Bulan Agustus ditandai dengan penerimaan mahasiswa baru, nyaris serentak di seluruh Indonesia. Lewat berbagai Perguruan Tinggi hingga universitas ternama di negeri ini memulai rutinitas dengan memperkenalkan apa-apa saja yang memikat.

Jutaan orang-orang muda (mahasiswa) yang akan masuk dan menemukan suasana baru dalam suatu gedung mewah dengan fasilitas memuaskan disebut kampus. Berbagai ekspresi akan menyambut mereka. Tetapi di antara semua yang indah dari sungging senyuman, arogansi dan egolah yang mendominasi.

Kesempatan menarik perhatian adik-adik mahasiswa baru. Apalagi yang bening-bening, ajang eksistensi tuk mendapati yang paling cantik, bagi senior laki-laki. Ini pengalaman saya waktu masih mahasiswa baru dulu dan saya yakin masih terjadi.

Momen balas dendam senior pada mahasiswa baru, di mana sebelumnya juga mereka pernah dibuat push-up, lari keliling lapangan dan lainnya sebagai sanksi atau hukuman. 

Salah atau benar, mahasiswa baru selalu dianggap salah. Demikianlah prosesnya, entah dinanti atau memang menjadi budaya, bahwa (pasal 1 senior tak pernah salah_red).

Sialnya, para senior ini sangat galak pada juniornya, tapi bungkam seribu kata, bisu dan kaku berulang kali bila dihadapkan pada birokrasi kampusnya. Itu umum dijumpai. 

Padahal mereka gagah perkasa di depan junior, tampil pahlawan dan selayaknya mewakili Tuhan, seolah menyulap sekejap persoalan jadi solusi inovatif. Namun, mati kutu bila menyangkut keadilan dan kebenaran atas birokratnya. Gila, bukan? 

Rujukan dari kata 'Mahasiswa' yang membuat orang tercengang saat mendengarnya. Bahkan telah mendapat penilaian tersendiri oleh masyarakat, sebagai pemilik kecerdasan (Intelektual) yang berjalan dan senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebutan ini begitu bergengsi bagi kalangan awam. Agent of change, social of control atau moral force adalah beberapa sebutan yang disematkan padanya. Agen pengubah, kontrol sosial dan berbagai julukan itu tidak serta merta diberikan begitu saja dengan mudahnya kepada merek tanpa peran penting yang pernah dilakukannya di masa lalu. 

Faktanya, seolah berbagai julukan itu hanya berlaku lagi pada senior bila mengevaluasi juniornya. Tidak lagi pada semua dan untuk negeri. 

Seperti kebangkitan bangsa yang dipelopori oleh para pemuda pada masa pra-kemerdekaan dan sumpah mahasiswa pasca-kemerdekaan, serta berbagai perubahan yang dilakukan mahasiswa, baik secara langsung maupun yang bertahap.

Runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 tidak bisa dimungkiri bahwa hal tersebut terjadi atas kerja sama yang baik antara mahasiswa dengan seluruh elemen gerakan rakyat untuk menghentikan pembungkaman. Dan ingin berpindah secara kualitatif (reformasi) dari orde yang otoriter menuju era demokrasi.

Keterlibatan mahasiswa dan peran yang diembannya telah memberikan kesaksian kepada mata publik tentang pentingnya semangat dan intelektual dalam bernegara. Tanpa semangat,maka intekektual tak berarti, begitu pun sebaliknya.

Namun kini, bila kita menarik garis history (sejarah), peran pemuda atau mahasiswa memang sangat dibutuhkan dalam pembangunan di setiap bidang kehidupan. Tetapi, miris bila ditinjau dari sisi semangat dalam tataran intelektualitas serta kepekaan sosial; mahasiswa dulu dengan mahasiswa sekarang sangatlah berbeda.

Dulu mahasiswa mengonsumsi berpuluh-puluh buku untuk bertaruh gagasan. Sekarang banyak yang hanya mengonsumsi aneka buah dan beragam makanan berlemak sehingga kurang mampu bergerak secara dinamis untuk membawa dan menciptakan suatu perubahan bagi bangsa ini.

Kalau di masa Orde Baru, diskusi dibatasi dan membaca buku tak sembarang, demonstrasi dibubarkan, acara sastra dihentikan, dan berbagai macam kegiatan akademis lainnya dikekang. 

Sekarang zaman digital dan sudah di era demokrasi, tetapi justru tidak direspons dengan positif, apalagi dimanfaatkan dengan baik. Malah kalau ada yang meresponsnya, justru cenderung kepada kepentingan pribadinya.

Selain bermental hedonis dan apatis, mahasiswa juga banyak dilanda oleh wabah oportunisme dan pragmatis. Kemalasan yang dipeliharanya sehingga tampak bungkam, atau mengedepankan IPK demi mengejar target untuk kerja kantoran, hanya terfokus pada kemandirian secara finansial dan cenderung mengedepankan materi dan abai kepada realitas sosial.

Bila oportunis telah menjarah akal sehat, maka hancurlah generasi. Sebab penyakit semacam itu akan menciptakan ketergantungan dan ketakutan. Artinya secara tidak langsung akan menambah elite yang sudah kaya juga akan membunuh yang melarat.

Berbagai problematika terjadi di negeri ini yang dialami oleh masyarakat perkotaan dan pedesaan. Akibatnya sudah jarang kita temui mahasiswa yang hadir dengan sepenuh hati di tengah-tengah permasalahan sosial. 

Hal ini menandakan bahwa mahasiswa lebih banyak memikirkan akademiknya, bergelut di dunia kampus dan menghamba pada birokrasinya, ketimbang berpetualang ke dalam persoalan masyarakat pada umumnya.

Tentunya kalau mengintip sejarah, lalu menyandingkannya dengan kehidupan mahasiswa saat ini sungguh sangat berbeda jauh, baik dalam segi semangat, pengetahuan dan mentalitas. Secara perlahan terjadi degradasi dalam konsep transformasi ilmu pengetahuan (Intelektual) bagi mahasiswa.

Bukan hanya soal mahasiswa, tapi ini menyangkut arah negeri ini ke depannya. Sebab masa depan negeri ini ada di tangan pemuda, generasi penerus perjuangan bagi kemajuan bangsa Indonesia. 

Jadi tergantung kita mahasiswa atau kaum muda, seharusnya kita penuh dan kaya akan semangat progresif serta mampu berpikir visioner dan menciptakan gebrakan revolusioner, karena mau kita bawa ke mana bangsa ini? Pastinya ke arah yang lebih maju.

Selamat datang mahasiswa baru, selamat mendapat perlakuan senior yang semena-mena. Senior yang galak, arogan dan tak mau senyum-senyum. Tetapi mereka sangat takut pada birokrasi kampus.