan berarti kita tidak perlu mewaspadainya, seperti penyakit-penyakit lain yang juga bisa mengancam.

Selain penyakit yang menyebar melalui media udara ada juga jenis penyakit yang menyebar melalui media air, contohnya antara lain: Tifus, Kolera, dan Disentri. Untuk Waterborne Disease lebih mengancam dibanding Airborne Disease, karena lagi-lagi ini berhubungan dengan meningkatnya kuantitas air di musim penghujan kemudian tidak diikuti dengan meningkatnya kualitas pasokan air yang melimpah tadi.

Seperti yang dikemukakan oleh Slamet (2002), peran air dalam menularkan penyakit meliputi:

  1. Air sebagai penyebar mikroba pathogen
  2. Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
  3. Jumlah air yang tersedia tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik
  4. Air sebagai sarang hospes sementara penyakit.

Berangkat dari informasi diatas ialah hal lain yang berhubungan dengan air dan penyakit adalah jenis penyakit Water Related Insects Vectors. Water Related Insects Vectors adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor penyakit  yang sebagian atau seluruhnya perindukan hidupnya tergantung pada air.

Untuk contoh Water Related Insects Vectors, ialah : Malaria, Demam Berdarah Dengue, dan Filariasis (Kaki Gajah). Dan Indonesia sebagai salah satu Negara tropis saat ini masih menjadi endemic untuk ketiga contoh penyakit diatas. Lagi-lagi ini berhubungan dengan curah hujan yang tinggi ketika tiba musim penghujan dan minimnya pengetahuan masyarakat terkait pencegahan penyakit diatas.

Walaupun dalam sepuluh tahun terakhir kasus malaria di Indonesia berkurang lima puluh persen, namun setiap tahunnya setidaknya ada 300.000 (Tiga Ratus Ribu) orang terinfeksi malaria dan 4000 (Empat Ribu) orang diataranya berakibat fatal. Dengan jumlah terbesar berada di kawasan timur Indonesia. Ada banyak factor, diantaranya  iklim yang basah sebagian besar terletak di kawasan timur Indonesia.

Selain Malaria, Indonesia juga menjadi langganan penyakit Demam Berdarah Dengue ketika musim penghujan tiba. Penyakit yang kemudian menyebar melalui perantara nyamuk (selain malaria dan filariasis) juga mencapai angka yang cukup memprihatinkan dalam 5 tahun terakhir.

Data yang dilansir oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan dari tahun 2010 hingga 2015, angka kejadian DBD bermain di range (Incidence Rate) 39,51%  hingga 65,67% . meskipun begitu angka kematian dari angka kejadian penyakit meish dibawah satu persen.

Walaupun filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria, namun penularannya juga melalui perantara nyamuk. Berbeda dengan Malaria dan Demam Berdarah, filariasis menyebar melalui perantara 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Dalam artian untuk spesies dari genus anopheles yang merupakan pembawa penyakit malaria  dan spesies dari genus Aedes yang merupakan pembawa penyakit DBD secara bersamaan juga bisa jadi menjadi pembawa cacing filaria juga.

Baik Malaria, Demam Berdarah, dan Filariasis membutuhkan media/vektor nyamuk. Dan nyamuk ini hanya bisa berkembang biak melalui media air, makanya musim penghujan menjadi salah satu determinan penyebarluasan ketiga penyakit tersebut. Namun apakah ketiga peyakit tersebut sedemikian menakutkannya hingga kita tidak dapat mencegahnya.

**

Berbicara hal ihwal pencegahan penyakit, ada baiknya sebelumnya kita mengetahui sebab musabab sebuah penyakit. Adalah Gordon dan Le Rich (1950), memperkenalkan Trias Penyebab Penyakit ; Host, Agen, dan Enviroment. Berangkat dari tiga hal tersebut kita bisa melihat bagaimana Water Related Insects Vectors dapat dicegah.

Jika merujuk pada konsep Trias Penyebab Penyakit, yang menjadi Host adalah nyamuk itu sendiri dan Manusia. Karena antara nyamuk dan manusia memiliki kesamaan karena sebagai tempat penghidupan bagi pathogen. Walaupun kemudian pada diri manusialah pathogen tadi menimbulkan phatogenitas.

Hal ini akhirnya menimbulkan kebingungan apakah nyamuk yang yang menjadi host atau manusia, sedangkan antara nyamuk dan manusia sama-sama memberikan tempat dan penghidupan bagi agen malaria, Demam Berdarah Dengue, dan filariasis.

