Apa itu Penyair? Apa itu Filsuf? Apa itu Pejalan Spiritual? Lalu, apa hubungan ketiganya?


Menurut KBBI edisi lima, penyair adalah bahasa cakapan atau bahasa gaul alias bahasa sehari-hari dari pesyair, yang bermakna sebagai seorang pembuat karya sastra, khususnya pengarang puisi maupun sajak.

Tetapi, sepertinya, penyair memanglah julukan eksklusif nan istimewa, hanya merujuk pada seseorang yang melukiskan gairah seni dengan puisi dan sajak. Dan mereka, yang ingin dicap sebagai seorang penyair sejati alias tulen, seharusnya membaiat dirinya sendiri pada Mazhab Bohemian. Menghidupi hidupnya dengan orkestra bernada Bohemian.

Hidup bebas bak seniman kawakan, tidak terpenjara usia, tidak terbelenggu waktu,
mengembara kesana kemari, anti kemapanan, anti kegamangan dan menghidupi frasa "Carpe Diem", atau dalam bahasa kita dikenal dengan istilah hidup hanya untuk hari ini.

Mengapa? Karena hanya dengan mengeksplorasi kedalaman rasa yang ada, menenggelamkan diri ke dalam dunia idea, memberontak pada rasionalitas massa, menyelami realitas dan hiperealitas, maka puisi yang cantik dan penuh warna niscaya tercipta. Dan kuncinya adalah menuju ke dalam, bukan ke luar. Ke dalam diri sendiri, mengenal diri sendiri, bukan ke luar diri, tidak tahu diri, apalagi lupa jati diri.

Oke, lalu apa itu filsuf? Masih merujuk pada KBBI edisi lima, filsuf adalah bentuk baku dari filosof yang bermakna sebagai seorang pemikir, lebih tepatnya ahli pikir, penggiat filsafat, ahli filsafat, juga dapat ditafsirkan sebagai orang yang ber-filsafat. Dan biasanya, para filsuf, khususnya yang sinting, senang menyendiri, mengasingkan diri, mengembara hingga ber-kontemplasi dalam kesendirian yang hening, sepi dan sunyi.

Namun menurut masyarakat yang kadung dungu alias terkungkung pada Logical Fallacy, atau gagal menalar sesuatu dan malah ber-logika secara sesat tanpa dialektika sama sekali, maka filsuf tidak lebih dari orang yang sinting. Tak ayal, semua filsuf pun sudah hancur oleh stigma, "sinting, pandir, gila, kafir, ateis, misotheist", dan lain sebagainya atau yang paling parah adalah sesat sekaligus menyesatkan. Bahkan tidak lebih mulia, dari orang yang gemar bercinta dengan dirinya sendiri.

Oke, sekian untuk filsuf. Lalu apa itu pejalan spiritual? Sejatinya, pejalan spiritual adalah mereka yang sering disebut sebagai "salik", yang menempuh jalan suluk. Dengan kata lain, salik adalah adalah pejalan, dan suluk adalah jalan-Nya. Terdengar sangat tasawuf memang. Tapi begitula adanya.

Lebih lanjut, bersuluk adalah perihal menjadi soliter, mengasingkan diri dari kerumunan dan gerombolan. Lalu, apa tujuannya?

Ya beragam sebenarnya, namun memiliki inti yang sama agar mengenal dirinya sendiri secara paripurna dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sebab, selama di jalan spiritual itu, para salik haruslah menempa jiwanya dengan menguasai tubuh, serta pikirannya, hanya pada Tuhan semata. Tentu agar tercipta keseimbangan body, mind dan soul.

Dalam konteks yang lebih luas, para salik juga lazim diterjemahkan sebagai seorang "asket" yang meniti jalan asketisme. Merujuk pada KBBI edisi lima, asketisme adalah istilah yang sama dengan kezuhudan, atau perkara meninggalkan keduniawian. Dan sepertinya asketisme adalah istilah 'Barat' untuk zuhud yang berakar dari 'Timur'.

Oke, oke dan oke. Lalu apa benang merah dari Penyair Bohemian, Filsuf Sinting dan Pejalan Spiritual? Adalah individualistis mereka yang soliter.

Bila kita menilik lebih jauh dan luas, maka kita juga akan menemukan bahwa mereka penuh enigma dan nilai-nilai filosofis, yang sulit nan sukar di-takwil oleh masyarakat luas. Mereka juga, memiliki kesungguhan yang sama dalam menempuh jalan mereka masing-masing. Berkorban segalanya. Demi menghidupi jalan yang telah mereka jalani.

