Hampir dua bulan saya menjalani aktivitas di rumah. Sebuah kondisi yang tidak mudah karena menggeser banyak aktivitas di luar masuk dalam rumah. Butuh hiburan ekstra untuk menghilangkan panik atas berita di media yang tidak menggembirakan. Salah satunya terkait tingginya angka tenaga medis yang terpapar Covid-19 dan berujung pada kematian. 

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat, per 06/05/2020, sudah ada 55 tenaga medis meninggal dunia di Indonesia. Mereka yang wafat terdiri 38 dokter dan 17 perawat. 

Tenaga medis menghadapi kondisi sulit. Dari kelangkaan alat pelindung diri (APD), pengusiran dari tempat tinggal, hingga penolakan jenazahnya. Survei dari Fakultas Ilmu Keperawatan UI mencatat, pada April 2020, terhadap lebih dari 2.000 perawat menunjukkan setidaknya 135 perawat pernah diusir dari tempat tinggalnya.

Sebuah kondisi yang cukup memprihatinkan. Besarnya peran tenaga medis di tengah pandemi tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka dapatkan. Kondisi tersebut seketika menyadarkan saya akan pentingnya peran tenaga medis, terutama perawat. 

Perawat adalah profesi yang banyak disorot hari ini. Mereka sering kali mengalami diskriminasi dan tindak intimidatif. 

****

Di tengah informasi yang tidak menggembirakan di atas, saya kerap kali menggunakan waktu di rumah untuk menonton film-film lama. Menonton film adalah aktivitas yang menyenangkan. Mengingat sudah tidak mungkin lagi kita ke bioskop untuk menonton film terbaru. Satu per satu saya membuka folder-folder film. Dari komendi, roman, sampai horor.

Secara tidak sengaja saya melihat sebuah film horor Indonesia, Suster Ngesot. Ada sesuatu hal yang membuat saya mengerutkan dahi dan mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin perawat digambarkan tidak pantas begini?

Karena film tersebut pula akhirnya saya berusaha mencari dan mengumpulkan film sejenis. Dalam jangka waktu 2001-2012, terdapat 7 (tujuh) film sejenis. Semua film merepresentasikan kehadiran seorang perawat.

Dari film kita tahu bagaimana posisi sebuah komunitas direpresentasikan. Baik komunitas profesi atau komunitas sosial lainnya. Ariel Heryanto dalam sebuah diskusi tentang Historiografi Indonesia yang Rasis mengungkapkan bahwa film-film komersil dibuat bukan untuk tujuan politik, tetapi untuk mencari uang. Film bisa menghasilkan uang jika hal tersebut menyenangkan orang dan orang tersebut mau membayar.

Dengan kata lain, film secara metodologis penelitian menarik untuk diperhatikan karena film merupakan kristalisasi atau penegasan atas norma dominan yang ada di masyarakat. Pembuat film tidak mau risiko membuat film yang aneh-aneh. Mereka hanya menegaskan kembali apa yang sudah diyakini di masyarakat. 

Film mungkin tidak mencerminkan realitas, tetapi jelas menegaskan norma-norma yang sudah dominan.

Dari uraian di atas, bisa jadi film-film horor tentang atau yang menggambarkan perawat merupakan sebuah penegasan atas norma dominan yang ada di masyarakat. Melalui tulisan ini, saya ingin menunjukkan bagaimana profesi perawat yang mulia digambarkan dalam film Indonesia.

Hasil pembacaan awal, representasi perawat lebih banyak dimunculkan dalam film horor Indonesia. Saya tidak tahu betul apa yang melatarbelakangi profesi ini lebih banyak dihadirkan dalam film horor. 

Dugaan saya sementara, karena aktivitas horor yang identik dengan orang meninggal lebih banyak menghadirkan rumah sakit sebagai setting/lokasi dalam scene film selain kuburan. Ketika rumah sakit dijadikan setting, maka secara otomatis profesi perawat mengisi ruang tersebut.

Film Horor dan Representasi Perawat

Film horor di Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam perkembangannya. Tercatat Tengkorak Hidoep (1941) karya Tan Tjoei Hock dan Lisa karya M. Shariefuddin yang diproduksi tahun 1971 yang menjadi peletak dasar genre film horor di Indonesia.

Wicaksono & Asyhadie (2006) menjelaskan adanya perbedaan penentuan film horor pertama Indonesia itu tampaknya terjadi karena pendasaran definisi horor yang dipakai berbeda. Tengkorak Hidoep menampilkan sebuah horror of the demonic, monster yang bangkit dari kubur dan ingin membalas dendam pada reinkarnasi orang yang telah membunuhnya dalam sebuah pertarungan.

Sementara Lisa merupakan sebuah horror of the personality, yang menampilkan seorang Ibu tiri yang meminta seseorang membunuh anak tirinya. Selanjutnya sang ibu dihantui bayangan anak tirinya yang sesungguhnya masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat. 

Apabila kita mengambil Lisa sebagai film horor pertama, maka sejarah film horor Indonesia dimulai oleh horror-of-personality. Sedangkan apabila kita menerima Tengkorak Hidoep sebagai film horor pertama kita, maka sejarah film horor Indonesia dipelopori oleh film berjenis horror of the demonic atau horor hantu.