Yang menjadi Agen dari Malaria, Demam Berdarah Dengue, dan Filariasis adalah berbeda walaupun pada satu nyamuk mereka bisa bersatu. Untuk malaria yang menjadi agen adalah golongan parasite plasmodium. Sedangkan  pada Demam Berdarah Dengue yang menjadi agen adalah golongan virus dengue. Dan untuk filariasis yang menjadi agen penyakit adalah cacing filaria.

Karena menurut Gordon dan Le Rich environment terbagi atas tiga : lingkungan fisik, lingkungan social, dan  lingkungan biologis, maka ketiga penyakit diatas bisa dipastikan sangat berhubungan dengan musim penghujan yang saat ini sedang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Adapun lingkungan social yang behubungan dengan ketiga penyakit ialah terkait kebijakan para pengelola Negara terkait penanganannya.

Berangkat dari informasi diatas, kita bisa menyimpulkan beberapa hal yang berhubungan dengan pencegahan ketiga penyakit diatas. Kita mulai dari menjaga kesehatan individu. Menjaga kesehatan disini ialah bagaimana kita tetap menjaga pola makan yang sehat dalam artian asupan gizi yang maksimal dan tetap tidak meninggalkan prinsip Pola Hidup Bersih dan Sehat.

Ini menjadi penting, karena sebuah pathogen tidak akan sampai pada tahapan pathogenesis jika daya tahan tubuh kita tiba dalam kondisi yang maksimal. Selain itu ini juga bisa dilakukan tanpa memerlukan biaya yang besar, mengingat iklim Indonesia yang tropis memungkinkan untuk aneka sayur mayor dan buah-buahan untuk diperoleh. Selain itu dengan letak Indonesia merupakan gugusan pulau sehingga lauk pauk yang mengandung protein dapat dengan mudah diperoleh melalui ikan laut.

Hal kedua yang bisa dilakukan adalah menjaga lingkungan sekitar kita untuk tetap senantiasa terjaga kebersihannya. Karena nyamuk yang menjadi host dari ketiga penyakit diatas hanya dapat berkembang biak di air, untuk itu dengan menghindari genangan air di lingkungan kita dan menutup wadah yang ditempati air sedikit banyak mampu menekan populasi nyamuk yang berkembang biak di lingkungan kita.

Selain menutup wadah yang berisi air bisa juga kita melakukan pembersihan terhadap wadah tadi untuk menghindari berkembangbiaknya larva nyamuk yang nantinya menjadi nyamuk dewasa sebagai pembawa penyakit yang berada di lingkungan kita. Kembali lagi ini tidak membutuhkan biaya sama sekali selain aktualisasi niatan untuk tetap terhindar dari segala permasalahan yang berhubungan dengan ketiga penyakit diatas.

Hal terakhir yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit yang berhubungan dengan nyamuk ialah malakukan intervensi pada diri sendiri dengan menggunakan kelambu ketika tidur. Terutama di jam-jam kritis penyebaran penyakit tersebut (pagi hari dan sore). Untuk yang beraktifitas di jam kritis dan diwilayah yang merupakan endemic penyakit diatas bisa menggunakan produk anti nyamuk sehari-harinya.

***

Dengan melakukan beberapa hal diatas, setidaknya kita bisa berupaya untuk terhindar dari berbagai penyakit yang merupakan nyamuk adaah vektornya selain ketiga penyakit diatas. walaupun masih banyak upaya lain yang bisa dilakukan untuk pencegahan. Kembali lagi upaya diatas merupakan rangkaian upaya pencegahan dan bukan upaya pengobatan, karena dengan mencegah setidaknya meningkatnya pengeluaran akibat pengobatan mampu diminimalisir.

Dan melalui upaya pencegahan diatas besar harapan penulis akhirnya Hujan hanya membawa hidayah. Karena sedikit banyak berdampak positif bagi para petani dan meningkatnya pasokan air baku sehingga Indonesia terhindar dari bencana kekeringan saja.

Tidak seperti Ekspedisi NKRI yang ke Pulau paing timur Indonesia yang tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat local yang membutuhkan Sekolah, Guru, Tenaga Kesehatan, dan Fasilitas Kesehatan. Karena mereka Ekspedisi NKRI semata-manta hanya melakukan pemetaan geologi tanpa mengindahkan kebutuhan mendasar masyarakat disana

Tapi kok jadi Ekspedisi NKRI yang di bahas, akhir kata semoga Hujan kali ini bermanfaat bagi kita semua dan kita senantiasa terhindar dari berbagai penyakit….