2 bulan lalu · 100 view · 4 min baca menit baca · Politik 46142_45256.jpg
Facebook: Musthofa Kang Mus

Hormat Kami kepada Panitia Pemilu 2019

Di bulan Desember tahun 2018, saya sudah terang-terangan melapor ke Pak Carik kampung saya tentang permohonan agar saya tidak usah dicantumkan lagi sebagai Ketua KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) untuk Pemilu 2019. 

Ketika ditanya mengapa tidak mau, maka salah satu alasannya bahwa saya di waktu-waktu pemilu tersebut juga ada kegiatan lain; kegiatan yang membutuhkan fokus pikiran dan tenaga. Tak bisa menolak, Pak Carik sebagai anggota PPS pun menerima permohonan saya.

Beberapa hari selanjutnya, Ketua PPS (Panitia Pemungutan Suara) desa menemui saya, hendak mengecek kebenaran pengunduran diri saya. Sama seperti yang saya omongkan pada Pak Carik, alasan-alasan saya tidak mau lagi menjadi KPPS di pemilu yang sudah usai tahapan pencoblosan di 17 April kemarin juga saya sampaikan kepada Ketua PPS. Tanpa bisa menolak, Pak Muji pun menerima dengan lapang dada, dan segera mencari penggantinya.

Sebenarnya alasan yang saya sampaikan tersebut tidak berdiri sendiri. Artinya, ada banyak alasan lainnya mengapa saya memilih mundur, tidak menjadi KPPS di pemilu yang sedang ramai ini. 


Dan alasan paling utama di antara banyak alasan lainnya, saya merasa tidak akan kuat bekerja sebagai KPPS. Jujur saja, alasan ini tidak saya ungkapkan karena saya malu, sebab sama juga menunjukkan betapa saya ini lelaki yang rapuh dan lemah. Ditunjuk jadi Ketua KPPS saja tidak mau.

Iya, pasti akan banyak yang jengkel manakala mengetahui alasan utama saya itu. Yang bisa dianggap sebagai sebuah sikap tidak gentle, sebab mundur dari “peperangan”. Maksud dari peperangan di sini bukan perang antartimses, tetapi peperangan dalam wujud bekerja keras menjadi petugas TPS. Anda pasti paham apa maksud saya.

Saya beritahukan saja di sini latar belakang saya mengapa mundur dari tugas. Di tahun 2004, saat pertama kali pemilu langsung bersistem perwakilan berimbang di negeri ini (okenews, 19/02/2018)saya sudah menjadi panitia TPS. 

Yang pernah mengikuti pemilu di tahun tersebut pasti juga mengalami, betapa untuk memilih siapa caleg dan mana parpol yang berjumlah 48 nama sungguh sangat sulit. Lembar surat suara yang penuh berisi nama itu tak urung membuat mata setiap warga yang ingin menyalurkan aspirasi politiknya menjadi kebingungan.

Warga bingung memilih siapa yang akan dipilihnya, juga bingung bagaimana melipat surat suara seperti semula. Jika warga bingung, apalagi panitianya, yang harus menghitung perolehan suara, mulai tingkat Kabupaten/Kota hingga pusat, dengan nama sebanyak itu. 

Belum lagi mengisi berita acara sebanyak jumlah peserta pemilu dari semua tingkatan. Belum lagi kalau ada kesalahan, di mana satu kesalahan saja akan membuat kepala seluruh panitia menjadi pusing mendadak.

Walhasil, di pemilu tahun 2004, saya sebagai salah satu anggota termuda harus menyelesaikan seluruh tahapan petugas TPS hingga dini hari. Catat, hingga dini hari, sekira pukul 02.00 WIB. Bahkan di TPS lain ada yang selesai hampir subuh. Betapa beratnya petugas TPS di tahun lawas itu. Dan itu satu pengalaman yang sangat berharga bagi saya.


Sekarang coba bandingkan dengan pemilu tahun 2019 yang dikonsep serentak; Pilpres, Pileg dan Pemilihan anggota DPD. Pasti estimasi waktu pekerjaan akan lebih panjang dibanding pemilu tahun 2004. Maka pantas sekali jika pemilu serentak tahun 2019 dikatakan sebagai pemilu kolosal, raksasa, dan layak masuk museum rekor dunia.

Dan bagaimana yang terjadi di pemilu yang masih hangat ini? Ya, kabar yang sudah kita ketahui bahwa ada 54 panitia pemilu yang meninggal dunia, diduga karena kelelahan. 32 orang yang terbaring sakit, diinfus dan opname, juga karena kelelahan (liputan6.com, 22/04/2019). Semua disebabkan pekerjaan yang sangat banyak dan berat.

Di kampung saya sendiri, hampir semua TPS menyelesaikan pekerjaannya setelah subuh. Bahkan ada satu TPS yang selesai jam 06.00 WIB. Rata-rata mereka mengaku sudah kapok menjadi panitia Pemilu yang berat tersebut.

Yang saya uraikan terakhir itu di tingkat desa. Sekarang coba tengok di seluruh kantor kecamatan yang ada di negeri ini, seluruh jajaran PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) hari-hari ini bekerja all out, sepanjangan hari. Mereka menjaga kotak suara, mengawasi laptop, menghitung, mengecek, dan lain-lainnya. Pekerjaan mereka bisa jadi yang terberat di antara panitia pemilu di tingkat mana pun.

Ada sebuah foto menarik dengan caption “Sungguh melelahkan...” yang mampir di laman Facebook saya. Sebuah foto yang memampangkan seorang perempuan anggota PPK yang tertidur di depan laptop miliknya. 

Di depan mejanya, ada seorang anggota PPS yang rela menunggunya. Foto menarik tersebut menegaskan sebuah bukti bahwa kualitas pemilu di tahun 2019 ini harus dijaga dengan baik. Meskipun realitasnya masih banyak human error.

Oke, saya tidak bermaksud membenarkan perkiraan saya, sebab Anda juga pasti banyak yang memperkirakan sama seperti saya. Di tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan bahwa mereka, para panitia pemilu, belum selesai bekerja. Mereka masih fokus dalam menyelesaikan seluruh tahapan pemilu yang melelahkan ini. Oleh karena itu, semua warga bangsa selayaknya menghormati mereka. Angkat topi tinggi-tinggi kepada kinerja mereka.


Bahkan harus berani saya sampaikan, tidak usah lagi membuat kebisingan yang tidak faktual tentang pemilu di media sosial, bagi siapa pun para pengguna media sosial. Sebab saya sangat meyakini, para pembuat kebisingan di media sosial pasti pemahamannya berbeda jauh dengan para panitia pemilu yang ada di lapangan. 

Para pekerja pemilu, mereka bekerja atas dasar profesionalitas dan integritas. Sedang para pembuat kebisingan di media sosial, mereka bekerja hanya atas dasar emosionalitas.

Oleh karena itu, pemilu tahun ini tidak boleh dikatakan hanya sebagai audisi memilih siapa yang jadi pemenang. Namun jujur harus kita umumkan di berita dunia bahwa pemilu tahun ini adalah karya terbesar dari ikhtiar profesionalitas dan integritas para pekerja pemilu (KPU hingga KPPS). Sebab, tanpa mereka, tak akan selesai semua tahapan pemilu yang rumit ini.

Artikel Terkait