Memasuki tahun 2000an, film horor Indonesia memulai era baru. Generasi sineas baru yang muncul sebagian besar tidak memiliki ikatan langsung dengan sejarah film horor Indonesia sebelumnya. 

Salah satunya adalah Jelangkung (2001) karya Rizal Mantovani dan Jose Purnomo langsung mencuat, memberi sentuhan yang berbeda dengan mengandalkan kekuatannya dalam fotografi, editing dan suara. Film ini menandai kembalinya penonton ke bioskop-bioskop. Film tersebut mencapai rekor 1,5 juta penonton.

Selain itu, film-film horor yang diproduksi dan diedarkan tahun 2006-2007 yang secara meyakinkan mampu meraup penonton lebih dari 500 ribu orang. Maka tidak mengherankan dari sisi komersial, film-film horor ini menjadi andalan bagi para produser yang ingin segera mendapatkan kembali modalnya dan mendapatkan keuntungan dengan cepat. 

Dari sekian banyak film horor yang muncul, ada beberapa film bertema atau menghadirkan representasi perawat. Film tersebut dimunculkan oleh para sineas film dan itu ditandai dengan kemunculan film Jaelangkung dan ditegaskan dalam film Suster Ngesot

Kedua film tersebut menjadi penanda direpresentasikan film hantu dalam sosok perawat. Adapun beberapa judul film sejenis terdari dari: Kutukan Suster Ngesot (2009), Suster Keramas (2009), Suster Keramas (2011), Terowong Rumah Sakit (2009), dan Kembalinya Suster Gepeng (2012).

Representasi yang Eksploitatif dan Seksis  

Representasi sebagai sebuah konstruksi sosial mengharuskan kita mengeskplorasi pembentukan makna tekstual dan menghendaki penyelidikan tentang cara yang dihasilkannya makna pada beragam konteks (Barker: 2008). Representasi memiliki materialitas tertentu. 

Mereka melekat pada bunyi, prasarti, objek, citra, buku, majalah, program televisi dan melalui film tentunya. Berdasarkan pengamatan saya terhadap beberapa film di atas, tergambar beberapa representasi sosok perawat atau yang biasanya disebut suster yang cenderung tidak tepat, eksplotatif dan seksis.

Pertama, perawat yang dihadirkan sebagai hantu dalam film dan hampir semuanya diperankan oleh perempuan. Hatib Kadir (2017) dalam sebuah artikel menjelaskan mengapa hantu sering kali diperankan oleh perempuan. Di situ dijelaskan bahwa hampir semua struktur kekerabatan di Asia Tenggara dan Jawa bersifat bilineal.

Dalam masyarakat bilineal, harta warisan rumah dan urusan domestik biasanya diserahkan kepada anak bungsu atau kepada perempuan. Oleh karena itu, perempuan sering kali digambarkan menjadi penghuni rumah. 

Bahkan, kelak hingga mati, ia masih menghantui tata urusan warisan di generasi selanjutnya. Struktur masyarakat tersebut secara tidak sadar menempatkan secara dekat representasi hantu dan perempuan dalam sebuah film.

Kedua, film-film tersebut lebih banyak menonjolkan keseksian tubuh. Perawat perempuan dalam film hadir dalam wujud sexy dan menggoda. Tubuh perempuan dianggap ornamen. 

Dalam konteks budaya, hal tersebut didasarkan pada suatu pandangan yang mengangap bahwa norma laki-laki yang menjadi pusat (center) dari relasi-relasi sosial yang ada. Sehingga hampir bisa dipastikan bahwa perawat perempuan yang sering kali dihadirkan dan mengalami eksploitasi. Kehadiran perawat laki-laki dibuat absen. Padahal faktanya perawat laki-laki cukup banyak.

Ketiga, adanya humor yang seksis. Dalam setiap adegan film-film tersebut terdapat humor-humor yang cenderung merendahkan perempuan. LaFrance & Woodzicka (1998) menyatakan bahwa humor yang sifatnya merendahkan, menghina, hingga mengobjektifikasi seseorang telah masuk ke dalam humor seksis. 

Humor semacam ini hanya akan melanggengkan pengobjektifikasian perempuan atas nilai-nilai patriarkis. Hal tersebut juga akan memperparah stigma bahwa tubuh perempuan dapat dieksploitasi sedemikian rupa.

Gambaran di atas memang film-film lama jauh sebelum pandemi covid-19. Sebuah representasi yang jauh dari kata baik. Tentunya melalui pandemi ini orang mulai banyak yang sadar dan terbuka betapa pentingnya posisi perawat. Tidak berlebihan ketika disebut sebagai pahlawan.

Dari hal tersebut, ada harapan akan ada film yang mengangkat sisi kepahlawanan mereka. Alih-alih mengisi ruang representasi atas mereka yang selama ini dicitrakan kurang tepat dan baik. Beberapa hari yang lalu teman-teman perawat memperingati Hari Perawat Internasional, melalui artikel ini saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Jasa dan peranmu akan dikenang sepanjang sejarah.