Benang merah lainnya adalah mereka selalu memperhatikan hal-hal secara komprehensif, dari yang mikro hingga makro. Dan mereka, selalu menaja segala sesuatu dari yang implisit terlebih dahulu. Namun bukan berarti mereka tidak terlalu peduli dengan sesuatu yang eksplisit, tapi pada hakikatnya, segala yang tersirat memang selalu penuh seni dan cinta.

Benang merah lain dari ketiga figur tersebut adalah mereka selalu menggunakan hati. Hati di sini, merujuk pada segala tindakan yang dilakukan atas dasar nurani dan naluri. Meskipun filsuf katanya mengedepankan rasionalitas, akal dan logika, tetapi filsuf yang sudah majedub alias sinting sepertinya mendahulukan dimensi psikologis seperti perasaan, hati, intuisi, dan subjektivitas.

Namun perlu di garis bawahi, bahwa sinting di sini berkonotasi positif karena melawan arus kebodohan dan kemapanan yang negatif. Dan distingsi alias perbedaan antara Penyair Bohemian dan Pejalan Spiritual dengan Filsuf Sinting, hanya ada di terminologi "sinting". Apabila ada filsuf yang masuk kategori sinting, maka akan lahir kecenderungan, di sisi yang lain ia juga adalah seorang yang memiliki jiwa seni dan sastra, juga mistikus yang kental dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Benang merah lain dari Penyair Bohemian, Filsuf Sinting dan Pejalan Spiritual adalah mampu memetik berjuta makna dan satu hikmah dari berjuta tragedi dan dua masalah. Dan mereka, biasanya memiliki kreatifitas tanpa batas untuk melukiskan Tuhan, Cinta dan Ilmu dengan gaya  mereka masing-masing. Penyair dengan syair-syair cinta yang universal, filsuf dengan buku-buku yang mengandung ilmu dan puisi parnasian yang memiliki nilai sastra dan keilmuan yang luas nan tebal, Pejalan Spiritual yang melukiskan perjalannya dengan membangun spirit horizontal pada sesama makhluk dan ketauhidan vertikal pada Tuhan.

Benang merah lain dari ketiganya adalah kejalangannya. Namun jalang di sini bukan sebagaimana yang diistilahkan oleh KBBI. Jalang yang dimaksud adalah gaya hidupnya yang mengalir bak air, sosoknya sangat karismatik, tidak terlalu peduli pada nama baik dan penampilan alias bungkus, menghidupi hidupnya secara prolifik, eksistensinya penuh spontanitas namun tetap menyimpan esensi yang filosofis, juga memiliki samudera batin yang dalam, mempunyai keberanian tinggi dan hanya takut pada Raja Semesta.

Mungkin, itulah benang merah dari Penyair Bohemian, Filsuf Sinting dan Pejalan Spiritual. Benar atau salahnya, entahlah. Lagipula muka bumi, tidak hanya berkutat dengan oposisi biner modernitas, yang menjadikan dunia hanya berwarna salah atau benar.

Namun, nampaknya benang merah yang telah diuraikan akan menimbulkan anggapan-anggapan tidak perlu, seperti anggapan bahwa Penyair Bohemian, Filsuf Sinting dan Pejalan Spiritual adalah manusia-manusia yang suram, kacau dan tidak patut ditiru oleh siapapun. Terserah. Satu yang nyata adalah bahwa mereka sebenarnya adalah manusia, sama dengan kebanyakan manusia. Bedanya, mereka menempuh jalan pintas untuk sampai pada hakikat-Nya.

Terakhir, apabila kita memanglah manusia yang memiliki dua mata maka seharusnya tidak menilai makhluk lain dengan sebelah mata, apalagi buta hati hingga gelap mata. Kita, sebagai manusia harusnya sadar bahwa dunia tidak diciptakan hanya yang terlihat saja, memafhumi bahwa ada semesta lain yang tidak kita ketahui dan sadari. Juga tahu diri bila tidak tahu dan kurang ilmu. Apalagi jika kurang filosofis, namun malah memberi makna pada pada ahli filosofi. Dan mengolok-olok mereka yang berjalan sendiri.

Akhir kata, semoga semua makhluk berbahagia!