Sebagai makhluk monodualis yang satu sisi bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sedangkan di sisi lain berkedudukan sebagai makhluk sosial yang memerlukan individu lain dalam hidupnya, manusia tak akan pernah terlepas dari ikatan atau hubungan. Baik itu hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan maupun hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya.

Ada banyak jenis hubungan atau ikatan horizontal yang terjalin antara sesama manusia; hubungan nashab (biologis) yang membedakan seluruh manusia berdasarkan garis keturunan sehingga kita memiliki keluarga masing-masing.

Kemudian ada hubungan antara lawan jenis atau dua sejoli yang berlandaskan hasrat dan kasih yang biasanya lebih intimate, baik yang sudah disatukan dalam ikatan pernikahan ataupun yang masih dalam tahap penjajakan.

Lazimnya dalam menjalani hubungan pun tidak akan selamanya mulus seperti yang diharapkan. Pasti ada saja jalan terjal berkerikil penuh onak dan duri yang menjadi jurang pemisah antara harapan, kenyataan, dan tujuan (relationship goal). Di antara sekian banyak masalah yang sering dihadapi dalam menjalin hubungan, salah satunya adalah masalah jarak dan waktu.

Bagaimana dua insan yang secara naluriah ingin selalu bersama dan berdekatan dipisahkan ribuan atau bahkan jutaan kilometer oleh istilah bernama jarak. Tentu itu adalah hal yang teramat sulit mengingat atas dasar alasan tersebut, tak jarang pertengkaran dan perselisihan kecil pun terjadi. Mewarnai liku-liku perjuangan anak manusia dalam mengarungi bahtera kasih.

Meski itu justru akan menjadi bumbu-bumbu agar hubungan tidak selalu hambar dan lebih berasa, namun tak jarang berbagai godaan dan ujian datang menguji kesetiaan yang selama ini dipertaruhkan. Rasa bosan pun terkadang sering menggoyahkan. 

Kepercayaan yang disinyalir sebagai kunci keberhasilan dalam melalui hubungan ini pun seakan tak cukup kuat menjadi penghalau sepi dan sunyi. Hingga hubungan yang sudah lama terjalin kadang kala berakhir begitu saja. Ya, hubungan berjarak ini begitu terkenal dengan sebutan Long Distance Relationship.

Dilansir dari wikipedia, definisi hubungan jarak jauh atau istilah kerennya dikenal dengan sebutan Long Distance Relationship (LDR) adalah hubungan intim antara pasangan yang secara geografis terpisah satu sama lain. 

Mitra dalam LDR menghadapi pemisahan geografis dan kurangnya kontak tatap muka. LDR sangat lazim di kalangan mahasiswa-yang merupakan 25% hingga 50% dari semua hubungan.

Begitu menakutkannya jenis hubungan ini bagi sebagian orang. Kecemasan dan kekhawatiran yang sering kali menghantui, memudarkan harapan-harapan bersama. Takut jika sang pujaan nun jauh di sana berubah pikiran dan haluan. 

Entah kepincut orang lain yang lebih memikat, kalap mata hanya karena tampilan fisik yang jauh lebih menarik, ataupun karena perasaan cinta yang tak lagi menggebu seperti saat pertama kali bersua.

Perkara hambatan-hambatan dalam hubungan, sebenarnya ada yang lebih mengerikan serta patut diwaspadai dari sekadar mencemaskan hubungan beda jarak. 

Bila masalah perbedaan jarak atau geografis yang tak lebih dari sekadar deretan angka kuantitatif kita persoalkan, bagaimana bisa kita apatis terhadap pandangan hidup dan jalan pemikiran yang berbeda?

Menganggap bahwa dengan perbedaan mutlak itu dapat selalu berdampingan baik suka ataupun duka hingga ke alam baka. Toh itu adalah perbedaan yang semestinya dapat ditoleransi dengan berubah haluan menjadi sosok yang netral-netral saja. Non-blok

Baca Juga: Cinta Itu Buta

Persetan dengan pandangan hidup. Persetan dengan ideologi. Toh cinta tidak harus membutuhkan perkara abstrak seperti itu. Ia justru butuh yang konkret dan mudah diwujudkan, semacam hasrat biologis dan kepuasan materi. Begitu sederet alibi yang lazim terdengar dari masyarakat kita.

Padahal keselarasan ideologi atau pandangan hidup adalah parameter keberhasilan utama dalam membina suatu hubungan, terutama dalam pernikahan. Jika suatu hubungan antara dua insan terbina dengan baik, maka keberhasilan menjalin hubungan dengan Tuhan pun akan mudah diraih. 

Hubungan ini (antarmanusia) dapat menjadi media untuk beribadah kepada Tuhan. Sebab adanya konsep hablum minannaas (hubungan manusia) yang harus selalu imbang dengan hablum minallaah (hubungan dengan Allah).

Seperti yang telah kita ketahui, ideologi adalah segenap pemikiran, ide, dan cara hidup yang ditujukan untuk dapat mencapai cita-cita dan tujuan masyarakat dalam aspek hidup tertentu. 

Jenisnya pun ada beberapa macam; ideologi komunisme yang berpegang teguh pada kesamaan hak segala golongan, ideologi liberalisme yang mengusung kebebasan, ideologi kapitalisme yang menitikberatkan hanya pada satu golongan saja, serta ideologi Islam yang hanya menjadikan Alquran dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup.

Dan sunnatullaah jika di antara penganut satu ideologi tertentu dengan penganut ideologi lainnya tidak pernah sejalan dan sepemikiran, saling memaksakan kehendak ideologinya kepada orang lain, sebab ideologi ada cita-cita bersama dimana seluruh penganutnya akan mengerahkan segala daya dan upaya demi tercapainya cita-cita tersebut.

Jadi bagaimana bisa seseorang yang menganut ideologi Islam menjalin hubungan atau ikatan dengan seseorang yang berideologi komunisme atau ideologi lainnya? Atau bahkan seseorang yang netral (non-ideologi) dengan seseorang yang berideologi tertentu. 

Apakah nilai-nilai ideologi tidak berhak mencampuri dan mengatur urusan pribadi seseorang semacam ikatan pernikahan?

Ikatan atau hubungan justru harus dibangun di atas nilai-nilai ideologi. Bahkan di dalam ideologi tertentu, atas dasar kesamaan ideologilah dua insan dipersatukan. Pernikahan berbasis ideologi bertujuan untuk memperkuat barisan demi tujuan mulia nan luhur, tegaknya ideologi dalam tatanan kehidupan.

Hubungan apapun, termasuk pernikahan tidak harus selalu diawali dengan cinta, sebab cinta justru hadir atas dasar ketaatan kepada Tuhan. Islam mengenalkan konsep sakinah mawaddah warahmah dalam ikatan pernikahan yang tidak akan bisa diraih tanpa adanya kesamaan dalam pandangan atau cita-cita hidup.